Kakdoyiiee

Mau Elena

Dewa datang dengan tergesa. Didepan ruangan Elena terdapat Akala yang sedang duduk di lantai. Lelaki itu menatap kosong kedepan.

Dewa menghampiri Akala, ia mensejajarkan duduknya dengan Akala.

“Kenapa? Elena kenapa?” Tanya Dewa dengan panik.

Akala melirik kearah Dewa, lalu menatap lantai dengan pandangan kosong lagi.

“Detak jantungnya melemah.” Ujar Akala dengan suara pelan.

Dewa terdiam sejenak. Kakinya berubah lemas. Sekarang ia benar-benar terduduk dihadapan Akala.

“Gue...gue gak tau kenapa. Tiba-tiba mesinnya bunyi kenceng, Bang.” Ujar Akala dengan suara bergetar.

Dewa menghela nafas gusar. Tangannya terkepal dengan kuat.

“Lo tenang aja. Polisi pasti nemuin siapa pelakunya. Dan kita bisa temuin siapa dalang yang celakain Elena.”

“Gue gak perduli siapa pelakunya. Gue cuman mau Elena. Gue mau Elena sadar! Udah!”

Akala mengacak rambutnya frustasi. Lelaki itu terlihat berantakan, seperti tidak ada arah untuk melangkah. Fikirannya hanya terpenuhin dengan Elena, Elena dan Elena.

Gadis yang berhasil membuat Akala kacau untuk pertama kalinya.

©dya030421

Miss You

Akala terus menggenggam tangan Elena. Rasanya ia enggan untuk melepaskan genggamannya itu. Ia tidak mau disaat Elena bangun ia tidak ada disamping Elena.

Akala menyesal. Menyesal karna tidak ia turuti kemauan gadisnya. Seharusnya ia menjemput Elena siang itu, tidak membiarkan Elena jalan sendirian. Seharusnya ia memilih Elena dibandingkan Maura. Akala bodoh. Akala telah di butakan dengan kata sahabat .

“Elena, maaf.” Ujar Akala. Lelaki itu mencium punggung tangan Elena yang tidak diinfus.

“Elena, aku kangen. Bangun ya? Aku minta maaf.” Ujar Akala lagi.

Lelaki itu menunduk, menahan untuk tidak menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Elena. Walaupun gadis itu sedang berada di alam bawah sadarnya.

Kepalanya menoleh disaat pintu terbuka. Rico masuk sambil membawa kotak makanan.

“Makan dulu, Kal. Baru lanjut jagain. Gantian gue.” Ujar Rico.

Akala menatap Rico tanpa berekspresi. Masih tidak percaya bahwa Rico adalah abang kandung dari Elena. Semuanya masih belum bisa ia percaya secara cuma-cuma.

“Cepet makan. Gak gue restuin lo sama adik gue.”

Akal berdiri, ia mengecup kening Elena sebelum menghampiri Rico untuk mengambil makanannya.

“Gue makan disini.” Ucap Akala membawa makanan tersebut dan duduk disofa.

Rico tak menjawab, ia lebih memilih untuk duduk dikursi samping ranjang Elena. Tangannya menggenggam tangan perempuan yang ternyata adalah adiknya.

“Elena, bangun ya? Nanti gue kasih tau mama papa kalau anak perempuannya ada sama gue.” Ucap Rico dengan suara pelan.

Rico mengecup punggung tangan Elena, berharap adiknya itu segera bangun dan memeluknya. Ia ingin membahas tentang Tulus lebih lama. Rico ingin menghabiskan waktu dengan Elena lebih lama.

©dya030421

Akala

Akala mendekati Dylan dan juga Dewa dengan tertatih. Wajah lelaki itu tampak sangat berantakan dan juga luka di lengannya.

Dylan langsung mendekati Akala, menuntun lelaki itu untuk duduk.

“Lo kenapa bisa gini anjir?”

“Gue jatoh dari motor. Elena gpp kan? Elena mana? Ruangan Elena dimana?”

Dylan menghela nafas pelan. Lelaki itu melihat sahabatnya dengan tatapan kasihan.

“Elena masih kritis. Doain aja, Kal. Sekarang obatin luka lo dulu. Ayo.”

Dylan membantu Akala berdiri, ia berpamitan kepada Dewa sebelum pergi untuk meminta suster mengobati Akala.

©dya020421

Penjelasan

Rico dan Dewa terdiam di salah satu meja kantin. Rico masih sangat terkejut dengan pernyataan Dewa. Ia bahkan masih tak percaya jika Rico adalah abang kandung dari Elena.

“Gue...gue gak percaya.” Ujar Rico.

Dewa melirik Rico lewat ekor matanya. Wajah lelaki itu masih dingin karna diselimuti oleh emosi.

“Terserah.”

“Maura bilang Dylan abang kandung Elena.”

“Lo gampang banget di begoin sama Maura.”

Dewa terkekeh sinis, lelaki itu sangat kesal dengan sepupu yang ada dihadapannya.

“Lo tau? Maura cuman manfaatin lo buat hancurin hubungan Akala dan Elena. Dia mau lo terlibat biar dia aman dari Akala. Kalau gue gak tau hal ini, mungkin lo yang bakalan jadi bahan tonjokan Akala.”

“Maksud lo?”

“Lo tau kenapa Maura bersikap baik didepan Akala sama Elena? Biar keduanya gak curiga. Dan lo tau kenapa Maura nyuruh lo pura-pura culik dia semalem? Biar lo bisa disalahin atas kejadian ini. Padahal semua dalangnya itu perempuan setan itu.”

Rico terdiam. Ia masih berusaha mencerna semua kata-kata Dewa. Ini semua terlalu sulit ia percaya.

“Jadi Maura bohong sama gue?”

Dewa mengangguk. Lelaki itu berdiri.

“Gue keruangan Elena dulu. Mau liat keadaan adik lo.”

©dya020421

Dewa

Dewa berjalan dengan tergesa mendekati Dylan. Alisnya terangkat saat ia Rico juga ada disana.

“Rico?”

Rico menoleh, ia sama terkejutnya dengan Dewa. Bagaimana bisa sepupunya datang dengan wajah panik.

“Lo ngapain disini?” Tanya Rico.

Dewa terkekeh sinis, tangannya langsung menarik kerah baju Rico dan memukul rahang lelaki itu dengan keras.

Dylan hanya diam. Tidak ada yang lelaki itu lakukan karna ini adalah hal yang ia tunggu sejak kemarin.

“Bangsat! Lo ngapain nonjok gue anjing?!” Rico berdiri, ia menarik kerah Dewa dengan penuh emosi.

“Lo apain sepupu gue bangsat?!” Tanya Dewa dengan emosi.

Rico terdiam. Raut wajah emosinya tergantikan dengan raut wajah bingung.

“Sepupu? Maksud lo Elena?” Tanya Rico setelah ia melepaskan cengkraman pada kerah baju Dewa.

Nafas Dewa memburu, ia mengacak rambutnya dan membelakangi Rico untuk mengontrol emosinya.

“Iya. Elena sepupu gue. Dan dia adik kandung lo, Rico.”

Dua kalimat yang berhasil membuat Rico mematung ditempatnya.

©dya020421

Maura sakit

Elena mendekati Dylan yang sudah menunggu sejak tadi. Matanya melirik kearah kamar Maura, kamar gadis itu terlihat sepi dan gelap. Tidak seperti biasanya.

Matanya melirik kearah garasi, disana terdapat motor Akala yang terparkir dengan asalan.

“Akala lagi nemenin Maura. Maura sakit.” Ujar Dylan seperti mengetahui rasa penasaran Elena.

Elena menoleh, gadis itu tersenyum tipis untuk merespon.

“Yaudah, ayo.”

Elena menaiki motor Dylan. Sekali lagi matanya melirik kearah rumah Maura.

Aneh. Akala seperti kembali melupakan Elena. Bahkan semua pesan yang Elena kirimkan tidak di gubris sama sekali oleh Akala.

Elena takut, Akala akan seperti dulu lagi. Mengabaikannya dan menduai Elena.

©dya020421

'Kal, putus yuk.'

Elena memandangi Akala yang sedang menyuapi dirinya. Hati sedang bingung sekarang. Ingin sekali ia mengakhiri hubungannya dengan Akala namun ia tidak seberani itu untuk mengucapkan kata berpisah.

Dulu, Akala adalah lelaki penyelamat Elena. Lelaki yang membuat Elena bangkit dari keterpurukan karna kepergian kedua orang tuanya. Akala itu spesial, bahkan sampai sekarang.

Tetapi sayangnya, rasa takut dan juga bingung lebih mendominasi perasaan Elena saat ini.

Elena tak paham, lelaki itu selalu berubah sifatnya dalam sekejap. Bahkan hingga di titik kemarin Elena menjadi takut dengan Akala. Kembali, ucapan Akala kembali terngiang di fikiran Elena.

Akala membereskan kotak makan karna salad buah yang Elena makan sudah habis. Lelaki itu mengambil air di nakas lalu membantu Elena minum dengan perlahan.

“Istirahat ya. Jangan sakit lagi.” Akala menggenggam tangan gadisnya. Elena hanya tersenyum tipis untuk membalas.

“Akala.” Panggil Elena.

Akala menaikan alisnya, isyarat ia bertanya 'apa' kepada Elena. Perasaan Akala tak tenang, ia sudah takut jika Elena memanggil namanya.

“Akala, kita putus ya? Aku cape, Akala.”

Satu detik hingga lima detik Akala tak merespon apapun. Terlalu sulit untuk mencerna dengan perasaan yang berantakan.

“Elena—”

“Akala, please . aku butuh istirahat. Aku terlalu cape hadapin kamu, Akala.”

Akala menggeleng, lelaki itu tak siap jika harus berpisah dengan Elena. Bahkan sampai kapanpun ia tak siap.

“Elena, kasih aku kesempatan. please . aku bakalan perbaikin semuanya. Aku bakalan prioritasin kamu mulai sekarang. Tapi jangan putus ya?”

Akala menatap memohon kepada gadisnya. Hatinya sakit, ia tak siap. Bahkan matanya telah buram karna air mata.

Sekarang Elena bimbang. Apa janji lelaki itu bisa ia percaya? Apa semuanya ucapan Akala ia bisa genggam? Atau hanya kalimat-kalimat yang membuat Elena tenang?

Elena bukan anak kecil yang gampang di imi-imingi. Ia gadis yang butuh pembuktian untuk kedepannya.

“Buktiin, Akala.”

©dya310321

Elena takut.

Akala, Maura dan Elena hanya terdiam di teras rumah Elena. Akala sempat membentak Elena tadi. Hingga Maura datang, berusaha menenangkan Akala dan melindungi Elena.

Atmosfer ketiganya sangat canggung sekarang. Akala yang sedang mengontrol emosinya, Elena yang menatap kosong ke lantai dan Maura yang sedang memeluk Elena.

Kata-kata kasar dan juga tuduhan-tuduhan Akala terus terngiang di fikiran Elena. Seperti radio rusak yang tidak bisa di benarkan.

“Jujur sama aku! Kamu selingkuh sama Rico?!”

“Kamu pacar aku, Elena! Tapi kenapa kamu gampang banget terima cowo lain kerumah kamu?!”

“Jangan jadi wanita yang gak ada harga dirinya!”

Elena kecewa, Elena takut, Elena marah. Tapi, lagi-lagi gadis itu harus memilih opsi diam di bandingkan melawan.

“Elena...” Maura menggenggam tangan Elena. Menyalurkan kekuatan walau hanya sebuah drama.

“Akala, minta maaf sama Elena.”

Maura menoleh ke Akala. Lelaki itu menghela nafas kasar lalu berdiri, ia melangkah kehadapan Elena dan mensejajarkan tingginya dengan Elena.

“Maaf.” tangan Akala terulur untuk menggenggam tangan gadisnya, namun dengan cepat Elena menjauhkan tangannya.

“Pulang.” ujar gadis itu dengan suara bergetar. Ia takut. Elena sudah terlalu takut dengan Akala.

“Ele—”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Elena berdiri lebih dulu. Gadis itu langsung berlari masuk dan mengunci pintu.

Akala menatap bersalah. Ia sudah keterlaluan kepada Elena. Seharusnya ia tidak menuduh dan bersikap kasar seperti tadi. Akala sangat ceroboh untuk mengontrol emosinya.

Sedangkan Maura, gadis itu menyeringai samar karna rencananya dengan Rico telah berhasil.

©dya300321

apa

Last night.

Raka membawa gitar yang berhasil ia pinjam dari salah satu pengunjung pantai. Lelaki itu duduk di hadapan Gina yang baru selesai memakan mie instan.

“Aku ada satu lagu buat kamu. Tapi kamu jangan nangis, aku lagi suka lagu ini.” Ujar Raka. Gina mengangguk, perempuan itu memeluk kedua lututnya, memperhatikan Raka yang mulai memetikan senar gitar.

“All i ask is if This is my last night with you Hold me like i'm more than just a friend Give me a memory I can use Take me by the hand while we do what lovers do It matters how this ends 'Cause what if I never love again?”

Tanpa sadar air mata Raka keluar dengan sekejap. Lelaki itu terus memikirkan bagaimana dirinya tanpa Gina, tanpa ada Gina di sisinya. Lelaki itu tak siap jika harus meninggalkan luka untuk Gina.

Dan Raka tak siap menciptakan Luka untuk dirinya sendiri.

“Malah kamu yang nangis.” Gina terkekeh, walau jauh di lubuk hatinya ia menangis kencang.

Gina tau betul arti dari lagu ini. Tak mungkin Raka menyanyikan lagu ini tanpa alasan.

“Cup cup cup.” Gina memeluk Raka, lelaki itu semakin terisak di dalam pelukan Gina. Sesak, dadanya sangat sesak saat mengingat hari esok ia sudah tak bersama Gina lagi.

“Pacar aku cengeng ya.” Gina terkekeh, walau nyatanya air mata itu keluar dengan perlahan. Tetapi bibir gadis itu tersenyum, tak ingin ikut menangis disaat Raka seperti ini.

“Udah dong nangisnya. Aku disini, sayang.” Ujar gadis itu.

Raka mengeratkan pelukannya, berharap Tuhan memperlambat waktu ia dengan Gina. Raka ingin menghabiskan waktunya dengan Gina lebih lama lagi. Ia tak siap jika pagi hari tak ada sapaan selamat pagi dari Gina.

“Gina, jangan tinggalin aku.” Ujar Raka di sela isakannya.

Gina mengusap punggung Raka, ia sangat menyayangi Raka namun ia tak bisa hidup bersama Raka.

Mereka berdua, sama-sama di jodohkan.

©dya230221