Terimakasih Banyak.

Sejak tadi, pandangan Darma tak luput dari anak pertamanya yang baru saja lahir. Erlangga Pratiaga.

Anak pertama yang disambut dengan tangis bahagia dan juga senyuman dari kedua orang tuanya.

“Al, anak kita ganteng.” ujar Darma untuk kesekian kalinya.

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke Almara. Mendekati istrinya yang masih terbaring lemas pasca lahiran. Tangannya mengusap surai rambut Almara dengan lembut, kening wanita itu ia cium cukup lama.

“Makasih banyak.” bisiknya dengan suara bergetar.

Lagi, Darma kembali menangis setelah memeluk Almara. Mengucapkan terimakasih berkali-kali dan rasa syukur yang teramat besar. Darma sangat menyayangi Almara.

“Darma, terimakasih kembali. Tanpa lo mungkin gue udah kehilangan jagoan kita.” ujar Almara menghapus air mata Darma.

Darma mengeratkan pelukannya. Perasaannya sangat bercampur aduk. Senang, bahagia, bersyukur dan yang lainnya saling menyatu didalam perasaan lelaki itu.

Mungkin tanpa Almara, Darma tidak akan bertahan. Mungkin tanpa Almara, Darma tidak akan memiliki alasan untuk hidup. Dan mungkin tanpa adanya Erlangga, Darma tidak akan pernah disebut sebagai Papa.