Ikhlas untuk Jeffryan
Sudah 6 jam Jian tak pergi dari tempatnya. Tangannya terus menggenggam dengan erat tangan Jeffryan yang kaku. Matanya tak berhenti menatap Jeffryan yang hanya bisa menatap langit-langit kamar.
Tak banyak perbincangan yang tercipta. Hanya suara isakan Jian yang terdengar sangat lirih.
“Jian suka hadiah Papa. Yang dari Buk Sum pasti hadiah dari Papa. Soalnya Jian gak pernah bilang Jian mau jam tangan keorang lain.” ujar Jian memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
Jeffryan tersenyum dengan sangat tipis, tak dapat dilihat karna sebagian wajahnya yang tertutup oleh oxygen mask.
“Papa, Jian gak mau berharap banyak. Tapi kalau Tuhan kasih Jian kesempatan, Jian mau ngobrol banyak sama Papa. Jian mau nurut sama Papa. Jian mau bersikap baik ke Papa.”
“Maafin, Jian ya Pa? Maaf karna Jian udah nyakitin hati Papa.”
Jian kembali terisak sambil mencium punggung tangan Jeffryan. Lelaki itu tak kuat harus menahan rasa cemasnya. Sakit, benar-benar sakit yang luar biasa.
Dan entah bagaimana, setelah Jian mengucapkan kata ikhlas, detak jantung Jeffryan berubah lambat. Jian bangun dari duduknya, menatap Jeffryan yang berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Papa? Papa?! Papa kenapa?!” Jian berubah panik saat Jeffryan menarik nafas panjang.
Suara nyaring dari mesin EKG langsung terdengar sangat jelas, bersamaan dengan Jeffryan yang menghembuskan nafas dan memejamkan matanya.
Tangis Jian kembali pecah pada pagi itu. Air mata yang mengiring kepergian Jeffryan. Air mata yang kembali keluar untuk menemani raga yang sudah tidak berjiwa lagi.
Mungkin, sejak kemarin Jeffryan menunggu kata ikhlas yang keluar dari mulut Jian. Hingga saat Jian mengatakan hal tersebut, Jeffryan sudah siap untuk dipanggil untuk kembali menghadap ke sang pencipta. Meninggalkan Jian dengan sendirian.
Dan sekarang, Jian benar-benar kesepian.