She's gone

Bumi berjalan dengan tergesa menuju ruangan Bulan. Ia melihat Mahesa yang berada didepan ruangan sambil menunduk. Membuat Bumi semakin khawatir dengan keadaan Bulan.

“Sa, Bulan gimana?” tanya Bumi panik.

Mahesa menoleh, menatap Bumi yang berdiri di hadapannya.

“Masuk.”

“Keadaan Bulan gimana?”

“Masuk, lo liat sendiri.” ujar Mahesa dengan dingin.

Bumi meneguk ludahnya. Pikirannya langsung terisi oleh pikiran buruk yang menimpa Bulan.

Perlahan Bumi melangkah memasuki ruangan Bulan. Disana ia melihat para perawat melepaskan alat medis yang terpasang di tubuh Bulan. Membiarkan tubuh Bulan terbebas oleh alat-alat yang menyeramkan.

Bumi tidak senang. Ini bertanda buruk untuk keadaan Bulan.

Bumi langsung melangkah dengan cepat. Tangannya menahan lengan perawat yang ingin menutup tubuh Bulan dengan selimut.

“Bulan...” suara Bumi bergetar.

Bulan, adiknya terlihat sangat pucat dan kaku. Pipinya terasa dingin saat Bumi sentuh. Bahkan mata itu terpejam dengan sangat tenang tanpa luka.

Bumi langsung terisak dengan keras saat ia berhasil memahami kondisi sekarang. Tidak, Bulannya tidak pergi untuk selamanya. Bulan tidak meninggalkan dirinya. Bulan tidak pergi meninggalkan Bumi sendirian.

“Bulan! Bangun! Gue mohon bangun! Gue minta maaf.”

Bumi mengguncang tubuh Bulan dengan keras. Lelaki itu semakin terisak. Ia sangat menyesal. Semuanya hancur karna kebodohan Bumi.

Bulannya telah pergi meninggalkan luka yang teramat dalam. Bulannya telah pergi dengan sangat tenang. Bulannya pergi untuk meninggalkan sakit hati yang amat terdalam.

Dan disini Bumi menggantikan sang Bulan. Menggantikan untuk merasakan luka dan juga sakit hatinya.