Sudah merelakan tetapi sulit melupakan.

Lelaki dengan pakaian formal kerjanya bersandar pada sandaran jok mobil. Ia menghembuskan nafas kasar, emosinya seketika meluap saat mengirimkan beberapa bubble chat kepada sang Papa.

Mahesa memejamkan matanya. Ingin mencari ketenangan namun lagi-lagi wajah Bulan Hireksa yang terus bermunculan. Lelaki itu memilih untuk mengambil ponselnya. Membuka galeri dan mencari fotonya dengan foto Esa.

“Esa...” ujar Mahesa dengan suara yang sangat pelan.

Ia memandangi fotonya sambil bersandar. Matanya berubah redup dikala ia kembali mengingat kenangannya bersama dengan Esa. Kenangan manis dan juga pahit yang mereka jalani dalam waktu yang tak lama. Namun anehnya, cinta Mahesa dapat bertahan dengan lama.

“Esa, apa kabar? Surga pasti indah ya? Kamu pasti disana udah bahagia kan karna gak ngerasain sakit apapun lagi?”

“Sekarang aku yang gantiin semua sakitnya. Sakit ditinggal kamu, sakit karna bisa bertahan hidup tanpa kamu, dan sakit karna harus menikah dengan seseorang yang mirip dengan kamu.”

Mahesa menarik nafasnya dengan panjang, ia menurunkan tangan yang memegang handphonenya, lalu menatap atap mobil dengan mata yang sudah basah.

“Esa, maafin aku ya? Maaf aku gagal untuk menjadi laki-laki. Maaf aku harus sakiti satu perempuan karna aku gak mau dia ngerasain sakit yang lebih. Maaf aku gak bisa lupain kamu sepenuhnya.”

“Esa, aku minta maaf.”

Mahesa memejamkan matanya, air mata yang sudah ia tahan akhirnya keluar dengan deras. Lelaki itu terisak, menangis karna rasa rindu yang hebat. Menangis karna sangat merindukan wanitanya.

“Esa, aku sangat mencintai kamu. Aku harap kamu bisa bahagia terus diatas sana.”

Mahesa menghapus air matanya. Ia kembali memilih mengalah dengan takdir. Masih berusaha untuk melupaka Mahesa dan terus mengontrol rasa rindunya.

Walau terkadang, semuanya terasa gagal. Mahesa gagal untuk melupakan sang penjaga hatinya.