the failed birthday party
Suasana ramai pada ballroom hotel yang telah disewa oleh Jeffry membuat Evelyn melihatnya dengan sangat terpukau. Sejak tadi, Evelyn telah menjadi perhatian dari tamu-tamu yang telah diundang. Entah tempat kampus, partner bisnis dari Papa Orelyn, atau partner bisnis dari Ayah Haekal. Semua mata tertuju pada gadis yang menggunakan dress berwarna merah mencolok.
“Vel, dari tadi pada liatin lo terus tau.” bisik Kaira yang sebenarnya merasa sangat malu karna ikut di perhatikan sejak tadi.
“Biarin aja ah. Palingan mereka liatin gue karna gue cantik.” ucap Evelyn dengan sangat pedenya.
Gadis itu memperhatikan sekitar dengan sangat intens, mencari lelaki yang akan menjadi partner couple-nya malam ini. Namun sejak tadi ia tak melihat Haekal berada disekitarnya.
Evelyn memilih untuk duduk pada salah satu kursi yang telah tersedia bersamaan dengan meja bundar. Diikuti oleh Kaira dan Airen yang mengekorinya sejak tadi. Matanya masih menelusur, mencari Haekal yang belum ia temukan keberadaannya. Namun, mata itu menangkap sebuah nama yang terpasang ditengah panggung acara. Inisial nama yang membuat Evelyn berfikir dengan keras
“O&H? H is Haekal? And O? Who?” gumam Evelyn dengan sangat penasaran. Gadis itu berfikir dengan keras. Berharap inisial O bukanlah nama yang terlintas di otaknya sekarang.
Namun fikirannya buyar saat ia mendengar suara laki-laki yang sangat asing untuknya. Evelyn menoleh kebelakang, menatap lelaki yang baru saja memanggilnya.
“Hallo, Evelyn.”
“Oh? Hai, Kak Gean.” balas Evelyn dengan sangat ramah. Gadis itu berdiri dari duduknya, membungkuk dengan sopan dihadapan Gean yang tersenyum tipis. Dan lagi-lagi, diikuti oleh Kaira dan Airen tentunya.
“Kamu diundang? Kok saya gak tau?”
“Oh iya, saya calon dari cowok yang adain acara ini, Kak. Kakak diundang juga ya?”
Sebelum Gean menjawab, lelaki itu dengan reflek menaikan sebelah alisnya. Tanda ia bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Evelyn. Setau dirinya, Haekal adalah pacar dari adik sepupunya.
“Oh, nggak. Saya datang aja karna ini acara adik sepupu saya.” jawab Gean sembari menyeruput minuman berwarna merah tua tersebut.
“Oh, adik sepupu Kakak itu Haekal ya? Wah, aku baru tau.” ucap Evelyn dengan sangat bersemangat.
“Bukan, maksud sa—” ucapan Gean harus terpotong sebab MC acara telah memulai acaranya.
Gean pergi dari tempat Evelyn, kembali menuju mejanya yang berada dipaling depan tempat khusus untuk keluarga besar pemilik acara.
“Selamat malam semunya. Thank you udah luangin waktu kalian untuk mendatangi acara besar dan berharga dari pewaris tunggal kedua perusahaan besar sekarang.”
Pembukaan yang diucapkan oleh MC membuat Evelyn berdecak. Gadis itu sungguh tidak suka basa-basi disebuah acara.
“Oke. Sekarang kita sambut dengan meriyah kedua pewaris tunggal yang merayakan ulang tahunnya ke-20 tahun. Haekal Dinoswara dan Orelyn Sinagar!”
Suara meriah dari tepuk tangan para tamu tak dapat menghilangkan wajah terkejut Evelyn. Gadis itu menatap kearah Haeka yang menggandeng Orelyn untuk menaiki panggung. Matanya berubah tajam saat Haekal mengenakan tuxedo yang senada dengan milik Orelyn, bukan dirinya.
“Hah? Orelyn anak orang kaya? Gue gak nyangka.” bisik Kaira dapat didengar oleh Evelyn.
“Vel, katanya Haeka couplean sama lo? Mana? Lo halu ya?” kali ini Airen yang bertanya.
Tangan Evelyn terkepal dengan kuat. Dengan langkah yang sangat berani, gadis itu menaiki panggung dengan emosi yang memuncak. Tangannya menarik tangan Orelyn hingga gandengan tersebut terlepas. Membawa Orelyn untuk turun panggung dengan langkah yang tak sabaran.
“Lo?! Lo ngapain disini?!” tanya Evelyn dengan nafas yang memburu. Emosi gadis itu sungguh menggebu-gebu, menatap tajam Orelyn yang hanya memasang raut wajah bingung.
“Gue? Orang gue yang punya acara.” ujar Orelyn dengan sangat santai.
Emosi Evelyn benar-benar memuncak sekarang, gadis itu langsung menjambak rambut Orelyn hingga Orelyn mendangak kebelakang. Para tamu serta Haekal mendekati keriburan, namun tak ada satu pun yang memisahkan mereka. Padahal jelas-jelas mereka mendengar ringisan dari Orelyn.
“HARUSNYA LO GAK ADA DISINI! HARUSNYA GUE YANG ADA DISAMPING HAEKAL! HARUSNGA GUE YANG DIGANDENG SAMA HAEKAL! BUKAN SAMA LO, JALANG!” Evelyn berteriak didepan wajah Orelyn.
Orelyn tak mampu menjawab apapun, rahang serta lehernya telah tertarik kebelakang sembari meringis. Merasakan sakit luar biasa dari jambakan Evelyn.
“ANJING LO! SIALAN! BANGSAT!” Emosi Evelyn benar-benar tak dapat terbendung. Gadis itu menarik gaun Orelyn hingga sobek, mencakar lengan dan wajah Orelyn dengan sangat buas. Seperti hewan liar yang akan memakan mangsanya.
“HEI! ADA APA INI?!” suara bass dari seorang lelaki membuat Evelyn melepaskan jambakannya sehingga Orelyn jatuh kelantai. Haekal segera mendekat ke kasihnya, menatap wajah Orelyn yang sudah penuh luka.
“Siapa yang berani mengacaukan acara putri saya?” suara dingin nan menyeramkan milik Jeffry membuat semuanya terbungkam. Termasuk Evelyn yang telah terlihat dimata Jeffryan.
Bukan hanya Jeffryan yang membuat Evelyn memaku ditempat. Namun, sang Papa yang berada dibelakang Jeffryan menjadi salah satu alasan Evelyn tak bisa bergerak untuk berkutik.
“Anak sialan!”