The Day.
Suasana ramai pada ballroom hotel yang telah di sewakan untuk pernikahan Kara dan juga Tama membuat gadis itu sedikit cemas. Entah mengapa rasanya sangat takut jika nanti ada kesalahan yang membuat acaranya berantakan. Entah Tama atau Kara yang membuat kesalahan nantinya. Namun Kara harap semoga semuanya berjalan sesuai rencana.
Sedari tadi Kara sibuk memperhatikan dirinya yang sudah didandani rapih oleh MUA terkenal didaerah Jakarta. Gadis itu merasa sangat puas dengan hasilnya. Gaun putih dan juga riasan berubah anting serta mahkota kecil yang terpasang di kepalanya. Membuat gadis itu terlihat sangat cantik dari hari biasa.
Bibir Kara tersenyum, matanya tetap memperhatikan cermin yang memantulkan dirinya. Namun dengan perlahan senyum itu hilang saat ia melihat laki-laki paruh baya memasuki ruang gantinya. Mendekati Kara yang menatap lelaki itu melalui cermin yang terpasang.
“Ana.” sapa lelaki itu.
Kara tersenyum, ia sangat suka dengan panggilan itu. Ana, panggilan yang diberikan oleh Papi nya karna Kara sangat menyukai kartun Frozen dulu. Gadis itu berbalik perlahan, menatap Papinya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Namun Kara yakin, jiwa lelaki itu masih saja menganggap dirinya seorang remaja.
“Papi!” Kara langsung memeluk Papinya. Rasa rindu yang selalu di pendam membuat gadis itu terus memperhatikan foto Papinya setiap malam.
“Anak Papi sudah besar ya? Sudah ingin diambil oleh lelaki lain.” ujar Abraham — Papi Kara berhasil membuat gadis itu terisak.
*“Ssstt, masa anak Papi nangis?” Abraham mengusap rambut Kara dengan lembut.
Gadis itu mengeratkan pelukannya, merasa senang karna Papinya datang untuk menghadiri pernikahannya.
—————————————————————
Tama Raldrick. Lelaki dengan baju pengantin berwarna putih itu terlihat sangat gugup dihadapan penghulu. Tangannya terasa sangat dingin karna suhu di ballroom tersebut. Namun matanya tak lepas dari Kara yang duduk disebelahnya dengan senyuman. Calon istrinya yang terlihat sangat anggun dan cantik. Membuat dirinya ada rasa takut tersendiri. Takut jika Kara disukai oleh lelaki lain.
“Sudah siap?” tanya Abraham kepada Tama.
Tama mengangguk, lelaki itu membalas jabatan tangan Abraham. Abraham memulai membaca do'a dan syahadat, yang diikuti oleh Tama.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Tama Raldrick binti Yasha Raldrick dengan anak saya bernama Karana Raletta dengan emas kawin seberat tiga gram dan mahar satu miliar dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Karana Raletta binti Abraham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Bagaimana? Sah?”
Semua orang berucap secara bersamaan. Mengikuti proses ijab qobul dengan perasaan yang amat senang. Menjadi saksi pernikahan sahnya Karana Raletta dan juga Tama Raldrick. Menjadi saksi bahagia mereka berdua.
Dan pada hari itu, Kara berhasil memenuhi permintaan terakhir Jevan. Kara telah bahagia dengan kehidupan barunya. Kara telah bahagia dengan suasana barunya. Dan Kara telah bahagia dengan cinta barunya.