Tulisan Ke-empat Belas; Maaf & Luka.

tw // mention of death.

Sebuket bunga mawar yang berada ditangan Haekal dibawa oleh lelaki itu menuju sebuah makam orang yang terakhir kali menjadi saksi hidupnya. Sebuah gundukan tanah yang sudah dirapihkan dengan sangat indah membuat Haekal tersenyum tipis dengan perasaan yang sangat bercampur aduk.

Lelaki itu berdiri disamping makam milik sang Papa. Ia menaruh buket bunga tersebut diatas makam dengan harapan Papanya akan tersenyum karena melihat bunga kesukaannya. Haekal berjongkok, menatap nisan yang bertuliskan nama sang Papa dengan sangat apik. Walaupun tulisan tersebut sudah hampir pudar karena sudah cukup lama Papanya tertidur dibawah tanah.

Haekal mengusap batu nisan tersebut dengan amat lembut. Membersihkan beberapa rumput dan dedaunan yang jatuh diatas makam Papanya. Sedangkan otaknya sedang berputar untuk menyusun sebuah kalimat yang akan ia utarakan.

“Papa.” kata pertama yang membuat Haekal menghela nafas berat. Ia duduk tanpa dengan alas, tidak perduli jika bajunya akan kotor karena tanah yang basah akibat tersiram dengan air hujan.

“Pa, Ekal gagal.” satu kalimat keluar dengan suara yang gemetar. Haekal menahan tangisnya, ia gunakan lengan kanannya untuk mengusap kedua mata yang mulai basah.

“Pa, Ekal gagal jadi kepala keluarga. Ekal gagal jadi suami yang baik buat Orelyn, Ekal gagal jadi ayah yang baik buat Rekal dan Ely, Ekal gagal buat kasih mereka kebahagiaan, Pa.”

“Ekal ingkarin semua janji Ekal ke Orelyn. Ekal bajingan, Ekal brengsek, Ekal bukan manusia, Pa. Bajingan kayak Ekal gak pantes buat hidup, Pa. Harusnya Ekal yang ada di posisi Papa, Ekal yang harusnya tertimbun tanah, Harusnya Ekal, Pa. Harusnya Ekal.”

Haekal menundukkan kepalanya. Menatap kedua kakinya dengan kedua pipi yang basah.

“Kenapa orang jahat kayak Ekal gak langsung di panggil Tuhan? Apa karena banyak yang mau liat Ekal berantakan ya, Pa? Banyak yang mau liat Ekal sengsara ya, Pa? Temen-temen Ekal, anak-anak Ekal, Orelyn, Papa Jeff. Semua mau Ekal berantakan, Pa.”

“Ekal gak tau, kalau Ekal dapetin rasa sengsara itu Ekal bakalan bertahan atau enggak. Ekal gak tau. Gak ada yang nopang Ekal, Pa. Sama sekali gak ada yang topang tangan Haekal buat lewatin semuanya.”

Tetesan air mata itu jatuh diatas lengan Haekal. Tangisan yang awalnya ia tahan sekuat tenaga, berakhir pecah dengan keras. Lelaki itu terisak, melampiaskan semua rasa sesalnya yang tidak bisa ia ungkapkan langsung kepada keluarga kecilnya.

Haekal meremas kedua lengannya, berusaha menahan tangisan yang semakin sulit untuk dia kontrol dan ia tahan. Semakin Haekal tahan, semakin banyak memori tentang keluarga kecilnya. Semakin banyak Haekal mengingat bagaimana jahatnya ia kepala keluarga kecilnya.

“Pa, kalau Haekal pergi apa masih ada yang mau antar Haekal? Ada yang mau antar bajingan ini? Gak ada kan, Pa?”

“Ekal gak pantas dapat apapun sekarang. Bahkan, hirup oksigen aja rasanya Ekal gak pantes, Pa.”