Kakdoyiiee

Pagi itu Narendra dan juga Raden terlihat buru-buru untuk berangkat. Tentu karna mereka yang bangun kesiangan. Sangat ceroboh karna tidak memasang alarm satu sama lain. Dan entahlah mengapa Johnny tak membangunkan anak-anaknya.

Narendra menyetir mobil dengan tidak santai. Terkesan buru-buru dan selalu menambah kecepatannya selang beberapa menit.

“Na, santai aja, jangan ngebut.” Raden berusaha menenangkan adiknya yang panik karna terlambat. Namun Raden juga sangat takut jika terjadi sesuatu pada ia dan juga adiknya.

“Na, pel—NARENDRA! AWAS DI DEPAN!”

Narendra terkejut dengan teriakan Raden. Ia baru sadar jika di depan mereka terdapat truk dari arah berlawanan. Narendra membanting stir hingga ban berbunyi sangat nyaring. Berharap mereka bisa selamat dari kecelakaan tersebut.

Tapi nyatanya, mereka tak bisa selamat. Ban mobil mereka meledak hingga mobilnya terguling beberapa meter. Membuat mereka terbentur dan juga terkena pecahan kaca.

Raden melihat adiknya sudah menutup mata dengan rapat, tangannya berusaha bergerak walau keadaannya sangat sempit dan sakit. Mobil mereka dalam kondisi terbalik, membuat pergerakan Raden sangat kecil.

Randen berhasil menggenggam tangan Narendra, perlahan kelopak mata itu memberat, Raden menutup mata hingga hanya suara berisik dari luar mobil yang ia dengar, sedangkan kesadarannya sudah di renggut oleh kegelapan.

Narendra, lelaki manis menurut Raden dan juga Papanya. Panggilan Nana adalah panggilan khusus dari Papa dan juga kakaknya. Narendra pasti akan marah jika ada orang lain yang juga memanggilnya Nana.

“Nana, udah minum obatnya?” Tanya Jo—papanya.

Narendra mengangguk, memakan dengan lahap telur rebus dan juga sup buatan kakaknya.

“Bang, nanti kamu temenin terus ya si Nana. Kamu juga pegang obatnya. Jaga-jaga kalau Nana ceroboh.”

“Iya, Pa.” Jawab Raden. Lelaki itu tersenyum. Ia sangat suka kehangatan di pagi hari.

“Pa, aku bukan anak kecil lagi.”

“Tapi kamu kan baru pertama kali masuk lingkungan umum. Wajar kalau Papa khawatir.”

“Tapi, pa—”

“Apa mau kamu homeschooling lagi?”

Narendra menghela nafas pelan. Jika ancamannya seperti itu ia sudah tak bisa berbuat banyak.

Dari kecil Narendra ingin sekali bermain jauh keluar rumah, Narendra ingin sekali bersekolah dan bermain dengan teman-temannya. Namun nyatanya, ia hanya bisa terkurung di dalam rumah yang terbilang mewah. Bukan karna Papanya jahat, namun karna kondisi jantungnya yang bisa saja membuat dirinya jatuh dan terpaksa kembali ke rumah sakit. Dan tentu Narendra sangat tidak suka itu.

Dan saat ia mendapat kesempatan untuk memasuki lingkungan umum, wajahnya tak bisa berbohong. Ia sangat senang mendapat izin tersebut dari Papanya. Memasuki Universitas yang sama dengan Kakaknya adalah kesenangan yang mungkin tak akan ia lupakan.

Setelah mendapati video dari bundanya tersebut, Reon mencengkram ponselnya dengan kuat. Ia menoleh pada Jean yang sedang duduk disamping Orelyn dengan santai. Mata sipit itu berubah tajam saat mengingat video tersebut.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Reon menarik kerah baju Jean. Bugh-! Lelaki itu langsung memukul rahang Jean dengan keras hingga terjatuh. Nafasnya memburu, menatap Jean dengan tatapan yang sangat mematikan.

“SINI LO ANJING!” Reon kembali menarik kerah Jean, kembali memukul lelaki itu dengan keras.

“Reon! Lo apa-apaan sih?! Kenapa mukul Jean?!” Orelyn menarik lengan Reon sehingga lelaki itu menjauh dari Jean. Gadis itu mendekati Jean, membantu Jean yang sedang meringis untuk bangun dari jatuhnya. Menatap hidung dan bibir Jean yang sudah keluar darah.

“JANGAN BELAIN DIA, ORELYN!”

“LO YANG KENAPA BANGSAT?!”

Nafas Orelyn ikut memburu. Gadis itu menatap Reon dengan tajam. Bukan niat membela, tetapi ia tak mengerti mengapa Reon menghajar Jean secara tiba-tiba.

“Lo mau tau gue kenapa? Karna gue tau siapa yang nabrak Evelyn! Itu Jean sendiri, Rel! Dan dengan brengseknya dia gak mau ngaku! Dia pura-pura bantu kita buat cari bukti! Kalau lo gak percaya, gue punya videonya.” Reon mengambil ponselnya dengan cepat. Jari itu dengan cekatan mengotak-atik ponsel tersebuh hingga suara notifikasi dari ponsel Orelyn terdengar.

“Liat! Si bajingan ini yang udah nuduh Jemian! Bangsat!”

Jean hanya terdiam di tempatnya. Lelaki itu menunduk sambil memegang bibirnya yang luka. Merasa di pergoki secara tiba-tiba dan sangat memalukan.

Sedangkan Orelyn terdiam setelah melihat video tersebut. Mata gadis itu berair, kecewa dengan sahabatnya yang ternyata menutupi kesalahan dan membiarkan Jemian menanggung semuanya.

Bugh-!

Lagi, Reon kembali memukul Jean dengan keras. Bahkan pukulan kali ini, bertubi-tubi tanpa henti. Tak ada lagi pembelaan dari Orelyn, gadis itu telah kepalang kecewa. Tak ingin lagi membela yang salah.

“Reon! Lo kenapa anjing?” Haekal dan Jemian yang baru saja datang langsung menarik Reon yang tidak hentinya menghajar Jean.

Jemian mendekati Jean yang sudah terbaring tak berdaya dengan luka wajahnya. Sedangkan Haekal menahan Reon yang masih berada di ambang emosi.

“Lo kenapa, anjir? Kenapa ngehajar Jean? Kalo ada masalah omongin baik-baik! Jangan kayak gini!” Ujar Haekal berusaha setenang mungkin.

Reon menepis dengan kasar tangan Haekal yang memegang lengannya. Ia membenarkan jaketnya yang berantakan. Tatapan tajam itu belum menghilang sampai sekarang.

“Tanya sendiri sama si brengsek.” Ujarnya dengan tajam dan langsung berlalu pergi meninggalkan ke-empat temannya.

Haekal menoleh kearah Orelyn, mendekati kekasihnya yang hanya terdiam di tempat. “Sayang, ada apa?” Tanya Haekal dengan sangat lembut.

Orelyn menggeleng, gadis itu lebih memilih untuk pergi dan menangis di tempat lain. Tempat sepi yang tidak ada siapa-siapa. Orelyn hanya butuh kesendirian untuk menenangkan dirinya.

Haekal menghela nafas pelan, ia mendekati Jean yang sudah tidak sadarkan diri, membantu Jemian untuk mengangkat Jean ke kursi besi yang ada didepan ruangan Evelyn.

“Lo tunggu sini. Biar gue yang minta brankar dulu.” Ujar Haekal.

Jemian mengangguk patuh. Menatap khawatir ke temannya yang sudah tidak sadarkan diri.

“Reon kenapa sebenernya?”

Langkah cepat milik Haekal membawa tubuh lelaki itu menuju kedepan ruang rawat Evelyn dengan cepat. Ia merasa khawatir dengan temannya karna pesan yang penuh dengan huruf yang berantakan yang dikirimkan untuk dirinya. Haekal tau, Jemian adalah laki-laki yang mudah panik dalam suatu keadaan genting.

Mata itu melihat Jemian yang berdiri dihadapan dua orang polisi. Jemian sibuk dengan ponselnya, mengetik sesuatu yang entah dikirimkan ke siapa. Namun sedari tadi, ponsel milik Haekal terus saja bergetar. Lelaki itu langsung mendekati Jemian dengan cepat. Menarik lengan Jemian hingga membuat ponsel Jemian terjatuh karna tersentak.

“Jem, kenapa?” Tanya Haekal dengan perasaan cemas.

Tangan Jemian bergetar dengan hebat, faktor panik yang sudah Jemian alami sejak kecil. Membuat Haekal paham dengan keadaannya. Pasti Jemian mengalami sesuatu yang membuat dirinya cemas.

“Kal, g-gue gak nabrak Evelyn. Demi apapun, gue gak nabrak Evelyn.” Ujar Jemian dengan terbata. Haekal menaikan alisnya, menatap bingung Jemian yang berucap seperti itu.

Matanya menoleh pada kedua polisi yang bertugas menjaga Evelyn. “Maaf, Pak. Kata siapa teman saya menabrak Evelyn?”

“Menurut laporan yang kami terima dari pelaku, satu-satunya saksi mata saat itu. Ia memberitahu kami bahwa nak Jemian yang menabrak nak Evelyn. Bahkan nak Evelyn ingat bagaimana bentuk mobil yang menabraknya.”

“Boleh saya masuk kedalam? Saya ingin bertanya langsung.”

Salah satu polisi tersebut mengangguk. Mereka berdua memberikan jalan untuk Haekal lewati. Lelaki itu menarik lengan Jemian, mengajak Jemian untuk masuk kedalam ruangan Evelyn.

“Jem, tenang. Relax okey?” Bisik Haekal berusaha menenangkan sahabatnya yang masih dalam keadaan panik.

Haekal membuka pintu tersebut, matanya langsung tertuju pada Evelyn yang sedang terpejam. Entah tidur atau hanya untuk menghilangkan rasa bosan.

“Evelyn.” Panggilan dari Haekal langsung membuat Evelyn membuka matanya. Gadis dengan perban di kepalanya itu perlahan bangun dari tidurnya, mencari posisi yang nyaman untuk mengobrol dengan lelaki yang baru saja datang.

“Kenapa?” Tanya Evelyn dengan datar. Bahkan tak ada wajah tertarik lagi kepada Haekal yang berada di hadapannya.

“Maksud lo apa ya? Kenapa nuduh Jemian yang nabrak lo? Jelas-jelas Jemian yang nolongin lo.” Tanya Haekal dengan suara yang rendah. Jemian mendekati Evelyn dengan perlahan, rahang lelaki itu berubah mengeras. Bahkan getaran di tangannya sudah menghilang.

“Gue seharusnya gak nolongin lo. Ngapain lo fitnah gue? Gak tau terima kasih banget.” Ujar Jemian dengan ketusnya.

Evelyn berdecih pelan, ia menatap Jemian dengan tatapan remehnya. “Lo gak mau ngaku? Gue inget kok bentuk mobilnya. Warna biru tua, dan ada coretan merah di depannya.”

Ucapan Evelyn membuat Jemian terdiam. Benar, itu adalah mobil Reon yang ia pakai pada siang itu. Namun bukan ia yang menabrak Evelyn kemarin.

Jemian menatap Haekal dengan tatapan mohonnya. Berharap sahabatnya itu percaya bahwa bukan ia yang menabrak Evelyn. Hanya Haekal harapan satu-satunya saat ini.

“Vel, Jemian gak nabrak lo. Jangan m-”

“Gue bisa aja bebasin Jemian dari hukuman. Asal lo mau nurutin permintaan gue.”

Haekal menaikan sebelah alisnya saat mendengar tuturan dari Evelyn. Gadis itu menatap Haekal dengan sangat lekat hingga membuat Haekal cemas sekarang. Takut jika Evelyn akan berbuat aneh kedepannya.

“Minta bokap lo dan bokap Orelyn buat lepasin tuntutan gue, dan Jemian bakalan bebas dari hukuman. Gimana?”

Ruangan kedap udara yang ditempatkan banyak baju dan ruang rias juga ditempati oleh Evelyn yang sudah berganti pakaian dan mempoleskan make-upnya. Gadis itu tersenyum samar melihat dirinya yang berada di pantulan cermin. Mata itu terus memperhatikan dirinya yang sudah cantik di poleskan oleh bedak dan bahan kecantikan lainnya.

Sampai ruang ganti itu terbuka, mengalihkan perhatian dari pantulan dirinya. Mata tajam itu melirik kearah pintu, mendapati sang Papa yang berjalan kearah dirinya. Ia melirik perias, lalu mengibaskan tangan seolah mengusir perias itu. Dan langsung diikuti perintahnya.

“Mana dokumen dan rahasia perusahaan?” tanya Harsa setelah memastikan ruang rias itu hanya ditempati oleh mereka berdua.

Evelyn berdiri dari duduknya, ia mendekati Harsa dengan perlahan-lahan. Menatap Papa angkatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Mana, Evelyn?”

“Saya gak bawa.” jawab Evelyn dengan santainya. Tangan Harsa terkepal, ia menatap putri angkatnya dengan tajam.

“Mana, Evelyn?” tanya-nya lagi dengan perubahan nada yang rendah. Pria itu marah.

“Saya gak bodoh ya. Papa fikir saya mau memberi itu semua ke Papa? No!” jawaban Evelyn membuat tatapan Harsa semakin tajam. Lelaki itu telah murka sekarang.

“Evelyn Glamora! Mana se-”

“Evelyn Glamora! Kamu tidak bisa bertunangan dengan anak saya.” suara dari Eric memenuhi ruang ganti tersebut.

Evelyn dan Harsa menoleh. Menatap Eric, Jeffryan, Haekal, Orelyn, dan dokter yang membantu melakukan tes DNA yang berjalan mendekat. Tatapan mereka berdua sangat berbeda. Evelyn yang menatap remeh, dan Harsa yang menatap cemas.

“Kamu bukan anak kandung saya. Jadi pertunangan ini batal. Saya ada buktinya.” Jeffryan mengelurkan selembar amplop hasil tes DNA. Ia menunjukan isi amplop tersebut kepada Evelyn dan Harsa.

“Ya, Pak Jeff benar. Kalian bisa dilaporkan kepolisi karna kasus penipuan.” ujar sang dokter.

Harsa meremas ujung kemejanya, ia menatap takut. Sialnya, bahan ancamannya berada di Evelyn sekarang.

“Kalian mau menjarain saya? Maa, tapi gak bisa.”

“EVELYN!”

“Apa? Saya punya hak disini.”

Evelyn mengambil ponselnya. Ia membuka salah satu file yang berada di ponsel tersebut. Menunjukan isi ponsel tersebut pada kelima orang yang berada didepannya.

“Lihat. Kalian bisa penjarakan Harsa, tetapi tidak bisa penjarakan saya. Karna saya sudah merubah nama perusahaan Pak Jeff atas nama saya. Dan saya telah merubah semua surat-surat dari nama Pak Jeff menjadi nama saya. Dan untuk tuan Eric, jika anda membatalkan perjodohan ini. Saya akan membuat anda kehilangan semua harta dan juga perusahaan anda.”

Ucapan Evelyn membuat mereka berlima bungkam. Haekal mengepalkan tangannya, ia menatap Evelyn dengan sangat tajam.

“LO-”

“Diam, Haekal. Jadi, bagaimana Pak Eric?” Evelyn memerhatikan Eric yang terdiam. Begitupun Haekal dan Orelyn yang menatapnya penuh harap.

Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Eric. Hembusan nafas yang kencang terdengar ditelinga mereka. Ia menatap Haekal, putra semata wayangnya.

“Lanjutkan pertunangan.”

Udara dingin yang ditimbulkan karna AC dan juga jendela yang terbuka tak bisa membuat Jeffryan sedikit pun untuk tenang. Sudah satu jam Jeffryan duduk pada kursi yang tersedia disamping brankar putrinya. Namun sedari tadi putrinya belum membuka matanya hanya sekedar untuk melihat cahaya.

Tangan kasar itu terus mengusap punggung tangan yang diperban lengannya. Sebab Orelyn melukai pergelangan tangan tersebut. Untungnya Jeffryan datang sebelum Orelyn kehilangan kesadarannya.

Kelopak mata itu perlahan bergerak. Orelyn membuka matanya dengan perlahan, berkali-kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Ringisan langsung keluar dari mulutnya saat ia merasakan perih pada pergelangan tangannya.

“Sayang.” Jeffryan bangun dari duduknya, ia menaruh tangan Orelyn secara perlahan. Tak mau membuat putrinya semakin sakit sebab ulahnya. “Ada yang sakit? Papa panggil dokter ya?”

Orelyn menggeleng pelan untuk menolak tawaran sang Papa. Gadis itu bangun dengan perlahan, bahunya langsung ditahan oleh Jeffryan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang khawatir.

“Jangan banyak bergerak ya? Kamu baru sadar.” ujarnya dengan suara pelan. Orelyn tersenyum tipis, tangannya ia gunakan untuk menarik lengan sang Papa hingga Jeffryan memeluk dirinya.

Pelukan yang selalu Orelyn inginkan. Pelukan yang selalu Orelyn harapkan. Pelukan yang sangat-sangat hangat untuk Orelyn rasakan. Bahkan gadis itu selalu menanyakan bagaimana hangatnya peluka sang Papa pada Haekal.

“Nak, maafkan Papa ya? Maaf Papa sudah membuat kamu seperti ini.” Jeffryan mengusap rambut Orelyn. Suara lelaki itu terdengar gemetar ditelinga Orelyn. Menahan air mata yang sudah berada diujung matanya.

“Papa. Jangan nangis.” Orelyn mengeratkan pelukannya. Memejamkan matanya supaya kehangatan itu semakin terasa. “Ini bukan salah Papa kok.”

“Jangan tinggalkan Papa ya? Papa mohon. Alasan Papa untuk bertahan didunia hanya kamu, Orelyn. Alasan Papa untuk bertahan hidup hanya kamu. Alasan Papa untuk tersenyum hanya kamu. Jangan tinggalkan Papa. Papa mohon, Papa minta maaf.” tangis Jeffryan pecah seketika. Pria itu terisak kecil pada dekapan anaknya.

Dirinya sungguh merasa bersalah sebab telah membuat anaknya menyerah. Hatinya sungguh sakit saat berkali-kali mendengar anaknya ingin menyusul mendiang sang istri dan putranya.

“Papa, udah. Aku juga minta maaf ya? Aku kalut banget, makannya kayak gitu. Sekarang udah ada Evelyn, dunia Papa bukan cuman aku lagi.” Orelyn berucap dengan santainya membuat Jeffryan terdiam. Pria itu menggeleng keras, ia semakin mengeratkan pelukannya pada putri kesayangannya.

“Papa lagi jalanin rencana, sayang. Papa lagi membuktikan semuanya.” ucapan Jeffryan dengan suara yang bergetar langsung merubah raut wajah Orelyn. Gadis itu melepaskan pelukannya, menatap sang Papa yang dibanjiri air mata dengan tatapan yang bingung.

“Maksud Papa apa?”

Jeffryan menghapus air matanya. Ia duduk pada pinggir ranjang lalu mengusap rambut anak kesayangannya.

“Sebenarnya, Papa curiga dengan Evelyn. Papa tidak sengaja dengar saat malam pesta itu, Harsa menyebut Evelyn adalah anak adopsi. Lalu selang sehari, tiba-tiba Harsa bilang Evelyn itu anak Papa. Katanya dia menukar anaknya dengan anak Papa, yaitu kembaran kamu. Karna Papa tidak yakin, akhirnya Papa dan Evelyn melakukan tes DNA yang hasilnya menbenarkan bahwa Papa dan Evelyn adalah keluarga. Tapi Papa kurang percaya karna tidak ada rasa antara orang tua ke anak dari diri Papa sendiri.”

“Makannya Papa nurutin kemuan dia semuanya. Papa pengen cari bukti-bukti semuanya. Papa udah dapar rambut Evelyn. Tinggal Papa cari motif dia dan Harsa.” Jeffryan mengusap rambut Orelyn dengan sangat lembut. Menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Orelyn memukul Papanya dengan sangat kesal. Berkali-kali ia memukul lengan Jeffryan dengan penuh tenaga sebab kesal.

“Papa! Padahal aku udah sakit hati tau! Males banget!! Terus Haekal aku gimana?!” kesal Orelyn sambil menatap tajam sang Papa. Jeffryan terkekeh pelan, ia mengusap lengannya yang terasa perih.

“Tenang aja. Papa cuman kasih sampai tahap pertunangan aja. Nanti nikahnya sama kamu.” ujar Jeffryan sambil terkekeh pelan. Orelyn tersenyum lebar, ia memeluk Jeffryan kembali.

“Orelyn!” suara dari seseorang yang sangat Orelyn kenal membuat Orelyn dan Jeffryan menoleh kearah pintu masuk.

Haekal dengan langkah yang cepat langsung mendekap Orelyn dengan penuh khawatir. Mendekap gadis itu dengan sangat kuat, seolah takut kehilangan untuk kedua kalinya.

“Aku khawatir.” ucap Haekal dengan suara yang bergetar. Lelaki itu mengecup kening Orelyn berkali-kali, semakin mengeratkan dekapannya namun tak ada balasan apapun dari Orelyn.

“Aku udah tau semuanya. Kita bisa balik lagi. Ayo balik sama aku. Aku gak mau putus, Rel. Please.” Haekal terisak didalam pelukan Orelyn. Gadis itu tersenyum tipis, ia membalas pelukan Haekal dengan perlahan.

“Aku gak suka diduain. Selesain dulu semuanya ya? Baru kita balik lagi.” ujar Orelyn dengan senyuman.

Haekal semakin mengeratkan pelukannya. Lelaki itu benar-benar khawatir, takut kehilangan Orelyn untuk kedua kalinya. Ia tak mau Orelyn benar-benar pergi dari hidupnya. Karna seluruh jiwanya, telah berhasil Orelyn ambil dari kehidupannya.

Suasana ruangan privat yang disewa oleh Jeffryan begitu hening sebab Evelyn yang terlalu sibuk dengan ponselnya. Jeffryan menghela nafas panjang, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak sekarang.

“Papa.” suara seorang gadis yang sangat familiar masuk dengan santainya kegendang telinga milik Jeffryan dan Evelyn. Mereka berdua menoleh, menatap kehadiran Orelyn yang datang bersama Jean.

“Lo ngapain ajak orang lain sih? Ini kan acara keluarga.” protes Evelyn sambil menatap Orelyn dengan kesal.

Orelyn berdecih pelan, ia memilih untuk duduk dihadapan Jeffryan dan Evelyn. Menyisakan dua kursi yang menghadap kearah jendela yang berada disampingnya.

“Lo orang baru, gak usah banyak ngatur.”

“Orelyn.” jawaban sarkas dari Orelyn langsung mendapat teguran dari Jeffryan. Orelyn berdecak, ia mengambil menu yang berada diatas meja.

“Cuman makan malem kan? Cepet deh. Aku sama Jean masih ada urusan lain.” ujarnya sambil melihat menu-menu yang tertera.

Suara langkah kaki dua orang berhasil mengalihkan pandangan Orelyn dan yang lainnya. Orelyn menatap terkejut kearah lelaki yang memakai pakaian formal sekarang. Ia berdiri saat tiba-tiba saja Evelyn menghampiri lelaki itu dan menggandeng lengannya.

“Haekal?” gumam Orelyn dengan suara pelan. Ia menatap Evelyn dengan tatapan yang tajam, menyuruh Evelyn untuk melepaskan genggamannya pada kekasihnya. Haekal tentu sudah melawan, berkali-kali menolak namun Evelyn mengaitkan kembali lengannya.

“Lepasin! Apaan sih lo?!” Orelyn menghampiri Evelyn, ia langsung menarik lengan gadis itu hingga genggaman terlepas.

“Lo yang apaan?! Haekal itu calon tunangan gue!”

“Mimpi tau gak?! Haekal mana mau sama lo?! Haeka itu pa—”

“Orelyn, Papa akan menjodohkan Haekal dengan Evelyn.”

Ucapan Jeffryan berhasil membuat Haekal dan Orelyn menatapnya dengan terkejut. Gadis itu menggeleng, ia langsung memeluk Haekal dengan erat.

“Maaf, Om. Saya ti—”

“Harus mau, Haekal. Ayah sudah membuat perjanjian.” ujar Eric—Ayah Haekal dengan suara yang terdengar rendah.

Jean yang tak mengerti situasi, hanya dapat diam ditempatnya. Menatap keributan dari dua keluarga temannya. “Bisa bahan gibah nih.”

Haekal menggelengkan kepalanya, lelaki itu mengeratkan pelukannya pada gadis yang benar-benar telah mengambil hatinya.

“Ekal gak mau. Ayah tega tukar Haekal dengan uang?”

“Demi kehidupan kamu, Haekal.”

Evelyn yang sejak tadi memperhatikan Orelyn langsung menarik lengan Orelyn hingga pelukan terlepas. Gadis itu langsung menggenggam erat tangan Haekal, bahkan Haekal tak bisa lagi menolak sebab tenaga Evelyn yang tiba-tiba saja membesar.

“Orelyn, tidak apa-apa ya?” Jeffryan berdiri dari duduknya, ia mendekati putri bungsunya dengan tatapan yang sangat amat memohon. “Mengalah ya? Kan Papa sudah sering menuruti kemauan kamu. Sekarang tugasnya Papa menuruti kemauan Evelyn. Dia baru datang untuk mencari kehidupan baru dengan keluarga kandungnya. Tidak apa-apa ya?”

Ucapan Jeffryan sungguh membuat Orelyn naik pitam. Gadis itu terkekeh dengan remeh, menghapus air matanya yang dengan lancangnya mengalir begitu saja. Menatap mata sang Papa dengan tatapan yang amat kecewa.

“Sejak kapan Papa nurutin kemauan aku? Aku gak pernah minta apapun tuh. Bahkan dihari ulang tahun aku, aku gak minta apa-apa ke Papa. Karna aku tau, Papa pasti gak akan kasih ke aku. Sejak kecil, sejak aku beranjak dewasa, cuman Mama yang nemenin aku, Pa. Cuman Mama yang rawat aku dan Kak Reyhan dengan penuh ketulusan. Papa kemana? Oh iya, Papa sibuk kerja.”

“Terus, tiba-tiba kemarin Papa pulang, bilang Evelyn itu kembaran aku. Dengan gampangnya Papa kasih semuanya ke dia, PADAHAL PAPA TAU DIA YANG UDAH BULLY AKU! PAPA TAU SEMUANYA! PAPA TAU DIA JAHAT SAMA AKU! PERASAAN PAPA KE AKU UDAH MATI YA?! HAH?! MANA RASA SAYANG PAPA KE AKU?! MANA PA?! DENGAN GAMPANGNYA PAPA KASIH SALAH SATU ORANG YANG BUAT AKU BERTAHAN KE ORANG YANG UDAH BIKIN AKU LUKA! Kalau bukan karna Haekal, aku udah susul Mama, Pa.”

“Orelyn, bukan maksud Papa untuk tidak mengerti kamu. Tapi Papa c—”

“Apa, Pa? Kalau Papa mau kasih Haekal ke Evelyn, silahkan. Artinya Papa kasih kehidupan aku ke Tuhan sekarang.”

Plak-!

Bukan, bukan Jeffryan yang menampar Orelyn. Tetapi Evelyn yang dengan lancangnya menampar gadis yang sedang meluapkan amarahnya sekarang.

“Jaga ucapan lo, Rel! Jangan jadi durhaka!”

“Gue cuman ngeluarin semua keluh kesah gue selama gue hidup. Salah?” suar Orelyn berubah melirih sekarang. Gadis itu sudah tak mampu lagi berteriak karna tenaganya sudah habis untuk berteriak kembali.

“Orelyn, aku gak mau di jodohin. Kamu tenang aja ya? Aku gak mau.”

“Terima, Kal. Percuma kamu tolak. Karna perempuan licik kayak dia, bakalan dapetin kamu dengan cara kotor.” ucapan sinis dari Orelyn berhasil membuat Evelyn bungkam seketika.

Orelyn mengambil tasnya yang berada diatad meja, ia menarik lengan Jean untuk pergi dari restoran yang Papanya sewa. Membawa Jean pergi dari keributan.

“Je, maaf ya? Lo jadi liat ribut-ribut. Hahaha.” Orelyn tertawa dengan hambar. Gadis itu menghapus air matanya saat menuju mobil Jean yang terparkir diparkiran khusu pengunjung.

“Rel.” Jean menahan tangan Orelyn dengan lembut, lelaki itu langsung mendekap tubuh gadis yang sangat rapuh didepannya. Mengusap rambut Orelyn dengan perlahan. “Nangis aja. Lo bukan robot yang gak punya perasaan.” bisik Jean dengan sangat lembut.

Tangis Orelyn pecah begitu saja. Gadis itu mengeratkan pelukannya, bahunya bergetar akibat isakan yang langsung keluar.

Orelyn marah, Orelyn kecewa pada sang Papa. Hari ini, Orelyn benar-benar tak bisa membendung lagi emosinya. Ia tak bisa menahan amarah yang telah ia simpan sejak lama.

Ucapan Orelyn tadi bukan hanya ancaman supaya Jeffryan membatalkan perjodohannya. Namun, Orelyn benar-benar menjadikan patokan Orelyn untuk bertahan.

“Rel, semuanya pasti baik-baik aja. Tapi untuk sekarang, tolong ya? Tolong jadi lemah dulu supaya perasaan lo bisa tenang. Masih ada gue, Rel. Jangan pergi ya? Jangan pergi karna seseorang yang seharusnya lo balas. Gue yakin, lo bisa dapetin semua yang lo punya suatu saat nanti.”

Suara ramai pada lorong rumah sakit tempat kelahiran Orelyn dan kembarannya tak dapat lepas dari ingatan Jeffryan. Pria itu menatap seluruh lorong yang sedang ia lewati, mencari titik dimana hari bahagia itu hadir. Langkahnya ia bawa menuju ruang bersalin yang sempat digunakan oleh sang mendiang istri untuk melahirkan anak-anaknya yang sangat luar biasa.

Perlahan air mata Jeffryan mengalir dengan lancangnya. Mengingat bagaimana dulu sang istri berjuang untuk mempertahankan tiga kehidupan. Nyawanya dipertaruhkan untuk menyelamatkan kedua anaknya yang telah tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun sayang, kejadian naas yang menimpa istri dan putranya berhasil merenggut nyawa keduanya. Meninggalkan Jeffryan dan Orelyn hanya berdua untuk melanjutkan kehidupan.

“Jeff.” panggilan dari seorang pria dibelakangnya membuat Jeffryan tersentak. Lelaki itu menghapus air matanya, lalu ia balikan badannya menghadap pada seorang pria dan satu perempuan yang masih seumuran dengan putrinya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Jeffryan dengan raut wajah yang datar.

Harsa memberikan sebuah amplop yang berisikan hasil test DNA yang mereka jalani beberapa minggu yang lalu. Bahkan sekarang sudah memasuki minggu ke-3 setelah melakukan beberapa tahan untuk tes DNA

“Bisa lihat sendiri hasilnya.” ujar Harsa dengan tenang. Ia merangkul Evelyn yang hanya terdiam dari tadi. Bahkan wajah lembut Evelyn yang dibuat-buat tak dapat membuat Jeffryan berubah untuk menjadi perduli.

Jeffryan membuka amplop tersebut. Mengambil selembaran kertas yang berada didalamnya. Membaca kalimat-kalimat yang tertera dengan tak sabar. Lelaki itu terdiam saat melihat satu hasil yang membuat tangannya meremas ujung kertas hingga lecak. Ia menatap Harsa dan Evelyn secara bergantian, bahkan Jeffryan tidak bisa berfikir sekarang.

“Bagaimana?” tanya Harsa seolah tak tahu menahu isi dari kertas tersebut.

Jeffryan menghela nafas pelan, ia menaruh kembali kertas pada amplop tersebut. Matanya dengan sayu menatap Evelyn yang hanya berdiri dan diam sejak tadi.

“Evelyn, kamu ikut saya untuk pulang. Barang-barang kamu akan diantarkan oleh suruhan saya. Kamu ikut didalam mobil saya.”

Suasana ruangan yang dilapisi oleh pengedap suara benar-benar tegang untuk ayah dan anak yang berhadapan dengan Jeffryan serta Orelyn. Gadis yang menunduk itu memainkan jarinya sejak tadi. Fikirannya langsung melayang ketika ia berada dirumah dan mendapat pukulan-pukulan keji dari sang Papa.

“Jadi, apa yang mau kamu jelasin?” suara berat milik Jeffryan berhasil masuk kedalam gendang telinga Evelyn begitu saja. Tangan gadis itu bergetar, wajahnya benar-benar berkeringat dingin hingga menetes pada dress merah yang ia kenakan.

“Kalo lo gak mampu yaudah. Gak usah rusak acara berharga gue kali.” kali ini Orelyn yang berucap dengan santai. Gadis itu sibuk melihat kukunya yang telah dilukis dengan cantik sejak tadi siang. “Oh ya, dan soal Haekal, dia itu pacar gue.”

“Kenapa kamu tidak menjawab?” tuturan dari Jeffryan bercampur dengan geraman yang sangat rendah. Lelaki itu bahkan mengepalkan tangannya diatas meja, bersiap untuk menggebrak meja kapan saja.

“Jeff, maafin anak saya ya? Anak saya mungkin memang salah, tapi pasti dibalik itu semua ada alasannya.” Pembelaan dari Harsa membuat Orelyn berdecih dengan sinis. Gadis itu membenarkan duduknya, menunjuk luka gores yang berada di pipinya.

“Coba liat ini, Om. Saya luka, sedangkan anak om baik-baik aja. Coba kasih alasan yang jelas kenapa anak Om bikin saya luka.” Ujar Orelyn dengan suara yang rendah. Jujur, gadis itu telah muak dengan sifat keluarga Evelyn.

“Lo jawab dong. Jangan berlindung dibalik bokap lo. Selama lo ngata-ngatain gue, pernah gak gue ngadu ke bokap? Lo ngatain gue jalang, gue ngadu ke bokap gak? Lo ngatain gue murahan, gue ngadu ke bokap gak? Nggak! Kalo gue ngadu lo udah di DO dari kampus. Tolol.” Tutur panjang Orelyn membuat Jeffryan terkejut. Memang benar selama ini Orelyn tak pernah bercerita apapun. Bahkan gadis itu hanya bilang ada yang melakukan pembullyan pada dirinya.

Brak-!

“Jawab! Kasih penjelasan ke saya kenapa kamu melakukan itu semua kepada anak saya!”

Evelyn tersentak dengan gebrakan meja yang ditimbulkan oleh Jeffryan. Gadis itu menggeleng dengan pelan. Tubuhnya gemetar akibat rasa takut yang ia rasakan.

“M-maaf. Saya cuman gak suka kalau Orelyn dekat dengan Haekal.” Suara Evelyn terdengar gemetar ditelinga Orelyn. Evelyn terisak dengan pelan, dirinya benar-benar mati kutu sekarang.

“Hahaha, mana diri lo yang pemberani itu? Udah ilang? Hm? Gak usah sok jagoan kalo baru diginiin aja lo ciut.” Orelyn tertawa dengan sangat puas. Gadis itu berdiri dari duduknya. “Pa, aku duluan ya. Mau makan malem sama Haekal. Dadah Papa.” Gadis itu mencium pipi Jeffryan dengan gembira. Langkahnya langsung membawa ia pergi keluar dari ruangan yang sangat kedap udara.

“Jeff, ini salah anak saya. Kita tetap bisa melakukan kerjasama kan? Kita baru berbaikan beberapa jam yang lalu untuk kelancaran perusahaan. Kamu tidak akan membatalkan kerjasama itu kan?” Harsa menatap Jeffryan dengan tatapan yang penuh harap. Sangat terlihat konyol dimata lelaki itu.

“Setelah anak kamu menyakiti anak saya? Saya tidak sudi bekerjasama dengan kamu. Akan saya cabut semua investasi yang telah saya berikan.” Ujar Jeffryan dengan sangat tegas. Lelaki itu berdiri dari duduknya, menatap Evelyn dan Harsa secara bergantian. “Kalian mencari lawan yang salah, bodoh.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeffryan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah tegapnya.

Harsa mengepalkan tangannya dengan kuat, ia menarik lengan Evelyn dengan kasar dan menampar putrinya dengan sangat keras hingga terjatuh.

“Anak bodoh! Saya menyesal telah mengadopsi kamu!”

Suasana ramai pada ballroom hotel yang telah disewa oleh Jeffry membuat Evelyn melihatnya dengan sangat terpukau. Sejak tadi, Evelyn telah menjadi perhatian dari tamu-tamu yang telah diundang. Entah tempat kampus, partner bisnis dari Papa Orelyn, atau partner bisnis dari Ayah Haekal. Semua mata tertuju pada gadis yang menggunakan dress berwarna merah mencolok.

“Vel, dari tadi pada liatin lo terus tau.” bisik Kaira yang sebenarnya merasa sangat malu karna ikut di perhatikan sejak tadi.

“Biarin aja ah. Palingan mereka liatin gue karna gue cantik.” ucap Evelyn dengan sangat pedenya.

Gadis itu memperhatikan sekitar dengan sangat intens, mencari lelaki yang akan menjadi partner couple-nya malam ini. Namun sejak tadi ia tak melihat Haekal berada disekitarnya.

Evelyn memilih untuk duduk pada salah satu kursi yang telah tersedia bersamaan dengan meja bundar. Diikuti oleh Kaira dan Airen yang mengekorinya sejak tadi. Matanya masih menelusur, mencari Haekal yang belum ia temukan keberadaannya. Namun, mata itu menangkap sebuah nama yang terpasang ditengah panggung acara. Inisial nama yang membuat Evelyn berfikir dengan keras

“O&H? H is Haekal? And O? Who?” gumam Evelyn dengan sangat penasaran. Gadis itu berfikir dengan keras. Berharap inisial O bukanlah nama yang terlintas di otaknya sekarang.

Namun fikirannya buyar saat ia mendengar suara laki-laki yang sangat asing untuknya. Evelyn menoleh kebelakang, menatap lelaki yang baru saja memanggilnya.

“Hallo, Evelyn.”

“Oh? Hai, Kak Gean.” balas Evelyn dengan sangat ramah. Gadis itu berdiri dari duduknya, membungkuk dengan sopan dihadapan Gean yang tersenyum tipis. Dan lagi-lagi, diikuti oleh Kaira dan Airen tentunya.

“Kamu diundang? Kok saya gak tau?”

“Oh iya, saya calon dari cowok yang adain acara ini, Kak. Kakak diundang juga ya?”

Sebelum Gean menjawab, lelaki itu dengan reflek menaikan sebelah alisnya. Tanda ia bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Evelyn. Setau dirinya, Haekal adalah pacar dari adik sepupunya.

“Oh, nggak. Saya datang aja karna ini acara adik sepupu saya.” jawab Gean sembari menyeruput minuman berwarna merah tua tersebut.

“Oh, adik sepupu Kakak itu Haekal ya? Wah, aku baru tau.” ucap Evelyn dengan sangat bersemangat.

“Bukan, maksud sa—” ucapan Gean harus terpotong sebab MC acara telah memulai acaranya.

Gean pergi dari tempat Evelyn, kembali menuju mejanya yang berada dipaling depan tempat khusus untuk keluarga besar pemilik acara.

“Selamat malam semunya. Thank you udah luangin waktu kalian untuk mendatangi acara besar dan berharga dari pewaris tunggal kedua perusahaan besar sekarang.”

Pembukaan yang diucapkan oleh MC membuat Evelyn berdecak. Gadis itu sungguh tidak suka basa-basi disebuah acara.

“Oke. Sekarang kita sambut dengan meriyah kedua pewaris tunggal yang merayakan ulang tahunnya ke-20 tahun. Haekal Dinoswara dan Orelyn Sinagar!”

Suara meriah dari tepuk tangan para tamu tak dapat menghilangkan wajah terkejut Evelyn. Gadis itu menatap kearah Haeka yang menggandeng Orelyn untuk menaiki panggung. Matanya berubah tajam saat Haekal mengenakan tuxedo yang senada dengan milik Orelyn, bukan dirinya.

“Hah? Orelyn anak orang kaya? Gue gak nyangka.” bisik Kaira dapat didengar oleh Evelyn.

“Vel, katanya Haeka couplean sama lo? Mana? Lo halu ya?” kali ini Airen yang bertanya.

Tangan Evelyn terkepal dengan kuat. Dengan langkah yang sangat berani, gadis itu menaiki panggung dengan emosi yang memuncak. Tangannya menarik tangan Orelyn hingga gandengan tersebut terlepas. Membawa Orelyn untuk turun panggung dengan langkah yang tak sabaran.

“Lo?! Lo ngapain disini?!” tanya Evelyn dengan nafas yang memburu. Emosi gadis itu sungguh menggebu-gebu, menatap tajam Orelyn yang hanya memasang raut wajah bingung.

“Gue? Orang gue yang punya acara.” ujar Orelyn dengan sangat santai.

Emosi Evelyn benar-benar memuncak sekarang, gadis itu langsung menjambak rambut Orelyn hingga Orelyn mendangak kebelakang. Para tamu serta Haekal mendekati keriburan, namun tak ada satu pun yang memisahkan mereka. Padahal jelas-jelas mereka mendengar ringisan dari Orelyn.

“HARUSNYA LO GAK ADA DISINI! HARUSNYA GUE YANG ADA DISAMPING HAEKAL! HARUSNGA GUE YANG DIGANDENG SAMA HAEKAL! BUKAN SAMA LO, JALANG!” Evelyn berteriak didepan wajah Orelyn.

Orelyn tak mampu menjawab apapun, rahang serta lehernya telah tertarik kebelakang sembari meringis. Merasakan sakit luar biasa dari jambakan Evelyn.

“ANJING LO! SIALAN! BANGSAT!” Emosi Evelyn benar-benar tak dapat terbendung. Gadis itu menarik gaun Orelyn hingga sobek, mencakar lengan dan wajah Orelyn dengan sangat buas. Seperti hewan liar yang akan memakan mangsanya.

“HEI! ADA APA INI?!” suara bass dari seorang lelaki membuat Evelyn melepaskan jambakannya sehingga Orelyn jatuh kelantai. Haekal segera mendekat ke kasihnya, menatap wajah Orelyn yang sudah penuh luka.

“Siapa yang berani mengacaukan acara putri saya?” suara dingin nan menyeramkan milik Jeffry membuat semuanya terbungkam. Termasuk Evelyn yang telah terlihat dimata Jeffryan.

Bukan hanya Jeffryan yang membuat Evelyn memaku ditempat. Namun, sang Papa yang berada dibelakang Jeffryan menjadi salah satu alasan Evelyn tak bisa bergerak untuk berkutik.

“Anak sialan!”