Selamat dan Maaf

tw // accident, blood

Suara hentakan sepatu Alingga terdengar setelah ia memasuki café tempat ia, Tasya dan Langit berjanjian. Mata gadis itu menelusuri seluruh café, hingga pandangannya tertuju pada dua orang dewasa serta satu anak kecil berusia 3 tahun.

“Ohh, bawa anaknya ternyata.” batin gadis itu.

Alingga berjalan mendekati Langit dan Tasya yang berubah tegang. Gadis itu tersenyum kearah Arwana, mencubit pipi anak lelaki sahabatnya dengan gemas.

“Lucu banget anak lo berdua.” puji gadis itu semakin membuat Langit dan Tasya cemas. Masalahnya Alingga adalah wanita yang susah ditebak. Bisa jadi dibalik pujian tersebut ada rencana yang sangat menyakitkan untuk mereka.

“Gue duduk ya.” Alingga menarik kursi yang berada dihadapan Tasya. Ia duduk lalu menaruh tasnya diatas meja.

“Gue gak mau banyak basa basi. Gue gak akan suruh lo berdua cerai. Gue salut sama lo berdua, terutama lo Langit. Lo tetep jaga Tasya sebaik mungkin sampai Tasya lahiran. Dan sekarang lo punya jagoan yang luar biasa. Anak laki-laki yang bisa bikin lo bertahan.”

“Lo juga hebat, Sya. Lo tetep pertahanin kandungan lo. Lo tetep jalanin kehidupan rumah tangga yang terpaksa. Tapi sekarang semuanya bukan terpaksa lagi kan?”

Hening. Tak ada yang menjawab. Air mata Tasya jatuh dalam sekejap. Namun Arwana dengan cepat menghapus air mata wanita itu.

“Nda, janan angis.” ucap anak kecil itu dengan logat cadelnya.

Alingga tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa berkas yang berada ditasnya.

“Ini ada jaminan buat sekolah Arwana. Dari tk sampai kuliah nanti. Lo gak perlu bayar apapun lagi. Kalaupun nanti harus pindah, semuanya masih bisa diurus sama asisten gue. Gue kasih ini sebagai tanda permintaan maaf gue.” ujar Alingga.

Langit terdiam. Memperhatikan mantannya yang berbicara dengan sangat ikhlas. Memberi keringanan untuk hidupnya dimasa depan nanti.

“Alin, gue gak-”

“Jangan tolak ini, Sya. Gue mohon.”

Tangis Tasya langsung pecah seketika. Wanita itu merasa malu, ia merasa sangat bersalah kepada Alingga.

Gadis yang yang dulu selalu ia saingkan, sekarang sangat banyak membantunya. Alingga sangat membantu perekonomian keluarga Tasya yang sederhana. Alingga membantunya dengan sangat ikhlas. Alingga tetap tersenyum ramah walau dulu ia pernah jahat kepada gadis itu.

“Alingga, gue minta maaf. Gue minta maaf karna gue jahat sama lo. Gue minta maaf, Alin. Maaf. Maaf. Maaf.”

“Sya, gpp. Gue udah lupa kok.”

Alingga tersenyum, ia berdiri dari duduknya lalu mengambil tas yang berada diatas meja.

“Gue pulang ya. Gue udah ikhlas perihal kalian berdua. Sekarang gue izin buat pulang.” ujar gadis itu membuat keganjalan di hati Tasya.

Tasya memperhatikan Alingga yang terus berjalan menuju parkiran. Perasaannya berubah tak enak, pikiran buruk langsung menghantui dirinya.

Entah mengapa Tasya sangat khawatir di pertemuan pertamanya kembali dengan Alingga.

Alingga mengambil ponselnya yang berada di dashboard mobil. Gadis itu menghubungkan telfonnya dengan Angkasa. Menunggu suara deringnya berubah menjadi suara sambungan.

“Hallo?”

Alingga tersenyum saat mendengar suara Angkasa. Matanya ia fokuskan kearah jalanan yang sangat sepi.

“Angkasa, aku tenang sekarang. Semuanya udah aku kasih ke keluarga kecil mereka.”

“Pinternya tunangan aku. Kamu udah pulang sekarang?”

“Aku lagi dijalan, Sa. Ini lagi nyetir.”

“Loh? Kenapa telfon aku? Fokus dulu nyetirnya.”

“Gpp kok. Aku kangen kamu soalnya.”

Suara kekehan dari Angkasa terdengar merdu. Alingga tersenyum. Senyuman yang sangat cerah malam itu. Namun senyumnya hilang saat ia mendengar klakson truk dari arah kanannya.

“Jingga, kok berisik banget?”

Mata Alingga membulat saat melihat truk itu melaju dengan kencang. Tak ada waktu untuk Alingga menghindar. Mobil truk berhasil menabrak mobilnya dengan kencang.

Mengguling mobil itu hingga beberapa meter dari jalan raya. Membuat mobil Alingga berasap dengan banyak.

Darah segar mengalir dari kepala serta leher Alingga. Gadis itu dapat mendengar suara Angkasa yang terus memanggil namanya. Walau hanya beberapa detik, sebelum suaranya diganti oleh suara bising dari mobil polisi.

Alingga tersenyum tipis, tak ada rasa sakit yang ia rasakan walau kepala serta badannya terhimpit atap mobil. Gadis itu memejamkan matanya. Air matanya langsung keluar saat ia mengingat kenangan empat tahun bersama Angkasa.

“A-asa... Asa... A-aku selalu sama kamu. S-selalu, Angkasa.”