Wedding

Iris mata coklat milik gadis yang berwajah datar hanya melihat proses akad pernikahan dari jarak yang jauh. Disana, ia dapat melihat mantannya duduk dengan jas pengantin berwarna biru tua. Sedangkan disebelahnya ada seorang wanita mengenakan gaun pernikahan.

Alingga terkekeh pelan. Merasa miris dengan nasibnya. “Harusnya gue, Tas. Bukan lo. Tapi gue masih berbaik hati sama anak yang ada di kandungan lo.” batin Alingga.

Angkasa melirik Alingga yang berada disampingnya. Terlihat jelas mata gadis itu dipenuhi kebencian dan juga dendam. Dengan ragu Angkasa menggenggam jari jemari milik Alingga, yang ternyata juga dibalas genggaman oleh gadis itu.

Acara Akad pernikahan telah selesai. Banyak orang yang berhamburan untuk mengucapkan selamat pada Langit dan juga Tasya. Namun dalam sekejap suasana didalam ballroom hotel berubah panas. Segerombolan orang dengan seragam polisi datang mendekati Papa Tasya.

“Dengan Pak Prayoga?” tanya polisi tersebut.

Prayoga mengangguk dengan ragu. Matanya menatap beberapa polisi dengan takut. Ia tersentak saat tangannya di borgol oleh salah satu polisi dan tangannya langsung ditahan oleh dua polisi.

Tasya yang melihat itu langsung mendekat, menatap bingung dengan segerombolan polisi yang mengamankan Papanya.

“Maaf, Pak. Ini Papa saya? Kenapa Papa saya ditahan?” tanya wanita itu dengan panik.

“Begini, nak. Papa kamu kami tangkap karna laporan yang kami terima sejak lama. Papa kamu telah melakukan pengebom-an terhadap salah satu perusahaan dan menewaskan beberapa orang disana.”

“Nggak! Gak mungkin Papa lakuin itu! Papa saya ini orang baik, Pak!” Tasya berusaha mendorong semua polisi untuk menjauh Papanya.

Ia langsung memeluk sang Papa dengan erat. Takut jika Prayoga dibawa ke penjara.

“Lepas.” suara seorang gadis mengalihkan atensi mereka.

Alingga menatap dingin, tangannya sudah terkepal kuat sejak tadi, bahkan kepalanya sudah terasa sangat panas sekarang.

“Lepas jalang!” Alingga menarik Tasya dengan kuat hingga Tasya membentur tubuh Langit yang berada di belakangnya.

“Bawa orang tua ini sekarang. Saya mau hukuman yang setimpal untuk dia.” perintah Alingga.

Tangis Tasya pecah saat sang Papa dibawa keluar dari hotel. Gadis itu ingin mengejar Papanya, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh Alingga.

“Inget anak lo sama Langit, brengsek.” ujar Alingga membuat Tasya terdiam.

“Kenapa diem? Lo mikir gue tau dari mana? Iya?” Alingga berjalan kehadapan Tasya, matanya memperhatikan wajah Tasya yang penuh dengan air mata.

“Jangan fikir gue diem aja karna gue gak tau apa-apa, Sya. Lo udah hamil sejak dua minggu yang lalu kan? Pinter banget lo sembunyiin.” ujar Alingga tak di gubris oleh Tasya yang sudah kepalang takut.

Iris mata Alingga kini beralih kepada Langit yang diam saja. Tak membela dirinya atau pun Tasya sejak tadi.

“Jagain suami lo. Kalo dia HS sama yang lain, mungkin itu karma buat lo. Dan satu lagi. Jangan harap lo bakalan tenang untuk kedepannya. Setelah lo lahiran, gue minta kalian berdua cerai. Oke?”

“Alin, anak gue gak ada salah apapun. Please, jangan suruh gue cerai sama Langit.”

“Hahahaha, gak tau malu banget lo? Lo fikir gue suruh Langit nikah karna gue kasian sama lo? Nggak! Tapi gue mau lo ngerasain gimana tersiksanya gue yang harus putus dari Langit karna lo!”

“Mau lo atau Langit yang jatuh cinta nanti, gue gak perduli. Gue mau kalian cerai saat anak lo lahiran.” ujar Alingga dengan lantang. Suara berbisik langsung terdengar di sekitarnya. Membuat gadis itu terkekeh dengan remeh.

“Ih kok murahan banget?”

“Cowoknya cocok sama ceweknya. Sama-sama murahan.”

“Gue jadi nyesel pernah suka sama Langit.”

“Balik aja yuk. Males gue hadirin pernikahan si jalang.”

Alingga membalikan badannya, meninggalkan ballroom yang berubah hening sekarang. Acara pernikahan Langit dan Tasya telah berantakan. Omongan-omongan jahat dari para tamu dapat Tasya dan Langit dengar.