Malam itu Gema datang dengan tiga bungkus nasi goreng yang masih panas. Langkahnya berjalan menuju Apartemen yang ditempati oleh Athaya. Sebenarnya Gema tidak disuruh Raken untuk membeli makanan. Namun saat Raken bilang bahwa Mama Athaya belum makan, hati lelaki itu langsung tergerak untuk membelikan makanan.
Tangan Gema dengan cepat memencet tombol bel tiga kali. Membuat Athaya yang sedang menyapu menatap kesal monitor yang dapat menunjukan siapa tamu yang datang.
Gadis itu membukakan pintu untuk Gema secara kasar. Matanya masih menatap dengan kesal. Jelas, Athaya paling tidak suka diganggu secara brutal.
“Kok lo beneran dateng sih?” tanya Athaya dengan kesal.
Gema menghiraukan gadis itu. Kakinya berjalan mendekati Mama Athaya yang sibuk dengan laptopnya.
“Malam, tante.” sapa Gema dengan ramah. Ia menyalimi tangan Mama Athaya, lalu ia duduk disamping Mama Athaya.
“Eh, Gema ya?”
“Iya, tante. Yang disuruh Raken buat kesini.” Gema tersenyum ramah. Sedangkan Athaya menatap sinis lelaki itu.
“Ohh. Maaf ya nak Gema jika merepotkan.”
“Enggak kok, tante. Oh ya, ini Gema bawa makanan buat tante. Tadi kata Raken tante belum makan ya?”
Gema membuka bungkusan nasi gorengnya untuk Akilla—Mama Athaya. Lelaki itu langsung kedapur untuk mengambil air hangat yang memang tersedia.
Athaya mendekati Mamanya. Ia duduk disamping Akilla lalu memeluk wanita itu.
“Makan yang banyak ya, Ma? Jangan sakit.” ujar Athaya dengan suara pelan. Gema terdiam saat melihat raut wajah gadis itu. Terlihat sangat jelas bawah Athaya khawatir dengan Akilla.
“Tante, ini minumnya.” Gema mendekati kembali Akilla. Tangannya terulur untuk menaruh minuman tersebut dimeja.
“Terima kasih nak Gema. Nanti uangnya tante ganti ya.”
“Eh? Gak usah tante. Ini pake uang Raken kok, bukan uang Gema.”
“Terima kasih nak Gema.”
Akilla tersenyum tulus. Sedangkan anak gadisnya mendengus kesal. Athaya berdiri dari duduknya. Langkahnya langsung menuntun ia untuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Nak Gema, maaf ya. Athaya mungkin tidak sopan sama kamu.” ujar Akilla dengan tidak enak.
Gema menggeleng dengan cepat. Bibirnya ia tarik untuk tersenyum.
“Enggak kok, tante. Saya maklumin sifat Athaya.”
“Sebenarnya Athaya waktu kecil itu anaknya pendiam sekali. Lebih banyak bertindak dibandingkan banyak omongnya. Tapi semenjak saya menikah lagi lalu suami saya sering berperilaku kasar, entah mengapa Athaya berubah.”
“Athaya yang sekarang saya kenal adalah Athaya yang berani melawan. Athaya dengan mulut bawelnya, Athaya yang berani mengahajar siapa saja. Saat saya tanya kenapa dia berubah? Katanya supaya dia bisa melindungi saya.”
Akilla bercerita sambil tersenyum, air matanya mengalir namun dengan cepat ia hapus karna tidak ingin menangis didepan Gema.
“Maaf, tante malah nangis.” ujar Akilla terkekeh.
Gema tersenyum, tangannya langsung menggenggam tangan Akilla untuk menyalurkan kekuatan.
“Tante, kalau tante kenapa-kenapa bilang Gema ya? Gema nanti bakalan bantu tante.”