Uwu Content
Di belakan sekolah, satu kursi panjang yang terpajang di dekat gudang sudah terisi oleh dua orang yang saling terdiam sejak tadi. Gema yang sibuk memperhatikan Athaya yang murung. Sedangkan Athaya yang sibuk dengan pikiran buruknya.
Gema menggenggam tangan Athaya dengan perlahan. Membuat gadis itu tersentak dan menoleh. Menatap mata Gema yang menatapnya dengan khawatir.
“Tha, you okey?” Tanya Gema dengan suara pelan. Sungguh, lelaki itu sangat mencemaskan kekasihnya. “Kalo ada apa-apa, bilang aku ya? Aku khawatir.” Ujarnya setelah tak ada jawaban apapun dari Athaya.
Athaya menghela nafas pelan, berusaha menghilangkan rasa khawatirnya yang menjalar sejak tadi.
“Kak Gema.” Suara Athaya terdengar gemetar, gadis itu terlalu takut membuat Gema malu. Athaya juga takut akan kehilangan Gema.
“Aku buat malu kakak ya? Kata Shanneth, aku gak cocok sama Kakak. Aku cuman bikin Kakak malu karna aib keluarga aku.” Satu air mata Athaya berhasil lolos dari pipinya.
Gema langsung mendekap Athaya, mengusap punggung kekasihnya supaya tenang. Namun emosinya sudah mulai tumbuh secara perlahan.
Shanneth sialan!
“Tha, kamu gak lupa kan apa yang aku bilang?” Ujar Gema sambil mengusap rambut gadis yang sedang menahan isakan didalam dekapan Gema.
“Kamu jangan pernah mikir kalau aku pacarin kamu dengan kata 'tapi' atau 'tujuan' yang buat kamu gak nyaman. Aku tulus sama kamu, Tha. Aku sayang banget sama kamu. Harus berapa kali aku bilang kalau kamu itu penyembuh aku? Kamu gak bikin aku malu, Tha. Tapi kamu bikin aku sayang banget sama kamu.”
“Tha, aku gak pernah mandang sebelah mata soal keluarga kamu. Karna kita sama dimata Tuhan. Sejak kecil, aku selalu diajarin bagaimana caranya menghargai sekitar aku. Dan aku rasa pelajaran itu berguna buat aku. Aku sayang kamu, Tha. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak pernah mikir kamu siapa dan kamu dari mana.”
“Udah ya? Hilangin pikiran jelek kamu. Aku bakalan terus sama kamu. Sampai kapanpun. Mau ada Shanneth atau perempuan cantik yang lainnya, kamu gak akan ada yang bisa gantiin, Tha. Your only one.”
Tangis Athaya langsung pecah seketika. Gadis itu mengeratkan pelukannya. Memaksakan dirinya untuk merasakan usapan yang diberikan Gema pada rambut pendeknya.
Lagi. Athaya lagi-lagi mengucapkan rasa bersyukur atas kehadiran Gema. Merasa sangat pantas mendapatkan lelaki itu. Merasa sangat beruntung karna memiliki Gema yang sangat perhatian dengan dirinya.
Jika Athaya sudah mempunyai Gema yang sempurna, gadis itu tak akan pernah memandang lelaki lain. Karna menurutnya, Gema itu sudah berhasil memenuhi hidupnya.