Kakdoyiiee

Sejak tadi, Angkasa terus memperhatikan Alingga dari jauh. Bukannya enggan untuk mendekat, namun lelaki itu hanya takut merusak mood Alingga yang sudah hancur sejak kemarin.

Matanya terus memperhatikan Alingga yang mengobrol dengan dokter yang merawat Bundanya. Keningnya mengernyit saat Alingga dengan tiba-tiba menangis kencang. Langkahnya dengan cepat ia bawa untuk mendekati gadis itu.

“Alingga!” dengan gesit Angkasa menahan tubuh Alingga yang hampir limbung.

Bahu gadis itu bergetar dengan hebat, tangisnya semakin keras dengan diiringi suara isakan yang memilukan. Angkasa berharap semuanya baik-baik saja. Namun melihat kondisi Alingga, Angkasa tak bisa berharap banyak.

“Alingga, tenang.” bisik Angkasa sambil memeluk dengan erat gadis itu.

Air mata Alingga mengalir dengan deras, membasahi kaos hitam polos yang dipakai oleh Angkasa. Dunianya langsung runtuh saat diberitahukan luka oleh sang dokter.

Bundanya tidak bisa bertahan lebih lama. Bundanya telah kembali ke pelukan sang pencipta. Bundanya telah pergi dengan duka yang ditorehkan untuk Alingga kembali. Bundanya telah menyusul cintanya, Riaksa.

“Bunda!!! Bunda gue, Sa! Bunda gue pergi! Gue ditinggal disini sendirian! Gue gak punya siapa-siapa lagi selain Bunda gue, Sa! KENAPA TUHAN JAHAT SAMA GUE?! KENAPA TUHAN GAK ADIL SAMA GUE?! BUNDA AYAH GUE DIAMBIL, SA! SEDANGKAN KELUARGA PEMBUNUH ITU MASIH UTUH SAMPAI SEKARANG! KENAPA ANGKASA?!”

Alingga memukul dada Angkasa sebagai pelampiasannya. Gadis itu marah, gadis itu kecewa, gadis itu tak terima dengan takdir yang sangat jahat. Alingga tidak kuat dengan semua cobaan yang Tuhan berikan.

Lelaki itu hanya terdiam, membiarkan Alingga memukulnya sebagai pelampiasan. Tak perduli seberapa sakitnya, karna ia tahu, sakit milik Alingga lebih dalam. Ia sangat mengerti bagaimana kehilangan sosok Ibunda.

Tanpa sadar, air mata Angkasa mengalir dengan lancangnya. Membasahi pipi kiri hingga dagunya.

Rasanya sakit melihat Alingga yang hancur berantakan. Rasanya sakit melihat Alingga yang berteriak meminta keadilan pada Tuhan. Rasanya sangat sakit melihat Alingga yang berkata 'Gue mau susul mereka, Sa! Biarin gue sama mereka.'

Tak ada yang lebih bersedih dari pada gadis itu. Alingga hancur, Alingga berantakan. Kedua jiwa Alingga telah diambil oleh Tuhan.

Dan sekarang, Alingga harus hidup dengan duka yang tak akan pernah bisa hilang.

Suara langkah kaki yang cepat memenuhi satu lorong menuju ruang rawat milik seseorang. Langkah itu dengan cepat berjalan, tidak perduli seberapa letih badan itu setelah berpergian jauh.

Langkahnya terhenti didepan ruang rawat inap yang bertuliskan 'Anggrek 13'. Tempat dimana Darma dirawat sekarang. Gadis itu tak langsung masuk kedalam. Almara sedang mengumpulkan keberanian untuk memasuki ruang rawat Darma.

Dengan perlahan tangannya meraih knop pintu. Sedikit memberi tenaga untuk mendorong pintu itu supaya terbuka. Suasana yang pertama kali Almara lihat adalah suasana yang membuat hatinya sakit dengan singkat.

Darma memeluk Aruni dengan erat.

Kaki Almara berubah gemetar. Sebenarnya gadis itu sudah merasa lemas, namun dengan paksaan Almara tetap berdiri walau kakinya gemetar.

Darma menoleh kearah pintu. Menunjukan ekspresi bingung kepada gadis yang berdiri diambang pintu.

“Siapa lo?” tanya Darma dengan dingin. Aruni ingin melepaskan pelukannya, namun dengan cepat Darma memeluk Aruni dengan erat.

Lagi, Almara merasakan rasa sakit yang luar biasa. Darma yang tidak mengenalinya, dan Aruni yang berada di dekapan Darma.

“Darma, dia istri kamu.” ujar Aruni. Wajahnya ia buat menjadi wajah tak enak.

“Istri? Aku pacar kamu, Run. Aku cuman sayang sama kamu, mana mungkin aku nikahin perempuan lain selain kamu?” tanya Darma dengan tegas.

Almara menelan salivanya dengan kasar. Matanya berair, kakinya dengan reflek berjalan mundur. Ucapan Darma terlalu sakit untuk ia dengar. Air matanya langsung jatuh saat ia mengulang kembali ingatan dimana Darma bilang ia sayang kepadanya.

Baru kemarin ia merasakan kehangatan bersama Darma. Baru kemarin ia merasa dijadikan ratu oleh Darma. Namun hari ini semuanya telah berubah. Darma memeluk wanita lain, menjadikan luka Almara yang menyakitkan.

Sosok kasar Almara telah runtuh sekarang. Runtuh karna lelaki yang ia cintai dan ia benci dengan waktu yang bersamaan.

“Jevan, kenapa kamu sembunyi dari temen-temen dan mantan kamu? Bahkan kamu sembunyi dari semua orang. Kenapa kamu harus bikin keterangan tentang kematian palsu kamu?”

“Karna saya luka mereka, Li. Saya luka mereka yang sesungguhnya.”

Suasana malam dengan dinginnya angin yang berhembus dengan kencang membuat rambut Athaya yang tergerai terus berterbangan. Rambut pendek tipis itu sesekali mengganggu pengelihatan Athaya yang sedang menulis jawaban dari soal fisika. Bahkan Athaya terus saja menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.

Gema yang memperhatikan gadisnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Lelaki itu menyatukan seluruh rambut Athaya, menguncir rambut gadisnya dengan gelang karet yang ia selalu bawa di pergelangan tangannya.

“Kasian mata kamu nanti kelilipan ujung rambut. Kan sakit, kalo sakit nanti nangis, kalo nangis aku harus peluk kamu dong?” Ujar Gema membuat gadisnya dengan reflek memukul lelaki itu.

Gema terkekeh, tangan kanannya ia gunakan untuk mengacak rambut Athaya yang sudah terikat.

“Belajar yang bener. Kalo gak bisa tanya aku. Kamu punya aku, kakak kelas sekaligus pacar kamu. Aku pasti bantu.”

Tindakan Gema berhasil membuat Athaya membeku, gadis itu tersipu karna ucapan manis yang diberikan oleh pacarnya.

“Makasih ya, kak. Kalo aku kesusahan aku bakalan minta bantuan kak Gema.” Balas Athaya sambil tersenyum.

Gema membalas senyuman itu, ia kembali duduk seperti awal.

“Besok kamu rambutnya dikuncir ya, kalo gak mau di catok aja biar rapih. Jangan bawa make up, atributnya harus lengkap. Kotak bekal biar ngurangin sampah plastik. Besok gak ada razia, tapi biar kamu lebih rapih dan disiplin. Satu lagi, jangan telat. Kalo kamu telat aku serahin kamu ke osis lain.”

Ucapan Gema membuat Athaya mendengus kesal. Baru beberapa detik yang lalu ia tersipu karna perlakuan Gema, sekarang harus dibanting dengan kenyataan bahwa Gema adalah murid dan ketua osis yang paling disiplin. Sangat bertolak belakang dengan dirinya.

Mata sembab milik Alingga hanya menatap kearah lantai dengan pandangan yang kosong. Gadis itu enggan untuk masuk, terlalu takut dengan situasi yang kembali terulang untuk kedua kali. Gadis itu sangat benci rumah sakit. Tempat dimana Ayahnya telah diambil ke sisi Tuhan.

Pendengarannya sempat menangkap obrolan dokter dengan sekretaris Bundanya. Satu kata yang Alingga ingat. Aneurisma.

Alingga tak tau banyak tentang Aneurisma, namun ia tau, Aneurisma adalah komplikasi serius pada penyakit jantung. Satu kata yang membuat Alingga paham dengan keadaan.

Saat pikiran gadis itu sedang berkecamuk, secara tiba-tiba tubuhnya ditarik kedalam dekapan seseorang. Alingga tersentak dengan tarikan yang diberikan oleh lelaki yang mendekapnya.

“Alingga, gue tau lo kuat. I'm so proud of you. Lo hebat, jangan nangis ya? Kalo lo nangis, siapa yang bakalan nguatin Bunda lo?” bisik lelaki itu.

Alingga terdiam. Suara yang sangat familiar. Laki-laki yang beberapa jam lalu bilang dirinya adalah kesialan. Lelaki yang telah mencaci maki dirinya dan Ibundanya.

Namun pelukan itu tak Alingga lepas, seberapa benci ia kepada Angkasa. Karna yang Alingga butuhkan saat ini adalah sebuah bahu untuk sandaran. Sandaran penguat untuk dirinya.

Suara hentakan kaki yang begitu kencang mengikuti suara larinya Alingga di lorong rumah sakit. Gadis itu langsung terburu-buru untuk menuju ruang ICU. Tempat dimana Bundanya dirawat sekarang.

Langkahnya terhenti saat ia sudah berada didepan pintu ruang ICU. Tangannya dengan gemetar membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Fikirannya menolak keras untuk melihat sang Ibunda yang pastinya terbaring lemah. Namun tubuhnya ia tetap gerakan untuk melihat kondisi Bundanya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

Dengan perlahan, langkahnya ia tuntun untuk menuju salah satu kamar. Kamar dengan pintu yang terdapat kaca besar, sehingga ruangan dalamnya dapat terlihat.

Bibir gadis itu bergetar saat melihat sang Ibunda terbaring dengan lemas, terdapat banyaknya peralatan medis yang terpasang.

Tangisnya pecah begitu saja saat kepala itu menunduk. Matanya terpejam, isakannya keluar dengan suara yang amat memilukan. Bahunya bergetar hebat, seakan beban kembali menimpa bahu rapuh milik Alingga.

Terbaringnya Ibunda pada malam hari ini, berhasil membuat Alingga hancur untuk kesekian kalinya. Berharap Tuhan akan berbaik hati, memberikan sang Ibunda kesempatan kedua kali.

Karna pada nyatanya Alingga bertahan hanya karna Bunda sebagai penyemangatnya.

Malam dengan terangnya cahaya langit mampu membuat Almara menatap langit dengan kagum. Almara dan Darma saat ini sedang berada di bangku yang tersedia didekat kolam renang private milik mereka.

Pasutri itu sedari tadi sibuk berpelukan sambil memandangi langit yang masih terlihat cerah. Tangan Darma sedari tadi mengelus rambut Almara dengan lembut. Membuat gadis itu sedikit mengantuk dipelukan Darma.

“Al, maaf ya? Maaf udah kasih rasa sakit diawal pernikahan kita.” ujar Darma dengan suara pelan.

Almara mendongak, menatap mata Darma yang ternyata sedang menatap dirinya. Gadis itu tersenyum, lalu ia mengeratkan pelukannya seakan takut Darma akan pergi meninggalkannya sendirian.

“Cantikan gue apa Aruni?” tanya Almara. Darma tersenyum, tangan lelaki itu reflek ia angkat untuk mencubit hidung istrinya.

“Muka lo itu muka baby face. Kalo mukanya Aruni muka orang-orang dewasa. Waktu gue lagi jalan sama lo aja banyak yang bilang gue bokap lo.” Darma mendengus pelan. Lelaki itu kesal karna selalu mendapatkan pertanyaan 'ini anaknya ya?' sambil menunjuk Almara.

Almara tertawa puas. Gadis itu terlihat senang saat Darma menunjukan ekspresi kesalnya.

“Lo ketuaan”

“Gue masih 22 ya! Muka lo aja yang gak sinkron sama umur.”

“Dih?”

Gadis itu kembali memeluk Darma disela tawanya. Almara merasa nyaman dengan dekapan yang diberikan Darma. Terasa hangat walau cuaca didaerah Prancis sangat dingin sekarang.

Menurut Almara, Darma memang menyebalkan untuknya. Apa lagi saat mereka berdua dekat untuk pertama kalinya. Namun siapa sangka ternyata Darma sangat manja kepada Almara sekarang? Layaknya anak ayam yang takut kehilangan induknya.

Almara mendongak kembali, menatap manik coklat milik Darma yang terlihat indah. Tangannya ia angkat untuk mengusap pipi Darma.

“Dar, lo gak mau ucapin sesuatu gitu?” kode Almara membuat Darma tersenyum.

Lelaki itu mengeratkan pelukan pada pinggang Almara, membuat mereka berdua semakin tak berjarak.

Cup

Kecupan singkat yang diberikan Darma membuat Almara tersipu. Gadis itu terdiam dengan mata yang membulat sambil menatap wajah Darma.

“I love you.”

Gema dan juga Athaya turun dari motor Gema yang telah Gema berhentikan. Athaya melihat sekitar rumah Gema. Banyak tanaman dan juga bunga yang tersusun rapih halaman depan rumah Gema. Serta ada kolam ikan yang berada di ujung halaman.

“Depan rumah Kakak bagus banget.” ujar Athaya setelah melihat Gema turun dari motornya.

Gema tersenyum, ia merangkul gadis itu. Mengajaknya untuk melihat kolam ikan yang terdapat banyak ikan koi.

“Ini yang buat Papa aku. Kalau tanaman yang buat itu Mama aku.” ujar Gema.

Athaya tersenyum, ia menyentuh air kolam ikan dan memegang ikan yang berenang dengan tenang.

“Loh? Gema udah pulang? Ini siapa Gema?”

Suara indah milik wanita yang Gema sayangi membuat Gema dan Athaya terkejut. Lelaki itu menoleh, mendapati sang Ibunda yang masih memakai apron yang artinya Bundanya masih memasak untuk makan siang.

“Bun, ini pacar Gema. Namanya Athaya.” ujar lelaki itu.

Athaya tersenyum lembut, tangannya langsung ia angkat untuk bersaliman dengan Bunda Gema.

“Siang, tante. Saya Athaya.”

“Panggil Bunda aja ya, cantik.” Bunda tersenyum. Namun matanya langsung melihat rambut Athaya yang memiliki potongan yang berantakan.

“Aduh, rambut kamu kenapa sayang?” tanya Bunda dengan sedikit greget.

“Bun, nanti aja Gema ceritain. Bunda tolong rapihin bagian bawah rambut Athaya ya?”

“Iya iya. Bunda lanjut masak dulu, nanti Bunda rapihin oke? Bunda kedalam lagi ya.” ujar Bunda lalu kembali masuk kedalam dengan senyuman.

Athaya menoleh kearah Gema, senyumannya tak luntur sejak tadi. Senyuman yang menandakan bahwa gadis itu merasa sangat nyaman.

Suara ricuh dari kelas Athaya membuat Gema semakin mempercepat langkahnya. Gema mendobrak pintu kelas Athaya yang tertutup, membuat seluruh anak kelas termasuk Kania tersentak karna terkejut.

Gema melihat sekitar, matanya langsung menangkap gadis dengan rambut yang berantakan sedang menangis tersedu. Gema langsung mendekati Athaya, memeluk gadis itu didepan semua orang.

“LO SEMUA DIEM AJA?! KASUS BULLYING GINI LO SEMUA GAK ADA TINDAKAN?! MANA TINDAKAN LO SEMUA?! GAK BERTINDAK KARNA INI RAZIA?! IYA?! GOBLOK! HARI INI GAK ADA RAZIA ANJING! KALO RAZIA MINIMAL ADA EMPAT OSIS YANG DATENG! BUKAN CUMAN SATU!”

Murka Gema yang masih memeluk Athaya. Matanya menatap tajam kearah Kania yang mematung, menatap takut kearah Gema yang telah diselimuti oleh emosi. Untuk pertama kalinya Gema semarah ini. Untuk pertama kalinya Gema menatapnya dengan tatapan seakan ingin membunuh.

“Siapa yang nyuruh lo buat razia?” tanya Gema penuh intimidasi. Kania hanya terdiam, lidahnya terlalu kelu untuk menjawab.

“JAWAB GUE, ANJING! PUNYA MULUT KAN LO?! KALO GAK MAU JAWAB GUE JAIT MULUT LO!” teriak Gema dengan kencang membuat Kania tersentak. Gadis itu menggeleng dengan pelan, tanda tidak ada siapapun yang menyuruhnya untuk merazia setiap kelas.

Gema tidak lagi menggubris, tangannya ia angkat untuk menggendong Athaya yang masih terisak. Lelaki itu langsung pergi dengan tatapan tajam mengarah kearah Kania.

Gema benar-benar murka sekarang.

Suara hening di ruangan UKS membuat Gema sedikit tenang. Gadisnya telah berhenti menangis, namun tatapan sendunya tak bisa membuat Gema percaya bahwa Athaya sudah kembali baik-baik saja.

“Tha.” panggil Gema membuat Athaya menoleh. Gadis itu menatap tangan Gema yang menggenggam tangannya.

“Kenapa, Kak?”

“Are you okay? Jangan bohong, please. Aku cemas, Tha.”

Athaya teriam sejenak, bibirnya ia tarik untuk tersenyum dengan senyuman mirisnya.

“I'm not fine. Lo tau kenapa gue jaga banget rambut gue?” tanya Athaya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

Gema terdiam, menandakan bahwa ia tidak tau apa alasan Athaya.

“Kak, dari kecil gue selalu mau punya rambut panjang dan bagus. Namun entah kenapa rambut gue susah untuk numbuh. Lo tau, berapa lama gue numbuhin rambut buat panjang? 10 tahun, Kak. Dari gue kecil gue gak pernah potong rambut gue.” ujar Athaya dengan suara gemetar, gadis itu menunduk untuk menyembunyikan air matanya.

“Tapi gue harus potong rambut pendek lagi. Gue harus nunggu puluhan tahun lagi supaya rambut gue panjang.” Athaya terkekeh hambar, gadis itu menghapus air matanya dengan kasar.

Dengan cepat Gema menarik Athaya kedalam pelukannya. Ia merasa bersalah karna ia merasa tak becus menjaga gadisnya. Gema telah kecolongan hari ini. Gema membuat Athaya sedih untuk pertama kali.

“Keluarin aja, Tha. Sedih lo jangan ditahan. Keluarin semua uneg-uneg lo di pelukan gue.”

Aruni dan Darma sudah berada diruang makan. Sedangkan Almara masih sibuk menyiapkan makanan untuk Aruni dan juga Darma.

Gadis itu menaruh sepiring nasi dengan lauk udang balado didepan Darma dan Aruni. Darma tersenyum, ia berdiri untuk mencium pipi sang istri.

“Makasih sayang.” ujar Darma kembali duduk.

Almara terkejud, namun rasa terkejudnya hilang saat melihat Aruni menatapnya dengan tatapan tidak suka. Almara tau bahwa hati gadis itu mulai panas. Dan Almara merasa menang sekarang.

“1-0, hahahhaa.” batin Almara dengan senang.

“Kalian makan duluan aja. Gue masih ada menu yang lain.” ujar Almara kembali ke dapur.

“Dimakan, Run. Pasti enak.”

Aruni tersenyum, ia mengambil satu ekor udang dan langsung memakannya. Namun rasa pedaslah yang langsung menyengat lidah dan juga mulutnya. Buru-buru Aruni mengambil minuman jeruk yang berada disamping piringnya, meminum air itu dengan tidak santai namun langsung Aruni muncratkan minumannya karna rasa asin yang sangat terasa.

“Kok asin? Pedes banget.” ujar Aruni dengan tidak santai. Akhirnya gadis itu menuangkan air putih, ia langsung meminum air putih tersebut dengan satu tegukan.

Sedangkan Almara tertawa dengan pelan. Aruni telah masuk kedalam jebakan yang ia buat. Makanan dan minuman yang sengaja Almara buat tidak enak mampu membuat Aruni tidak betah untuk berlama-lama.

“Darma, aku pulang aja ya. Aku baru inget kalo ada urusan.” ujar Aruni, dengan terburu-buru gadis itu langsung mengambil tasnya, berjalan keluar rumah Darma dengan tergesa.

Tawa Almara seketika pecah, ia mendekati Darma dan memeluk lelaki itu dari belakang.

“Al, lo apain si Aruni?” tanya Darma dengan bingung. Almara menyengir, ia mengeratkan pelukannya.

“Mampus. Makannya gak usah ganjen sama suami gue.”