Kakdoyiiee

Gue Esa, bukan Bulan

Bulan memakan bekalnya dikantin dengan tenang. Dirinya tak perduli dengan Bumi yang duduk di dekatnya sambil berucap maaf sejak tadi. Meminta Bulan untuk kembali lagi kerumahnya.

“Bulan, kalau lo gak mau pulang gpp. Maaf udah cukup buat gue.”

“Gue Esa, bukan Bulan.” ujar Bulan pada akhirnya.

“Esa, gue lebih suka dipanggil Esa dari pada Bulan. Bulan buruk buat gue.” lanjutnya.

Bumi terdiam. Merasa sangat asing dengan panggilan Esa namun harus Bumi iyakan.

“Iya. Esa, maafin gue ya?”

“Kalau gue maafin, apa lo bisa sembuhin luka gue?”

Lagi-lagi Bumi terdiam. Ia tak tau apakah luka itu masih bisa disembuhkan atau tidak. Tapi semoga aja masih bisa Bumi sembuhkan.

“Bisa. Gue bakalan lakuin apapun buat lo.”

“Kalau gitu lo jangan ikutin gue lagi.”

Final Bulan lalu meninggalkan Bumi. Bahkan melewati Gala tanpa menyapa apapun.

Mahesa Pragupta

“Keren.” ujar lelaki yang berada samping Bulan. Lelaki itu membaca pesan Bulan dengan Awan.

Bulan tersenyum sambil menatap lawan jenisnya. Mahesa namanya. Lelaki yang telah menyelamatkan Bulan dari kekacauan. Lelaki yang melindungi Bulan selama 3 bulan kebelakang. Dan lelaki yang bisa membuat Bulan ikhlas tentang Agala.

Singkatnya, Bulan telah jatuh kepada pesona Mahesa Pragupta.

“Berkat kakak juga. Makasih ya.” ujar Bulan sembari tersenyum.

Mahesa mengacak rambut Bulan dengan gemas. Lelaki itu sangat menyayangi Bulan. Perempuan pertama yang berhasil membuat Mahesa terkagum dengan pikiran Bulan.

Mahesa bertemu dengan Bulan saat gadis itu meringkuk dibawah halte bus. Bulan terisak pada malam itu, dibawah derasnya hujan yang membuat angin malam menjadi lebih dingin.

Awalnya Mahesa berfikir bahwa itu adalah salah satu hantu Indonesia yang Mahesa ketahui. Namun setelah Mahesa memperhatikan lagi, ternyata itu adalah gadis cantik yang nyatanya manusia.

Gadis yang berhasil membuat Mahesa memberi seluruh hatinya untuk Bulan Hireksa.

“Sama-sama. Yang terpenting sekarang mereka udah sadar sama kelakuan mereka ke kamu kan? Aku seneng kok bisa bantu kamu.”

Bulan tersenyum. Ia langsung mendekap Mahesa. Dekapan yang lebih hangan dibandingkan punya Agala. Semuanya terasa aman jika Bulan berada didekat Mahesa.

Karna seluruh jiwanya telah berada didalam tubuh Mahesa.

Kacau

Bulan menatap Rumi dan juga Bumi dengan tatapan yang amat kecewa. Sama dengan Gala yang menatap Papanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Bunda...kenapa harus Papanya kak Gala? Kak Gala pacar Bulan, Bunda.” ujar Bulan dengan suara bergetar.

Gadis itu tak habis fikir dengan keluarganya. Ia tak pernah sekecewa ini sebelumnya. Bulan tak apa jika Bumi membencinya, tapi Bulan tidak mau jika cintanya harus gugur dan berujung dengan bersaudara.

“Bulan, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan Grandpa.”

“Dengan mengorbankan hati Bulan? Dari dulu, Bulan selalu ngalah, Bunda. Bulan selalu ngalah untuk semua hal. Bulan rela dipaksa pintar sama Ayah supaya kak Bumi gak sakit karna omelan Ayah. Bulan rela di hina karna kak Bumi dan kak Cloudya. Bulan rela bersihin rumah dan masak karna gak mau liat Bunda kecapean. Dan ini balasan kalian ke Bulan?”

Air mata Bulan mengalir. Menandakan bahwa wanita itu sangat kecewa. Amat kecewa pada semuanya.

Mata sembab itu menatap Bumi yang hanya diam. Menatap mata Bumi yang sedang diselimuti kebingungan.

“Lo tau semua itu gak ada yang gratis kan? Lo liat gue dimanjain Ayah, lo liat gue disayang Ayah, lo liat gue selalu di perhatiin Ayah tanpa lo tau gimana Ayah dibelakang lo. Ayah kekang gue supaya belajar, Ayah suruh gue les dari pulang sekolah sampai malam. Ayah suruh gue untuk dapet juara umum di sekolah. Itu kenyataannya Kak Bumi!”

Bulan berteriak tepat didepan wajah Bumi. Nafasnya memburu, hatinya terasa sangat sakit saat ia mengutarakan kenyataan itu. Kenyataan yang membuat Bulan harus menerima perilaku kasar Bumi karna sebuah salah paham.

“Bulan pergi. Kalau kalian mau nikah, nikah aja. Gak usah nunggu Bulan.” gadis itu berdiri dari duduknya.

Matanya menatap Gala yang hanya diam sedari tadi. “Kita putus, Kak.” ujarnya sebelum pergi meninggalkan ruang privat itu yang berubah menjadi sunyi.

Dinner

Selama perjalanan, Bulan hanya diam. Ia tak berani mengucapkan sepatah katapun karna wajah Bumi yang sangat dingin dan datar.

Bulan fikir Bumi sudah mulai menerimanya. Ternyata Bulan salah. Bumi tetap Bumi yang Bulan kenal.

“Sampai sana gue ada kejutan buat lo.” ujar Bumi dengan smirk tipisnya.

Bulan tak berani menjawab. Wanita itu hanya berani mengangguk sekarang.

Bulan dan Bumi turun dari mobil saat sudah sampai pada restoran hotel mewah. Bulan menatap bingung. Hanya berdua mengapa harus semewah ini? Apa Bumi sedang ingin memberi surprise untuknya?

“Ayo.” ajak Bumi sambil merangkul Bulan, membuat gadis itu terkejut setengah mati. Ini adalah kali pertama Bulan dan Bumi berkontak fisik.

Bulan mengikuti Bumi untuk menuju restorannya. Matanya tak bisa diam, ia terus melirik Bumi yang tersenyum tipis. Aneh.

“Bumi, Bulan.”

“Bunda.”

Bulan menoleh kedepan. Disana terdapat Bunda, satu lelaki tidak Bulan kenali dan juga...Agala?

“Kak Gala?”

Twitter

Gala memandangi handphone beberapa saat. Ia menjadi teringat perihal Bulan yang memiliki akun twitter atau tidak.

“Sayang.” panggilan Gala justru membuat Bulan terkejut.

Apa tadi? Gala memanggilnya sayang? Bahkan ini lebih memalukan untuk Bulan ketimbang memanggilnya via chat.

“K-kenapa, kak?” tanya Bulan gugup. Padangannya ia usahakan agar tetap fokus pada jalanan.

“Kamu punya akun twitter?”

“Punya. Cuman buat sambat aku doang. Kalau twitter publik aku gak ada.”

“Gak mau bikin?”

“Mau sih. Tapi takut banyak yang hujat aku.” suara Bulan terdengar pelan di akhir kalimatnya.

Gala tersenyum tipis, tangan itu mengusap surai coklat natural milik Bulan dengan sangat lembut.

“Bikin aja, gpp. Nanti kalau ada yang hujat kamu biar aku yang hajar dia.” ujar Gala.

Bulan tersenyum, pipinya memerah dan sialnya ia tak bisa menyembunyikan itu karna harus menyetir.

“Iya kak, nanti aku bikin.”

Grandpa

Bumi hanya melihat Grandpa dan juga Bulan lewa jendela kamarnya. Ia terlalu malas untuk bertemu sang Kakek jika berujung akan di ceramahi.

“Bumi, kamu ngapain sih?” Tanya Cloudya kesal.

Bumi menoleh, lelaki itu menggeleng pelan.

“Ada Grandpa sama Bulan.” Ujar Bumi.

Pintu kamar Bumi terbuka, menampilkan Grandpa yang berdiri sambil memegang tongkat kesayangannya.

“Kenapa kalian hanya berdua di kamar? Bumi, sudah saya bilang jika saya tidak suka kamu berpacaran dengan perempuan seperti dia. Dan kenapa kamu biarkan adik kamu pergi sendiri?”

Bumi menatap datar. Ia tak suka jika sudah mendapat kalimat-kalimat seperti itu.

Grandpa gak berhak atur hidup Bumi.”

“Kalau tidak mau saya atur, silahkan menjadi gelandangan diluar.” Ujar Grandpa lalu berlalu pergi meninggalkan kamar Bumi.

Agala Abimanyu

Bulan menatap danau dengan pandangan kosong. Agala mengajaknya ke danau. Gala tau, perempuan itu butuh pemandangan segar untuk menenangkan fikirannya.

“Lan, Cloudya baik sama lo?” Tanya Gala.

Bulan langsung menoleh. Gadis itu tersenyum tipis namun terkesan dipaksakan.

“Ya...sama kayak Kak Bumi.” Ujar Bulan.

Gala menghela nafas pelan. Menatap tak tega pada gadis yang duduk di sampingnya. Tangannya dengan reflek mengusap rambut Bulan untuk menyalurkan kekuatan.

Tapi Bulan mematung tiba-tiba. Hatinya berdegup sekaligus hangat dalam sekejap. Usapan yang dulu selalu Ayahnya berikan ketika Bumi membentaknya. Dan sekarang, rasanya tergantikan oleh Agala.

Lelaki yang Bulan sukai sejak dulu. Agala Abimanyu.

©dya220421

Kenyataan

Juan, Gilang dan Andika memantau rumah Kanaya dari teras rumah Juan yang kebetulan bersebrangan dengan rumah Kanaya.

Mereka bertiga melihat mobil Ayah Kanaya memasuki garasi rumahnya. Mata Gilang memicing saat melihat Ayah Kanaya membuka pintu dengan kasar yang langsung memperlihatkan Kanaya yang sedang berdiri.

Gilang reflek berdiri saat melihat Kanaya ditampar dengan keras oleh Ayahnya.

“Shit.” Gumam Andika.

“Gue rasa bokapnya lupa tutup pintunya. Selama ini kalau dia masuk pintunya langsung di tutup.” Ujar Juna.

“Persetan! Kanaya butuh bantuan kita!”

Gilang langsung berlari menuju luar rumah Juna. Langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan dan isakan seorang perempuan yang di yakini adalah suara Kanaya.

Andika dan Juna menyusul. Sedangkan Galih dan Yoga langsung berlari kedepan pintu rumah Kanaya.

“Om! Stop!” Teriak Yoga membuat Leon ( Ayah Kanaya ) berhenti memukuli anak gadisnya.

Gilang langsung masuk kedalam. Ia tak bisa menahan amarahnya hingga meninju Leon dengan membabi buta.

Kanaya tak bisa berkutik. Tubuhnya sudah kehabisan tenaga untuk menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Hingga ia merasa tubuhnya seperti melayang. Dan semuanya langsung terlihat gelap.

©dya130421

Gpp

Gilang masuk kedalam rumah Kanaya saat sudah diizinkan oleh gadis itu.

Kanaya sangat bersyukur saat Gilang datang kerumah sang ayah sudah pergi untuk bekerja.

“Sepi. Adik Naya mana?” Tanya Gilang saat sudah duduk di sofa tamu Kanaya.

“Dia sekolah. Harusnya Gilang juga kuliah.” Ujar Kanaya sambil membawa cemilan untuk Gilang.

Lelaki itu tersenyum senang saat Kanaya memberikan cemilan favoritnya.

“Makasih Naya!” Gilang mengambil cemilan itu lalu memakannya dengan lahap.

“Abis ini kuliah ya? Gak boleh bolos buat ketemu Naya doang.”

Gilang tak menggubris. Atensinya teralihkan saat melihat kening Kanaya yang seperti membiru.

“Nay, ini kenapa?” Tanya Gilang cemas.

Lelaki itu ingin memegang lukanya namun segera ditepis oleh Kanaya.

“I-ini...ini kejedot kok. Naya gpp.”

“Naya jangan bohong sama Gilang.”

“Naya gpp Gilang! Gak usah perduliin Naya!” Tanpa sengaja Kanaya membentak.

Jelas Gilang terkejut. Tidak biasanya Kanaya seperti itu. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Kanaya.

©dya130421

Galak

Elena hanya diam sambil memandangi Galaksi yang sibuk dengan ponselnya. Kata lelaki itu ia ingin bertemu dengan Elena tapi berakhir dengan diam. Aneh

“Kamu kalau gak ada hal lain pulang aja ya? Saya mau masuk.”

“Kamu berani mengusir saya?”

Galaksi menatap dingin kearah Elena. Gadis itu mengerjap. Bahkan Galaksi ternyata lebih galak dari pada yang Elena bayangkan.

“M-maaf, Gal. Tapi...kalo dieman gini mending kamu pulang aja.”

“Saya lapar. Masakin saya sesuatu.”

“Hah?!”

©dya120421