Kakdoyiiee

She's back

Elena membuka pintu utama rumahnya karna suara ketukan terus terdengar. Saat pintu terbuka Elena tidak melihat siapapun. Gadis itu berjalan ke teras, masih mencoba mencari siapa yang mengetuk pintu.

“Hai, El.”

Elena mematung. Suara seorang perempuan yang dulu ia anggap sahabat baik. Perempuan yang pernah di prioritaskan oleh pacarnya. Bahkan perempuan yang membunuh Akala.

“Elena...”

Elena membalikan badan. Disana, Maura berdiri sambil memegang tali tas kecilnya. Menatap Elena dengan mata sembab dan juga lingkarang hitam di daerah matanya.

“Apa kabar?” Satu pertanyaan Elena membuat air mata Maura mengalir.

Gadis itu sangat merasa bersalah dengan tindakannya dulu. Maura telah dibutakan oleh rasa iri dan dengki. Maura telah dibutakan dengan dendamnya. Hingga banyak orang harus merasakan kehilangan.

“El, maaf.”

“Apa kabar, Ra?”

Maura menunduk, menetralkan perasaannya yang sunggu campur aduk.

Bagaimana bisa ia dulu sangat jahat pada perempuan sebaik Elena? Bahkan Elena adalah satu-satunya perempuan yang dulu perduli kepadanya.

“So bad” balas Maura dengan senyum getir.

Elena berjalan mendekati Maura yang masih menunduk. Perempuan itu langsung memeluk Maura dengan lembut. Membuat tangis Maura yang sudah ditahan pecah seketika.

“Elena, maafin gue. Maaf gue udah hancuri kebahagiaan lo sama Akala.” Maura terisak. Namun Elena hanya diam.

Membiarkan Maura mengakui semua kesalahannya.

“Maaf. Maaf, El. Gue—”

“Gue maafin.”

Elena melepaskan pelukannya. Hatinya kembali sakit saat mengingat kepergian Akala.

“Tapi sorry , Ra. Kalo lo minta buat masuk di kehidupan gue lagi, jawabannya gak bisa. Semua sakit gue datang lagi ketika lo hadir. Karna tindakan lo, gue jadi trauma untuk mencintai. Jadi gue minta maaf. Gue gak mau ketemu sama lo lagi kedepannya.”

Maura menatap mata Elena yang terlihat sangat terluka. Perempuan itu mengangguk mengerti, ia tak mau mengulang kesalahan untuk yang kedua kali.

“Gpp. Gue paham kok. Makasih ya udah maafin gue. Gue juga gak bakal ganggu hidup lo lagi. Gue pamit pulang ya.”

©dya120421

Bertemu Galaksi

Elena menutup pintu rumahnya dengan terburu-buru. Ia melihat hanya ada Galaksi disana. Ah, sial. Dylan pasti sudah pergi tanpa pamit dengan Elena.

“30 menit waktu saya terbuang.” Ujar Galaksi dengan dingin.

Elena menatap kesal Galaksi, bibirnya mencebik secara diam-diam. Baru pertama kali bertemu tetapi kesannya sudah buruk.

“Maaf, Pak.”

“Diluar kantor dan kamu belum bekerja dengan saya. Panggil saya Galaksi.”

Elena menghela nafas kesal. Bahkan perempuan itu tiba-tiba membayangkan betapa sulitnya bekerja dengan atasan seperti Galaksi.

“Ayo. Saya gak mau membuang waktu saya lebih lama untuk perempuan seperti kamu.”

©dya110421

Kembali Mengenang

Elena berdiri disamping makam yang sudah 3 tahun berada disana. Perlahan gadis itu duduk pada batu kecil yang ada disamping makam. Mengusap batu nisan yang terlihat masih seperti baru. Bersih dan masih terlihat bagus.

“Akala, aku datang.”

Suara Elena terdengar sangat pelan. Gadis itu menahan tangisnya untuk yang kesekian kali. Bahkan Elena tak bisa kalau tidak menangis setiap datang ke makam Akala.

“Akala, ini bunga sama surat buat kamu.”

Elena menaruh surat dan juga bunga diatas makam Akala. Gadis itu buru-buru menghapus air matanya. Seolah takut Akala akan marah jika ia menangis didepan makam kekasihnya.

“Akala, apa kabar?”

Hening. Tidak ada suara apapun. Hanya suara antara gesekan baju dan juga tangan Dylan yang sedang mengusap punggung Elena.

“Akala...aku kangen kamu. Kamu pasti kangen aku kan? Soalnya udah sebulan aku gak kesini. Kamu pasti kangen kan?”

“Akala, kenapa kamu bisa lihat aku dari sana sedangkan aku nggak? Kenapa kamu pergi sedangkan aku menetap? Rasanya semua percuma kalau aku terus-terusan disini tetapi kamu pergi.”

“Akala, maaf. Maaf karna aku kamu harus pergi, karna aku semua orang merasa kehilangan kamu, karna aku hari bahagia itu menjadi mimpi buruk untuk semua orang.”

Elena terdiam sejenak. Gadis itu mengeluarkan isakan kecil sambil menunduk.

“Akala, aku gak bisa lama-lama disini. Sakit. Semuanya sakit saat ingat bagaimana kamu tertabrak dulu.”

“Akala, aku pulang dulu ya? Sampain salam aku buat mama papa angkat aku karna aku gak bisa ziarah ke makam mereka.”

“Love you...Akala.”

Kepergiannya

Elena mengikuti acara pemakaman tanpa adanya tenaga. Gadis itu terlalu lemah untuk menatap kepergian Akala dari sisinya. Elena selalu sesak jika mengingat ia adalah penyebab dari semuanya.

“El, ikhlas ya?” Rico berjongkok, mensejajarkan Elena yang duduk di kursi roda.

Elena tak menjawab, pandangannya kosong, hatinya telah hancur sekarang. Dunianya benar-benar runtuh. Hal paling menyakitkan selain menerima kenyataan bahwa ia lumpuh.

“Pulang.” Ujar Elena dengan suara pelan. Gadis itu memejamkan mata, membuat air matanya turun dengan deras.

Elena tak bisa. Elena tak tahan jika ia tidak menangis. Elena butuh pelampiasan untuk semuanya. Fikirannya berantakan sekarang.

Hanya satu yang ada di fikiran Elena. Ikut berasa Akala dan tidur disamping Akala.

©dya090421

He's gone.

Elena masuk kedalam ruangan ICU dengan dibantu salah satu suster yang menangi Akala. Dapat Elena lihat bahwa kekasihnya membuka mata dengan kondisi mata yang sayu dan lelah.

Elena menggenggam tangan Akala. Ia berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan kekasihnya.

“E—el...” Panggil Akala dengan suara pelan dibalik oxygen mask yang terpasang.

Air matanya berhasil lolos sekarang. Elena tak tahan, Elena tak bisa menahan jika lukanya terlalu dalam.

“B-bahagia terus ya...El.” Ujar Akala kembali dengan nafas yang terputus-putus.

“Sama kamu, Kala.” Suara Elena bergetar. Perasaannya mulai tak tenang sekarang.

“Tanpa a-aku...” Akala menarik nafasnya dengan dalam. Dadanya mulai terasa di cengkram hingga ia merasa sulit untuk bernafas.

“Aku sayang kamu, El. Titip bunda ya?” Ujar Akala terakhir sebelum suara mesin EKG terdengar sangat nyaring.

Tangis Elena pecah, ia mengeratkan genggamannya pada tangan Akala yang mulai terasa dingin.

Dunia gadis itu runtuh. Semuanya hancur dan kosong. Elena tak tau harus berbuat apa jika Akala meninggalkannya. Tak pernah sedikitpun Elena berfikir hidup tanpa Akala.

Akala penting baginya. Akala spesial untuk dirinya. Akala adalah penyemangat hidupnya.

Dan jika Akala pergi, apa alasan untuk Elena bertahan?

©dya090421

Happy, but...

Akala berjalan menyusuri Ballroom hotel tempat kuliahnya mengadakan acara Wisuda. Akala melihat sekitar, ia tak dapat menemukan kekasihnya padahal sudah berada di ujung acara.

Lelaki itu memutuskan untuk keluar dari hotel. Langkahnya mengarahkan Akala pada parkiran yang terletak disamping gedung itu.

Kembali, matanya melihat sekitar.

“Akala!” Teriak seorang perempuan sambil melambaikan tangan kearah Akala.

Akala tersenyum. Elena dengan senang mendorong kursi roda kearah Akala, melupakan pesan dari abangnya.

Senyum Akala pudar saat melihat mobil melaju dari arah kiri dengan kencang. Tetapi Elena tetap mendorong kursi rodanya dengan senang.

Akala melihat Elena dan mobil yang melaju secara bergantian. Ia bingung harus melakukan apa.

“Elena! Awas!”

Teriakan dari Mama Elena membuat Akala tersadar. Lelaki itu berlari dengan cepat, mendorong kursi roda Elena hingga mundur menabrak mobil milik Elena.

Akala bernafas lega, walau hanya sebentar sampai mobil itu menabraknya dengan kencang.

Elena berteriak dengan keras. Melihat Akala tertabrak hingga terlempar jauh bukanlah keinginannya hari. Melihat kemeja Akala yang senada dengan Elena telah dipenuhi darah bukanlah keinginannya juga.

Sedangkan orang yang berada didalam mobil tersenyum dengan puas. Maura, perempuan itu sudah tidak perduli jika ia harus masuk penjara atas perbuatannya.

Intinya, perempuan itu sudah puas sekarang.

©dya090421

Tw // terror

Akala berlari dengan tergesa keruangan Elena. Ia melihat gadisnya sedang di peluk sang ibunda, sedangkan Dewa sedang memeriksa bangkai yang terdapat didalam paperbag.

Akala menghampiri Dewa, ia ikut berjongkok untuk melihat bangkainya.

“Siapa yang nerima paket ini?” Tanya Akala.

“Gue. Tadi ada orang yang nganter katanya titipan temen Elena.” Ujar Dewa.

Akala menaikan sebelah alisnya. Setau lelaki itu Elena tak mempunyai teman dekat selain Dylan.

Aneh

©dya080421

Khawatir

Akala terus menggenggam tangan Elena dengan erat. Gadisnya telah tertidur setelah menangis cukup lama. Akala tak menuntut penjelasan, ia ingin Elena menjelaskan sendiri jika sudah siap.

“Bunda pulang ya.” Ujar Bunda Akala.

“Kala anter ya, Bun.

“Enggak usah. Kamu temenin Elena aja ya.”

“Emang Bunda gpp pulang sendiri? Kalau kenapa-kenapa gimana?”

“Bunda minta jemput teman Bunda kok. Sekalian makan malam.”

Akala mengangguk paham. Ia salim kepada Bundanya dan memandangi Bunda yang keluar dari ruangan Elena.

Atensinya kembali lagi kepada Elena selarang. Akala khawatir dengan gadisnya. Ia takut jika Elena kembali menerima terror yang lebih parah.

Akala tak bisa diam akan hal itu.

©dya060421

Mama dan Papa

Bibir Elena tak henti-hentinya tersenyum saat Mama menyuapi sop ayam yang dibawakan Akala. Hatinya terasa hangat saat Papa mengusap rambut miliknya.

“Makan yang banyak ya, sayang.” Ujar Mama sambil tersenyum.

Senyuman Elena semakin melebar. Gadis itu senang. Bahkan sangat senang. Sebuah kenyataan pahit sekaligus manis namun tidak terlalu buruk untuknya.

“Mama, maaf ya? Elena hadir dikehidupan kalian waktu Elena lumpuh kayak sekarang.” Ujar Elena.

Mama menggeleng, membantah ucapan sang anak perempuannya.

“Nggak, sayang. Kamu hadir dikehidupan Mama sejak kamu lahir. Mama gak perduli bagaimana kondisi kamu. Yang jelas kamu kembali itu udah cukup buat Mama senang.”

“Papa setuju sama Mama. Sejak dulu Papa selalu menyuruh orang untuk mencari kamu dimanapun. Tapi semuanya nihil karna kami gak pernah kasih barang yang bisa menandai bahwa itu kamu.”

Elena tersenyum kembali. Ia merasa wanita beruntung sekarang. Mendapat kedua orang tua yang sangat sayang kepadanya dan juga mendapatkan kakak yang perduli kepadanya.

Dari luar, Akala ikut tersenyum. Ia bahagia melihat gadisnya tersenyum kembali. Dan ia juga bahagia melihat gadisnya kembali lagi kepada dirinya.

Tugas Akala hanya satu sekarang. Mencari keberadaan Maura dan memenjarakan gadis itu.

©dya060421

Pergi

Akala terisak. Ia menggenggam erat tangan Elena yang terasa dingin. Ia tak percaya, Akala tak percaya jika Elena meninggalkannya. Ia tak mau, ia sungguh tak mau.

Lelaki itu memeluk tubuh Elena. Berharap semua ini mimpi buruk yang sedang ia rasakan.

“El, nggak. Kamu gak pergi kan, sayang?” Akala menangkup pipi Elena yang terasa dingin.

Lelaki itu kembali terisak keras. Hidupnya langsung hancur saat mendengar kabar tentang Elena. Ia tak ingin gadisnya pergi dengan penyesalan. Ia ingin membahagiakan gadisnya.

“Elena, aku mohon bangun. Ayo kita jalin hubungan dari awal lagi. Elena, aku mohon...”

Akala kembali memeluk Elena-nya yang kaku. Didalam hatinya ia terus berdoa, berdoa kepada Tuhan bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk yang Akala rasakan.

©dya030421