Sunyi malam.
Keheningan yang berada didalam mobil membuat atmosfir didalam mobil tersebut semakin dingin. Dua orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tak membuat mereka ingin menciptakan sebuah obrolan. Jevan yang fokus menyetir, dan Liona yang sedang memberi pesan kepada Jio.
Lampu merah dijalanan sepi itu membuat Jevan memberhentikan mobilnya. Lelaki itu menghela nafas dengan berat. Mengingat kejadian sejam lalu diapart Kara.
Sejujurnya, Jevan tak ada niatan untuk menggantikan baju Kara. Namun Karna gadis itu memuntahkan isi perutnya di baju sendiri, mau tak mau Jevan harus menggantikan baju Kara. Dengan segala caranya supay Jevan tidak melihat Kara.
“Liona.” panggil Jevan menghentikan keheningan. Gadis itu menoleh, ia menaikan sebelah alisnya seolah bertanya Ada apa?
“Maaf saya tadi ninggalin kamu di kantor tanpa bilang apapun. Maaf karna bikin kamu nunggu dan akhirnya kamu di copet.”
“Ih! Gpp tau! Aku juga gak marah sama kamu. Lagian kalo emang kamu ada urusan mendadak, aku pa—”
“Tadi saya bertemu Kara, Li.”
Liona langsung terdiam membisu. Wajah gadis itu langsung berubah 60°. Yang awalnya sangat ceria, berubah murung lalu kembali tersenyum dengan terpaksa.
“Gimana keadaan Kara?”
“Tadi Darma chat aku. Dia bilang Kara mabuk dan gak mau di bawa pulang selain sama aku. Akhirnya aku kesana buat jemput Kara. Nganter dia sampai Apartnya. Dan pas dia Apart, dia muntah di bajunya sendiri, Li. Mau gak mau aku...aku gantiin bajunya.” suara Jevan terdengar lirih diakhir kalimatnya.
Mata Liona membuat. Gadis itu sangat terkejut dengan perilaku Jevan.
“T-tapi...tapi aku berusaha gak liat kok, Li. Aku gak semesum itu.” jelasnya dengan suara yang gugup.
Liona tak menjawab apapun. Gadis itu menatap kearah jalanan dan untungnya lampu hijau sudah menyala.
“J-jev, udah hijau lampunya. Jalan.” ujar Liona berusaha mengalihkan pembicaraan.
Selama 10 menit perjalanan, mereka sama-sama terdiam dengan canggungnya. Tak ada perbincangan lagi tentang pekerjaan ataupun tentang hari ini. Biasanya Jevan atau Liona akan bergurau membicarakan Mada.
“Udah sampai. Makasih, Jevan. Aku duluan.”
Liona dengan terburu-buru keluar dari mobil. Bahkan gadis itu langsung masuk kedalam dengan perasaan yang sangat campur aduk. Rasanya sangat malu jika pembahasan tadi terus mereka lanjutkan.
“Jevan mesum!”