Suara lonceng café yang menandakan seseorang masuk berhasil mengalihkan perhatian Athaya yang sedang duduk sambil memainkan gelas coffee yang masih hangat. Matanya menatap lelaki yang mendekati dirinya dan juga Jerian yang duduk disebelahnya. Terlihat jelas tatapan kekasihnya yang bingung sambil menatap Jerian.
“Malam, Om.” sapa Gema dengan sopan. Lelaki itu duduk dihadapan Athaya, menundukan kepalanya akibat rasa bersalah yang menyerang sejak tadi.
“Apa yang mau kakak jelasin?” tanya Athaya dengan suara datarnya.
Gema menghela nafas pelan, ia menatap gadisnya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Aku cuman mau jelasin kalau ini semua salah paham. Pertama, waktu chat salah kirim Kania itu dia numpang belajar di apart aku. Dia diruang tv, sedangkan aku di kamar. Aku sama sekali gak ketemu dia sehabis beli sarapan pagi itu. Kedua, soal tadi. Dia abis kasih flash disk tugas yang kebetulan aku satu kelompok sama dia. Pas aku mau pergi, tangan aku ditarik. Dan...ya, kamu salah paham karna kamu cuman liat aku cium pipinya.”
Gema kembali menundukan kepalanya, ia memainkan jarinya diatas meja. “Aku gak minta kamu percaya atau enggak. Kalaupun kamu minta putus, aku terima. Karna aku tau, udah banyak luka yang aku toreh buat kamu.” suara lelaki itu berubah gemetar. Entah mengapa jika dihadapkan Athaya, Gema selalu saja mudah menangis sekarang.
“Aku udah tau. Tadi aku cek cctv dan aku liat sesuai yang kamu ceritain sekarang. Makasih banyak ya, Kak? Makasih udah mau jujur sama aku. Dan kamu tenang aja, aku gak bakalan minta putus sama kamu.” Athaya tersenyum sambil memperhatikan Gema. Bahu lelaki itu bergetar sebab Gema terisak kecil sambil menunduk.
“Eh, Kak? Kok nangis lagi sih?” Athaya mendekati Gema yang semakin terisak, gadis itu langsung memeluk kekasihnya udah mengusapkan punggu Gema. Berusaha menenangkan kekasihnya yang entah mengapa berubah menjadi lelaki cengeng sekarang.
“Ekhem. Bisa saya bicara?” Jerian berdehem pelan disela pelukan Athaya dan Gema. Merasa menjadi nyamuk didepan anak muda yang salah satunya adalah keponakannya sendiri.
“M-maaf.” Gema menghapus air matanya, lelaki itu melepaskan pelukannya perlahan namun enggan melepaskan genggaman tangan Athaya.
“Jadi, saya sudah menemukan siapa yang membuat thread tentang fitnah adik saya beberapa tahun lalu. Saya sempat meminta Shanneth untuk memberi imess yang membantu dirinya menjatuhkan Athaya, dan imess tersebut menyambung pada ponsel milik Kania. Dan saya langsung datang ke Amsterdam kemarin karna ingin memberikan sanksi kepada gadis itu. Yang pertama, saya akan menutup akses masuk University di Amsterdam sehingga dia harus kembali ke Indonesia dan mendapat sanksi sosial. Kedua, saya akan melaporkan Kania akibat pencemaran nama baik. Mungkin dia tidak akan di penjara, tetapi dia akan mendapat sanksi sosial dari kepolisian.”
“Maksud Om, saya bisa bebas berkuliah disini tanpa adanya kehadiran dia?”
“Iya. Dan besok saya akan menemui Kania beserta kedua orang tuanya.”
Gema dan Athaya tersenyum diakhir penjelasan Jerian. Kedua sama-sama merasa lega sebab kejahatan Kania telah di pecahkan dan Kania tidak akan tinggal di sekitarnya kembali.
“Makasih banyak, Uncle. Makasih banyak karna udah mau bantu Thaya sampai masalahnya selesai semua.” Athaya memeluk Jerian dengan sangat erat. Mengucapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya karna bantuan Jerian.
“Sama-sama. Udah, kalian berdua jangan ribut lagi ya?” Jerian melepaskan pelukannya, ia berdiri dari duduknya dan mengambil ponsel yang berada diatas meja.
“Saya masih harus mengurus hal yang lainnya. Tolong jaga keponakan saya, ya? Saya permisi.”
Athaya melambaikan tangannya kepada Jerian yang berlalu pergi keluar. Gadis itu kembali memeluk Gema dengan sangat erat, melepaskan rasa rindu yang ia tahan selama satu tahun lamanya.
“Kamu utang penjelasan sama aku, Tha.”
“Hehehe. Jalan-jalan ayo.”
Athaya menarik Gema untuk berdiri. Gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari café dan berjalan kearah jembatan yang berada disebrang. Melihat pemandangan kota Amsterdam pada malam hari.
Gema sangat bersyukur karna memiliki kekasih yang tidak suka mengambil kesimpulan. Gema sangat bersyukur karna memiliki pasangan yang tidak suka menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Walau gadis itu mudah memiliki pikiran negatif, namun Gema yakin. Itu adalah salah satu ketakutan kehilangan dirinya.
Gema telah berjanji kepada dirinya dan Tuhan. Ia tidak akan menyakitin Athaya untuk kesekian kalinya. Mungkin jika Gema berani menyakiti gadis itu, ia akan mencap dirinya sebagai lelaki paling bodoh didunia. Sebab, Gema telah menyia-nyiakan kebetuntungan yang tidak semua orang akan dapatkan.