Kakdoyiiee

Mobil putih yang ditumpangin oleh dua orang tersebut berhenti pada parkiran minimarket yang sempat Shaka share location beberapa menit yang lalu. Mereka bertiga dapat melihat keberadaan Arasha yang duduk dengan pandangan kosong kearah mie yang sudah dingin.

Pikiran lelaki itu berkecamuk karna semua masalahnya. Dadanya terasa sesak sebab stress yang dialami oleh Arasha. Lelaki itu menghapus air matanya, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup oksigen yang terasa sangat tipis.

“Aras.” panggil seorang perempuan membuat Arasa menoleh kebelakang.

Mama, Aresha dan Aluna berdiri dibelakangnya membuat Arasha menatap bingung.

“Kenapa? Ngapain kalian bertiga disini?” tanya Arasha dengan ketus.

Aresha menghela nafas pelan, dengan keberaniannya ia berjalan kearah kursi kosong. Menduduki dirinya tepat dihadapan Arasha. Sedangkan Mama dan Aluna berada di sisi Arasha.

“Gue mau minta maaf.” ujar Aresha membuat Arasha menaikan sebelah alisnya.

“Minta maaf setelah lo ambil semua yang gue punya? Iya? Lo minta maaf disaat gue udah nyerah?” cerca Arasha sambil mengepalkan tangannya, menahan emosi yang tiba-tiba saja memuncak.

“Aras, itu salah paham. Gue sama Ares cuman pura-pura pacaran kok.”

“Pura-pura?”

“Iya. Gue sama Aluna cuman pura-pura. Niat gue mau bikin lo ngerasa kalah, Ras. Tapi gue gak expect lo bakalan bilang nyerah. Gue gak mau lo pergi, tapi gue gak mau lo ngerasa menang. Dan sekarang gue sadar. Gak seharusnya gue rebut Aluna dengan cara kayak gini. Gue sama lo bisa aja dapetin Aluna, tapi mungkin lo milikin hatinya, sedangkan gue hanya sebatas teman sama dia.”

Ujar Aresha membuat Arasha terdiam beberapa saat. Mata lelaki itu menajam kearah Aresha, merasa tak terima dengan otak licik kembarannya.

“Lo udah punya Mama! Apa itu gak cukup?! Hah?!”

“Mama gak ada di pihak gue, Aras. Lo dan gue itu sama.” jelas Aresha membuat Arasha menatap bingung untuk kesekian kalinya. Matanya beralih kearah sang Mama yang terdiam sambil menunduk. Menatap Mama dengan mata menuntut penjelasan.

“Maksudnya apa?” tanya Arasha dengan suara yang amat lirih.

“Arasha, Aresha, Mama minta maaf, nak. Maaf Mama udah kasar ke kalian berdua. Maaf Mama udah gak adil ke kalian berdua. Untuk Aresha, Mama minta maaf karna kamu harus kena pukulan Mama sebelum Mama kasih perhatian ke kamu. Untuk Arasha, Mama minta maaf karna udah nuduh kamu sebagai pembunuh dan beberapa kali pukul kamu.”

“Ma? Mama pukul Aresha?”

“Iya, Ras. Mama pukul gue. Waktu kecil, gue iri banget sama lo karna lo selalu diutamain sama Mama dan Papa. Sampai akhirnya gue sengaja lukain diri gue sendiri supaya gak ada yang utamain lo lagi. Tapi yang percaya cuman Mama dan akhirnya cuman Mama yang sayang sama gue. Tapi itu gak lama, semuanya kebongkar gitu aja waktu gue cerita ke temen gue. Mama marah besar sama gue, Ras. Gue mohon-mohon sama Mama buat tetep perhatian sama gue. Tapi dengan satu syarat, gue harus jadi pelampiasan emosi Mama. Dan gue setuju sama hal itu.”

Arasha terdiam mendengar penjelasan dari Aresha. Ia tak pernah berfikir Aresha mendapati kekerasan sejak kecil dari sang Mama. Arasha tak pernah berfikir jika iri adalah penyebab Aresha benci kepadanya.

Arasha bangun dari duduknya. Dengan cepat ia memeluk Aresha dengan sangat erat. Tangisnya pecah seketika.

“Ares, maafin gue. Maaf gue salah paham sama lo. Maaf gue selalu bikin lo iri. Maaf, Ares. Gue bener-bener gak tau kalau lo juga di pukul sama Mama.” Arasha terisak dengan keras. Tangannya memeluk tubuh Aresha dengan sangat erat.

“Aras, semua ini salah paham yang gak akan bisa berakhir kalau kita gak saling mengalah untuk meminta maaf. Sekarang kita coba ya untuk buat keluarga yang bahagia? Buat Papa bahagia diatas sana. Ayo kita coba buat suasana rumah yang lebih hangat sama Mama? Gimana?” tanya Aresha sembari menghapus air mata Arasha.

Mata lelaki itu menatap Mama dengan penuh harapan. Dan akhirnya wanita paruh baya itu mengangguk, membuat Arasha tersenyum dengan bahagia. Ia langsung memeluk Mama dan Aresha dengan sangat erat. Memeluk dengan rasa sayang yang amat dalam.

Gadis dengan rambut terurai itu berdecak dengan kesal. Merasa tak terlihat kehadirannya dihadapan keluarga kecil yang sudah mencoba untuk hidup dengan bahagia.

“Kok Luna didiemin sih?!” cibir Aluna dengan kesal.

Arasha menoleh kearah Aluna. Terkekeh dengan gemas sebab wajah Aluna yang merengut sebal.

“Kasian si cantik. Sini peluk.” Arasha merenggangkan kedua tangannya yang langsung disambut hangat oleh Aluna.

Gadis itu memeluk Arasha dengan erat, seolah takut kehilangan lelaki yang sangat ia cintai sekarang.

“Aras, katanya cinta sama Luna? Katanya sayang sama Luna?” tanya Aluna dengan polosnya.

Arasha terdiam, bibirnya mengulum untuk menahan senyum akibat malu yang ia rasakan.

“Kenapa, Aluna?”

“Aluna juga sayang sama Aras, Aluna juga cinta sama Aras. Jadi kita tetep temenan aja?” lagi, Aluna kembali bertanya dengan polosnya membuat Aresha serta Mama terkekeh gemas.

“Tuh, gimana, Ras?” ledek Aresha sambil menyenggol lengan Arasha.

Arasha mendengus, ia melepaskan pelukannya secara perlahan.

“Nanti ya? Kuliah dulu yang bener. Kalo udah sukses, aku bakalan lamar kamu. Aku gak mau pacaran karna menurut aku pacaran itu gak menjamin suatu hubungan. Gimana?” ujar Arasha dengan sangat lembut.

Aluna tersenyum, ia langsung memeluk Arasha kembali dengan sangat erat.

“Setuju!”

Malam itu adalah malam paling bahagia untuk si kembar dan Aluna. Malam yang akan tak terlupakan untuk mereka semua. Jujur perihal rasa benci dan jujur perihal perasaan. Membuat mereka bertiga menjalin hubungan yang lebih baik kedepannya.

Menurut Arasha, kalimat semua orang berhak bahagia adalah kalimat yang sangat benar adanya. Dan sekarang Arasha telah merasakan bahagianyang sesungguh.

Hidup dengan keluarga yang hangat dan menjalin hari dengan wanita yang ia cintai.

Keheningan yang berada didalam mobil membuat atmosfir didalam mobil tersebut semakin dingin. Dua orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing tak membuat mereka ingin menciptakan sebuah obrolan. Jevan yang fokus menyetir, dan Liona yang sedang memberi pesan kepada Jio.

Lampu merah dijalanan sepi itu membuat Jevan memberhentikan mobilnya. Lelaki itu menghela nafas dengan berat. Mengingat kejadian sejam lalu diapart Kara.

Sejujurnya, Jevan tak ada niatan untuk menggantikan baju Kara. Namun Karna gadis itu memuntahkan isi perutnya di baju sendiri, mau tak mau Jevan harus menggantikan baju Kara. Dengan segala caranya supay Jevan tidak melihat Kara.

“Liona.” panggil Jevan menghentikan keheningan. Gadis itu menoleh, ia menaikan sebelah alisnya seolah bertanya Ada apa?

“Maaf saya tadi ninggalin kamu di kantor tanpa bilang apapun. Maaf karna bikin kamu nunggu dan akhirnya kamu di copet.”

“Ih! Gpp tau! Aku juga gak marah sama kamu. Lagian kalo emang kamu ada urusan mendadak, aku pa—”

“Tadi saya bertemu Kara, Li.”

Liona langsung terdiam membisu. Wajah gadis itu langsung berubah 60°. Yang awalnya sangat ceria, berubah murung lalu kembali tersenyum dengan terpaksa.

“Gimana keadaan Kara?”

“Tadi Darma chat aku. Dia bilang Kara mabuk dan gak mau di bawa pulang selain sama aku. Akhirnya aku kesana buat jemput Kara. Nganter dia sampai Apartnya. Dan pas dia Apart, dia muntah di bajunya sendiri, Li. Mau gak mau aku...aku gantiin bajunya.” suara Jevan terdengar lirih diakhir kalimatnya.

Mata Liona membuat. Gadis itu sangat terkejut dengan perilaku Jevan.

“T-tapi...tapi aku berusaha gak liat kok, Li. Aku gak semesum itu.” jelasnya dengan suara yang gugup.

Liona tak menjawab apapun. Gadis itu menatap kearah jalanan dan untungnya lampu hijau sudah menyala.

“J-jev, udah hijau lampunya. Jalan.” ujar Liona berusaha mengalihkan pembicaraan.

Selama 10 menit perjalanan, mereka sama-sama terdiam dengan canggungnya. Tak ada perbincangan lagi tentang pekerjaan ataupun tentang hari ini. Biasanya Jevan atau Liona akan bergurau membicarakan Mada.

“Udah sampai. Makasih, Jevan. Aku duluan.”

Liona dengan terburu-buru keluar dari mobil. Bahkan gadis itu langsung masuk kedalam dengan perasaan yang sangat campur aduk. Rasanya sangat malu jika pembahasan tadi terus mereka lanjutkan.

“Jevan mesum!”

Sudah 2 tahun terhitung setelah kepergian Jeffryan. Dan 1 tahun terhitung setelah kepergian Jian.

Tak ada yang menyangka bahwa Jian akan menyusul Jeffryan dengan sangat cepat. Hanya berjarak satu tahun Jian ikut tertimbun tanah disamping makan Jeffryan. Kecelakaan pada malam itu berhasil merenggut nyawa Jian dalam sekejap.

Saat itu, Jian mengendarai motornya menuju tempat favoritnya setelah Jeffryan pergi. Namun entah sadar atau tidak, terdapat truk yang melaju kencang dengan arah yang berlawanan. Hingga Jian tertabrak dan kehilangan nyawanya pada malam itu.

Tak banyak yang Jian lakukan dalam waktu satu tahun sebelum kepergiannya. Lelaki itu hanya pergi untuk kemakam Jeffryan dan Mamanya. Serta makam adiknya.

Dan sekarang, Jian telah berada disamping sang Papa. Sengan Jean yang berada disebelah kirinya.

Sudah 6 jam Jian tak pergi dari tempatnya. Tangannya terus menggenggam dengan erat tangan Jeffryan yang kaku. Matanya tak berhenti menatap Jeffryan yang hanya bisa menatap langit-langit kamar.

Tak banyak perbincangan yang tercipta. Hanya suara isakan Jian yang terdengar sangat lirih.

“Jian suka hadiah Papa. Yang dari Buk Sum pasti hadiah dari Papa. Soalnya Jian gak pernah bilang Jian mau jam tangan keorang lain.” ujar Jian memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

Jeffryan tersenyum dengan sangat tipis, tak dapat dilihat karna sebagian wajahnya yang tertutup oleh oxygen mask.

“Papa, Jian gak mau berharap banyak. Tapi kalau Tuhan kasih Jian kesempatan, Jian mau ngobrol banyak sama Papa. Jian mau nurut sama Papa. Jian mau bersikap baik ke Papa.”

“Maafin, Jian ya Pa? Maaf karna Jian udah nyakitin hati Papa.”

Jian kembali terisak sambil mencium punggung tangan Jeffryan. Lelaki itu tak kuat harus menahan rasa cemasnya. Sakit, benar-benar sakit yang luar biasa.

Dan entah bagaimana, setelah Jian mengucapkan kata ikhlas, detak jantung Jeffryan berubah lambat. Jian bangun dari duduknya, menatap Jeffryan yang berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Papa? Papa?! Papa kenapa?!” Jian berubah panik saat Jeffryan menarik nafas panjang.

Suara nyaring dari mesin EKG langsung terdengar sangat jelas, bersamaan dengan Jeffryan yang menghembuskan nafas dan memejamkan matanya.

Tangis Jian kembali pecah pada pagi itu. Air mata yang mengiring kepergian Jeffryan. Air mata yang kembali keluar untuk menemani raga yang sudah tidak berjiwa lagi.

Mungkin, sejak kemarin Jeffryan menunggu kata ikhlas yang keluar dari mulut Jian. Hingga saat Jian mengatakan hal tersebut, Jeffryan sudah siap untuk dipanggil untuk kembali menghadap ke sang pencipta. Meninggalkan Jian dengan sendirian.

Dan sekarang, Jian benar-benar kesepian.

Langkah kaki lemah itu berjalan dengan pelan menuju salah satu ruang khusus yang ditempati oleh Papanya. Rasanya Jian tak ingin menemui Jeffryan, namun hatinya tak bisa berbohong jika ia sangat mencemaskan Jeffryan.

Matanya menatap kearah pintu yang bertuliskan RUANG ICU. Pintunya tertutup dengan sangat rapat. Namun dengan sisa keberaniannya Jian memasuki ruangan tersebut.

Suara mesin EKG langsung menyambut Jian dengan sangat nyaringnya. Jarak suaranya terdengar sangat lambar, namun dapat membuat hati Jian sangat gelisah ketika mendengar detaknya.

Jian menoleh kearah sang Papa yang terbaring diatas ranjang dengan oxygen mask yang terpasang. Mata Jeffryan terlihat sangat kosong, seperti tidak ada kehidupan di keadaannya yang sekarang. Seperti mayat yang hanya membukakan matanya.

Langkah Jian tak berani mendekatkan dirinya dengan Jeffryan. Sekitar satu meter dari jarak kasur tersebut. Lelaki itu meremas baju khusus yang ia gunakan. Merasa sangat sakit dengan kondisi sang Papa sekarang.

Bola mata Jeffryan bergerak untuk melihat Jian. Perlahan kepala itu menoleh dengan sangat paksa, menatap Jian yang menunduk untuk menghindari tatapan sang Papa.

“J..J..Ji..an” panggil Jeffryan dengan sangat terbata.

Tangis Jian langsung pecah seketika. Hatinya tetap tak siap jika harus ditinggalkan walau mulutnya selalu meminta untuk Jeffryan pergi dari rumah. Jian tak siap melihat kondisi Jeffryan yang lemah seperti sekarang.

Jeffryan yang Jian kenal adalah Jeffryan dengan sifat lembut dan sedikit tegasnya. Tak pernah Jeffryan membentak dirinya atau almarhum adiknya. Tak pernah sekali pun Jeffryan memarahi Jian walau Jian melakukan kesalahan yang besar. Bahkan ketika ia membenci Jeffryan, tak pernah sekalipun Jeffryan ikut membencinya.

“Maaf... Maaf... Maafin Jian. Papa, maafin Jian. Jian jahat sama Papa. Jian durhaka sama Papa. Jian gak pernah ada disaat Papa butuh Jian.”

Anak itu semakin menunduk, isakannya terdengar sangat keras membuat hati Jeffryan berdenyut dengan sakit. Perlahan, langkah Jian mendekat. Tubuhnya dengan cepat memeluk tubuh Jeffryan. Dingin, sangat dingin dari pelukan 4 tahun lalu. Sekarang tak ada lagi kesamaan didiri Jeffryan.

Jian telah kehilangan kehangatan dari tubuh sang Papa. Jian telah kehilangan seluruh harapannya. Jeffryan yang sehat, Jeffryan yang akan membalas pelukannya, Jeffryan yang akan berbicara panjang lebar untuk Jian.

Semuanya telah hilang. Sebab penyakit yang diderita dan keegoisan dari Jian.

Pukul 10.00 malam adalah waktu untuk Jian belajar. Namun karna lelaki itu sudah tamat sekolah, Jian lebih memilih untuk mengelilingi kotak Jakarta yang sedikit padat saat malam hari.

Matanya terfokus pada jalan raya yang kanan dan kirinya terdapat banyak makanan dan restoran. Jian memarkiran motornya disalah satu resto ikan kesukaannya. Melepaskan helmnya dan berjalan masuk kedalam. Mencari tempat duduk yang nyaman untuk dia tempati sendiri.

Saat langkahnya ingin berjalan pada lantai dua, matanya menangkap sang Papa yang menuruni tangga. Dengan reflek langkah kaki itu terhenti pada anak tangga pertama.

Jian kira Jeffryan akan memanggil dirinya, Jian kira Jeffryan akan menanyakan perihal hari kelulusannya. Namun pikirannya salah besar.

Jeffryan langsung pergi mengabaikan Jian. Membiarkan anak semata wayangnya itu mematung di anak tangga pertama. Meninggalkan rasa kebingungan yang sangat besar untuk Jian.

Seharusnya Jian senang kan? Seharusnya Jian bahagia bukan? Tapi ada perasaan yang mengganjal dirinya. Perasaan yang tak bisa Jian artikan dalam waktu dekat.

Suasana ramai yang berasal dari ballroom hotel tidak membuat rasa kesepian Jian berkurang. Lelaki itu hanya duduk disamping Mbak Sum, dengan jari yang terus memainkan kuku sebab khawatir.

Matanya tak henti-henti melihat kearah panggung yang tersedia dan guru-guru yang duduk dengan tenang dibarisan paling depan. Tak terlalu banyak bicara, Jian lebih memilih untuk memejamkan matanya karna gugup.

Tak terasa acara telah berjalan dengan sangat cepat dan sangat lancar. Dari pembukaan, pembagian medali, dan acara berfoto dengan kelasnya masing-masing.

Jian keluar dari gedung hotel tersebut, diikuti Mbak Sum yang berada dibelakangnya.

“Den.” panggil Mbak Sum membuat langkah Jian terhenti.

Lelaki itu menoleh, menatap Mbak Sum dengan wajah datar. Karna Jian paling tak suka jika Mbak Sum memanggilnya dengan Den. Sebab Mbak Sum sudah Jian anggap seperti orang tuanya sendiri.

“Jian.” ujar Jian dengan dingin.

Mbak Sum tersenyum tipis. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan lembut. “Iya, Jian. Mbak Sum ada hadiah buat, Jian.” Mbak Sum mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita merah sebagai hiasan.

Jian mengambil hadiah tersebut, perlahan senyuman lelaki itu mengembang. Ia langsung memeluk Mbak Sum dengan sangat erat.

“Makasih banyak, Buk Sum.” ujar Jian dengan senang.

Ia melepaskan pelukannya, kakinya langsung melangkah dengan ceria kearah mobil yang ia bawa.

Sesungguhnya, Jian merasakan ada yang kurang didalam acara kelulusannya. Sesungguhnya, Jian merasakan perasaan yang lebih dari kesepian.

Namun Jian tetaplah Jian. Anak 18 tahun yang telah dibutakan oleh kebencian kepada sang Papa.

Langkah kaki yang tegas itu memasuki rumah besar yang telah ditempatinya sejak kecil. Walau matanya sipit, namun terlihat dengan jelas tatapannya berubah tajam saat melihat Papa yang berada diruang tengah sambil memegang beberapa berkas.

Jian dengan santainya melewati Jeffryan. Namun langkahnya terhenti saat namanya merasa terpanggil oleh sang Papa. Tubuhnya berbalik, menatap Jeffryan dengan sangat malas.

“Apa?”

“Makan dulu. Kamu baru pulang, pasti capek. Makan dulu ya, abis itu ganti baju. Papa tadi minta bi-”

“Bisa berhenti bersikap perduli dengan saya?” Jian menggeram, merasa sangat muak dengan sifar Jeffryan. Lelaki itu tak suka jika Iyan memperhatikannya sekarang. Aneh memang.

“Papa gak mungkin gak perduli sama kamu, Jian. Kamu anak Papa.”

“KALAU PAPA ANGGAP SAYA ANAK SEHARUSNYA PAPA JUGA ANGGAP JEAN DAN MAMA ITU KELUARGA PAPA!”

Emosi Jian pecah begitu saja. Remaja 18 belas tahun itu dengan beraninya menatap marah kearah sang Papa yang sudah beranjak menuju usia 43 tahun. Nafas Jian memburu, tangan Jian terkepal sangat kuat hingga kuku-kuku tersebut menembus kulit tebal yang berada di telapak tangannya.

“Saya tanya sekarang. Papa kemana saat Jean dan Mama kecelakaan? Papa kemana saat mereka kritis? Papa kemana saat mereka sedang mempertahankan nafas mereka? Bahkan untuk bernafas saja, mereka butuh hampir 10 tabung oksigen. PAPA KEMANA SAAT ITU?! HAH?!”

Suara Jian yang awalnya terdengar gemetar harus berakhir dengan bentakan. Mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini. Alasan mengapa Jian berubah sejak umur 14 tahun hingga sekarang.

“Jian, kamu salah paham. Papa ada Jian. Papa ada disana. Tapi-”

“Tapi apa? Ada telfon dari client Papa? Ada pekerjaan yang belum Papa selesaikan? Alasan basi. Saya muak dengan alasan itu. Sekarang saya minta tolong dengan Papa. Tolong berhenti perduli dan jangan mengajak saya berbicara lagi.” ujar Jian dengan dingin lalu meninggalkan Jeffryan yang mematung.

Iyan menghela nafas pelan. Lelaki itu kembali duduk disofa. Menatap layar laptopnya yang berisi foto dirinya dengan Kiara.

“Ra, aku ada pada saat itu. Dengan kondisi tubuh yang tidak stabil. Aku ada, Ra. Kita sama-sama berjuang. Bedanya kamu udah menyerah, dan aku masih bertahan demi Jian. Bagaimana kalo aku menyerah, Ra?”

Langkah kaki seorang laki-laki dengan beratnya berjalan memasuki rumah. Lelaki berkepala empat itu memijat pilipisnya yang terasa sangat pening. Kerjaan dikantor yang menumpuk membuat dirinya harus pulang telat dalam beberapa hari.

Jeffryan atau yang kerap disapa Iyan kembali berjalan menduduki sofa yang berada diruang tengah. Iyan menghela nafas pelan, pikirannya kembali berkecamuk tentang pekerjaan serta anak semata wayangnya.

Mata lelaki itu melihat sekitar. Mencari keberadaan jagoan yang tidak pernah menganggap dirinya ada.

“Jian? Sudah pulang?” teriak lelaki itu. Langkahnya dengan perlahan mencari Jian keseluruh ruangan. Berharap anak lelakinya telah pulang dengan selamat.

Langkahnya terhenti di pintu yang tersambung dengan halaman belakang rumahnya. Disana, dia dapat melihat Jian dari belakang. Anaknya sedang menghisap batang rokok sambil duduk dan menatap langit yang mendung.

Perlahan, Iyan mendekatkan dirinya. Lebih tepatnya memberanikan diri untuk berinteraksi dengan Jian yang selalu menolak keberadaannya.

“Jian? Sudah makan?” tanya Iyan membuat Jian tersentak kaget.

Jian menoleh kebelakang, dengan spontan lelaki itu mendengus tak suka. Malamnya terasa buruk jika ia melihat Iyan dihadapannya.

“Apa perduli papa? Saya sudah makan atau belum itu bukan urusan papa.” ujar lelaki itu dengan sangat ketus.

Iyan tersenyum tipis. Sangat memaklumkan sifat Jian yang berubah 360° sejak umur 14 tahun. Dan sekarang, lelaki itu sudah berumur 18 tahun.

“Kalau belum makan, cepat makan. Kalau sudah makan, jangan begadang. Jangan terlalu sering merokok, Jian. Kalau kamu sakit, papa sedih. Kamu itu satu-satunya du-”

“Apa? Mau bilang saya itu dunia Papa? Cukup, Pa. Karna dunia saya itu bukan Papa!” Jian menggertak dengan nada rendah. Rahang lelaki itu mengeras, merasa muak dengan kalimat yang selalu keluar dari mulut Iyan.

Jeffryan menghela nafas berat setelah Jian meninggalkannya dengan penuh emosi. Lelaki itu duduk dengan perlahan pada kursi yang ditempatkan Jian sebelumnya. Menatap langit yang mulai mengeluarkan rintik-rintik kecil dari hujan.

Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera yang berada dilayar utama. Mengarahkan kamera belakang ke langit yang kehilangan bintangnya.

Jeffryan tersenyum. Ia kembali menyimpan ponsel tersebut dan memfokuskan pandangannya kearah langit.

“Kiara, maaf. Lagi-lagi aku cuman bisa foto langit tanpa adanya wajah kamu. Kamu sama Jean baik-baik kan disana? Doa baik selalu aku beri untuk kamu dan Jean.”

Langit sore yang mendung serta angin yang berhembus membuat bunga tabur yang berada diatas dua makam baru berterbangan tak tentu arah.

Dua makam dengan pemilik nama Joandra Aksara dan Bumi Jonandra telah sepi dari kerabat keluarga serta teman-teman yang sempat mengantarkan mereka kepemakaman terakhir dari anak dan ayah tersebut.

Ide Jo untuk memberi jantung kepada Bumi hanya ide yang tak berhasil. Operasi pada siang itu harus gagal akibat Bumi yang tak dapat bertahan serta Jo yang kehilangan banyak darah. Membuat keduanya sama-sama kehilangan nyawa pada waktu yang sama.

Telah banyak waktu untuk mereka bersama. 19 Tahun pas Jo dan Bumi saling bergurau dan menguatkan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka pergi dengan cara yang berbeda tetapi pada waktu yang sama.

Banyak yang berharap Jo dan Bumi tenang diatas sana. Menciptakan keluarga kecil yang harmonis bersama Liliana.

Mereka sudah tak merasakan sakit lagi. Bumi sudah tidak perlu menangis dan merintih akibat sakit di dada seperti tertusuk oleh ratusan pisau tajam. Dan Jo sudah tidak menangis karna mencemaskan anaknya.

Keduanya telah berpergi dengan tenang. Meninggalkan rasa duka dan rasa haru sebab kepergian yang bersamaan.