Kakdoyiiee

Segerombolan siswa siswi yang berdesakan didepan mading membuat atensi Athaya yang sedang memakan eskrim dengan Gema teralihkan. Athaya melihat segerombilan murid-murid yang berdesakan untuk melihat kertas yang tertempel di mading. Gadis itu menaikan sebelah alisnya dengan tatapan bingung.

“Kak, itu ada apa?” tanya Athaya sambik mendongak kearah Gema karna postur lelaki itu lebih tinggi darinya.

Gema melihat jam tangan miliknya. Pukul 10.00 pagi, pantas banyak kerumunan didepan mading.

“Hasil ujiannya udah keluar. Mau liat sekarang?” Gema merangkul kekasihnya, menatap Athaya dengan tatapan lembut.

“Ayo! Kita liat siapa yang juara satu umum. Inget perjanjian kita ya, Kak?” ujar gadis itu dengan bersemangat.

Gema terkekeh, lelaki itu mengangguk lalu mengacak rambut pendek Athaya yang teruai. Langkahnya menuntun Athaya untuk mendekati mading. Mereka berdua lebih memilih berhenti dipaling belakang.

Mata Athaya tertuju pada kertas yang berada dipaling atas. Dan hanya ada 3 nama yang terpajang disana. Gadis itu membacanya dari urutan nomor 3.

“Navarrel Harleya. Gem-” ucapan gadis itu terhenti saat melihat nama kekasihnya berada di urutan kedua. Jantungnya berpacu dengan cepat, takut jika tidak ada namanya dilembaran tersebut.

Matanya dengan perlahan melirik kearah nama paling atas. Tubuhnya berubah lemas saat setelah ia membaca nama tersebut.

“Athaya Gisellia.” ujar Gema dengan senyuman.

“Selamat sayang. Kamu berhasil jadi peringkat paling atas.”

Gema memeluk Athaya yang mematung di tempat. Gadis itu tersenyum tak percaya. Athaya berhasil mendapatkan juara 1 umum. Gadis itu berhasil mengalahkan ribuan orang yang bersaing dengannya.

“KAK GEM! AKU JADI JUARA SATU! MAKASIH KAK GEMA!” teriak Athaya dengan penuh rasa senang. Gadis itu bertepuk tangan, mengapresiasikan dirinya sendiri.

Gema tersenyum, matanya tak pernah lepas dari wajah cantik milik Athaya.

Sebenarnya Gema bisa saja mendapatkan posisi pertama. Namun lelaki itu lebih memilih untuk mengalah. Gema menjawab beberapa soal dengan jawaban asal, supaya Gema mendapatkan peringkat kedua.

Dari awal Gema tak ingin bersaing dengan Athaya. Lelaki itu akan memprioritaskan gadis yang sangat dicintai. Gema akan mengalah jika Athaya mau. Gema akan memberikan semuanya jika Athaya minta.

Karna Gema adalah lelaki yang mendahulukan wanita dibanding dirinya sendiri.

Sedari tadi, Angkasa terus memeluk foto Alingga sambil bersandar pada pada kursi plasti yang tersedia diarea makam. Lelaki itu tak banyak menangis sekarang, tapi diamnya Angkasa membuat saudara kembar dan teman-temannya menatap khawatir.

Langit mendekati Angkasa yang terus menatap awan yang mendung. Enggan menatap proses pemakaman gadisnya. Rasanya terlalu sakit jika Angkasa terus menatap kepergian Alingga.

“Jingga, ayo pulang. Mau hujan, kalau kamu disini terus yang ada kehujanan nanti. Kalau kamu sakit aku yang khawatir. Ayo pulang.” gumam lelaki itu dapat didengar oleh Langit.

Langit berjongkok dihadapan Angkasa. Ingin mengambil foto Alingga namun Angkasa semakin mengeratkan pelukannya pada foto tersebut.

“Jangan sentu Jingga gue, Langit! Urus istri lo sana!” kesal Angkasa membuat perhatian Fariz dan Seano tertuju pada lelaki itu.

Kedua temannya menatap sendu Angkasa yang terlihat tidak dapat mengikhlaskan kepergian Alingga.

“Sa, pulang yuk? Alingga udah dimakamin, Sa. Alingga udah tenang sekarang.” Langit terus berusaha membujuk Angkasa. Walau ucapan Langit dibalas oleh tatapan tajam lelaki itu, tetapi Langit tidak takut sama sekali.

“Gue bakalan pulang kalau Jingga ikut gue, Lang! Gue mau disini! Gue mau nemenin Jingga!” ujar Angkasa dengan amarahnya.

“Angkasa, ikhlasin Jingga ya? Kalau pun Jingga terus disini, pasti Jingga bakalan ngerasa tersiksa karna sakit dari kecelakaan itu. Ikhlasin Jingga ya, Sa?”

Tangis Angkasa kembali pecah setelah mendengar ucapan Langit. Angkasa mengeratkan pelukannya pada bingkai foto Alingga. Kepala lelaki itu menggeleng dengan keras.

Angkasa tidak siap jika Alingga pergi. Angkasa tidak siap jika Alingga meninggalkan dirinya sendirian. Angkasa tak siap jika Jingga kembali pada pelukan sang pencipta. Angkasa tak siap jika harus hidup tanpa cintanya.

Sakit. Satu kata yang dapat menggambarkan perasaannya sekarang. Hidupnya kini kembali abu seperti beberapa tahun lalu. Angkasa kembali kehilangan cintanya. Angkasa kembali kehilangan wanitanya.

Angkasa telah kehilangan Mamanya. Dan sekarang Angkasa harus kehilangan Jingganya.

Suara mesin EKG yang terdengar sangat lemah langsung masuk pada telinga lelaki pimilik nama Angkasa. Lelaki itu menatap gadisnya yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis serta perban yang terpasang di kepalanya. Air matanya langsung keluar begitu saja saat melihat kondisi gadisnya yang mengkhawatirkan.

“A-asa...” suara Alingga yang sangat lemah berhasil membuat tangis Angkasa langsung pecah seketika.

Hati lelaki itu sangat sakit. Dunia Angkasa telah hancur disaat ia mendengar kabar bahwa Alingga mengalami kecelakaan fatal. Lelaki itu benar-benar takut jika harus kehilangan cintanya.

“Jingga, Jingga jangan tinggalin aku. Aku mohon, sayang. Kamu sayang sama aku kan? Jangan tinggalin aku ya? Jangan tinggalin Asa.” Angkasa terisak dengan keras. Lelaki itu menggenggam tangan Alingga dengan sangat erat. Takut jika raga gadisnya harus pergi meninggalkan dirinya sendirian.

“Asa... aku s-selalu sama kamu.” Alingga berusaha berbicara. Gadis itu memaksakan senyumannya.

“M-maaf. Aku jaga k-kamu dari jauh ya? D-dari langit, Asa.”

Ucapan Alingga berhasil membuat Angkasa terisak dengan keras. Lelaki itu menggelengkan kepalanya, tangannya semakin mengeratkan genggaman pada tangan gadis itu.

“Jangan tinggalin aku. Aku mohon.”

Tak ada jawaban apapun. Tangan Alingga kini terasa sangat dingin, matanya terpejam setelah ucapan perpisahan untuk Angkasa ia ucapkan, suara mesin EKG kini berbunyi sangat kencang.

Kaki Angkasa berubah sangat lemas. Lelaki itu jatuh untuk pertama kalinya. Terisak keras didalam ruang ICU dengan beberapa dokter yang mengawasi Alingga. Tangannya terus memukul dadanya yang terasa sakit. Hatinya begitu hancur saat mengingat bagaimana perjuangannya untuk Alingga.

Empat tahun. Empat tahun hidup bersama di Amsterdam dengan Alingga. Hidup berdua di benua Eropa dengan berbagai perjuangan. Menciptakan momen-momen yang indah untuk Angkasa dan Alingga simpan.

Tak pernah sekalipun Angkasa berfikir momen itu hanya akan jadi kenangan untuk dirinya saja. Rasa sangat sakit jika Angkasa ingat kembali kenangan empat tahun bersama Alingga.

Hidup Angkasa telah berubah menjadi abu semenjak kepergian Alingga. Cintanya telah pergi. Kehidupannya telah hancur. Hatinya telah terbawa oleh cintanya.

Dan perasaannya telah mati bersamaan dengan Alingga Jinggala.

Sejak tadi, pandangan Darma tak luput dari anak pertamanya yang baru saja lahir. Erlangga Pratiaga.

Anak pertama yang disambut dengan tangis bahagia dan juga senyuman dari kedua orang tuanya.

“Al, anak kita ganteng.” ujar Darma untuk kesekian kalinya.

Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke Almara. Mendekati istrinya yang masih terbaring lemas pasca lahiran. Tangannya mengusap surai rambut Almara dengan lembut, kening wanita itu ia cium cukup lama.

“Makasih banyak.” bisiknya dengan suara bergetar.

Lagi, Darma kembali menangis setelah memeluk Almara. Mengucapkan terimakasih berkali-kali dan rasa syukur yang teramat besar. Darma sangat menyayangi Almara.

“Darma, terimakasih kembali. Tanpa lo mungkin gue udah kehilangan jagoan kita.” ujar Almara menghapus air mata Darma.

Darma mengeratkan pelukannya. Perasaannya sangat bercampur aduk. Senang, bahagia, bersyukur dan yang lainnya saling menyatu didalam perasaan lelaki itu.

Mungkin tanpa Almara, Darma tidak akan bertahan. Mungkin tanpa Almara, Darma tidak akan memiliki alasan untuk hidup. Dan mungkin tanpa adanya Erlangga, Darma tidak akan pernah disebut sebagai Papa.

tw // accident, blood

Suara hentakan sepatu Alingga terdengar setelah ia memasuki café tempat ia, Tasya dan Langit berjanjian. Mata gadis itu menelusuri seluruh café, hingga pandangannya tertuju pada dua orang dewasa serta satu anak kecil berusia 3 tahun.

“Ohh, bawa anaknya ternyata.” batin gadis itu.

Alingga berjalan mendekati Langit dan Tasya yang berubah tegang. Gadis itu tersenyum kearah Arwana, mencubit pipi anak lelaki sahabatnya dengan gemas.

“Lucu banget anak lo berdua.” puji gadis itu semakin membuat Langit dan Tasya cemas. Masalahnya Alingga adalah wanita yang susah ditebak. Bisa jadi dibalik pujian tersebut ada rencana yang sangat menyakitkan untuk mereka.

“Gue duduk ya.” Alingga menarik kursi yang berada dihadapan Tasya. Ia duduk lalu menaruh tasnya diatas meja.

“Gue gak mau banyak basa basi. Gue gak akan suruh lo berdua cerai. Gue salut sama lo berdua, terutama lo Langit. Lo tetep jaga Tasya sebaik mungkin sampai Tasya lahiran. Dan sekarang lo punya jagoan yang luar biasa. Anak laki-laki yang bisa bikin lo bertahan.”

“Lo juga hebat, Sya. Lo tetep pertahanin kandungan lo. Lo tetep jalanin kehidupan rumah tangga yang terpaksa. Tapi sekarang semuanya bukan terpaksa lagi kan?”

Hening. Tak ada yang menjawab. Air mata Tasya jatuh dalam sekejap. Namun Arwana dengan cepat menghapus air mata wanita itu.

“Nda, janan angis.” ucap anak kecil itu dengan logat cadelnya.

Alingga tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa berkas yang berada ditasnya.

“Ini ada jaminan buat sekolah Arwana. Dari tk sampai kuliah nanti. Lo gak perlu bayar apapun lagi. Kalaupun nanti harus pindah, semuanya masih bisa diurus sama asisten gue. Gue kasih ini sebagai tanda permintaan maaf gue.” ujar Alingga.

Langit terdiam. Memperhatikan mantannya yang berbicara dengan sangat ikhlas. Memberi keringanan untuk hidupnya dimasa depan nanti.

“Alin, gue gak-”

“Jangan tolak ini, Sya. Gue mohon.”

Tangis Tasya langsung pecah seketika. Wanita itu merasa malu, ia merasa sangat bersalah kepada Alingga.

Gadis yang yang dulu selalu ia saingkan, sekarang sangat banyak membantunya. Alingga sangat membantu perekonomian keluarga Tasya yang sederhana. Alingga membantunya dengan sangat ikhlas. Alingga tetap tersenyum ramah walau dulu ia pernah jahat kepada gadis itu.

“Alingga, gue minta maaf. Gue minta maaf karna gue jahat sama lo. Gue minta maaf, Alin. Maaf. Maaf. Maaf.”

“Sya, gpp. Gue udah lupa kok.”

Alingga tersenyum, ia berdiri dari duduknya lalu mengambil tas yang berada diatas meja.

“Gue pulang ya. Gue udah ikhlas perihal kalian berdua. Sekarang gue izin buat pulang.” ujar gadis itu membuat keganjalan di hati Tasya.

Tasya memperhatikan Alingga yang terus berjalan menuju parkiran. Perasaannya berubah tak enak, pikiran buruk langsung menghantui dirinya.

Entah mengapa Tasya sangat khawatir di pertemuan pertamanya kembali dengan Alingga.

Alingga mengambil ponselnya yang berada di dashboard mobil. Gadis itu menghubungkan telfonnya dengan Angkasa. Menunggu suara deringnya berubah menjadi suara sambungan.

“Hallo?”

Alingga tersenyum saat mendengar suara Angkasa. Matanya ia fokuskan kearah jalanan yang sangat sepi.

“Angkasa, aku tenang sekarang. Semuanya udah aku kasih ke keluarga kecil mereka.”

“Pinternya tunangan aku. Kamu udah pulang sekarang?”

“Aku lagi dijalan, Sa. Ini lagi nyetir.”

“Loh? Kenapa telfon aku? Fokus dulu nyetirnya.”

“Gpp kok. Aku kangen kamu soalnya.”

Suara kekehan dari Angkasa terdengar merdu. Alingga tersenyum. Senyuman yang sangat cerah malam itu. Namun senyumnya hilang saat ia mendengar klakson truk dari arah kanannya.

“Jingga, kok berisik banget?”

Mata Alingga membulat saat melihat truk itu melaju dengan kencang. Tak ada waktu untuk Alingga menghindar. Mobil truk berhasil menabrak mobilnya dengan kencang.

Mengguling mobil itu hingga beberapa meter dari jalan raya. Membuat mobil Alingga berasap dengan banyak.

Darah segar mengalir dari kepala serta leher Alingga. Gadis itu dapat mendengar suara Angkasa yang terus memanggil namanya. Walau hanya beberapa detik, sebelum suaranya diganti oleh suara bising dari mobil polisi.

Alingga tersenyum tipis, tak ada rasa sakit yang ia rasakan walau kepala serta badannya terhimpit atap mobil. Gadis itu memejamkan matanya. Air matanya langsung keluar saat ia mengingat kenangan empat tahun bersama Angkasa.

“A-asa... Asa... A-aku selalu sama kamu. S-selalu, Angkasa.”

Suasana didalam mobil Darma sangat hening dan sunyi. Aruni hanya diam dan Darma yang fokus menyetir mobil.

Dengan tiba-tiba tangan Aruni berada di stir mobil. Darma menaikan alisnya, menoleh kearah Aruni yang menatapnya dengan senyuman menyeramkan.

“Kenapa sayang?” tanya Darma berusaha santai.

Aruni terkekeh remeh, ia mengeratkan genggamannya pada stir mobil.

“Gue tau lo pura-pura amnesia. Kalo gue gak bisa dapetin lo, Almara juga gak boleh dapetin lo!”

Tatapan Aruni berubah menjadi tatapan tajam. Tangan gadis itu berusaha untuk membanting stir mobil milik Darma.

“Aruni! Kamu jangan gila! Kita bisa mati!”

“Gue gak perduli! Asalkan lo gak bahagia sama Almara! Kita mati pun gue gak perduli, Darma!”

Aruni terus menarik stir Darma. Keseimbang mobil itu telah hilang. Mobil Darma berjalan tidak tentu arah.

Hingga Darma melihat sebuah truk yang berlawanan arah mendekat mobil Darma. Lelaki itu berusaha meminggirkan mobilnya.

Namun naas. Sebelum mobil Darma berhasil selamat, truk itu sudah menabrak mobilnya. Hingga Darma dan Aruni terguling didalam mobil.

Mobil Darma telah terbalik. Aruni sudah tak sadarkan diri di tempat. Sedangkan Darma meringis pelan karna tenaganya telah habis. Darah mengalir keluar dari mata dan kepalanya. Tangannya terhimpit antara kursi dan stir. Tak dapat dibayangkan beratap rasa sakit yang dirasakan oleh darma.

“A-al... m-maaf...”

Dua kata terakhir sebelum kegelapan merenggut kesadaran Darma.

Iris mata coklat milik gadis yang berwajah datar hanya melihat proses akad pernikahan dari jarak yang jauh. Disana, ia dapat melihat mantannya duduk dengan jas pengantin berwarna biru tua. Sedangkan disebelahnya ada seorang wanita mengenakan gaun pernikahan.

Alingga terkekeh pelan. Merasa miris dengan nasibnya. “Harusnya gue, Tas. Bukan lo. Tapi gue masih berbaik hati sama anak yang ada di kandungan lo.” batin Alingga.

Angkasa melirik Alingga yang berada disampingnya. Terlihat jelas mata gadis itu dipenuhi kebencian dan juga dendam. Dengan ragu Angkasa menggenggam jari jemari milik Alingga, yang ternyata juga dibalas genggaman oleh gadis itu.

Acara Akad pernikahan telah selesai. Banyak orang yang berhamburan untuk mengucapkan selamat pada Langit dan juga Tasya. Namun dalam sekejap suasana didalam ballroom hotel berubah panas. Segerombolan orang dengan seragam polisi datang mendekati Papa Tasya.

“Dengan Pak Prayoga?” tanya polisi tersebut.

Prayoga mengangguk dengan ragu. Matanya menatap beberapa polisi dengan takut. Ia tersentak saat tangannya di borgol oleh salah satu polisi dan tangannya langsung ditahan oleh dua polisi.

Tasya yang melihat itu langsung mendekat, menatap bingung dengan segerombolan polisi yang mengamankan Papanya.

“Maaf, Pak. Ini Papa saya? Kenapa Papa saya ditahan?” tanya wanita itu dengan panik.

“Begini, nak. Papa kamu kami tangkap karna laporan yang kami terima sejak lama. Papa kamu telah melakukan pengebom-an terhadap salah satu perusahaan dan menewaskan beberapa orang disana.”

“Nggak! Gak mungkin Papa lakuin itu! Papa saya ini orang baik, Pak!” Tasya berusaha mendorong semua polisi untuk menjauh Papanya.

Ia langsung memeluk sang Papa dengan erat. Takut jika Prayoga dibawa ke penjara.

“Lepas.” suara seorang gadis mengalihkan atensi mereka.

Alingga menatap dingin, tangannya sudah terkepal kuat sejak tadi, bahkan kepalanya sudah terasa sangat panas sekarang.

“Lepas jalang!” Alingga menarik Tasya dengan kuat hingga Tasya membentur tubuh Langit yang berada di belakangnya.

“Bawa orang tua ini sekarang. Saya mau hukuman yang setimpal untuk dia.” perintah Alingga.

Tangis Tasya pecah saat sang Papa dibawa keluar dari hotel. Gadis itu ingin mengejar Papanya, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh Alingga.

“Inget anak lo sama Langit, brengsek.” ujar Alingga membuat Tasya terdiam.

“Kenapa diem? Lo mikir gue tau dari mana? Iya?” Alingga berjalan kehadapan Tasya, matanya memperhatikan wajah Tasya yang penuh dengan air mata.

“Jangan fikir gue diem aja karna gue gak tau apa-apa, Sya. Lo udah hamil sejak dua minggu yang lalu kan? Pinter banget lo sembunyiin.” ujar Alingga tak di gubris oleh Tasya yang sudah kepalang takut.

Iris mata Alingga kini beralih kepada Langit yang diam saja. Tak membela dirinya atau pun Tasya sejak tadi.

“Jagain suami lo. Kalo dia HS sama yang lain, mungkin itu karma buat lo. Dan satu lagi. Jangan harap lo bakalan tenang untuk kedepannya. Setelah lo lahiran, gue minta kalian berdua cerai. Oke?”

“Alin, anak gue gak ada salah apapun. Please, jangan suruh gue cerai sama Langit.”

“Hahahaha, gak tau malu banget lo? Lo fikir gue suruh Langit nikah karna gue kasian sama lo? Nggak! Tapi gue mau lo ngerasain gimana tersiksanya gue yang harus putus dari Langit karna lo!”

“Mau lo atau Langit yang jatuh cinta nanti, gue gak perduli. Gue mau kalian cerai saat anak lo lahiran.” ujar Alingga dengan lantang. Suara berbisik langsung terdengar di sekitarnya. Membuat gadis itu terkekeh dengan remeh.

“Ih kok murahan banget?”

“Cowoknya cocok sama ceweknya. Sama-sama murahan.”

“Gue jadi nyesel pernah suka sama Langit.”

“Balik aja yuk. Males gue hadirin pernikahan si jalang.”

Alingga membalikan badannya, meninggalkan ballroom yang berubah hening sekarang. Acara pernikahan Langit dan Tasya telah berantakan. Omongan-omongan jahat dari para tamu dapat Tasya dan Langit dengar.

Mobil hitam yang sudah dibasahi hujan berhenti diparkiran minimarket tempat Almara berteduh. Almara sangat tau mobil hitam yang terparkir itu. Itu adalah mobil kesayangan Darma.

Darma turun dari mobil dengan payung yang berada diatas kepalanya. Dengan sedikit berlari, Darma mendekati istrinya yang berdiri sambil memegangi koper, dengan tas kecil yang berada di bahunya.

“Al.” panggil Darma setelah lelaki itu menaruh payung disamping dirinya.

Almara membuang mukanya, air matanya kembali jatuh saat ia mengingat kembali ucapan Darma yang menyakitkan. Dan sekarang Darma berdiri dihadapannya seperti tak ada apa-apa.

“Al, gue minta maaf. Gue gak amnesia, semua itu cuman pura-pura. Ayo masuk mobil, gue jelasin semuanya.” Darma ingin mengambil koper itu, namun dengan cepat Almara menarik kopernya hingga berada dibelakang perempuan itu.

“Dar, lo gila ya? Pura-pura amnesia apa emang mau nyakitin gue? Pura-pura amnesia apa emang lo masih suka sama Aruni?” tanya Almara dengan suara bergetar.

Darma menghembuskan nafas panjang. Ia memeluk istrinya dengan perlahan, kali ini tidak ada penolakan. Tangis Almara kembali pecah, gadis itu mengeratkan pelukannya. Rasanya masih hangat. Seperti saat ia dan Darma berpelukan di Prancis.

“Maaf ya? Ayo masuk dulu, gue jelasin semuanya.”

Darma mengambil payungnya kembali, ia menuntun Almara untuk memasuki mobilnya. Memberi selimut kecil yang selalu ia simpan di belakang mobil.

“Pake ya. Biar kamu sama anak aku gak kedinginan.” ujar Darma sambil tersenyum.

Lelaki itu langsung melajukan mobilnya. Tangan kirinya sedari tadi terus menggenggam tangan Almara. Memberi kehangatan pada perempuan tercintanya.

“Laper, aku belum makan.” ujar Almara dengan suara pelan.

Darma tak menjawab apapun, namun laki-laki itu langsung menancapkan gas ke pedagang kaki lima.

Darma menarik Almara untuk memeluknya. Saat ini mereka berdua sedang menunggu pesanan sate ayam mereka. Sembari menunggu, rencananya Darma akan menjelaskan semuanya.

“Gue jelasin pelan-pelan ya.” ujar Darma. Almara hanya mengangguk, ia mengeratkan pelukannya karna ingin mendapat kehangatan yang lebih.

“Waktu kecelakaan, sebelum Aruni liat kondisi gue, gue denger dia lagi telfonan sama seseorang. Dia bahas rencana yang mau gue amnesia. Yaudah gue pura-pura Amnesia karna mau lancarin rencana gue yang lain”

“Papa Aruni itu korupsi uang perusahaan bokap gue, Al. Sebenernya udah tau lama, cuman masih nyari bukti-bukti aja. Gue Amnesia biar nanti pas hari pernikahan, gue bakal nyelundup kerumahnya. Nyari dokumen dan rekening pribadi punya bokapnya Aruni. Abis itu gue bakalan laporin kejahatan Aruni serta Papanya. Dia juga ada rencana mau gugurin anak kita, Al.”

“Tapi lo tenang aja, gue bakalan selalu jagain lo. Tapi untuk sementara ini kita gak tinggal bareng dulu ya? Supaya Aruni gak curiga.”

“Kenapa lo gak bilang dari awal?”

“Al, kalo gue tau dari awal pasti Aruni bakalan curiga karna lo tenang-tenang aja.”

Darma mengusap rambut Almara dengan lembut. Almara terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ia tanyakan lagi kepada Darma.

“Oh iya. Yang soal di chat itu, lo beneran suka sama gue dari SMA?”

Pertanyaan Almara berhasil menbuat Darma terdiam. Ia bingung harus menjawab apa dan tentunya Darma sangat malu dengan pengakuannya di chat tadi.

“Eh, Al. Satenya udah jadi.”

Darma mengalihkan pembicaraannya. Membuat Almara berdecak kesal.

“Gue suapin ya? Lo gak boleh capek-capek. Kasian dede bayinya.”

“Cuman makan doang, Dar?! Masa gak boleh?!”

“Gak.”

Darma mengambil satu suap nasi beserta daging yang sudah dipisahkan dari tusuk satenya. Ia menyuapi Almara dengan perlahan, takut istrinya tersedak jika ia menyuapi dengan kasar.

Sejujurnya Darma sangat menyayangi Almara lebih dari apapun. Tetapi Darma sangat sulit mengucapkannya lewat kata-kata. Darma lebih suka bertindak dari pada berucap.

Karna menurut Darma, yang dibutuhkan wanita bukanlah omongan. Tetapi tindakan dan bukti nyata.

Suara pintu ruangan Darma yang terbuka mengalihkan perhatian lelaki itu. Darma melihat kearah pintu, terdapat satu perempuan dengan ransel kecil yang ada disebelah kanannya.

Darma menaikan sebelah alisnya, menatap wanita yang sedang berdiri diambang pintu dengan tatapan dingin. Wajahnya terlihat tidak suka karna kehadiran gadis itu.

“Mau apa lo kesini? Pulang. Cewek gue gak suka lo kesini.” Ujar Darma dengan lantang.

Almara menelan salivanya dengan kasar, namun ia dapat memberanikan dirinya untuk mendekati Darma perlahan.

“Gue istri lo. Gue berhak ketemu sama lo, Dar.”

“Atas dasar kecerobohan lo. Lo fikir gue mau nikah sama lo? Nggak! Gak usah berharap lo!”

Ucapan lantang Darma berhasil membuat Almara berhenti didepan Darma. Sedikit jauh dari ranjang.

Almara menarik nafasnya sekuat tenaga. Terdengar menyakitkan dan sesak. Bahkan bibirnya mulai bergetar untuk menahan tangisnya.

“Dar, gue-”

“Pulang brengsek! Gue gak butuh lo disini! Murahan banget cara lo sampe bikin gue putus sama Aruni!”

Almara terdiam, air matanya tak dapat lagi ditahan. Murahan. Satu kata dengan seribu luka. Terlalu kasar untuk Almara dengar, tak siap perempuan itu mendengar kalimat yang sangat menyakitkan.

Dengan perlahan, kaki Almara berjalan mundur. Gadis itu membalikan badannya, mengahpus air mata dengan kasar.

Lalu dengan cepat Almara berlari keluar. Meninggalkan ruangan Darma dengan luka yang baru. Meninggalkan Darma dengan ingatan yang melupakan Almara.

Sakit. Satu kata yang menggambarkan Almara saat ini.

Setelah proses pemakaman selesai, Alingga lebih memilih diam dikamarnya bersama Griya dan Rachel. Sedari tadi tangannya terus memeluk foto sang Ibunda yang telah di antar ke peristirahatan terakhirnya.

“Alin, mau main make up-make up an lagi gak? Jangan sedih terus.” ujar Rachel sambil memeluk Alingga.

Gadis itu memaksakan senyumannya, ia menggeleng. Matanya memilih untuk melihat kearah dinding dengan tatapan yang kosong.

“Makan dulu yuk? Gue yang buatin makanannya. Kata lo masakan gue enak. Ayo makan.” kali ini Griya yang berucap. Gadis itu mengusap bahu Alingga dengan perlahan. Namun tawaran dari Griya hanya angin semata untuk Alingga.

Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Griya dan Rachel. Wajah kedua gadis itu berubah datar setelah melihat siapa yang memasuki kamar Alingga tanpa permisi.

“Ngapain lo kesini?!”

“Lo gak tau malu banget ya, jalang?”

Ketus kedua gadis itu. Tasya, perempuan itu menelan salivanya dengan kasar. Rasa takutnya langsung bergejolak. Namun rasa bersalahnya tak dapat dikalahkan.

“Gue... gue mau minta maaf sama Alingga. Gue salah, harusnya gue gak bilang kalau gue liat Langit malam itu. Harusnya gue gak turutin kemauan Langit untuk minum. Gue minta maaf, Alin.” ujar Tasya dengan suara bergetar.

Alingga menoleh, tatapan kosongnya kini berubah menjadi tatapan tajam. Gadis itu berdiri, melempar bingkai foto keatas kasur. Langkahnya dengan cepat mendekati Tasya.

Plakk-!!

“Tamparan pertama karna keluarga lo bahagia!”

Plak-!

“Tamparan kedua karna lo udah rebut Langit dari gue! KELUARGA SIALAN! BRENGSEK! JALANG LO BAJINGAN!”

Teriakan Alingga dapat terdengar hingga lantai bawah. Langit dan Angkasa langsung terburu-buru berlari kelantai dua, menuju kamar Alingga yang terbuka dengan Tasya yang berdiri sembari menunduk, memegang kedua pipinya yang memerah karna ditampar dengan kencang.

“Alingga, tenang.” Angkasa langsung memeluk Alingga dengan erat.

Namun, lagi-lagi emosi gadis itu meluap saat ia melihat Langit yang berada dihadapannya. Gadis itu berontak. Ia ingin mencabik-cabik wajah Langit saat itu juga.

“LEPASIN, SA! GUE MAU HAJAR BAJINGAN ITU! GUE MAU BUNUH DIA, ANGKASA! LEPASIN GUE!” teriak Alingga dengan frustasi.

Gadis itu kembali menangis saat ia tak berhasil melepaskan pelukan Angkasa. Alingga terisak dengan keras. Tubuhnya kembali lemah karna semua masalahnya bercampur menjadi satu didalam fikirannya.

“Angkasa, kepala gue sakit...” lirih gadis itu.

Dan tak lama Alingga tak sadarkan diri. Alingga limbung ditengah dukanya. Alingga rapuh ditengah masalahnya. Semuanya terlalu berat untuk Alingga.

Dan sekarang, yang difikiran Alingga hanya ada Bunda dan Ayahnya. Alingga ingin menyusul kedua orang tuanya.