tw // kekerasan
—
Taxi Oneline yang ditumpangi Ayyara berhenti didepan gerbang rumahnya. Ayyara berucap terima kasih sebelum turun dari Taxi Oneline. Lalu segera masuk kedalam.setelah gerbang rumahnya dibukakan oleh penjaga.
Ayyara tersenyum saat melihat Papa-nya berada didepan pintu sambil melihat kearah Ayyara. Ayyara yakin pesan Naura itu salah. Bryan tidak akan menampar dirinya.
Kakinya perlahan mendekat, ingin memeluk sang Papa, namun-
Plak-!
Satu tamparan melayang dengan keras di pipi kanan Ayyara.
Ayyara mematung, diam sejenak untuk mencerna situasi. Ia memegang pipi kanannya, terasa panas dan perih secara bersamaan. Lalu satu air mata itu jatuh begitu saja.
“Papa tidak pernah mengajari kamu untuk menjadi anak yang tidak baik, Ayyara!”
Bryan teriak marah didepan Ayyara. Tentu gadis itu tersentak dan menatap takut sang Papa.
Ayyara bingung sekarang. Memangnya apa yang ia lalukan hingga membuat Papa nya marah seperti ini? Bahkan Ayyara hanya berada dirumah sakit belakangan ini.
“Pa..sakit..” suara Ayyara bergetar. Tangan gadis itu masih memegangi pipinya yang terasa nyeri.
“Papa malu, Ayyara! Rasa sakit kamu gak sebanding dengan rasa malu Papa karna kamu berani berciuman!”
Bryan mengambil handphone nya dengan tergesa. Lelaki itu sudah berada di puncak amarahnya semenjak di kirimkan foto oleh anak tirinya.
“Lihat! Papa kecewa sama kamu, Ayyara!” Bryan menunjukan fotonya kepada Ayyara.
Ayyara terdiam, lalu ia terkekeh secara gamblang.
“Papa tau gak yang sebenarnya? Papa tau gak kalau Ayya cuman ngambil gelas yang ada di nakas? Nakasnya ada di sebrang Ayya, makannya Ayya kayak keliatan deket sama Bintang. Tapi nyatanya Ayya gak lakuin perlakuan murahan itu, Papa! Ayya gak semurah itu! Ayya punya harga diri yang harus Ayya jaga! Ayya punya kehormatan yang harus Ayya rawat! Dan Ayya punya hati yang sayangnya udah Papa hancurin sejak saat ini.”
Suara Ayyara terdengar lirih di kalimat terakhirnya. Gadis itu menatap kecewa pada Bryan. Menatap dengan mata merah yang bergelinang air mata.
Nyatanya Papa nya benar-benar berubah. Sang Papa sudah seperti monster untuk Ayyara. Bahkan Bryan tak lagi mau mendengar penjelasan Ayyara terlebih dahulu.
“Papa ingkar janji Papa beberapa jam yang lalu.”
Setelah berucap seperti itu Ayyara langsung masuk kedalam. Langsung mengunci dirinya dan bersandar pada balik pintu. Gadis itu terisak dengan keras. Melampiaskan semua kemarahannya.
“Ayya kecewa sama Papa.”