Takdir yang jahat?

Ruangan yang dipenuhi dengan cahaya penerangan dan juga cahaya kamera serta orang yang berlalu lalang tidak dapat mengganggu konsentrasi dari gadis yang menjadi objek utama dalam pemotretan.

Kara, gadis itu terus merubah gaya sesuai yang diperintahkan. Matanya yang sudah kebal dengan cahaya yang banyak membuat gadis itu tidak merasa terganggu sama sekali.

“Good Job, Aletta!” puji salah satu lelaki yang dari tadi memperhatikan Kara dibelakang monitor.

Kara tersenyum, gadis itu mendekati lelaki yang terus memantaunya—Geano.

“Thank you, sir.” ujar Kara tersenyum tipis. Gadis itu berjalan kearah ruang ganti.

“Nanti bakalan ada pemotretan sama salah satu CEO perusahaan.” teriak Geano.

Kara tak menjawab, gadis itu sibuk mengganti pakaian dan penampilannya.

Kara berdecak. Sudah tiga puluh menit pemotretan ditunda karna model lainnya belum datang.

“Mana sih? Kok lama banget?” tanya gadis itu yang sudah mulai kehilangan moodnya.

“Eee...sebentar ya, cantik.” ujar Geano dengan khawatir. Karna jika Kara sudah kehilangan suasana hati baiknya, gadis itu akan enggan untuk mengikuti pemotretan.

Tak berselang lama, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Geano dan juga Kara. Lelaki berpakaian formal abu-abu membuat ia terkesan gagah dan tampan.

“Maaf, saya telat.” ujar lelaki itu.

Kara terdiam, tangannya berubah gemetar saat ia melihat siapa yang akan menjadi rekan modelnya.

“J-jevan?”