Kakdoyiiee

Lantunan sebuah musik yang berasal dari radio mobil milik Jevan memecahkan keheningan antara ia dan kekasihnya. Tak ada obrolan yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan dengan cukup lama. Nafas Jevan terlihat berhembus cukup keras, perasaannya sedang khawatir akan dua hal yang ada dipikirannya. Kondisi sahabatnya dan takut Flo akan memarahi Deby karena mengganggu waktu mereka berdua.

Mobil hitam itu Jevan parkirkan pada depan rumah milik Deby yang masih terbuka dan terang. Tak ada siapapun disana kecuali Deby yang duduk didepan teras sembari meneluk kedua lututnya. Jika diperhatikan keadaan gadis itu terlihat tidak baik-baik saja.

Jevan menoleh kearah Flo ketika gadis itu turun terlebih dahulu tanpa menunggu dirinya membukakan pintu. Lelaki itu langsung turun dari mobil dengan tergesa, mengikuti Flo yang berlari kecil menghampiri Deby yang masih terdiam.

Jevan langsung terdiam dikala melihat kekasihnya memeluk sahabat perempuannya dengan begitu erat. Mengucapkan kalimat-kalimat penenang yang berhasil membuat Deby memecahkan tangisnya.

“Deb, it's okey. Ada aku sama Jevan yang nemenin kamu. Jangan takut ya?” ujar Flo dengan suara yang sangat lembut ditelinga gadis itu.

Deby mengeratkan pelukannya, menumpahkan semua rasa takut, amarah, sedih, kecewa yang bercampur menjadi satu. Keributan yang terjadi antara Mama dan Papanya adalah sebuah mimpi buruk yang sayangnya adalah kenyataan yang sangat Deby benci.

Jevan menatap haru kearah kekasihnya yang begitu dewasa bersikap. Tidak berfikir bahwa Deby akan merebut Jevan dari sisi gadisnya. Tak pernah sekalipun Flo memarahi Deby karena mereka masih saling berdekatan.

“Deby, i'm here.” Jevan menggenggam tangan Deby yang terasa begitu dingin. Dengan cepat lelaki itu menggosokan kedua tangannya untuk menghangatkan tangan gadis yang ada dihadapannya.

Mata Jevan teralihkan pada Flo yang masih mengusap rambut Deby dengan lembut. Mata mereka berdua beradu, seolah-olah berbicara dan menanyakan “aku harus ngapain?”

“Deb, makan dulu yuk? Aku tau kamu pasti belum makan.” Flo menghapus air mata gadis itu dari pipinya.

Deby menggeleng dengan pelan, ia melepaskan pelukan serta genggamannya dengan perlahan. Menghapus air matanya yang masih tersisa pada ujung matanya.

*“Enggak, gak usah. Sorry udah ganggu waktu Anniv kalian. Gue gpp kok. Sorry ya.” Ujar Deby dengan suara yang serak. Ada perasaan tidak enak yang terselip pada hatinya. Merasa bersalah karena harus mengacaukan hari bahagia dua orang yang telah bersama.

“Deby, kalau aku sama Jevan tetep lanjut rayain yang ada aku gak tenang. Aku paham betul rasa takut kamu sekarang. Aku gak marah kok, malah dari tadi sebenernya aku mau bantu kamu. Tapi aku mau bahagiain diri aku sendiri. Maaf ya.”

“Nggak, lo gak salah kok. Egois itu perlu, Flo. Makasih banyak ya.”

Deby kembali memeluk Flo dengan begitu erat. Merasa bersyukur karena Flo tidak seperti mantan-mantan Jevan yang sangat posesif sehingga beberapa kali Deby dilabrak oleh mantan-mantannya.

“Flo, kamu gak peluk aku juga gitu?” Jevan bertanya dengan nada yang ia buat cemburu.

Deby menatap jijik kearah sahabatnya, sedangkan Flo terkekeh pelan untuk menanggapi kekasihnya.

“Nanti ya, kita mau girls time dulu. Ayo, Deb!” Flo menarik tangan Deby untuk membantu gadis itu berdiri. Ia tersenyum dengan lebar, menatap kekasihnya dengan mata yang ia buat melas supaya Jevan ingin menuruti keinginannya.

*“By, supirin ya? Please.” Flo mengatup kedua telapak tangannya, memohon kepada Jevan supaya lelaki itu mengiyakan permintaannya.

Dengan helaan nafas pasar akhirnya Jevan mengangguk dengan terpaksa. Menjadi supir kedua wanita terpenting didalam hidupnya sudah seperti tugasnya didunia.

Menjaga Flo dan Deby adalah salah satu tugas yang sudah ia masukan list penjagaannya. Mungkin jika Deby sudah menemukan pendampingnya, Jevan akan menghapus nama Deby dari list tersebut. Namun lelaki itu akan tetap menjaga sahabatnya dari jauh.

Karena bagaimanapun, Deby dan Flo akan tetap menjadi dua prioritas yang tetap Jevan utamakan.

Lampu tumblr yang berkelap-kelip membuat pandangan gadis bermata bulat itu bersinar. Gadis dengan dress ungu sebawah lutut berjalan mengitari sebuah resto yang alamatnya tertera pada surat pendek yang diberikan oleh kekasihnya.

Matanya menangkap lelaki yang sudah duduk pada salah satu meja yang dihiasi oleh lilin dan beberapa makanan yang tertata dengan begitu rapih.

Langkah kecil itu dengan perlahan berjalan mendekati meja bundar yang ia yakini adalah meja Gama karena ia melihat lelaki itu mengenakan jas hitam rapih yang ia kenakan.

“Kak Gama.” panggil Miu dengan suara yang sedikit ragu.

Lekaki itu langsung menoleh kearah sampingnya ketika merasa namanya terpanggil oleh seorang perempuan. Mata Gama memperhatikan Miu yang mengenakan dress pemberiannya. Manatap takjub gadisnya yang begitu cantik pada malam yang begitu indah.

Gama berdehem pelan untuk melepaskan rasa canggung, lelaki itu memutari meja untuk mendekati kursi milik Miu. Ia menarik kursi itu sedikit dan mempersilahkan Miu untuk duduk disana. “Sini duduk.”

“Makasih, Kak.” Miu duduk pada kursi yang sudah dipersiapkan. Ia kembali memperhatikan Gama yang berjalan untuk duduk kembali dikursinya.

Kedua insan itu terdiam ketika mereka sama-sama bingung memilih percakapan. Gama terlalu sulit untuk mencari topik dan Miu yang sedang mengontrol degup jantungnya.

“Mi, happy anniversary. Maaf udah bikin kamu marah terus belakangan ini.” Gama menatap Miu yang mematung dihadapannya.

“Sebenernya aku bukan anterin Yera, tapi aku yang minta Yera anterin aku. Yera bantu aku buat cari dress dan bunga buat kamu. Dia yang bantu aku pilihin hadiah buat Anniv kita hari ini. Dia juga yang bantu aku buat cari resto hari ini.”

*“Maaf udah bikin kamu curiga terus, maaf udah selalu bikin kamu marah belakangan ini. Jangan mikirin yang enggak enggak ya? Aku sayang sama kamu, aku susah dapetin kamu apa lagi waktu kamu direbutin banyak orang. Dan aku beneran seneng karena kamu pilih aku.”

Gama memberhentikan perkataannya sebentar, lelaki itu menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan ucapannya.

“5 tahun lagi kamu bakalan lulus kuliah, dan disitu aku bakalan lamar kamu saat itu juga. Tunggu ya? Sekarang aku cuman bisa kasih bunga buat kamu.”

Gama mengambil bunga tersebut yang berada dipangkuannya sejak tadi. Memberi sebuah buket bunga lavender kepada gadisnya. Miu langsung menerima buket tersebut, menatap dengan begitu senang karena Gama memberikan sebuah buket bunga yang ia inginkan.

“Lavender artinya cinta dan keabadian. Aku kasih ini ke kamu karena aku berharap kamu itu cinta abadi aku.”

Miu menoleh kearah Gama ketika lelaki itu selesai berbicara. Gadis itu menaruh bunga tersebut diatas meja yang masih dipenuhi oleh makanan yang belum tersentu sama sekali.

Ia mendekari Gama dengan cepat, mendekap lelaki itu dengan begitu eratnya.

“Makasih banyak Kak Gama, maaf aku selalu marah dan cemburuan sama kamu. Aku cuman takut kamu jadi lelaki brengsek kayak pacarnya temen-temen aku.” Miu mengeratkan dekapannya, menghirup dalam-dalam aroma favoritnya.

Gadis itu terlalu takut Gama akan bosan dengan hubungan yang sudah terjalin dari dua tahun yang lalu. Apa lagi mereka berbeda angkatan. Gama yang sudah kuliah dan Miu yang masih kelas 11.

Namun Gama tidak mudah berpaling dari gadis cantik yang ada dihadapannya. Hatinya sudah terpaut begitu kuat dengan Miu yang ia perjuangkan selama tiga tahun. Bahkan langkahnya terlalu sulit untuk pergi dari sisi gadisnya.

Banyak yang lelaki itu pertaruhkan untuk mendapatkan Miu, gadis cantik yang memiliki pesona luar biasa. Banyak yang Gama pelajari hanya untuk mengejar cintanya.

Nyatanya Gama dan Miu sama-sama banyak belajar tentang sesuatu yang awalnya mereka tidak tau. Gama belajar memahami perempuan dan Miu yang belajar memahami apa itu cinta dan rasa sayang.

Atmosfer canggung diantara dua insan yang sedang duduk bersebelahan membuat gadis berambut panjang itu tak berani membuka suara. Wajah dingin lelaki yang tiba-tiba saja berada didepan rumahnya dan mengajak ia untuk ke taman dekat dengan komplek perumahannya membuat gadis itu tidak berani banyak berbicara. Raut wajah yang ia lihat tidak seperti biasanya dan ia yakinin mood lelaki yang ada disebelahnya sedang tidak baik-baik saja.

Gracilla dengan bosan mencabuti rerumputan kecil yang berada disekitarnya, berharap sang lelaki akan mengajak ia berbicara untuk memecahkan keheningan. Walaupun gadis itu tau, tidak mungkin William akan membuka mulut untuk mencari sebuah topik random yang ia harapakan.

Angin kencang tiba-tiba saja berhembus dari sebelah kanannya, dengan reflek Gracilla memejamkan mata disaat mata sipit itu terasa perih karena ada debu yang memasuki matanya. Ia mengusap mata tersebut dengan perlahan, membuka matanya secara perlahan ketika rasa perih itu perlahan menghilang. Pandangan yang ia dapat adalah gestur tubuh William yang seolah-olah ingin membantu gadis itu.

“Gue gak apa-apa.” Gracilla membenarkan posisi duduknya, mengalihkan pandangan karena tidak berani memandangi mata William dalam waktu yang lama.

William mengambil sebungkus rokok pada saku celananya, gerakan lelaki itu berhasil mengalihkan perhatian Gracilla. Ia memandangi bungkus rokok tersebut sembari menaikan sebelah alisnya, tatapannya terlihat begitu bingung ketika William mengambil semua putung rokok dari dalam bungkusnya.

Dalam sekali patahan, semua putung rokok tersebut berhamburan di tanah dengan bentuk yang sudah terbagi dua. Gracilla membulatkan mulutnya, menatap terkejut dengan aksi William secara tiba-tiba.

“Wil?! Lo ngapain?! Rokok kan mahal!”

“Tadinya saya mau ngerokok karena saya ngerasa gak baik-baik aja. Tapi saya inget, saya masih punya kamu yang buat saya tenang.”

Pernyataan yang diberikan William membuat Gracilla memperhatikan lelaki itu dengan lekat-lekat. Degup jantungnya berkerja dengan begitu cepat, tidak seperti biasanya. Kalimat yang William berikan barusan membuat perutnya didatangi kupu-kupu yang begitu banyaknya.

“Tadi saya bilang kalau saya mau dipeluk. Sekarang tolong kamu peluk saya. Boleh kan?”

Lorong kelas 10 MIPA terlihat begitu ramai dengan banyaknya siswa siswi yang berbondong-bondong untuk ke kantin, mengisi perut mereka yang kosong sejak pagi tadi. Sedangkan Gracilla harus dengan terpaksanya mengantarkan Galaxy dan Marvin untuk mengelilingi sekolah.

Sesungguhnya gadis itu terlalu malas untuk mengantarkan mereka, terlebih lagi Gracilla yang masih malu karena tragedi tembus yang dilihat oleh Marvin. Untungnya gadis itu memiliki rok putih cadangan pada loker sekolahnya.

“Ini namanya UKS, buat anak-anak yang sakit. Di Amerika atau Netherlands ada UKS gak?” tanya Gracilla sembari menaikan sebelah alisnya, menatap dua lelaki yang berada dibelakangnya. Tak ada jawaban karena keduanya sibuk memperhatikan sekitar.

Gadis itu berdecak ketika tidak mendapatkan respon apapun dari Marvin ataupun Galaxy. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, menaiki tangga satu persatu hingga pada belokan menuju tangga kelas 12 ia dikejutkan oleh William yang tiba-tiba saja berada dihadapannya.

“Makan dulu.” ujar lelaki itu dengan wajah yang datar, seperti biasanya.

“Nanti, gue masih ngurusin dua cowok ini.”

“Mereka bukan anak kamu, kenapa diurusin?”

“Gue disuruh Bu Dian.”

“Yaudah, saya ikut.”

Baru saja Gracilla ingin membalas perkataan lelaki itu, namun William lebih dulu menaiki tangga menuju lantai 3.

“Pacar lo, Cil?” tanya Marvin berbisik pelan, terlihat seperti penasaran dengan lelaki yang ia sebut 'muka datar.'

“Gebetan gue.”

“Ohh.”

Tak ada obrolan random kembali setelah mereka berada dilantai 3. Gracilla sibuk memberitau beberapa ruangan yang mungkin akan sering Marvin dan Galaxy kunjungi. Sedangkan William menatap kedua lelaki itu dengan sangat tajam, seolah singa yang akan memakan mangsanya.

“Terakhir, ini perpustakaan. Gue gak tau didalem ada apa aja, soalnya gue jarang ke perpustakaan. Coba lo tanya sama cowok dibelakang lo berdua.” Gracilla menunjuk William dengan dagunya.

“Gue gak pengen tau. Oh iya, jaket gue jangan lupa dibalikin kalo perlu dicuci. Ayo, Gal.” Marvin langsung pergi setelah ia merasa cukup untuk perkenalan lingkungan sekolahnya. Tidak ingin berlama-lama karena ia sudah merasakan kelaparan sejak tadi.

William mendekati Gracilla dengan wajah dinginnya. Lelaki itu terlihat seperti menahan amarah yang menggebu-gebu didalam dadanya.

“Jaket apa?” tanya William, wajah datarnya tak dapat menakutkan Gracilla yang sudah terbiasa.

“Ya...jaket. Dia minjemin jaket ke gue gara-gara tadi gue tembus.” gadis itu berujar sembari menuruni anak tangga dengan perlahan, diikuti oleh William dibelakangnya.

“Besok kasih jaketnya ke saya, biar saya yang cuci. Kalau kamu nolak saya bakalan hajar cowok Netherlands itu habis-habisan karena udah kasih sesuatu ke kamu.”

Gracilla dengan reflek memberhentikan langkahnya, gadis itu baru saja ingin menoleh kebelakang namun William lebih dulu menuruni anak tangga hingga berada dilantai 2. Gadis itu terdiam sejenak untuk mencerna kalimat yang William berikan. Berusaha memahami maksud dari tujuan William barusan.

“Ini Liam cemburu ceritanya? Kok posesif banget?”

Dua pasang kaki yang berjalan berdampingan tak dapat membuat obrolan mereka terpaut dengan panjang. Sesekali Cilla bertanya dan sering kali William menjawab dengan deheman yang lumayan keras.

Canggung. Itu yang mereka rasakan sekarang. Otak gadis itu terus saja berputar untuk mencari obrolan. Cilla sangat yakin, lelaki kaku seperti William pasti tidak akan pernah mau mencari topik untuk mengobrol lebih panjang.

“Li-”

“Kenapa kamu bisa suka sama saya?”

Langkah Cilla dengan reflek terhenti setelah mendengar pertanyaan William. Gadis dengan rok pendek itu menoleh kearah William dengan sangat terkejut. Untuk pertama kalinya, William bertanyaan tentang perasaannya.

“Kenapa diam? Sebuah tindakan ada alasannya kan?” tanya William yang ikut berhenti disamping Cilla.

Lelaki itu menatap Cilla yang lebih pendek 20cm darinya. Alisnya terangkat, seolah menyuruh Cilla menjawab dengan cepat.

“Karna lo beda, Li.” jawaban dari Cilla membuat William menatapnya dengan kerutan dahi yang terlihat. Satu kalimat yang sangat sulit untuk William pahami.

“Kamu gak takut jatuh cinta? Kata Kyren kamu selalu ditikung sama orang lain. Tapi kenapa kamu masih terus jatuh cinta?”

Cilla terdiam sejenak saat mendengar nama sahabatnya disebut oleh William. Cilla sama sekali tidak tau jika Kyren bercerita tentang masa lalunya kepada William. Entah mengapa rasanya Cilla tidak suka jika masa lalunya di beberkan begitu saja.

Gadis itu berjalan pada pinggir jembatan tempat mereka berdiri sekarang. Cilla melihat bintang yang bersinar walau tidak terang, memperhatikan bulan yang berbentuk bulat sempurna.

“Lo mau tau apa yang buat gue gak takut buat jatuh cinta berkali-kali? Karna yang gue rasain sekarang bukan jatuh cinta, Wil. Gue cuman ngerasa gue suka sama seseorang, kalau orang itu udah ada pacar yaudah. Rasanya bakalan ilang gitu aja. Walaupun ada rasa sakit yang terselip.”

“Dan lo tau apa yang buat gue gak takut suka sama orang berkali-kali? Karna gue udah bisa nebak endingnya gimana, walaupun alurnya berbeda-beda.”

Jawaban yang diberikan Cilla membuat William terdiam. Lelaki itu dapat merasakan sesuatu yang menyentuh hatinya, namun bodohnya ia tak tau apa arti dari rasa itu. Seperti ada sesuatu yang menekan hatinya. Terasa sakit dan juga perih yang dirasakan. Entah mengapa rasa sakit itu datang secara tiba-tiba.

William sama sekali tidak paham apa itu suka, jatuh cinta, rasa nyaman dan juga sayang. William sama sekali tidak bisa membedakan ketiga kata itu. Yang selama ini William tau hanyalah rasa sakit yang ditimbulkan oleh Ibunda. Rasa sakit yang seharusnya sang Papa rasakan tetapi William yang menggantikan untuk sekarang. Sampai William buta apa itu rasa bahagia. Hanya ada pengkhianatan didalam pikirannya.

Namun semenjak mengenal Cilla, rasanya ada sesuatu baru muncul didalam lubuk hatinya. Wajah gadis itu selalu saja terbayang dengan senyuman lucunya. Wajah menggemaskan yang khas itu selalu saja menjadi teman tidurnya setiap malam.

Dan akhirnya William mengerti sekarang. Lelaki itu telah jatuh kedalam jurang yang telah dibuat gadis yang selalu mengganggunya disetiap harinya.

Langkah kaki milik William menuntun dua gadis yang berada dibelakangnya. Lelaki itu membawa mereka ke parkiran yang berada diluar sekolah. Tempat biasa William dan teman-temannya memarkirkan kendaraan.

“Wil, kok jauh sih? Gue capek tau.” keluh Cilla memperlambat jalannya. Kyren menggandeng tangan Cilla, menuntun gadis itu untuk terus berjalan.

“Udah, ikutin aja. Jangan banyak ngeluh ah.” ujar gadis itu.

William tak merespon apapun, lelaki itu lebih memilih untuk berjalan, mengabaikan kedua gadis yang berada dibelakangnya. Tangannya mengambil kunci mobil milik Senaru yang sudah berada ditangannya saat jam istirahat pertama.

William mendekati salah satu mobil berwarna hitam yang terparkir rapih, ia membuka pintunya setelah membuka kunci pintu tersebut. Menoleh kearah Kyren dan Cilla yang berdiri dibelakangnya.

“Masuk. Cilla, kamu di depan biar Kyren di belakang. Saya gak mau kamu muntah di mobil saya karna kamu duduk dibelakang.” ujar William dengan dingin. Lelaki itu langsung memasuki mobil, menutup pintu mobil dengan sangat keras.

“Gih, sana masuk. Pusing kan lo?” ujar Kyren sambil menuntun Cilla.

“Ih, gak usah dituntun. Gue gpp kali.” Cilla melepaskan pegangan dari Kyren, gadis itu langsung masuk mobil dan duduk disamping William.

Jantungnya berdegup dengan kencang, ia sangat gugup sekarang. Rasanya sangat tidak nyata bisa satu mobil dengan William.

“Tuhan, kalo ini mimpi jangan bangunkan saya.” gumam Cilla dengan sangat pelan.

Suasana ramai pada grand opening toko roti milik Haekal tak membuat lelaki itu bisa istirahat dalam waktu sejenak. Sejak tadi, Haekal terus berjalan kesana-kemari untuk menyambut tamu serta menanyakan bagaimana rasa roti dan kue buatan dia. Sedangkan Jemian dan Reon terus mengikuti Haekal, membantu lelaki itu untuk mendokumentasikan hari bahagianya.

“Capek.” ujar Jemian setelah ia bisa duduk di bangku depan toko. Jemian mengibaskan tangannya, berusaha menghilangkan keringat yang mengucur dari pelipisnya.

Reon menoleh kearah Haekal yang langsung diam disebelahnya. Melihat Haekal yang terfokus pada ponsel namun tak ada yang lelaki itu lakukan. “Lo kenapa?” tanya Reon sembari menyenggol bahu Haekal.

Haekal menoleh, menatap Reon dengan sebelah alis yang terangkat “Kenapa apanya? Gue gpp. Cuman capek doang. Pegel.” Ujar Haekal dengan wajah yang berusaha meyakinkan. Walaupun didalam lubuk hatinya, lelaki itu berharap Orelyn datang untuk mengucapkan selamat.

“Yaelah, masih aja lo bohong ke kita. Orelyn ya?” Jemian menaikan sebelah alisnya, menatap Haekal yang tiba-tiba saja tersenyum dan berdecih pelan.

“Mending lo berdua makan. Nyobain roti gue. Gih kedalem.”

Jemian dan Reon mendengus dengan kesal. Mereka berdua berdiri dari duduknya, memilih untuk masuk kedalam karna menahan lapar sejak tadi pagi. Meninggalkan Haekal yang wajahnya berubah murung kembali.

“Aku kira kamu nepatin janji kamu, Rel.” gumam lelaki itu. Tangannya dengan cekatan membuka galeri dan membuka album fotor bersama kekasihnya.

Melihat-lihat banyaknya kenangan yang dibuat sejak kecil. Sejak Haekal dan Orelyn masih menjadi teman, hingga sekarang telah bertunangan. Sebuah kenyataan yang masih Haekal tak percaya.

“Hai. Dengan mas Haekal?” sapaan seorang gadis berambut panjang yang di kuncir kuda itu membuat Haekal menoleh.

Lelaki itu berdiri dari duduknya, mendekati perempuan yang berdiri sekitar satu meter dari dirinya.

“Rel? Loh? Kok kamu disini?” tanya Haekal dengan bingung. Ia mengusap matanya, takut jika hanya halusinasi karna keinginan Haekal untuk Orelyn datang.

“Gak ah. Orelyn ke Bali. Halu nih gue.” gumam Haekal. Lelaki itu membalikan badannya, melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam toko miliknya. Namun belum sampai lima langkah, Haekal merasakan ada tangan yang mendekapnya dari belakang.

“Ekal, ini aku.” ujar Orelyn dengan bibir yang ia manyunkan. Gadis itu berjalan kehadapan Haekal, memperhatikan wajah Haekal yang terlihat bingung sekarang.

“Kal, sadar. Orelyn ke Bali, gak mungkin ad-”

cup-!

Satu kecupan di pipi Haekal mendarat bergitu saja. Haekal mematung di tempat, memberikan ekspresi terkejut yang membuat Orelyn tertawa gemas.

“Haekal! Ini aku ih! Masa gak percaya? Udah aku cium padahal.” Orelyn berujar dengan sedikit rengekan didalam kalimatnya. Gadis itu memanyunkan bibirnya, menatap kesal kearah lelaki yang telah menjadi tunangannya sekarang.

Dengan gerakan yang cepat, Haekal mendekap tubuh Orelyn dengan erat. Banyak pasang mata yang melihatnya, menyaksikan sebuah kegemasan dari Orelyn dan Haekal.

“Katanya kamu ke Bali?! Kok tiba-tiba disini?! Jelas aku gak percaya lah!” tutur Haekal dengan nada kesal tetapi lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

Orelyn tertawa dengan pelan, gadis itu membalas pelukan Haekal. Membenamkan wajahnya pada bahu lebar milil Haekal.

“Aku cuman bercanda. Mau bikin kamu ngambek, eh ternyata beneran ngambek. Mana gak chat aku dari pagi.” ujar Orelyn dengan nada kesal diakhir kalimatnya. Gadis itu melepaskan pelukannya perlahan, menatap Haekal yang memanyunkan bibirnya.

“Jahat ah. Masa bohongnya bikin aku sedih? Aku jadi gak mood tau dari pagi.” Haekal merengek layaknya anak kecil. Banyak yang tertawa dengan gemas. Sedangkan Reon dan Jemian menatap jijik kearah temannya.

“Temen lo tuh, Jem.”

“Amit-amit.”

Haekal menatap kearah sekitarnya, bahkan lelaki itu lupa sedang berada di keramaian sekarang. Menggaruk tengkuknya dengan rasa malu yang ia rasakan.

“Kenapa? Malu ya? Makannya jiwa bayinya di simpen dulu, tunggu kita nikah aja. Yang bisa liat jiwa bayi kamu itu cuman aku.” ujar Orelyn sembari memainkan jaket yang digunakan oleh Haekal.

Lelaki itu tersenyum lebar saat mendengar kata menikah. Haekal memeluk pinggang Orelyn, menatap wajah gadisnya yang terkejut karna gerakan tiba-tiba dari Haekal.

“Bulan depan, kita nikah ya?” ucap Haekal dengan senyuman di bibirnya.

Orelyn menatap Haekal dengan tatapan yang terkejut, gadis itu mengerjap beberapa kali, berusaha mengatur degup jantungnya yang begitu kencang.

“Sayang? Gimana?” tanya Haekal sekali lagi. Orelyn melebarkan senyuman di bibirnya, ia mengusap pipi Haekal lalu mengangguk dengan mantap.

“Beneran?! Yes!” Haekal memeluk Orelyn dengan erat, menggendong gadisnya lalu berputar beberapa kali hingga bahunya di pukul oleh Orelyn.

“Haekal!! Nanti jatuh!!”

“Biarin! WOI! GUE NIKAH WOI! DATENG YA KALIAN!” Haekal menurunkan Orelyn dari gendongannya. Menyebarkan kabar gembira dengan semangat. Mengajak Orelyn untuk masuk kedalam tokonya.

Hari itu, mereka semua merayakan grand opening toko roti milik Haekal dengan rasa yang bahagia. Mengikut sertakan kebahagiaan yang Haekal rasakan. Menjadi saksi dimana Haekal berteriak dengan gembira karna akan menikahkan cinta pertamanya.

Banyak orang yang selalu membicarakan tentang cinta pertama yang akan selalu gagal. Namun, Haekal berhasil mematahkan itu semua. Tidak ada sesuatu yang gagal jika kita tidak berusaha. Tidak ada sesuatu yang gagal jika memang jalannya.

Jodoh, rezeki, maut, kehidupan, semuanya telah diatur oleh Tuhan. Sekarang Haekal hanya perlu berusaha lebih keras.

Membahagiakan Orelyn dan mengantarkan gadis itu pada hidup yang damai.

Jo menangis dengan keras dibawah guyuran hujan. Ia menyesal, sangat menyesal atas perbuatannya. Ia sungguh tak bisa mengendalikan amarahnya dan selalu melampiaskan kepada anak manisnya.

Dan sekarang Jo kembali merasa kehilangan. Ia merasa sangat jahat karna sudah membunuh anak yang seharusnya ia jaga. Ia tak pantas di sebut Papa oleh kedua anaknya yang sudah pergi.

Seharusnya ia menerima kepergian Raden. Seharusnya ia menerima takdir tuhan. Seharusnya ia menjaga anak yang sudah di takdirkan oleh tuhan.

Dan kini penyesalannya hadir. Jo di bawa oleh beberapa polisi. Meninggalkan makam dan juga surat yang di tuliskan oleh Narendra.

Narendra terduduk lemas di gudang yang sekarang menjadi tempat istirahatnya. Air matanya mengalit saat tau satu kenyataan pahit yang tidak pernah ia fikirkan. Kenyataan bahwa ia adalah anak yang di buang dan di pungut oleh Jo.

Sakit. Hati Narendra sangat sakit sekarang. Lebih sakit dari permainan tangan Jo selama ini. Demi apapun, Narendra ingin menyerah pada kehidupan. Tak sanggup bertahan jika harus hidup dengan di selimuti pahit dan kekejian dari sang Papa angkatnya.

Sekarang ia tau, mengapa Johnny sangat marah setelah kecelakaan itu. Sekarang ia tau semua alasannya. Dan alasan itu yang membuat Narendra ingin menyerah.


Narendra terbangun saat pintu kamarnya di buka dengan kasar. Kesadarannya belum sepenuhnya penuh namun tangan Johnny sudah menyeret Narendra ke lantai.

Kembali, tangan Jo kembali terulur untuk melukai anaknya. Johnny kembali meluapkan amarah kepada anak angkatnya itu.

Yang Narendra lakukan hanya diam. Tubuhnya seakan mati rasa kepada luka. Tak dapat lagi tubuh itu merasakan sebuah sentuhan. Bahkan matanya tak dapat lagi mengeluarkan air mata. Semua kenyataan itu membuatnya ia mati rasa. Melupakan bagaimana rasanya di sentuh dan juga di perlakukan kasar.

Matanya terpejam saat Johnny menginjak dadanya dengan kuat. Pasukan oksigen yang ia rasa langsung berkurang dengan banyak. Ia tak bisa bernafas, tetap Narendra tetap diam. Membiarkan nafas terakhirnya di renggut oleh Papanya.

Narendra ingin beristirahat, Narendra ingin kembali merasakan damainya kehidupan, Narendra sudah lelah sekarang. Narendra memilih menyerah, memilih untuk diam dikala malaikat mencabut seluruh pasukan oksigennya. Merasakan sakit saat sekujur tubuhnya tak bisa merasakan kembali oksigen yang di berikan tuhan.

Perlahan mata itu terpejam, dibawah kekerasan sang papa yang di lakukan.

Narendra terbangun, matanya mengerjap berusaha menyamakan cahaya yang masuk kedalam indra pengelihatannya. Sekujur tubuhnya sakit, sangat sakit hingga ia langsung meringis saat bergerak sedikit saja.

Matanya mengedar, mencari sang Papa dan juga kakaknya. Namun mereka berdua tak ada di ruangannya. Tak biasanya. Pikir Narendra.

Biasanya saat Narendra membuka mata sang Papa akan duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan lelaki itu. Memberi usapan lembut dan juga kecupan pada kening Narendra. Tetapi sekarang Narendra merasa aneh. Tidak ada Papa atau Raden yang menemaninya disini. Keduanya tak menggenggam atau mengusap dengan lembut rambutnya. Tak ada kata-kata penenang yang ia dengar.

Dan malam itu Narendra sadar. Papanya telah berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan.


Sudah 3 bulan berlalu. Sekarang Narendra seperti pembantu dirumahnya sendiri. Yang setiap hari Narendra lakukan adalah membersihkan rumah dan juga terbujur karna di pukuli oleh Papanya.

Narendra menghela nafas pelan. Dadanya terasa sakit, dan juga hatinya lebih sakit. Papanya berubah. Papanya yang penyayang kini berubah menjadi monster yang paling mengerikan. Selama beberapa bulan ini ia tak berani menanyakan apa alasannya. Namun malam ini ia akan bertekad, memberi pesan imassage kepada Papa kesayangannya itu.