Kakdoyiiee

Suara langkah kaki yang sangat kencang dari sepatu Atma memenuhi lorong yang menuju tempat ruang jenazah. Hati lelaki itu sejak tadi tak dapat tenang mengingat pesan yang diberikan oleh mertuanya. Langkahnya semakin cepat menuju tempat yang menjadi kekhawatirannya.

Perlahan, langkah itu melambat disaat matanya menangkap wanita paruh baya yang menghapus air mata menggunakan tissue yang berada ditangannya. Atma mendekat dengan perlahan, matanya telah diselimuti oleh kecemasan.

“Bun...” panggil Atma dengan suara yang lirih. Mata lelaki itu telah berlinang air mata yg siap kapan saja akan jatuh di permukaan pipinya.

Ratna—ibunda Anin menoleh kearah Atma. Menatap menantunya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. Memberi usapan hangat pada pipi Atma yang telah basah.

“Atma, terima kasih sudah mencintai anak Bunda ya?” ujar Ratna dengan suara yang parau. Wanita itu habis menangis sendirian, ditengah lorong yang sepi oleh manusia yang berlalu lalang.

“Bun, Anin...Anin baik-baik saja kan?”

“Nak Atma, Anin baik-baik saja. Dia sudah bersama Tuhan sekarang. Terima kasih ya telah mencintai anak Bunda? Dan menerima semua kekurangannya.” ujar Ratna membuat Atma mengernyit heran.

“Anin tidak ada kekurangan, Bunda. Anin semp—”

“Sebenarnya Anin tidak bisa memiliki keturunan Atma.” ucapan Bunda mampu membuat Atma bungkam. Lelaki itu menatap Ratna penuh dengan kebingungan.

“Alasan Anin bersikap kasar supaya kamu mau melepaskan dia. Supaya kamu tidak memiliki istri yang tidak bisa memberi keturunan. Anin itu mencintai kamu, Atma. Sangat mencintai kamu. Namun karna kekurangannya Anin harus hidup didalam dunia palsunya bersama kamu.”

Penjelasan dari Ratna mampu memecahkan tangisan Atma. Lelaki itu terisak keras, merasa gagal menjaga istrinya dan merasa tidak becus menjadi suami yang kurang pantas.

“Atma, jangan menangis. Anin paling tidak suka kalau nak Atma menangis.” Ratma memeluk menantu kesayangannya yang terisak. Bahu Atma bergetar hebat, tangisan lelaki itu semakin kencang didengar.

“Anin, maafkan saya. Maaf... Maafkan saya, Anin...” Atma terus bergumam di sela tangisnya. Terus meminta maaf untuk sesuatu kesalahan yang tidak pernah Atma lakukan.

Pagi itu, Anindhita sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Atma. Menyiapkan selembar roti yang telah di beri selai serta kopi hitam kesukaan Atma.

Tak seperti pagi sebelumnya. Pagi kali ini Atma telah menghilangkan sifat hangatnya. Mendiami Anindhita yang sibuk mencuci beberapa piring kotor yang telah di gunakan. Tak ada sapaan selamat pagi yang biasa Atma ucapkan. Atma benar-benar telah berubah.

Suara gesekan antara kursi dan lantai mengalihkan perhatian Anindhita. Gadis itu menoleh, menatap suaminya yang telah pergi tanpa berpamitan seperti biasa. Hati Anin langsung mencolos ketika mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.

Sejujurnya, Anindhita bukan tidak mencintai Atma. Namun, gadis itu tidak mau Atma merasakan kesedihan jika harus hidup bersama dirinya.

Gadis yang hidup tanpa bisa memiliki keturunan untuk selamanya.

Dua insan yang berbeda jenis itu hanya saling terdiam di ruang makan yang terlihat sangat sunyi. Tak ada percakapan diantara mereka, hanya ada suara air yang baru saja mendidih.

Atma mematikan kompornya. Menuang air panad tersebut kedalam gelas yang berisikan bubuk kopi hitam untuk dirinya. Mengaduk kopi tersebut dan membawanya ke meja makan.

Lelaki itu duduk disebelah istrinya, mengambil lengan sang istri lalu memijatnya.

“Maaf ya saya bikin kamu repot.” ujar Atma dengan suara yang sangat lembut.

Anindhita tak menjawab apapun. Gadis itu sibuk memakan buah apel yang telah di potong menjadi beberapa bagian.

“Anin, sudah makan malam kan?” tanya Atma berusaha membangun suasana.

Anindhita mengangguk. Gadis itu berdidi dari duduknya, ingin meninggalkan ruang makan namun ditahan oleh Atma.

“Boleh peluk sebelum tidur?” kali ini suara Atma terdengar lebih memohon dari tadi siang.

Anindhita menepis tangan Atma dengan kasar. Menatap suaminya dengan tatapan yang sangat tajam.

“Tidak. Saya tidak mau dipeluk oleh kamu, Atma.”

“Kenapa? Saya suami kamu, Anin.”

“TAPI SAYA TIDAK MENCINTAI KAMU ATMA BAGASKARA!” bentakan Anindhita mampu membuat Atma terkejut. Lelaki itu mengepalkan tangannya, tatapannya berubah 180° dari sebelumnya.

“Tapi saya mencintai kamu, Anindhita!” suara Atma ikut meninggi. Menatap Anindhita dengan nafas yang memburu.

“Untuk apa kamu mencintai saya? Kita menikah dilandasi oleh perjodohan! Bahkan saya tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak saya cintai! Tapi kenapa harus kamu Atma?! Kena—”

“KARNA SAYA MENCITAI KAMU ANINDHITA! SEJAK DULU! SAYA SANGAT MENCINTAI KAMU!” sentakan keras dari Atma mampu membuat Anindhita tersentak.

Gadis itu menatap Atma dengan mata yang memerah. Ingin menangis sebab bentakan yang diberikan oleh Atma.

“Kamu tidak mencintai saya kan, Anin? Ayo bercerai. Saya yang urus semuanya.” ujar Atma dengan suara yang merendah.

Lelaki itu melangkahkan kakinya ke kamar. Meninggalkan Anindhita yang terdiam bersamaan dengan kopi yang perlahan mulai mendingin. Seperti Atma Bagaskara.

Suara langkah kaki yang menggema pada lantai 12 di kantor milik Atma membuat beberapa orang yang sedang bekerja mengalihkan perhatiannya pada perempuan muda yang memiliki postur tubuh yang sangat bagus. Tentu sangat menggoda untuk para lelaki yang bekerja.

Namanya Anindhita Buana. Istri dari Atma Bagaskara yang sangat di kenal dengan sifat acuhnya. Tak perduli seberapa sayang Atma kepada dirinya. Perempuan itu sama sekali tidak pernah membalas love language dari suaminya.

Langkah Anindhita terhenti didepan ruang kerja milik Atma. Perempuan itu mengangkat tangannya sembari di kepalkan, mengetuk pintu ruangan beberapa kali hingga terdengar suara dari dalam. Anindhita membukakan pintunya, menatap sang suami yang terfokus dengan laptop serta berkas yang berantakan.

Perempuan itu melangkah mendekati Atma yang sempat membenarkan posisi kacamatanya. Atma menoleh, lelaki itu menoreh senyuman yang sangat lebar dan cerah. Mengulurkan tangan untuk memeluk Anindhita, namun gadis itu malah memberi berkasnya secara kasar.

“Anin?”

“Saya tidak ada waktu untuk berpelukan dengan kamu, Atma. Pekerjaan saya tertunda akibat kecerobohan kamu.” ujar Anindhita dengan sangat dingin dan datar.

Perempuan itu ingin melangkah pergi, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Atma yang sangat mengharapkan pelukan dari sang istri.

“Sebentar saja, Anin. Saya janji.” ujar Atma dengan suara yang lirih. Lelaki itu sangat memohon kepada istrinya. Pelukan setiap pagi yang selalu Atma dambakan sejak dulu.

“Saya tidak ada waktu. Lain kali jangan ceroboh seperti itu.” Anindhita menepis tangan Atma dengan kasar. Langkahnya membawa dirinya pergi meninggalkan Atma yang terdiam di tempat.

Jari jemari milik Atma terkepal dengan perlahan. Bukan Atma marah, namun lelaki itu merasakan sakit hati yang luar biasa. Sudah beberapa kali ia merasakan, namun rasanya tak pernah berubah. Sakit seperti biasanya.

Lelaki itu hanya menginginkan pelukan hangat pada pagi hari. Lelaki itu hanya menginginkan kehangatan yang diberikan oleh sang istri setiap pulangnya. Bukan kalimat pedas dan dingin yang selalu keluar dari bibir Anindhita.

Atma hanya mengharapkan sesuatu yang seorang suami ingin rasakan.

Dinginnya udara pada pukul 17.15 berhasil menembus ke kamar Orelyn. Gadis itu melenguh dengan pelan, mengusap matanya yang masih perih sebab ia terbangun dari tidur siangnya.

Gadis itu menyingkirkan selimutnya. Ia membuka matanya untuk melihat jam dinding yang berada tepat di depannya. Orelyn terdiam sejenak. Memikirkan sesuatu yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.

Dengan tergesa gadis itu mengambil ponselnya. Membuka kuncinya lalu melihat pesan dari sang Papa. Orelyn berdecak. Semuanya hanya bunga tidur yang sangat buruk untuknya.

“Ck, bisa-bisanya Evelyn masuk ke mimpi gue. Jadi kembaran gue lagi.” gumam gadis itu.

Orelyn turun dari kasurnya. Langkahnya ia jalankan menuju balkon Apartnya. Gadis itu terdiam sejenak. Memikirkan mimpi buruk yang sangat tidak ingin terjadi di kehidupannya sekarang.

“Ish! Cuman mimpi tapi gue panik banget. Lagian kata Papa kembaran gue udah gak ada kok. Malah dia cowok, bukan cewek.” Orelyn mendelik dengan kesal. Gadis itu menatap kearah langit yang telah berubah abu tua yang menandakan akan turunnya hujan.

“Kalo dia masih hidup, pasti gue gak ngerasa kesepian. Dia pasti bahagia sama Mama.” gumam Orelyn.

Gadis itu menghela nafas pelan. Ia memilih untuk masuk saat merasakan rintikan hujan yang mulai turun secara perlahan. Moodnya berubah turun saat ia kembali merasakan kesepian.

Orelyn bukan berbicara tentang temannya yang banyak. Namun gadis itu berbicara tentang keluarganya yang sangat dingin sekarang. Orelyn hanya memiliki Jeffry sebagai Papanya. Hanya hidup berdua namun ia merasakan kesendirian.

Jeffry yang sibuk dengan pekerjaannya, dan Orelyn yang sibuk dengan kuliahnya.

Sejak 10 menit yang lalu, Yasha sudah duduk dengan santainya di kantin fakultas DKV. Lelaki itu sedang menunggu Orelyn yang akan datang menemuinya. Menjelaskan sesuatu dan akan mendengarkan penjelasan dari gadis itu.

Matanya menatap kearah pintu masuk sejak tadi. Hingga gadis yang ia tunggu datang sambil membawa tas laptop yang ia genggam.

Orelyn duduk dihadapan Yasha. Gadis itu langsung mengambil air putih yang berada diatas meja. Meminum air tersebut hingga habis tak bersisa.

“Pelan-pelan. Nanti lo keselek gak bisa nafas kayak dulu.” Ujar Yasha mengalihkan pandangan Orelyn. Bahkan gadis itu sudah tak ingat sama sekali kejadian yang hampir membuatnya kehilangan nyawa.

“Lo mau ngomong apa?” Tanya Orelyn berusaha mengalihkan pembicaraan. Enggan mengingat masa lalu yang sangat indah pada masanya.

“Soal Haekal yang bilang gue selingkuh di belakang lo.” Yasha membenarkan posisi duduknya, lelaki itu menarik nafas dengan perlahan.

“Mungkin ada salah paham disini. Waktu gue pacaran sama lo, sama sekali gue gak selingkuh dari lo. Mungkin lo liat gue jalan sama cewek atau berduaan sama cewek lain, tapi itu bukan selingkuh. Gue bahkan berkali-kali nolak cewek yang nyatain perasaan ke gue buat jaga perasaan lo. Tapi malam itu, waktu gue mau kasih hadiah tiket konser ke lo, tiba-tiba lo ajak gue putus dan block nomor gue tanpa gue tau salah gue dimana. Gue kerumah lo, tapi kosong. Gue tanya Haekal, Reon, Jemian sama Jean, mereka malah musuhin gue dan jauhin gue. Gak kasih tau lo dimana. Sampai gue mau nyerah, gue tanya ke Papa lo. Dan ternyata lo di Jerman.”

“Gue ngerasa lega denger kabar lo dari Om Jeffry kalo lo baik-baik aja. Tapi disini gue gak baik-baik aja. Gue masih nyari tau kenapa lo putusin gue sepihak. Sampai kemarin gue baru tau karna Haekal bilang gue selingkuh dari lo.”

Penjelasan panjang dari Yasha membuat Orelyn mematung dan diam. Gadis itu mendengar semuanya. Semua penjelasan dari kesalah pahaman yang telah terjadi setelah mereka semua lulus SMA. Kesalah pahaman yang ia buat sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Yasha.

“Dan lebih hancurnya lagi, ternyata lo sama Haekal pacaran sekarang. Orang yang gue anggap sahabat paling baik sekarang pacaran sama mantan gue yang putusin gue dengan alasan yang gak bener.” Yasha terkekeh hambar, lelaki itu menatap Orelyn yang menunduk.

“Maaf.” Suara pelan itu terdengar ditelinga Yasha. Orelyn sangat merasa bersalah. Merasa bodoh karna hanya melihat dari satu sisi saja.

“Apa Haekal yang fitnah gue selingkuh dari lo supaya dia bisa pacarin lo ya?” Kini pertanyaan dari Yasha langsung memancing emosi Orelyn. Gadis itu berdecih, rasa bersalahnya seakan lenyap dalam satu kedipan mata saja.

“Ngapain nyalahin Haekal? Gue liat sendiri lo jalan sama cewek yang gak gue tau dia siapa. Gak usah bawa-bawa Haekal.” Ujar Orelyn dengan tatapan kesal. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya. Menatap beberapa pedagang yang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.

Sampai mata gadis itu menatap siluet seorang gadis yang pergi dengan langkah kaki yang cepat. Gadis yang sangat Orelyn tau itu siapa.

“Evelyn?”

Suasana ramai di arena yang berada di daerah Jakarta membuat Orelyn berkali-kali harus berjinjit untuk melihat apakah Haekal sudah datang bersama Evelyn yang baru saja mengirimkan pesan pada dirinya.

Gadis itu berkali-kali sibuk mengirimkan pesan yang tak kunjung dibalas oleh Haekal. Ia berdecak kesal, bibirnya mencabik-cabik tak suka.

“Kenapa sih lo, Rel?” tanya Jemian sambil merangkul Orelyn.

Orelyn mendengus, ia memberikan ponselnya pada Jemian yang masih membuka roomchatnya dengan Evelyn. Reon dan Jean langsung berdiri dibelakang Jemian untuk melihat pesan tersebut.

Tawa ketiga lelaki itu pecah seketika. Mereka menertawakan kebodohan Evelyn yang mau saja dimainkan oleh mereka berlima.

“Gue rasa kalo Evelyn tau kayaknya bakal malu dah.” komentar Reon masih saja tertawa.

“Udah ah. Ini Haekal mana sih? Gue suruh dia jemput mak lampir, bukan malah jalan-jalan anjir.” gerutu Orelyn sembari menghentakan kakinya.

Jean menoleh kearah belakang, tempat pintu masuk arena. Dan matanya berhasil menangkap Haekal yang di gandeng mesra oleh Evelyn.

“Eh bro!” sapa Jean berhasil mengalihkan pandangan Orelyn. Gadis itu mendekati Haekal, disusul oleh Jemian dan Reon di belakangnya.

“Hai.” sapa Orelyn sembari tersenyum ke Haekal.

Evelyn menatap bingung kearah gadis yang tak ia sukai sejak awal. Tatapannya berubah kesal saat Orelyn dengan santainya menyapa Haekal.

“Lo ngapain disini? Gak ada yang ngajak lo ya!” ujar Evelyn dengan nada ketusnya. Orelyn menaikan sebelah alisnya, melihat pakaian Evelyn dari bawah hingga atas.

“Bahan baju lo kemana? Dijadiin lap ya?” ejek Orelyn sebab pakaian Evelyn yang terlalu terbuka.

Tangan Evelyn terkepal dengan kuat, ingin menjambak rambut Orelyn namun ia tahan sebab ada anak Orion lainnya.

“Haekal, kok dia diajak sih? Murahan banget.” rengek Evelyn sambil menggoyangkan lengan Haekal yang langsung di tepis oleh lelaki itu.

“Haekal.” kini Orelyn yang berujar manja. Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Haekal dan langsung dibalas oleh Haekal. Tentu Evelyn merasa panas sekarang.

“Siram woi siram!” ejek Jemian dengan senang.

“Anyway, lo bilang makasih gih ke Orelyn karna dia yang izinin lo buat ikut. Dan dia yang suruh Haekal buat nebengin lo.” ujar Reon dengan nada dinginnya.

Orelyn tersenyum remeh kearah Evelyn yang wajahnya sudah memerah menahan amarah. Tatapannya seolah mengejek karna ia kembali menang untuk kesekian kalinya.

“Ayo ah. Gue disini mau nonton balapan Jean. Bukan CAPER.”

Suara lonceng café yang menandakan seseorang masuk berhasil mengalihkan perhatian Athaya yang sedang duduk sambil memainkan gelas coffee yang masih hangat. Matanya menatap lelaki yang mendekati dirinya dan juga Jerian yang duduk disebelahnya. Terlihat jelas tatapan kekasihnya yang bingung sambil menatap Jerian.

“Malam, Om.” sapa Gema dengan sopan. Lelaki itu duduk dihadapan Athaya, menundukan kepalanya akibat rasa bersalah yang menyerang sejak tadi.

“Apa yang mau kakak jelasin?” tanya Athaya dengan suara datarnya.

Gema menghela nafas pelan, ia menatap gadisnya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Aku cuman mau jelasin kalau ini semua salah paham. Pertama, waktu chat salah kirim Kania itu dia numpang belajar di apart aku. Dia diruang tv, sedangkan aku di kamar. Aku sama sekali gak ketemu dia sehabis beli sarapan pagi itu. Kedua, soal tadi. Dia abis kasih flash disk tugas yang kebetulan aku satu kelompok sama dia. Pas aku mau pergi, tangan aku ditarik. Dan...ya, kamu salah paham karna kamu cuman liat aku cium pipinya.”

Gema kembali menundukan kepalanya, ia memainkan jarinya diatas meja. “Aku gak minta kamu percaya atau enggak. Kalaupun kamu minta putus, aku terima. Karna aku tau, udah banyak luka yang aku toreh buat kamu.” suara lelaki itu berubah gemetar. Entah mengapa jika dihadapkan Athaya, Gema selalu saja mudah menangis sekarang.

“Aku udah tau. Tadi aku cek cctv dan aku liat sesuai yang kamu ceritain sekarang. Makasih banyak ya, Kak? Makasih udah mau jujur sama aku. Dan kamu tenang aja, aku gak bakalan minta putus sama kamu.” Athaya tersenyum sambil memperhatikan Gema. Bahu lelaki itu bergetar sebab Gema terisak kecil sambil menunduk.

“Eh, Kak? Kok nangis lagi sih?” Athaya mendekati Gema yang semakin terisak, gadis itu langsung memeluk kekasihnya udah mengusapkan punggu Gema. Berusaha menenangkan kekasihnya yang entah mengapa berubah menjadi lelaki cengeng sekarang.

“Ekhem. Bisa saya bicara?” Jerian berdehem pelan disela pelukan Athaya dan Gema. Merasa menjadi nyamuk didepan anak muda yang salah satunya adalah keponakannya sendiri.

“M-maaf.” Gema menghapus air matanya, lelaki itu melepaskan pelukannya perlahan namun enggan melepaskan genggaman tangan Athaya.

“Jadi, saya sudah menemukan siapa yang membuat thread tentang fitnah adik saya beberapa tahun lalu. Saya sempat meminta Shanneth untuk memberi imess yang membantu dirinya menjatuhkan Athaya, dan imess tersebut menyambung pada ponsel milik Kania. Dan saya langsung datang ke Amsterdam kemarin karna ingin memberikan sanksi kepada gadis itu. Yang pertama, saya akan menutup akses masuk University di Amsterdam sehingga dia harus kembali ke Indonesia dan mendapat sanksi sosial. Kedua, saya akan melaporkan Kania akibat pencemaran nama baik. Mungkin dia tidak akan di penjara, tetapi dia akan mendapat sanksi sosial dari kepolisian.”

“Maksud Om, saya bisa bebas berkuliah disini tanpa adanya kehadiran dia?”

“Iya. Dan besok saya akan menemui Kania beserta kedua orang tuanya.”

Gema dan Athaya tersenyum diakhir penjelasan Jerian. Kedua sama-sama merasa lega sebab kejahatan Kania telah di pecahkan dan Kania tidak akan tinggal di sekitarnya kembali.

“Makasih banyak, Uncle. Makasih banyak karna udah mau bantu Thaya sampai masalahnya selesai semua.” Athaya memeluk Jerian dengan sangat erat. Mengucapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya karna bantuan Jerian.

“Sama-sama. Udah, kalian berdua jangan ribut lagi ya?” Jerian melepaskan pelukannya, ia berdiri dari duduknya dan mengambil ponsel yang berada diatas meja.

“Saya masih harus mengurus hal yang lainnya. Tolong jaga keponakan saya, ya? Saya permisi.”

Athaya melambaikan tangannya kepada Jerian yang berlalu pergi keluar. Gadis itu kembali memeluk Gema dengan sangat erat, melepaskan rasa rindu yang ia tahan selama satu tahun lamanya.

“Kamu utang penjelasan sama aku, Tha.”

“Hehehe. Jalan-jalan ayo.”

Athaya menarik Gema untuk berdiri. Gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari café dan berjalan kearah jembatan yang berada disebrang. Melihat pemandangan kota Amsterdam pada malam hari.

Gema sangat bersyukur karna memiliki kekasih yang tidak suka mengambil kesimpulan. Gema sangat bersyukur karna memiliki pasangan yang tidak suka menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Walau gadis itu mudah memiliki pikiran negatif, namun Gema yakin. Itu adalah salah satu ketakutan kehilangan dirinya.

Gema telah berjanji kepada dirinya dan Tuhan. Ia tidak akan menyakitin Athaya untuk kesekian kalinya. Mungkin jika Gema berani menyakiti gadis itu, ia akan mencap dirinya sebagai lelaki paling bodoh didunia. Sebab, Gema telah menyia-nyiakan kebetuntungan yang tidak semua orang akan dapatkan.

Cw // Kissing

Pukul 07.55 malam, dengan udara dingin yang mengelilingi kota Amsterdam tak dapat mendinginkan kepala Gema yang tiba-tiba saja panas. Sudah 15 menit lelaki itu menunggu didalam resto yang dimaksud oleh Kania, namun gadis itu belum datang hingga sekarang.

Hingga 5 menit kemudian, Kania datang dengan tas kecil yang ia bawa. Gadis itu dengan santainya duduk dihadapan Gema dengan wajah yang sangat menjengkelkan untuk Gema.

“Ck. Lama banget lo.” ujar lelaki itu dengan kesa. Menatap sinis gadis yang ada dihadapannya.

“Santai aja, Gema. Lo terlalu buru-buru.” Kania menaruh tas kecilnya diatas meja. Mengambil sebuah flashdisk yang tersimpat di tas itu.

“Ini ada file tugas yang diminta sama dosen kemarin. Itu baru sebagian doang, sebagiannya lo yang kerjain. Gue tau lo gak mau sama gue lama-lama, makannya gue kerjain duluan dan sisain bagian buat lo.” ujar Kania.

Gema menaikan sebelah alisnya, ia mengambil flashdisk itu dengan kesal.

“Udah? Lo kan bisa kirim filenya lewat imess. Kenapa harus ketemuan disini?”

“Biar bisa makan malem sama lo.”

Tatapan Gema berubah kesal sebab Kania mengentengkan semua ucapannya. Lelaki itu berdiri, mengambil ponsel yang berada diatas meja.

“Gue balik. Gak guna makan malem sama lo.”

Saat Gema ingin pergi, Kania dengan sangat kuat menarik lengan lelaki itu hingga Gema tak sengaja menunduk dan berakhir mencium pipi Kania. Buat siapa saja yang melihat, pasti mengira Gema sedang mencium bibir gadis itu.

Terutama Athaya. Perempuan yang sejak baru saja datang dan langsung disambut oleh pandangan yang membuat hatinya sangat sakit. Apa lagi, melihat Gema yang masih diam mematung dihadapan Kania.

“Anjing!” Gema menjauhkan dirinya dari Kania. Lelaki itu membalikan badannya, ingin pergi dari resto namun ia memantung ditempat saat melihat Athaya yang berdiri sambil memegang koper besar.

“Tha?” panggil Gema dengan sedikit keras.

Athaya tak menjawab apapun, ia langsung keluar dari resto tersebut. Mencari taxi yang entah kemana perginya.

“Tha! Tunggu!” Gema ingin berlari keluat, namun lagi-lagi lengannya ditahan oleh Kania.

“Udah elah, cewek lo salah paham paling. Baperan banget.” ujar Kania dengan sangat enteng.

Gema menyentakan tangan gadis itu, tak menjawab apapun dan langsung berlari keluar. Pikirannya hanya untuk mengejar Athaya dan menjelaskan semuanya. Tak ingin terjadi kesalah pahaman yang semakin panjang.

“Ketidak sengajaan yang bagus, Kania.”

Suasana ramai oleh keluarga Gema dan Kania di lobby bandara Halim Perdanakusuma tidak membuat mereka mengurangi kesedihan. Gema sejak tadi sudah mengucapkan kalimat perpisahan kepada kedua orang tuanya. Dan sekarang lelaki itu terus menggenggam tangan Athaya dengan sangat erat. Bahkan berkali-kali Gema terus mencium punggung tangan gadis itu.

Kania yang melihatnya tentu saja panas. Namun, gadis itu berusaha untuk tenang demi kelancaran rencananya.

“Rasanya aku gak mau tinggalin cantiknya aku disini sendirian. Aku takut kamu diambil orang lain.” ujar Gema dengan sangat lembut.

Athaya tersenyum tipis, gadis itu telah kehilangan moodnya sebab keberangkatan Gema hari ini. Dan tentunya karna keluarga Kania yang berada satu pesawat dengan Gema.

“Tha, jangan sedih dong. Kan kita udah janji buat gak sedih. Lagian kalau kamu gak bisa kesana, aku yang bakalan kesini.” Gema menarik Athaya kedalam dekapannya saat melihat wajah murung gadisnya.

Sejujurnya Gema tidak tega meninggalkan Athaya. Namun mau tak mau, suka tak suka Gema harus tetap berangkat ke Amsterdam. Harus mengejar cita-cita yang sudah dari kecil Gema impikan.

“Kak, janji ya sama aku. Jangan rusak kepercayaan aku. Kalau kamu khawatir aku diambil orang lain, kamu bisa tanya Kak Aldrick. Tapi kalau kamu diambil orang lain, siapa orang yang harus aku tanya, Kak?” lirih gadis itu. Matanya kembali berair, ingin mengeluarkan kristal bening yang masih tersisa.

“Lo bisa tanya sama gue, Tha.” ujar Kania dengan senyuman. Athaya menoleh, menatap Kania dengan senyum tipis lalu mengangguk.

“Makasih Kak.”

“Sama-sama.”

“Karna gue yang bakalan ambil Gema dari lo, Athaya.” batin Kania diakhiri senyuman palsu pada balasannya untuk Athaya.