Bicara.
Lantunan sebuah musik yang berasal dari radio mobil milik Jevan memecahkan keheningan antara ia dan kekasihnya. Tak ada obrolan yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan dengan cukup lama. Nafas Jevan terlihat berhembus cukup keras, perasaannya sedang khawatir akan dua hal yang ada dipikirannya. Kondisi sahabatnya dan takut Flo akan memarahi Deby karena mengganggu waktu mereka berdua.
Mobil hitam itu Jevan parkirkan pada depan rumah milik Deby yang masih terbuka dan terang. Tak ada siapapun disana kecuali Deby yang duduk didepan teras sembari meneluk kedua lututnya. Jika diperhatikan keadaan gadis itu terlihat tidak baik-baik saja.
Jevan menoleh kearah Flo ketika gadis itu turun terlebih dahulu tanpa menunggu dirinya membukakan pintu. Lelaki itu langsung turun dari mobil dengan tergesa, mengikuti Flo yang berlari kecil menghampiri Deby yang masih terdiam.
Jevan langsung terdiam dikala melihat kekasihnya memeluk sahabat perempuannya dengan begitu erat. Mengucapkan kalimat-kalimat penenang yang berhasil membuat Deby memecahkan tangisnya.
“Deb, it's okey. Ada aku sama Jevan yang nemenin kamu. Jangan takut ya?” ujar Flo dengan suara yang sangat lembut ditelinga gadis itu.
Deby mengeratkan pelukannya, menumpahkan semua rasa takut, amarah, sedih, kecewa yang bercampur menjadi satu. Keributan yang terjadi antara Mama dan Papanya adalah sebuah mimpi buruk yang sayangnya adalah kenyataan yang sangat Deby benci.
Jevan menatap haru kearah kekasihnya yang begitu dewasa bersikap. Tidak berfikir bahwa Deby akan merebut Jevan dari sisi gadisnya. Tak pernah sekalipun Flo memarahi Deby karena mereka masih saling berdekatan.
“Deby, i'm here.” Jevan menggenggam tangan Deby yang terasa begitu dingin. Dengan cepat lelaki itu menggosokan kedua tangannya untuk menghangatkan tangan gadis yang ada dihadapannya.
Mata Jevan teralihkan pada Flo yang masih mengusap rambut Deby dengan lembut. Mata mereka berdua beradu, seolah-olah berbicara dan menanyakan “aku harus ngapain?”
“Deb, makan dulu yuk? Aku tau kamu pasti belum makan.” Flo menghapus air mata gadis itu dari pipinya.
Deby menggeleng dengan pelan, ia melepaskan pelukan serta genggamannya dengan perlahan. Menghapus air matanya yang masih tersisa pada ujung matanya.
*“Enggak, gak usah. Sorry udah ganggu waktu Anniv kalian. Gue gpp kok. Sorry ya.” Ujar Deby dengan suara yang serak. Ada perasaan tidak enak yang terselip pada hatinya. Merasa bersalah karena harus mengacaukan hari bahagia dua orang yang telah bersama.
“Deby, kalau aku sama Jevan tetep lanjut rayain yang ada aku gak tenang. Aku paham betul rasa takut kamu sekarang. Aku gak marah kok, malah dari tadi sebenernya aku mau bantu kamu. Tapi aku mau bahagiain diri aku sendiri. Maaf ya.”
“Nggak, lo gak salah kok. Egois itu perlu, Flo. Makasih banyak ya.”
Deby kembali memeluk Flo dengan begitu erat. Merasa bersyukur karena Flo tidak seperti mantan-mantan Jevan yang sangat posesif sehingga beberapa kali Deby dilabrak oleh mantan-mantannya.
“Flo, kamu gak peluk aku juga gitu?” Jevan bertanya dengan nada yang ia buat cemburu.
Deby menatap jijik kearah sahabatnya, sedangkan Flo terkekeh pelan untuk menanggapi kekasihnya.
“Nanti ya, kita mau girls time dulu. Ayo, Deb!” Flo menarik tangan Deby untuk membantu gadis itu berdiri. Ia tersenyum dengan lebar, menatap kekasihnya dengan mata yang ia buat melas supaya Jevan ingin menuruti keinginannya.
*“By, supirin ya? Please.” Flo mengatup kedua telapak tangannya, memohon kepada Jevan supaya lelaki itu mengiyakan permintaannya.
Dengan helaan nafas pasar akhirnya Jevan mengangguk dengan terpaksa. Menjadi supir kedua wanita terpenting didalam hidupnya sudah seperti tugasnya didunia.
Menjaga Flo dan Deby adalah salah satu tugas yang sudah ia masukan list penjagaannya. Mungkin jika Deby sudah menemukan pendampingnya, Jevan akan menghapus nama Deby dari list tersebut. Namun lelaki itu akan tetap menjaga sahabatnya dari jauh.
Karena bagaimanapun, Deby dan Flo akan tetap menjadi dua prioritas yang tetap Jevan utamakan.