Tangisan dari gadis terkuat.
Suara ricuh dari kelas Athaya membuat Gema semakin mempercepat langkahnya. Gema mendobrak pintu kelas Athaya yang tertutup, membuat seluruh anak kelas termasuk Kania tersentak karna terkejut.
Gema melihat sekitar, matanya langsung menangkap gadis dengan rambut yang berantakan sedang menangis tersedu. Gema langsung mendekati Athaya, memeluk gadis itu didepan semua orang.
“LO SEMUA DIEM AJA?! KASUS BULLYING GINI LO SEMUA GAK ADA TINDAKAN?! MANA TINDAKAN LO SEMUA?! GAK BERTINDAK KARNA INI RAZIA?! IYA?! GOBLOK! HARI INI GAK ADA RAZIA ANJING! KALO RAZIA MINIMAL ADA EMPAT OSIS YANG DATENG! BUKAN CUMAN SATU!”
Murka Gema yang masih memeluk Athaya. Matanya menatap tajam kearah Kania yang mematung, menatap takut kearah Gema yang telah diselimuti oleh emosi. Untuk pertama kalinya Gema semarah ini. Untuk pertama kalinya Gema menatapnya dengan tatapan seakan ingin membunuh.
“Siapa yang nyuruh lo buat razia?” tanya Gema penuh intimidasi. Kania hanya terdiam, lidahnya terlalu kelu untuk menjawab.
“JAWAB GUE, ANJING! PUNYA MULUT KAN LO?! KALO GAK MAU JAWAB GUE JAIT MULUT LO!” teriak Gema dengan kencang membuat Kania tersentak. Gadis itu menggeleng dengan pelan, tanda tidak ada siapapun yang menyuruhnya untuk merazia setiap kelas.
Gema tidak lagi menggubris, tangannya ia angkat untuk menggendong Athaya yang masih terisak. Lelaki itu langsung pergi dengan tatapan tajam mengarah kearah Kania.
Gema benar-benar murka sekarang.
—
Suara hening di ruangan UKS membuat Gema sedikit tenang. Gadisnya telah berhenti menangis, namun tatapan sendunya tak bisa membuat Gema percaya bahwa Athaya sudah kembali baik-baik saja.
“Tha.” panggil Gema membuat Athaya menoleh. Gadis itu menatap tangan Gema yang menggenggam tangannya.
“Kenapa, Kak?”
“Are you okay? Jangan bohong, please. Aku cemas, Tha.”
Athaya teriam sejenak, bibirnya ia tarik untuk tersenyum dengan senyuman mirisnya.
“I'm not fine. Lo tau kenapa gue jaga banget rambut gue?” tanya Athaya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Gema terdiam, menandakan bahwa ia tidak tau apa alasan Athaya.
“Kak, dari kecil gue selalu mau punya rambut panjang dan bagus. Namun entah kenapa rambut gue susah untuk numbuh. Lo tau, berapa lama gue numbuhin rambut buat panjang? 10 tahun, Kak. Dari gue kecil gue gak pernah potong rambut gue.” ujar Athaya dengan suara gemetar, gadis itu menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
“Tapi gue harus potong rambut pendek lagi. Gue harus nunggu puluhan tahun lagi supaya rambut gue panjang.” Athaya terkekeh hambar, gadis itu menghapus air matanya dengan kasar.
Dengan cepat Gema menarik Athaya kedalam pelukannya. Ia merasa bersalah karna ia merasa tak becus menjaga gadisnya. Gema telah kecolongan hari ini. Gema membuat Athaya sedih untuk pertama kali.
“Keluarin aja, Tha. Sedih lo jangan ditahan. Keluarin semua uneg-uneg lo di pelukan gue.”