Kakdoyiiee

Mobil mewah milik Darma memasuki perkarangan rumahnya. Membuat Aruni menatap bingung mengapa Darma membawanya kerumah lelaki itu.

“Darma, kok kesini?” tanya Aruni dengan manja.

Darma melepaskan seatbelt setelah ia memarkirkan mobilnya dengan rapih. Alisnya terangkat sambil menatap Aruni. Bibirnya tersenyum tipis membuat Aruni menjadi salah tingkah.

“Makan malem bareng dirumah aku. Tadi aku udah suruh istri aku masak buat makan malem. Ayo.”

Ucapan Darma jelas membuat Aruni terkejut. Bahkan wanita itu sudah pamer kepada Almara, namun ternyata Darma membawanya untuk makan malam berasama Almara.

Darma langsung masuk kedalam rumah setelah ia sampai. Matanya menatap bingung Almara yang duduk sofa sambil memandangi mie rebus yang sudah mulai mendingin.

“Al? Ngapain disini?” tanya Darma mendekati Almara.

Almara menoleh, menatap Darma dan dingin dan juga rahan yang mengeras. Tangannya melempar ponsel yang menyala kemeja didepannya. Darma melirik kearah ponsel Almara, lelaki itu mengambil ponsel tersebut dan membaca pesan yang tertera.

Mata Darma membulat. Sekarang ia paham mengapa Almara menatapnya seperti itu. Ini karna kesalah pahaman yang telah Almara terima bulat-bulat.

“Al, gue enggak-”

“Dar, lo tau kan pernikahan itu suatu hubungan yang bukan main-main? Lo udah ucapin janji diatas pernikahan kita, lo udah ucapin janji di depan orang tua gue. Dan lo sekarang langgar janji itu semua?”

Almara berdiri, ia berjalan mendekati Darma yang mematung di tempat.

“Al, ini salah paham. Gue nggak punya pacar. Gue nggak-”

Plak-!

Satu tamparan mendarat mulus di pipi Darma. Emosi Almara sudah berada di puncaknya. Almara sudah merasa dikhianati oleh Darma.

“GUE TAU PERNIKAHAN KITA SEBATAS PERJODOHAN! GUE TAU PERNIKAHAN KITA SEBATAS KECEROBOHAN GUE! GUE TAU—”

“Iya! Ini semua karna kesalahan lo, Ra! Puas?! Lo yang bikin kita jadi satu atap! Lo yang bikin kata 'kita' jadi ada! Lo yang bikin gue ucapin semua janji itu! Pernikahan kita sebatas paksaan dari kedua orang tua kita!”

Emosi Darma ikut pecah. Lelaki menatap Almara dengan tatapan tajam. Nafasnya memburu seakan akan ia ingin menghajar sesuatu yang ada di sekitarnya.

“Makasih, Dar. Makasih karna lo udah mau jujur.” ujar Almara dengan lirih.

Gadis itu langsung memasuki kamar dengan air mata yang mengalir. Almara mengunci pintu, tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Tangisnya pecah begitu saja. Baru hari kedua pernikahannya namun begitu menyakitkan untuknya.

Sedangkan Darma diluar terdiam. Menatap pintu kamar Almara yang terkunci rapat dengan pandangan bersalah. Dirinya merasa bodoh telah mengucapkan sesuatu yang dapat menyakiti Almara.

“Bangsat! Gue bodoh banget anjing!”

Suara bel rumah keluarga Amdero terdengar dengan kencang. Angkasa keluar kamarnya, kakinya ia gerakan kearah pintu utama. Yang Angkasa yakin itu adalah Alingga.

Tangannya membuka pintu utama, matanya langsung menangkap Alingga yang berdiri sambil memegang piring yang ditutupi oleh tissue.

“Lo? Ngapain kesini?” tanya Angkasa bingung.

Alingga tersenyum tipis, ia mengangkat piringnya yang ia bawa.

“Gue bawa bakwan jagung. Lo mau gak? Tadi bunda gue masak.” ujar Alingga.

Angkasa terdiam sejenak. Namun dengan reflek ia mundur untuk mempersilahkan Alingga masuk.

“Thank you. Gue pegel berdiri soalnya.” ujar Alingga masuk kedalam rumah Angkasa.

Gadis itu berjalan keruang makan. Menaruh piringnya dan mengambil tissue yang menutupi bakwan jagung yang ia bawa.

“Cobain deh.” Alingga mengambil satu bakwan, gadis itu langsung memakan bakwan itu tanpa menunggu Angkasa.

Angkasa terdiam memperhatikan Alingga yang tersenyum setelah melahap bakwan yang ia bawa. Terlihat enak dan membuat dirinya lapar.

“Ini, makan sebelum dingin bakwannya.” Ujar Alingga. Angkasa mengambil satu bakwan tersebut, ia memakan bakwan tersebut dengan dalam satu suapan, membuat Alingga membulatkan matanya.

“Kok bisa?!” ucap Alingga dengan terkejut. Gadis itu mengambil satu bakwan utuh, ingin mencoba memakan bakwan tersebut namun sayangnya mulutnya tidak selebar mulut Angkasa.

“Ck, gak bisa.”

Angkasa tersenyum tipis, senyuman yang tidak bisa Alingga lihat karna mulut yang masih sibuk mengunyah bakwan.

Ternyata Alingga semenyenangkan itu untuk Angkasa ajak berbicara. Alingga tidak cuek yang seperti Angkasa fikirkan. Bahkan Angkasa sempat terkejut karna Alingga suka melakukan kegiatan amal setiap hari Jum'at.

Dan yang membuat Angkasa lebih terkejut, Alingga dapat membuat dirinya nyaman saat berada didekat gadis itu.

Pukul 17.00 sore. Kara, gadis itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Tubuhnya terasa sangat pegal karna sedari pagi ia dan Tama sibuk menyapa para tamu undangan. Dan sekarang, pada sore hari tepat dihari pernikahannya, Kara dan Tama mendatangi tempat pemakaman Jevan.

Tangan kanan Kara memegang sebuket bunga mawar putih. Sedangkan tangan kiri Tama memegang air mawar dan juga kembang untuk ziarah. Tama menggenggam tangan istrinya. Menuntun Kara untuk menuju ke makam Jevan.

“Hati-hati.” ujar Tama sambil memperhatikan Kara yang sedikit susah karna harus menaikan sedikit rok panjangnya supaya tidak tersangkut.

Dengan perlahan, kaki Kara berhenti tepat disamping makam Jevan. Sedangkan di sisi kiri dan kanan makam lelaki itu, terdapat makam kedua orang tua Jevan. Kara duduk pada keramik kecil yang disediakan disamping makam. Tangan mungil gadis itu mengambil beberapa daun kerin yang berhamburan diatas makam Jevan. Terlihat terawat namun sedikit berantakan.

“Jevan, apa kabar?” ujar gadis itu sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan Jevan Adityama.

“Jevan, aku berhasil penuhin permintaan terakhir kamu. Aku berhasil untuk bahagia, Jevan. Aku berhasil ucapin kata 'ya' itu untuk orang lain. Untuk lelaki yang menjadi suami aku sekarang.”

“Jevan, mungkin ini takdir yang terbaik untuk kita ya? Takdir yang memang seharusnya tidak aku salahkan. Sekeras apapun aku berusaha, kamu pasti gak akan pernah kembali lagi.”

“Jevan, jangan takut ya? Aku pasti tetap jenguk kamu. Selama aku ada waktu, aku pasti selalu datang dengan mawar putih. Seperti waktu terakhir kamu ketemu sama aku.”

Kara tersenyum. Sekarang gadis itu sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya untuk Jevan. Gadis itu telah ikhlas perihal kepergian Jevan.

“Jevan, aku pulang dulu ya? Titip salam untuk kedua orang tua kamu.”

Kara mencium batu nisannya cukup lama. Tangannya menaruh mawar putih dan disenderkan pada batu nisan tersebut.

Hari ini Kara merasa sangat lega. Gadis itu berhasil mengikhlaskan Jevan, gadis itu berhasil mengikhlaskan takdir yang merenggut Jevan dari hidupnya, gadis itu berhasil datang tanpa air mata yang keluar.

Dan Kara harap, untuk kedepannya takdir tidak mengambil Tama dari hidupnya. Kara berharap takdir tidak lagi jahat kepadanya. Dan Kara berharap takdir tidak memisahkan Tama dari dirinya.

Suasana ramai pada ballroom hotel yang telah di sewakan untuk pernikahan Kara dan juga Tama membuat gadis itu sedikit cemas. Entah mengapa rasanya sangat takut jika nanti ada kesalahan yang membuat acaranya berantakan. Entah Tama atau Kara yang membuat kesalahan nantinya. Namun Kara harap semoga semuanya berjalan sesuai rencana.

Sedari tadi Kara sibuk memperhatikan dirinya yang sudah didandani rapih oleh MUA terkenal didaerah Jakarta. Gadis itu merasa sangat puas dengan hasilnya. Gaun putih dan juga riasan berubah anting serta mahkota kecil yang terpasang di kepalanya. Membuat gadis itu terlihat sangat cantik dari hari biasa.

Bibir Kara tersenyum, matanya tetap memperhatikan cermin yang memantulkan dirinya. Namun dengan perlahan senyum itu hilang saat ia melihat laki-laki paruh baya memasuki ruang gantinya. Mendekati Kara yang menatap lelaki itu melalui cermin yang terpasang.

“Ana.” sapa lelaki itu.

Kara tersenyum, ia sangat suka dengan panggilan itu. Ana, panggilan yang diberikan oleh Papi nya karna Kara sangat menyukai kartun Frozen dulu. Gadis itu berbalik perlahan, menatap Papinya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Namun Kara yakin, jiwa lelaki itu masih saja menganggap dirinya seorang remaja.

“Papi!” Kara langsung memeluk Papinya. Rasa rindu yang selalu di pendam membuat gadis itu terus memperhatikan foto Papinya setiap malam.

“Anak Papi sudah besar ya? Sudah ingin diambil oleh lelaki lain.” ujar Abraham — Papi Kara berhasil membuat gadis itu terisak.

*“Ssstt, masa anak Papi nangis?” Abraham mengusap rambut Kara dengan lembut.

Gadis itu mengeratkan pelukannya, merasa senang karna Papinya datang untuk menghadiri pernikahannya.

—————————————————————

Tama Raldrick. Lelaki dengan baju pengantin berwarna putih itu terlihat sangat gugup dihadapan penghulu. Tangannya terasa sangat dingin karna suhu di ballroom tersebut. Namun matanya tak lepas dari Kara yang duduk disebelahnya dengan senyuman. Calon istrinya yang terlihat sangat anggun dan cantik. Membuat dirinya ada rasa takut tersendiri. Takut jika Kara disukai oleh lelaki lain.

“Sudah siap?” tanya Abraham kepada Tama.

Tama mengangguk, lelaki itu membalas jabatan tangan Abraham. Abraham memulai membaca do'a dan syahadat, yang diikuti oleh Tama.

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Tama Raldrick binti Yasha Raldrick dengan anak saya bernama Karana Raletta dengan emas kawin seberat tiga gram dan mahar satu miliar dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Karana Raletta binti Abraham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

“Bagaimana? Sah?”

Semua orang berucap secara bersamaan. Mengikuti proses ijab qobul dengan perasaan yang amat senang. Menjadi saksi pernikahan sahnya Karana Raletta dan juga Tama Raldrick. Menjadi saksi bahagia mereka berdua.

Dan pada hari itu, Kara berhasil memenuhi permintaan terakhir Jevan. Kara telah bahagia dengan kehidupan barunya. Kara telah bahagia dengan suasana barunya. Dan Kara telah bahagia dengan cinta barunya.

Karana Raletta, model terkenal dengan jutaan penggemar. Tanpa mereka tau bahwa idola mereka menanamkan kesedihan yang amat dalam. Kesedihan yang bisa merubah kehidupannya. Dan juga perjalanan pahit yang belum menemukan titik manisnya.

Gadis itu meminum secangkir teh hangat yang tersedia di pesawat yang ia tumpangi. Matanya memandangi gumpalan awan yang begitu indah dan cantik. Sesekali Kara mengambil beberapa gambar untuk ia simpan sebagai kenangan.

Ruangan Privat yang Tama pesan membuat Kara sangat nyaman. Tak banyak orang yang menatap Kara seperti biasa. Hanya ada Tama dan Kara. Dan mungkin jiwa Jevan yang selalu mengikuti Kara.

“Aletta, sebentar lagi waktunya makan siang. Setelah itu kamu harus tidur.” perintah Tama namun Kara tetap abai.

Kara terdiam sejenak, ia memandangi Tama yang duduk dihadapannya sambil membaca majalah bahasa Inggris.

“Tama.” panggil Kara membuat Tama menaruh majalahnya. Ia menatap wajah Kara dengan tatapan yang sangat amat lembut.

“Yes, honey?”

“Tama, saya rindu Jevan.”

Empat kata. Empat kata yang mampu meruntuhkan harapan Tama perihal Karana. Empat kata yang memiliki makna yang sangat banyak. Cinta, rindu, ingin memiliki, ingin bersama dan sebagainya. Empat kata yang membuat Tama semakin memendam rasanya kepada Kara.

“Tama, saya hanya rindu, bukan ingin kembali. Ya memang dulu saya ingin kembali dengan Jevan, namun perasaan saya harus saya kubur dengan sangat dalam karna Tuhan lebih sayang kepada Jevan.”

“Tama, kamu mau tau satu hal?” tanya Kara membuat Tama menaikan satu alisnya. Mata mereka bertemu, mata dengan perasaan yang hampir sama.

“Saya nyaman dengan kamu, Tama. Saya—”

“Nyaman sebagai teman, right?”

Kara tersenyum tipis. Itu adalah kata yang Kara lontarkan disaat gadis itu trauma dengan lelaki.

“Yes. We just friend, Tama. But, saya mau rubah semua itu.”

“Maksud kamu?”

“Tama, saya sudah menemukan orang yang tepat untuk saya. Bukan, bukan Jevan seperti yang kamu pikirkan. Ya, saya menyayangi Jevan. Sangat menyayangi. Tapi kalau Jevan adalah bahagia saya, kalau Jevan adalah cinta saya, Jevan tidak akan pernah meninggalkan saya kan?”

“Dan saya sadar, bahagia saya juga ada di kamu, Tama.”

Ucapan Kara jelas membuat Tama terkejut. Lelaki itu membulatkan matanya, menatap Kara dengan degup jantung yang sangat kencang.

“A-al?”

“Tama, saya nyaman dengan kamu, saya bahagia dengan kamu, saya sadar perihal perasaan saya ke kamu. Jadi tolong ya? Tolong tuntun saya untuk menempatkan hati saya ke kamu, tolong tuntun saya untuk menyayangi kamu lebih dalam, tolong tuntun saya untuk membahagiakan kamu, dan tolong tuntun saya untuk mengikuti kamu mengucapkan janji suci didepan keluarga dan tamu undangan.”

“Tolong ya, Tama?”

Pukul 07.30 malam, tuan besar Richard Amdero sudah sampai dirumah. Rencananya Richard ingin makan bersama dengan putra kembarnya.

“Bi, tolong panggilkan Langit dan Angkasa.” ujar Richard sambil memberi tas kerjanya kepada salah satu pelayan.

Pelayan itu mengangguk. Kakinya langsung bergegas menuju kamar majikan kembarnya.

Tak butuh menunggu waktu yang lama, Angkasa dan Langit sudah berada diruang makan. Mereka berdua sudah mengambil makanan ke piringnya masing-masing. Sedangkan Richard hanya tersenyum melihat kedua anaknya.

“Pa, Alingga gak anterin makanan lagi hari ini.” ujar Langit dengan wajah kecewa.

Richard terkekeh, ia mengacak rambut putra sulungnya dengan gemas.

“Gak apa-apa. Lagian kita masih punya stok bahan makanan yang banyak.”

“Padahal masakan Ibunya Alingga mirip sama masakan Mama. Langit kangen Mama.”

Ucapan Langit berhasil membuat Angkasa berhenti memakan makanannya. Tatapan lelaki itu berubah tajam, ia sangat tak suka jika Mamanya dibandingnya dengan orang lain.

“Papa punya cerita masa lalu tentang Papa, Mama, dan kedua orang tua Alingga. Sebenarnya dulu Mama itu pacarnya Papa Alingga, mereka saling menyayangi bahkan mereka hampir tunangan. Sedangkan Papa cuman bisa mendam perasaan Papa ke Mama kalian. Sampai suatu saat, Papanya Alingga dijodohkan dengan Ibunya Alingga. Dengan alasan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Papanya Alingga yang hampir bangkrut.”

“Disitu Mama kalian kecewa, dia terus nangis, ngurung diri dikamar. Tapi perlahan Papa bisa luluhin Mama kalian. Ya walaupun Mama kalian masih ada rasa buat Papanya Alingga.”

Cerita singkat yang diberikan oleh Richard membuat Angkasa membanting sendoknya. Langit dan Richard tersentak, mereka berdua menatap Angkasa yang mulai berjalan kembali ke kamarnya.

“Angkasa kenapa?” gumam Langit dengan bingung.

Richard tersenyum tipis. Ia sangat tau bahwa Angkasa tidak suka jika Alm. Istrinya kembali di ceritakan. Namun ia juga tak mau anaknya larut dalam kesedihan.

Karna sedari kecil, hanya Olivia yang dapat meredakan emosi Angkasa.

Malam itu Gema datang dengan tiga bungkus nasi goreng yang masih panas. Langkahnya berjalan menuju Apartemen yang ditempati oleh Athaya. Sebenarnya Gema tidak disuruh Raken untuk membeli makanan. Namun saat Raken bilang bahwa Mama Athaya belum makan, hati lelaki itu langsung tergerak untuk membelikan makanan.

Tangan Gema dengan cepat memencet tombol bel tiga kali. Membuat Athaya yang sedang menyapu menatap kesal monitor yang dapat menunjukan siapa tamu yang datang.

Gadis itu membukakan pintu untuk Gema secara kasar. Matanya masih menatap dengan kesal. Jelas, Athaya paling tidak suka diganggu secara brutal.

“Kok lo beneran dateng sih?” tanya Athaya dengan kesal.

Gema menghiraukan gadis itu. Kakinya berjalan mendekati Mama Athaya yang sibuk dengan laptopnya.

“Malam, tante.” sapa Gema dengan ramah. Ia menyalimi tangan Mama Athaya, lalu ia duduk disamping Mama Athaya.

“Eh, Gema ya?”

“Iya, tante. Yang disuruh Raken buat kesini.” Gema tersenyum ramah. Sedangkan Athaya menatap sinis lelaki itu.

“Ohh. Maaf ya nak Gema jika merepotkan.”

“Enggak kok, tante. Oh ya, ini Gema bawa makanan buat tante. Tadi kata Raken tante belum makan ya?”

Gema membuka bungkusan nasi gorengnya untuk Akilla—Mama Athaya. Lelaki itu langsung kedapur untuk mengambil air hangat yang memang tersedia.

Athaya mendekati Mamanya. Ia duduk disamping Akilla lalu memeluk wanita itu.

“Makan yang banyak ya, Ma? Jangan sakit.” ujar Athaya dengan suara pelan. Gema terdiam saat melihat raut wajah gadis itu. Terlihat sangat jelas bawah Athaya khawatir dengan Akilla.

“Tante, ini minumnya.” Gema mendekati kembali Akilla. Tangannya terulur untuk menaruh minuman tersebut dimeja.

“Terima kasih nak Gema. Nanti uangnya tante ganti ya.”

“Eh? Gak usah tante. Ini pake uang Raken kok, bukan uang Gema.”

“Terima kasih nak Gema.”

Akilla tersenyum tulus. Sedangkan anak gadisnya mendengus kesal. Athaya berdiri dari duduknya. Langkahnya langsung menuntun ia untuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Nak Gema, maaf ya. Athaya mungkin tidak sopan sama kamu.” ujar Akilla dengan tidak enak.

Gema menggeleng dengan cepat. Bibirnya ia tarik untuk tersenyum.

“Enggak kok, tante. Saya maklumin sifat Athaya.”

“Sebenarnya Athaya waktu kecil itu anaknya pendiam sekali. Lebih banyak bertindak dibandingkan banyak omongnya. Tapi semenjak saya menikah lagi lalu suami saya sering berperilaku kasar, entah mengapa Athaya berubah.”

“Athaya yang sekarang saya kenal adalah Athaya yang berani melawan. Athaya dengan mulut bawelnya, Athaya yang berani mengahajar siapa saja. Saat saya tanya kenapa dia berubah? Katanya supaya dia bisa melindungi saya.”

Akilla bercerita sambil tersenyum, air matanya mengalir namun dengan cepat ia hapus karna tidak ingin menangis didepan Gema.

“Maaf, tante malah nangis.” ujar Akilla terkekeh.

Gema tersenyum, tangannya langsung menggenggam tangan Akilla untuk menyalurkan kekuatan.

“Tante, kalau tante kenapa-kenapa bilang Gema ya? Gema nanti bakalan bantu tante.”

Alingga dengan perlahan turun dari motornya Langit. Matanya melirik sekitar parkiran mall, sangat luas dan sangat panas menurut Alingga.

“Ayo, Lin.” ajak Langit dengan reflek menggenggam tangan Alingga.

Membawa Alingga kelantai tiga dimana yang lainnya berkumpul. Alingga melihat sekitarnya lagi, melihat sekeliling dengan tatapan bingung dan asing.

“Kenapa kecil banget?” gumam Alingga.

“Hah? Kenapa, Lin? Kekecilan? Ini Mall paling besar malahan.” saut Langit dengan rasa bingung.

Alingga menatap terkejut, gadis itu langsung menggeleng dengan cepat. “Ah enggak. Maksudnya jaket gue ke kecilan, hehehe.”

“Ohhh. Yaudah ayo, itu mereka.”

Langit berjalan dengan cepat menghampiri teman-temannya yang berada di restoran Jepang yang ada di Mall itu.

Tasya menoleh kearah Langit dan Alingga, matanya menatap terkejut saat Alingga ikut hadir dengan Langit.

“Loh? Kok kamu ikut?!” tanya Tasya dengan reflek.

Rachel dan Griya menaikan sebelah alisnya, menatap Tasya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

“Kenapa lo ngomong gitu?”

“Eh? Enggak kok, maksudnya-”

“Maksud Tasya tuh dia minta gue buat gak ikut supaya gak mancing keributan kayak di group tadi. Kalo ada yang bilang gue nuduh, gue ada buktinya kok.” Alingga mengambil ponselnya, tangannya dengan cekatan membuka roomchat dengan Tasya. Lalu ia tunjukan pesan itu kepada semua teman-teman 'barunya'.

“Kok lo gitu sih, Sya? Alingga gak mancing keributan kalo lo dari awal gak nanya Alin ada uang atau enggak.” ujar Seano dengan sinis.

Tasya terdiam. Ia baru pertama kali dimarahi oleh teman-temannya seperti sekarang. Wajahnya dibuat-buat seperti murung, seperti anak kecil yang terciduk bohong.

“Maaf. Sya gak maksud kok. Sya cuman kasian liat Angkasa diomelin sama kalian tadi.” ujar Sya mencari alasan.

“Yang ngomelin Angkasa itu kita, kenapa lo yang nyuruh Alingga buat gak ikut? Aneh lo.” ujar Fariz dengan kesal.

Alingga hanya melihat dengan santai. Ia sangat suka bermain-main seperti sekarang.

Brak-!

Suara gebrakan yang ditimbulkan oleh Angkasa membuat mereka terkejut, terkecuali Alingga.

*“Bacot lo semua!” Bentak Angkasa dengan kencang. Angkasa berdiri, lelaki itu langsung menarik Tasya pergi dari sana.

“Playing victim. Cih, murah.”

Jonny dan Kiara telah sampai pada salah satu restoran yang sudah mereka kunjungi sejak tiga tahun yang lalu. Restoran yang menyediakan hidangan yang mereka sukai hingga saat ini.

Kiara berjalan menuju salah satu meja makan, meninggalkan Jonny yang memesan makanan. Seperti biasa, gadis itu pasti akan memilih bagian paling pojok dekat dengan kaca.

Matanya melirik sekitar, terlihat nampak damai dan tentram seperti biasa. Suasana yang sangat Kiara sukai sejak dulu.

“Ki, makanannya nanti ya. Tunggu sebentar.” Jonny mendekati Kiara, lelaki itu langsung duduk dihadapan Kiara.

Mereka berdua terdiam. Entah mengapa rasa canggung menyelimuti mereka sekarang.

“Eee...Ki, mau ubah gaya bicara gak?” tanya Jonny dengan ragu. Kiara menaikan sebelah alisnya, seperti meminta Jonny untuk menjelaskan.

“Kayak gue lo diganti aku kamu. Kamu panggil aku pakai Mas, aku panggil kamu Ara. Gimana? Mau gak?”

Kiara terdiam, wanita itu tidak langsung menjawab karna memikirkan alasan yang jelas mengapa Jonny ingin mengganti panggilannya.

“Kiara, sebenernya...sebenernya saya mau bicara serius sama kamu.”

“Bicara apa? Gue ada salah ya?”

Jonny dengan cepat menggeleng, membantah ucapan wanita yang ada dihadapannya. Tangan lelaki itu mengambil kotak cincin yang berada disaku jasnya.

“Ra, sebenernya selama empat tahun saya selalu sama kamu, rasa nyaman dan sayang ini perlahan muncul. Saya mau mengajak kamu serius, tapi saya takut kamu menolak karna kamu belum bisa melupakan Jeffryan. Dan ternyata saya gak bisa menunggu lebih lama lagi. Diterima atau tidak itu terserah kamu.”

Jonny menjeda ucapannya, tangan lelaki itu membuka kotak cincin berlian yang sejak tadi dipegang.

“Kiara, Will you marry me?”

Kiara menatap terkejut kearah Jonny, matanya sesekali melirik cincin berlian yang ada di tangan Jonny.

Sejujurnya Kiara merasa nyaman dengan Jonny. Ia merasa tidak suka jika Jonny bekerja dengan wanita lain yang mengikutinya. Tetapi Kiara takut memulai untuk membangun rumah tangga kembali.

Namun setelah melihat perjuangan Jonny, menunggu dan menemaninya selama empat tahun, tidak ada alasan lagi untuk Kiara menolak.

“Aku...aku mau.” ujar Kiara dengan malu.

Jonny tersenyum lebar. Dengan gemetar tangan Jonny memasangkan cincinnya pada jari manis Kiara. Lalu ia memeluk wanita itu.

Empat tahun rasanya sebanding dengan apa yang ia rasakan. Bahagia mendapatkan cinta yang baru dan bahagia membangun rumah tangga yang lebih indah.