Thank you, Gama.

Lampu tumblr yang berkelap-kelip membuat pandangan gadis bermata bulat itu bersinar. Gadis dengan dress ungu sebawah lutut berjalan mengitari sebuah resto yang alamatnya tertera pada surat pendek yang diberikan oleh kekasihnya.

Matanya menangkap lelaki yang sudah duduk pada salah satu meja yang dihiasi oleh lilin dan beberapa makanan yang tertata dengan begitu rapih.

Langkah kecil itu dengan perlahan berjalan mendekati meja bundar yang ia yakini adalah meja Gama karena ia melihat lelaki itu mengenakan jas hitam rapih yang ia kenakan.

“Kak Gama.” panggil Miu dengan suara yang sedikit ragu.

Lekaki itu langsung menoleh kearah sampingnya ketika merasa namanya terpanggil oleh seorang perempuan. Mata Gama memperhatikan Miu yang mengenakan dress pemberiannya. Manatap takjub gadisnya yang begitu cantik pada malam yang begitu indah.

Gama berdehem pelan untuk melepaskan rasa canggung, lelaki itu memutari meja untuk mendekati kursi milik Miu. Ia menarik kursi itu sedikit dan mempersilahkan Miu untuk duduk disana. “Sini duduk.”

“Makasih, Kak.” Miu duduk pada kursi yang sudah dipersiapkan. Ia kembali memperhatikan Gama yang berjalan untuk duduk kembali dikursinya.

Kedua insan itu terdiam ketika mereka sama-sama bingung memilih percakapan. Gama terlalu sulit untuk mencari topik dan Miu yang sedang mengontrol degup jantungnya.

“Mi, happy anniversary. Maaf udah bikin kamu marah terus belakangan ini.” Gama menatap Miu yang mematung dihadapannya.

“Sebenernya aku bukan anterin Yera, tapi aku yang minta Yera anterin aku. Yera bantu aku buat cari dress dan bunga buat kamu. Dia yang bantu aku pilihin hadiah buat Anniv kita hari ini. Dia juga yang bantu aku buat cari resto hari ini.”

*“Maaf udah bikin kamu curiga terus, maaf udah selalu bikin kamu marah belakangan ini. Jangan mikirin yang enggak enggak ya? Aku sayang sama kamu, aku susah dapetin kamu apa lagi waktu kamu direbutin banyak orang. Dan aku beneran seneng karena kamu pilih aku.”

Gama memberhentikan perkataannya sebentar, lelaki itu menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan ucapannya.

“5 tahun lagi kamu bakalan lulus kuliah, dan disitu aku bakalan lamar kamu saat itu juga. Tunggu ya? Sekarang aku cuman bisa kasih bunga buat kamu.”

Gama mengambil bunga tersebut yang berada dipangkuannya sejak tadi. Memberi sebuah buket bunga lavender kepada gadisnya. Miu langsung menerima buket tersebut, menatap dengan begitu senang karena Gama memberikan sebuah buket bunga yang ia inginkan.

“Lavender artinya cinta dan keabadian. Aku kasih ini ke kamu karena aku berharap kamu itu cinta abadi aku.”

Miu menoleh kearah Gama ketika lelaki itu selesai berbicara. Gadis itu menaruh bunga tersebut diatas meja yang masih dipenuhi oleh makanan yang belum tersentu sama sekali.

Ia mendekari Gama dengan cepat, mendekap lelaki itu dengan begitu eratnya.

“Makasih banyak Kak Gama, maaf aku selalu marah dan cemburuan sama kamu. Aku cuman takut kamu jadi lelaki brengsek kayak pacarnya temen-temen aku.” Miu mengeratkan dekapannya, menghirup dalam-dalam aroma favoritnya.

Gadis itu terlalu takut Gama akan bosan dengan hubungan yang sudah terjalin dari dua tahun yang lalu. Apa lagi mereka berbeda angkatan. Gama yang sudah kuliah dan Miu yang masih kelas 11.

Namun Gama tidak mudah berpaling dari gadis cantik yang ada dihadapannya. Hatinya sudah terpaut begitu kuat dengan Miu yang ia perjuangkan selama tiga tahun. Bahkan langkahnya terlalu sulit untuk pergi dari sisi gadisnya.

Banyak yang lelaki itu pertaruhkan untuk mendapatkan Miu, gadis cantik yang memiliki pesona luar biasa. Banyak yang Gama pelajari hanya untuk mengejar cintanya.

Nyatanya Gama dan Miu sama-sama banyak belajar tentang sesuatu yang awalnya mereka tidak tau. Gama belajar memahami perempuan dan Miu yang belajar memahami apa itu cinta dan rasa sayang.