Tara, teman terbaik untuk Bryan.

Bryan dengan pakaian santainya berlari dengan kencang dilorong rumah sakit yang ramai. Setelah mendapatkan pesan dari Ayyara, lelaki itu langsung menancapkan gas mobilnya kerumah sakit. Ingin melihat keadaan Tara yang ia harapkan tak sesuai dengan fikirannya.

Langkahnya terhenti saat melihat Dirga didepan ruangan Bintang. Temannya itu sedang berbincang dengan dokter yang baru saja memastikan kembali keadaan Bintang.

Dengan tak santai Bryan menarik bahu Dirga, menatap lekat lelaki itu dengan mata yang penuh ketakutan.

“Mana Tara?” Tanya nya dengan geram.

Dirga diam. Ia sedang memutar otak untuk memberitahu Bryan tetapi secara perlahan. Namun sialnya Bryan membentak Dirga hingga lelaki itu tersentak.

“DIMANA TARA?!”

“Ruang jenazah!”

Nafas Bryan memberu. Tubuhnya seketika lemas saat apa yang ada difikirannya benar-benar kenyataan. Tara, sahabat Bryan sejak lama. Teman yang selalu membantunya saat jatuh bangun. Bahkan teman yang rela mengorbankan pekerjaannya sebagai manager di perusahaan untuk Bryan.

Hatinya mencolos saat ia melihat Tara yang diselimuti kain putih. Tubuhnya yang kaku serta dingin. Tak ada tanda kehidupan sama sekali disana.

“Tar...”

Suara Bryan terdengar gemetar. Dan berakhir ruangan itu diisi isakan Bryan. Isakan yang menandakan bahwa ia kehilangan satu orang tersayangnya. Kehilangan manusia yang paling berarti untuknya.

Tara terlah pergi. Meninggalkan kenangan yang paling terbaik untuk mereka. Bahkan kebaikan Tara tak dapat dihapuskan begitu saja.

Tara berjasa untuk semuanya. Dan sekarang, giliran mereka membalas jasa Tara.