Tolong

Karana Raletta, model terkenal dengan jutaan penggemar. Tanpa mereka tau bahwa idola mereka menanamkan kesedihan yang amat dalam. Kesedihan yang bisa merubah kehidupannya. Dan juga perjalanan pahit yang belum menemukan titik manisnya.

Gadis itu meminum secangkir teh hangat yang tersedia di pesawat yang ia tumpangi. Matanya memandangi gumpalan awan yang begitu indah dan cantik. Sesekali Kara mengambil beberapa gambar untuk ia simpan sebagai kenangan.

Ruangan Privat yang Tama pesan membuat Kara sangat nyaman. Tak banyak orang yang menatap Kara seperti biasa. Hanya ada Tama dan Kara. Dan mungkin jiwa Jevan yang selalu mengikuti Kara.

“Aletta, sebentar lagi waktunya makan siang. Setelah itu kamu harus tidur.” perintah Tama namun Kara tetap abai.

Kara terdiam sejenak, ia memandangi Tama yang duduk dihadapannya sambil membaca majalah bahasa Inggris.

“Tama.” panggil Kara membuat Tama menaruh majalahnya. Ia menatap wajah Kara dengan tatapan yang sangat amat lembut.

“Yes, honey?”

“Tama, saya rindu Jevan.”

Empat kata. Empat kata yang mampu meruntuhkan harapan Tama perihal Karana. Empat kata yang memiliki makna yang sangat banyak. Cinta, rindu, ingin memiliki, ingin bersama dan sebagainya. Empat kata yang membuat Tama semakin memendam rasanya kepada Kara.

“Tama, saya hanya rindu, bukan ingin kembali. Ya memang dulu saya ingin kembali dengan Jevan, namun perasaan saya harus saya kubur dengan sangat dalam karna Tuhan lebih sayang kepada Jevan.”

“Tama, kamu mau tau satu hal?” tanya Kara membuat Tama menaikan satu alisnya. Mata mereka bertemu, mata dengan perasaan yang hampir sama.

“Saya nyaman dengan kamu, Tama. Saya—”

“Nyaman sebagai teman, right?”

Kara tersenyum tipis. Itu adalah kata yang Kara lontarkan disaat gadis itu trauma dengan lelaki.

“Yes. We just friend, Tama. But, saya mau rubah semua itu.”

“Maksud kamu?”

“Tama, saya sudah menemukan orang yang tepat untuk saya. Bukan, bukan Jevan seperti yang kamu pikirkan. Ya, saya menyayangi Jevan. Sangat menyayangi. Tapi kalau Jevan adalah bahagia saya, kalau Jevan adalah cinta saya, Jevan tidak akan pernah meninggalkan saya kan?”

“Dan saya sadar, bahagia saya juga ada di kamu, Tama.”

Ucapan Kara jelas membuat Tama terkejut. Lelaki itu membulatkan matanya, menatap Kara dengan degup jantung yang sangat kencang.

“A-al?”

“Tama, saya nyaman dengan kamu, saya bahagia dengan kamu, saya sadar perihal perasaan saya ke kamu. Jadi tolong ya? Tolong tuntun saya untuk menempatkan hati saya ke kamu, tolong tuntun saya untuk menyayangi kamu lebih dalam, tolong tuntun saya untuk membahagiakan kamu, dan tolong tuntun saya untuk mengikuti kamu mengucapkan janji suci didepan keluarga dan tamu undangan.”

“Tolong ya, Tama?”