Kakdoyiiee

Sudah terhitung sejak 3 jam lamanya Jo menunggu Bumi yang tak kunjung sadar. Lelaki itu tak henti-hentinya berbicara tentang masa kecil Bumi dan hari perayaan ulang tahun yang selalu mereka adakan. Air mata Jo terus mengalir tak henti. Jo sangat takut jika kehilangan dunianya, Jo sangat takut jika kehilangan kehidupannya.

“Bangun, jagoan. Papa khawatir.” ujar Jo dengan suara yang serak.

Ia terisak kecil. Rasanya tidak kuat jika harus menahan semuanya dalam-dalam. Hatinya telah penuh dengan segala rasa cemas akibat kondisi Bumi yang semakin parah.

Penjelasan dari dokter Chandra terus terngiang dikepala lelaki itu. Dimana kondisi Bumi yang semakin parah dan semakin tidak memungkinkan untuk bertahan. Bahkan hanya ada waktu tiga hari untuk jantung itu bekerja.

Jo memandangi cake yang telah berantakan diatas nakas. Hiasan yang dibuat juga sudah tidak jelas bentuknya. Lelaki itu semakin terisak dengan keras.

“Selamat ulang tahun, jagoan. Maaf Papa gak bisa jaga kuenya. Maaf ya? Nanti Papa beli lagi, tapi jagoan harus bangun dulu.” ujar Jo disela isakannya.

Dengan perlahan, tangisan Jo semakin mereda. Lelaki itu terdiam sejenak. Memutar otak untuk mencari cara agar anaknya sembuh dari kesengsaraan.

“Jantung saya cocok dengan Bumi.” gumam lelaki itu.

Jo tersadar dari diamnya setelah ia memikirkan semuanya. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Bumi yang sangat lepek karna sudah lama tak dicuci kembali.

“Jagoan, Papa bakalan kasih kehidupan Papa buat kamu. Cepat sembuh ya? Maaf Papa gak bisa nemenin jagoan.”

Jari dari lelaki ringkih tersebut perlahan bergerak. Bumi melenguh pelan saat merasa teriknya matahari masuk hingga menembus kelopak matanya. Membuat dirinya mau tidak mau harus bangun dari mimpi indah yang jarang Bumi dapat.

Bumi melihat sang Papa yang sibuk mengikat gorden ruang rawat VIP yang ia tempati. Lelaki itu menatap kesal. Sangat menyebalkan karna Jo selalu menganggu tidurnya.

Ia mengambil lonceng diatas meja. Membunyikannya sekali supaya Jo menyadari bahwa Bumi telah bangun dari tidurnya.

“Morning, jagoan.” sapa Jo dengan senyuman yang membuat Bumi menatap kesal. Mata lelaki itu seolah berbicara “Papa nyebelin!”

Jo terkekeh pelan menanggapi tatapan dari anak semata wayangnya. Tangannya ia angkat untuk membersihkan nakas dan memberi Bumi note kecil serta bolpoin untuk menuliskan sesuatu.

“Jagoan mimpi apa semalam?” tanya Jo menghentikan keheningan pada pagi hari.

Dengan jari lincahnya, Bumi menuliskan sesuatu pada note kecil tersebut. Lalu memberikannya pada Jo yang baru saja menyelesaikan acara bebersihnya.

“Bumi mimpi lagi main sama Papa dan Mama. Disitu Bumi sehat, Bumi bisa ngomong sama Papa Mama. Bumi main lari-larian tanpa ngerasain dada Bumi sakit. Tapi Bumi sadar, itu cuman bunga tidur yang susah buat Bumi rasain di kehidupan nyata.”

Jo terdiam setelah membaca tulisan tangan Bumi. Ia memperhatikan anaknya yang sibuk memainkan bolpoin sambil menggerakan mulut seolah-olah menyanyikan sesuatu.

Satu air mata Jo berhasil lolos dengan begitu saja. Namun dengan cepat Jo menghilangkan basah yang tertinggal di pipi sebelum Bumi sadar jika Jo menangis.

“Kamu bisa gapai itu kalau kamu terus berdoa sama Tuhan. Yang sabar ya, nak? Sebentar lagi.”

Bumi hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari Jo.

Sebentar lagi. Dua kata yang selalu Jo ucapkan jika Bumi mengeluh atau berbicara jika dirinya lelah. Dua kata yang selalu dan selalu Bumi dengar ketika Jo berusaha menenangkan Bumi.

Namun lelaki itu tak terlalu masalah. Karna Bumi tau, Jo sedang menyimpan lukanya karna penyakit sialan yang diderita anak semata wayangnya.

Suara rintihan dari anak tunggalnya membuat lelaki berkepala empat itu lagi-lagi harus menahan air mata. Joandra, single parent ini harus merawat satu-satunya anggota keluarga yang ia punya sekarang. Bumi Jonandra namanya.

Anaknya yang menurut Jo sangat hebat walau banyak kekurangan. Jagoan yang sangat Jo jaga sejak kecil. Jagoan yang sangat ringkih jika disakiti. Walaupun Bumi tak sekuat anak lain, Bumi tetap jagoan dari seorang Joandra.

Setelah dokter menyuntikan dosis obat yang seharusnya, Bumi dengan perlahan mulai tenang. Tubuhnya mulai merespon dari obat tersebut. Rasa kantuk mulai menyerang anak lelaki yang harus memakai alat bantu dengar setiap saat, agar ia dapat mendengar suara penenangnya. Joandra.

Joandra mengeratkan genggamannya saat melihat Bumi yang sudah tertidur. Lelaki itu terisak kecil, berusaha untuk mengatur suaranya agak Bumi tak bangun kembali.

Sesak. Rasanya sakit sekali walau sudah setiap saat Jo melihat kondisi Bumi. Namun, ia hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Hati Jo akan sangat rapuh jika dihadapkan oleh sang anak.

Tak ada lagi yang Jo harapkan selain mendapat pendonor jantung yang cocok untuk Bumi. Mengharapkan anak lelakinya sembuh agar tetap bisa bersamanya.

Namun, sudah 18 tahun Jo berusaha, tak ada kabar bahwa ia berhasil menemukan pendonor yang cocok untuk anaknya. Satu tahun lagi perkiraan dari sang dokter. Bumi hanya dapat bertahan satu tahun lagi.

Tapi tidak ada yang tau pada akhirnya. Jo hanya berharap kebaikan dari Tuhan datang untik anaknya. Berharap dihari ulang tahun Bumi ia mendapatkan hadiah yang paling berharga.

Jantung baru untuk meneruskan masa depannya.

“Perhatian untuk anak kelas 10 hingga kelas 12, harap segera kelapangan semuanya. Kepala Yayasan datang untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Ke lapangan dalam waktu 10 menit.”

Suara yang datang dari speaker mengalihkan pandangan Athaya dari buku tulis. Gadis itu tersenyum tipis, dengan buru-buru ia membereskan peralatan tulisnya.

“Ck, malu gue satu kelas sama anak pelakor.”

“Kasian banget. Pasti kepala yayasan malu deh ada anak pelakor disekolah ini.”

“Kok Athaya enggak di DO aja ya?”

Suara yang sengaja di keraskan membuat senyuman tipis Athaya berumah menjadi smirk yang tak terlihat. Gadis itu tak menanggapi apapun, ia langsung berjalan keluar kelas munju lapangan yang tepat berada didepan kelasnya.

Sudah 15 menit berlalu. Kata pengantar serta ucapan kepala sekolah telah mereka dengar dengan hati yang tak suka. Bosan dan panas membuat banyak murid yang mengeluh karna teriknya matahari.

Hingga akhirnya pemilik Yayasan berdiri didepan mereka. Mengambil microphone yang diberikan kepala sekolah. Melirik semua murid yang berdiri dengan sedikit berantakan.

“Selamat siang semuanya. Maaf mengganggu pelajaran terakhir kalian. Pertama saya akan mengenalkan diri saya sendiri. Mungkin untuk kelas 10 tidak mengenal saya. Nama saya adalah Jerian Arthares. Saya selaku pemilik Yayasan dari SMA Garuda.”

Semua murid diam mendengarkan. Beberapa ada yang menatap kagum sebab paras dari pemilik Yayasan yang hampir mencapai kata sempurna.

“Mungkin kalian bingung mengapa saya datang secara mendadak. Bahkan semua guru menatap bingung saat saya datang beberapa menit yang lalu. Jadi kemarin saya mendengar bahwa ada salah satu murid yang dirundung disini akibat kesalahan orang tuanya. Banyak yang mengirimkan kalimat kasar kepada murid tersebut.”

Perlahan suara berbisik mulai terdengar. Sedangkan Shanneth menatap tenang kedepan. Merasa dirinya akan selamat karna sudah membully Athaya.

“Namanya Athaya Gisellia. Keponakan saya yang telah kalian rundung beberapa hari yang lalu.”

Deg-!

Jantung Shanneth terhenti seketika. Mata gadis itu menatap terkejut. Merasa tak percaya jika Athaya adalah keponakan dari pemilik Yayasan SMA Garuda.

“Keponakan saya telah dirundung karna fitnah yang disebarkan oleh Shanneth kelas 12. Terjadi kesalah pahaman disini tentunya. Adik saya, ibu dari Athaya tak pernah merusak hubungan rumah tangga siapapun. Dan lelaki yang dimaksud oleh thread yang tersebar adalah saya.”

“Saat itu saya menikah dengan perempuan yang telah memiliki satu anak. Pada malam itu saya dan istri saya bertengkar hebat ketika adik saya serta Athaya datang. Mereka berusaha melerai saya dan mantan istri saya. Dan akhirnya banyak yang menonton kami. Saya serta adik saya akhirnya pergi dari rumah itu. Meninggalkan mantan istri saya dan anaknya serta lebih memilih untuk bercerai karna mereka hanya memanfaatkan harta saya.”

“Dan entah bagaimana, kejadian beberapa tahun lalu tersebut tersebar hingga disekolah ini. Dan menuduh adik saya itu pelakor.”

Ujar Jerian membuat banyaknya murid-murid langsung berbisik-bisik. Shanneth yang dibelakang hanya menatapnya dengan takut. Gadis itu memperhatikan Athaya yang berdiri dengan tenang dan Acha yang berdiri dibelakang Athaya.

“Saya ingin kejujuran dari kalian semua. Ada yang tau siapa yang membuat thread fitnahan tersebut?” tanya Jerian.

Shannet mengepalkan tangannya yang berkeringat, dengan perlahan ia mengangkat tangannya keatas.

“Ya? Shanneth? Kamu yang membuat thread tuduhan tersebut?”

“Bukan saya, Pak. Tapi Acha temannya Athaya.”

Gaduh. Benar-benar gaduh pada lapangan utama sekolah SMA Garuda. Acha, perempuan itu menoleh kearah Shanneth dengan tatapan bingung. Langkahnya langsung menghampiri Shanneth dengan cepat.

“Maksud lo apaan?! Sejak kapan gue bikin thread itu?! Jangan fitnah!” ujar Acha dengan emosi yang meluap.

Shanneth menaikan alisnya, ia berdecih dengan pelan. “Fitnah lo bilang? Jelas-jelas lo yang kerjasama sama gue! Gue ada bukti chatnya!”

Gema, lelaki itu hanya melihat keributan dari ujung barisan. Merasa marah dengan adiknya karna berani mengkhianati Athaya.

“APAAN SIH LO ANJING?! GUE GAK PERNAH BIKIN THREAD ITU!”

Dan akhirnya terjadi keributan antara Shanneth dan Acha. Serangan-serangan terus mereka berdua berikan. Membuat beberapa guru berusaha melerai pertikaian yang sangat susah untuk dilerai.

Athaya ikut berusaha memisahkan keributan. Gadis itu menarik Acha hingga menjauh dari Shanneth yang sudah berantakan. Sama halnya dengan Acha.

“Cha, udah!”

“Gimana mau udah?! Dia fitnah gue anjing!”

Emosi Acha telah pecah sejak tadi. Membuat gadis itu kehilangan kendali atas dirinya. Acha marah, Acha tak terima jika di fitnah dengan sesuatu yang tidak ia lakukan sama sekali.

Sedangkan Kania, gadis itu berdiri dengan tenang dengan smirk yang terpampang dengan jelas.

“Mission complete.”

Sejak tadi, lelaki dengan rambut berantakan itu hanya menatap kosong gerbang. Sekarang adalah jadwa Gema untuk memeriksa atribut murid sekolah. Namun pikiran lelaki itu pergi entah kemana.

“Fokus.” ujar Raken sambil menepuk bahu Gema hingga lelaki itu tersentak.

Gema menoleh, ia mengangguk pelan karna hampir semua tenaganya hilang. Fikirannya tak henti-henti memikirkan keadaan Athaya yang sudah dua hari tidak ada kabar. Gema khawatir, takut jika terjadi sesuatu dengan Athaya.

“Tha, kamu dimana?” gumam lelaki itu.

“Aku disini.” suara seorang perempuan menyaut.

Gema menoleh kesampingnya. Matanya membulat saat ia melihat gadis dengan rambut sebahu serta pakaian sekolah yang rapih berdiri disampingnya. Lelaki itu mengusap matanya beberapa kali, berusa memastikan apakah benar kekasihnya atau hanya sebuah haluan.

“Kak, kamu kenapa?” tanya Athaya dengan bingung.

Gema tak menjawab apapun. Lelaki itu terdiam beberapa saat, hingga akhirnya ia memeluk Athaya dengan sangat erat. Tubuh Gema perlahan gemetar, ia menangis. Menumpahkan rasa khawatir dan menggantikannya dengan rasa lega.

“Kamu kemana aja sayang? Aku khawatir. Please, jangan gini lagi ya? Aku takut kamu kenapa-kenapa.” ujar Gema sambil memegang pipi kekasihnya.

Suara bisik-bisik dari semua murid langsung terdengar di telinga Gema dan Athaya. Banyak yang menyindir Athaya dan banyak yang mengatai gadis itu dengan sebutan anak pelakor.

“Udah, jangan ladenin mereka. Ayo, aku anter ke kelas kamu.” Gema menautkan jari-jarinya dengan jemari Athaya, namun langsung dilepas oleh Athaya. Gema menatap gadis itu dengan tatapan bingung.

“Kenapa, Tha?”

“Aku maunya gini.” Athaya menyelipkan tangan kanannya disiku Gema. Membuat lelaki itu terkekeh pelan.

Mereka berdua berjalan kedalam area sekolah. Melangkahkan kaki menuju gedung IPA kelas 10 milik Athaya. Melewati Shanneth yang memperhatikan dari pinggil lapangan.

“Sial.” pikir Shanneth sambil menatap Athaya dengan pandangan tidak suka.

Di belakan sekolah, satu kursi panjang yang terpajang di dekat gudang sudah terisi oleh dua orang yang saling terdiam sejak tadi. Gema yang sibuk memperhatikan Athaya yang murung. Sedangkan Athaya yang sibuk dengan pikiran buruknya.

Gema menggenggam tangan Athaya dengan perlahan. Membuat gadis itu tersentak dan menoleh. Menatap mata Gema yang menatapnya dengan khawatir.

“Tha, you okey?” Tanya Gema dengan suara pelan. Sungguh, lelaki itu sangat mencemaskan kekasihnya. “Kalo ada apa-apa, bilang aku ya? Aku khawatir.” Ujarnya setelah tak ada jawaban apapun dari Athaya.

Athaya menghela nafas pelan, berusaha menghilangkan rasa khawatirnya yang menjalar sejak tadi.

“Kak Gema.” Suara Athaya terdengar gemetar, gadis itu terlalu takut membuat Gema malu. Athaya juga takut akan kehilangan Gema.

“Aku buat malu kakak ya? Kata Shanneth, aku gak cocok sama Kakak. Aku cuman bikin Kakak malu karna aib keluarga aku.” Satu air mata Athaya berhasil lolos dari pipinya.

Gema langsung mendekap Athaya, mengusap punggung kekasihnya supaya tenang. Namun emosinya sudah mulai tumbuh secara perlahan.

Shanneth sialan!

“Tha, kamu gak lupa kan apa yang aku bilang?” Ujar Gema sambil mengusap rambut gadis yang sedang menahan isakan didalam dekapan Gema.

“Kamu jangan pernah mikir kalau aku pacarin kamu dengan kata 'tapi' atau 'tujuan' yang buat kamu gak nyaman. Aku tulus sama kamu, Tha. Aku sayang banget sama kamu. Harus berapa kali aku bilang kalau kamu itu penyembuh aku? Kamu gak bikin aku malu, Tha. Tapi kamu bikin aku sayang banget sama kamu.”

“Tha, aku gak pernah mandang sebelah mata soal keluarga kamu. Karna kita sama dimata Tuhan. Sejak kecil, aku selalu diajarin bagaimana caranya menghargai sekitar aku. Dan aku rasa pelajaran itu berguna buat aku. Aku sayang kamu, Tha. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak pernah mikir kamu siapa dan kamu dari mana.”

“Udah ya? Hilangin pikiran jelek kamu. Aku bakalan terus sama kamu. Sampai kapanpun. Mau ada Shanneth atau perempuan cantik yang lainnya, kamu gak akan ada yang bisa gantiin, Tha. Your only one.”

Tangis Athaya langsung pecah seketika. Gadis itu mengeratkan pelukannya. Memaksakan dirinya untuk merasakan usapan yang diberikan Gema pada rambut pendeknya.

Lagi. Athaya lagi-lagi mengucapkan rasa bersyukur atas kehadiran Gema. Merasa sangat pantas mendapatkan lelaki itu. Merasa sangat beruntung karna memiliki Gema yang sangat perhatian dengan dirinya.

Jika Athaya sudah mempunyai Gema yang sempurna, gadis itu tak akan pernah memandang lelaki lain. Karna menurutnya, Gema itu sudah berhasil memenuhi hidupnya.

Sejak 10 menit yang lalu, Jevan dan Liona sudah berada diruang private yang berada disalah satu restoran di Bandung. Keduanya dari tadi sama-sama terdiam, memikirkan bagaimana pertemuan mereka dengan masa lalunya.

Jevan menoleh kearah Liona yang berkeringat, tangannya dengan reflek menggenggam tangan Liona. Membuat Liona menoleh dengan tatapan terkejut.

“It's okay. Semuanya bakalan baik-baik aja, Li. Jangan cemas karna Tama ya?” ujar Jevan berusaha menenangkan.

Liona tersenyum, ia melepaskan genggamannya lalu beralih mengusap punggung Jevan.

“Kamu juga, Jev. Kara pasti paham kok sama kondisi kamu. Aku yakin dia gak akan marah.”

Kali ini Jevan yang tersenyum, walau hanya tipis, tetapi terlihat dengan jelas bahwa lelaki itu sedikit tenang.

Berselah 5 menit, ruangan privat itu terbuka. Menampilkan seorang lelaki dan perempuan yang bergandeng dengan mesra. Membuat hati Jevan langsung terbakar api cemburu.

Sedangkan Liona, gadis itu tak menoleh sama sekali. Lebih memilih untuk menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan untuk membahas kontrak. Mengabaikan Tama dan Kara yang sudah datang.

Kara, perempuan itu ingin menghampiri Jevan. Namun tangannya langsung digenggam erat oleh Tama. Menandakan bahwa Kara tak boleh berjalan sebelum Tama.

“Silahkan duduk.” ujar Liona dengan setenang mungkin. Gadis itu berdiri, menoleh kearah Tama dan Kara dengan senyum lebar. Membuat Tama mematung di tempat.

“Ona?” gumam lelaki itu sambil memandangi Liona.

Kara menoleh kearah Tama, menatap suaminya yang memperhatikan Liona dengan sangat intens.

“Tama? Kamu kenal dia?” tanya Kara membuat Tama tersentak. Lelaki itu tak menjawab sama sekali. Lebih memilih mengajak istrinya untuk duduk dihadapan Jevan dan Liona.

Liona kembali duduk. Dihadapannya sekarang adalah Kara. Menatap gadis tersebut yang sibuk menatap Jevan.

“Jadi, kita mu-”

“Jevan, boleh kan kita bahas masalah pribadi dulu?” Kara berujar dengan suara bergetar.

Sungguh, gadis itu sangat merindukan Jevan. Kara sangat merindukan cinta lamanya. Dan sekarang Jevan kembali setelah berita kematian palsunya terungkap. Membuat harapan Kara untuk bersama Jevan kembali tumbuh dengan besar.

Tama mengepalkan tangannya. Amarahnya memuncak saat Kara tak henti-hentinya menatap Jevan. Membuat rasa cemburu tumbuh dengan cepat.

“Aletta.”

“Tama, aku mohon. Tolong, tolong kasih waktu aku sama Jevan. Aku mohon.”

“Kamu istri saya, Aletta! Mana ada suami yang mengizinkan istrinya dengan lelaki lain?!”

Lepas sudah emosi Tama. Nafas lelaki itu memburu, menatap istrinya dengan tatapan tajam. Membuat Kara menunduk dengan takut.

Jevan yang melihat itu langsung berdiri mendekati Kara. Menarik gadis itu kebelakang punggungnya. Melindungi Kara dari amarah seorang Tama.

“Kara paling gak suka di bentak. Kamu bisa bilangin dia secara baik-baik, gak usah pakai bentakan. Sadar gak udah bikin Kara ketakutan?” tatapan Jevan berubah dingin, suara lelaki itu datar karna menahan amarah. Tak terima jika Kara dikasari dengan lelaki lain.

“INI SEMUA KARNA KAMU SIALAN!”

Bugh-!

Tama memukul rahang Jevan dengan keras hingga lelaki itu jatuh. Darah segar mengalir dari sudut bibir Jevan, tetapi lelaki itu tak meringis sama sekali.

“Karna saya? Saya hanya mengungkapkan identitas. Seharusnya kamu tidak usah takut Kara saya rebut kalau Kara benar-benar mencintai kamu.” Jevan berdiri dengan seringai. Lelaki itu membenarkan kerah jasnya yang berantakan.

Tangan Tama semakin terkepal, lelaki kembali memukul. Bukan, bukan Jevan yang kena pukulan. Tetapi Kara yang berdiri tiba-tiba didepan Jevan.

“Kara!” Jevan mendekati Kara yang terjatuh sambil memegangi pipinya. Lelaki itu langsung membantu Kara untuk berdiri. Melihat pipi Kara yang memerah. Emosi Jevan langsung memuncak sekarang.

Bugh-!

“BANGSAT LO! KALO GAK BISA JAGA KARA GAK USAH NIKAHIN DIA ANJING! GAK USAH SAKITIN KARA! PENGECUT! BAJINGAN!”

Jevan memukul Tama dengan membabi buta. Tak memberi Tama waktu untuk melawan. Terus memukul hingga Tama tak bisa berkutik sama sekali.

Liona, gadis itu bingung harus melakukan apa. Ingin menghampiri Kara, tetapi ia takut karna tak kenal. Ingin menghampiri Jevan, tetapi takut jika terkena pukulan. Ah, rasanya gadis itu ingin menghilang sekarang juga.

“JEVAN! UDAH! JANGAN BUNUH KAK TAMA!” hingga Liona berusaha menarik lengan Jevan. Membuat lelaki itu langsung berhenti karna takut melukai Liona.

“Jevan, udah ya? Ayo kita pulang aja. Tenangin diri kamu ya?” Liona berujar dengan lembut. Menatap Jevan dengan tatapan yang penuh kesabaran. Membuat Lelaki itu pernah menghembuskan nafas yang tenang.

“Awas lo bangsat.” ujar Jevan terakhir kalinya. Sebelum meninggalkan Kara dan Tama diruang privat yang berantakan.

Langkah kaki dari gadis berambut sebahu itu dapat terdengar oleh Gema yang berdiri sambil melihat kearah dinding belakang sekolah. Gema menoleh saat langkah kaki tersebut sudah tidak terdengar.

Dihadapannya, terdapat seorang gadis dengan mata yang sembab. Gema bisa tebak bahwa gadisnya menangis semalaman.

“Tha, maaf...” ujar Gema dengan suara lirih.

Athaya menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya. Merasa sangat jahat dan sakit.

“Ayo, Tha. Tampar aku sekarang. Jangan diemin aku, aku mohon. Jangan minta putus ya, Tha? Aku masih sayang sama kamu.”

Gema menggenggam tangan Athaya, tak ada penolakan disana. Hanya suara isakan yang terdengar.

“Tha, jangan nangis.” Gema ingin menghapus air mata Athaya. Namun ditepis dengan gadis itu, membuat Gema tersentak dengan terkejut.

“Tha?”

“Ayo putus, Kak.”

Tiga kata yang berhasil membuat Gema membeku. Lelaki itu menggeleng dengan perlahan, kembali meraih tangan Athaya yang yang sempat terlepas. Namun gadis itu dengan cepat menepis tangan Gema.

“Tha, aku mohon. Aku gak mau putus. Aku tau aku salah, aku jahat sama kamu karna aku abain kamu semalem. Aku minta maaf, jangan pu—”

“Aku yang jahat, Kak. Kalo kakak tau suatu hal, apa kakak masih sayang sama aku? Aku yakin nggak. Jadi, mending kita putus aja ya?”

Suara Athaya terdengar gemetar. Pipinya kembali basah karna air mata yang kembali mengalir. Gadis itu menunduk, kembali terisak karna merasakan sakit yang amat dalam.

“Tha, maksud kamu apa? Suatu hal apa? Kamu sembunyiin sesuatu dari aku?” Gema mendekati Athaya perlahan, memeluk gadis itu yang bahunya bergetar karna menangis.

“Tha, kasih tau aku. Aku gak akan marah. Percaya sama aku.” ujar Gema dengan selembut mungkin. Walau didalam hatinya ada rasa cemas yang sangat besar.

“K-kak, maaf. Aku disuruh Deva buat pacarin kamu. Setelah sebulan aku disuruh putusin kamu. Kalau enggak aib keluarga aku bakalan dibongkar sama dia. Aku takut Mama kenapa-kenapa, Kak.”

Athaya mengeratkan pelukannya, ia semakin terisak. Takut jika Gema marah besar dengan dirinya. Namun tanpa disangka, Gema mengusap rambutnya. Mencium kening Athaya yang berkeringat akibat menangis.

“Aku gak marah. Tenang aja ya? Aku paham kamu lakuin ini demi Mama kamu. Aku gak masalah. Tapi aku gak mau kita putus, Tha. Kita cari jalan keluar sama-sama ya?”

Gema sedikit merunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Athaya, menghapus air mata gadisnya yang masih mengalir.

“Udah, Tha. Aku gak marah karna kamu lakuin dengan alasan yang buat aku bangga. Kamu baik, kamu berbakti sama Mama kamu. Kamu gak mau Mama kamu kenapa-kenapa. I'm so proud of you, Tha. I love you.”

16 Februari 2007. Papa dari si kembar telah kembali dari dinasnya selama sebulan. Membawa tentengan berupa oleh-oleh untuk kedua anaknya.

Si paling kecil berteriak girang, diikuti dengan sang abang. Mereka berdua bersorak riang saat sang Papa telah kembali dan membawakan mereka mainan baru.

“Ares, Aras, Papa cuman bawa satu mainan. Kalian mainnya ganti-gantian ya? Kalau Papa ada uang, nanti Papa beliin lagi ya?”

Si sulung mengangguk. Sedangkan si bungsu menatap sang Papa dengan sedih. Enggan berbagi karna pada saat itu Arasha adalah bocah yang belum mengerti apa itu berbagi.

Sang Mama yang melihat itu lantas mendekati si kembar. Mengambil mainan tersebut lalu memberinya kepada Arasha.

“Ares ngalah ya? Mainannya buat Aras dulu. Ares belakangan aja ya?” Ujar sang Mama membuat wajah Aresha berubah murung. Namun anak kecil itu tetap mengangguk patuh.

“Makasih abang!” Arasha memeluk Aresha dengan senang. Membawa mainan baru itu ke kamar. Tanpa mengajak Aresha.

2 Agustus 2007. Hari ulang tahun si kembar.

Tepat pada pukul 00.00 Arasha dan Aresha terbangun dari tidurnya. Terdengar suara bising dua orang yang menyanyian lagu ulang tahun untuk mereka.

Arasha dan Aresha bangun dari tidurnya. Bibirnya terangkat untuk tersenyum. Tangannya saling menggenggam satu sama lain, mata mereka terpejam untuk berdoa.

Hingga akhirnya mereka meniupkan lilin yang berada diatas kue tersebut. Namun mata Aresha gagal fokus saat melihat kue tersebut hanya berisikan nama Arasha.

“Ma, Pa, kenapa cuman nama Arasha?” Tanya Aresha dengan penasaran.

Mama dan Papa saling memandangi satu sama lain. Tangan Papa terangkat untuk mengusap surai rambut milik Aresha.

“Maaf ya, sayang? Tulisannya gak muat buat dikasih nama kalian berdua. Jadi Papa kasih nama Aras aja. Aresha ngalah ya? Aresha kan abang.” Ujar sang Papa dengan tatapan bersalah.

Wajah Aresha berubah marah. Kesabaran bocah itu sudah habis untuk mengalah. Merasa tak dianggap sebagai anak Adeline dan Algero. Merasa diasingkan dan selalu dibandingkan dengan Arasha.

Hingga akhirnya Aresha nekat untuk menyelakai dirinya. Memfitnah Arasha hingga sang Mama benci terhadap adiknya. Namun sang Papa tetap berada dipihak Arasha.

Aresha merasa senang walau hanya sang Mama yang berada di pihaknya. Merasa bahagia walau harus terdapat pukulan untuk mendapatkan kasih sayang.

Sejak saat itu Aresha telah buta. Buta terhadap kebaikan Arasha dan buta terhadap kasih sayang.

Suara motor milik Arasha memasuki garasi rumah. Lelaki itu turun dari motornya setelah melepaskan helm yang berada di kepala. Langkahnya dengan berat membawa tubuhnya ke teras sebelum ia memasuki rumah.

Arasha menghela nafas berat. Entah mengapa setiap ia memasuki rumahnya langsung hadir rasa cemas yang menyerang. Terlebih lagi sudah tidak ada Papa. Tidak ada seseorang yang melindungi dirinya lagi sekarang.

Tangan Arasha terangkat perlahan untuk membuka pintu. Namun sebelum tangan itu menyentuh gagang pintu, pintu sudah terbuka terlebih dahulu.

Adeline—Mama Arasha, menarik kerah Arasha hingga masuk kedalam. Membanting anaknya tanpa rasa iba.

Arasha meringis, sebab telapak tangannya terasa sakit karna harus menahan tubuh Arasha yang jatuh secara tiba-tiba.

“Ma! Apa-apaan sih?! Aras baru pulang!” cerca Arasha dengan berani. Tak perduli jika Adeline akan memukul dirinya dengan gagang sapu yang sedang genggam wanita itu.

Bugh-!

Benar. Dugaan Arasha tepat sasara. Adeline memukul kakinya dengan kencang. Membuat Arasha meringis dan menjauhkan kakinya secara reflek.

“Diam Arasha!” bentak Adeline.

Wanita itu menjambak rambut Arasha dengan kasar. Kewarasannya sudah hilang sebab rasa sedih kehilangan suaminya. Adeline belum bisa menerima kepergian sang suami. Hingga emosi wanita itu semakin tak dapat terkontrol untuk menghilangkan rasa sedihnya.

Bugh-!

Lagi. Arasha kembali meringis. Namun bukan karna pukulan. Melainkan kepalanya di benturkan oleh meja yang berada dibelakangnya.

Pening langsung menyerang Arasha. Dadanya terasa sakit akibat benturan yang berada di kepala. Lelaki itu hampir limbung ditempat.

“Pembawa sial! Anak sialan!” teriak Adeline. Perempuan itu langsung pergi ke kamar, meninggalkan Arasha yang sudah terbaring tak berdaya.

Arasha terus mencengkram lengannya. Dadanya terasa semakin sakit dan kepalanya semakin pening. Dengan tergesa lelaki itu mencari obat yang berada di sakunya. Meminum beberapa pil obat tanpa bantuan air mineral.

Ia memejamkan matanya. Air mata langsung lolos dari sudut matanya. Terasa sakit. Bukan fisiknya, tetapi hatinya.

Tak pernah sekali pun Arasha merasakan kasih sayang dari Mamanya. Tak pernah sekali pun Arasha di peluk disela rasa sakitnya.

Arasha ingin seperti Aresha. Di manja, dibuatkan sarapan, bahkan selalu di peluk didepan matanya.

Arasha iri. Arasha ingin merasakan kebahagiaan. Bukan hanya rasa sakit sebab penyakit dan keluarganya.