Kakdoyiiee

Tangisan yang terdengar sejak satu jam yang lalu perlahan mehilang, digantikan dengan tatapan kosong gadis yang berada dipelukan Tama.

“Aletta, tenang ya?” tangan Tama mengusap rambut Kara dengan perlahan. Berusaha menenangkan gadis yang bersandar dibahunya.

“Tama, saya gak mau Jevan pergi. Kenapa takdir saya jahat, Tama? Kenapa takdir saya selalu memisahkan saya dengan Jevan? Saya ingin berkata 'ya' kembali. Saya ingin menerima Jevan kembali. Tapi mengapa Jevan terpejam sebelum saya berkata 'ya'? Kenapa, Tama?”

Cercaan pertanyaan dari Kara tak mampu Tama menjawabnya. Lelaki itu bukan Tuhan, ia hanya makhluk yang diciptakan dengan Tuhan yang sama dengan Kara.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian gadis itu. Kara berdiri, menghampiri dokter yang sarung tangannya berulumuran darah.

“Dokter, gimana keadaan Jevan? Dia baik-baik aja kan?” tanya Kara dengan penuh harap. Tama merangkul gadis itu, bersiap untuk menumpu jika Kara menerima kabar buruk.

Dokter yang melihatnya merasa tak tega, namun ia juga harus menyampaikan hal yang penting.

“Maaf. Pasien atas nama Jevan tidak bisa kami selamatkan. Pasien meninggal sebelum sampai dirumah sakit.”

Ucapan dokter membuat kaki Kara berubah lemas. Gadis itu perlahan terjatuh namun ditahan oleh Tama.

Pikirannya berubah kosong. Kepergian Jevan untuk kedua kali adalah suatu takdir yang tidak Kara harpakan. Ditinggalkan Jevan bukanlah kemauannya. Dan perpisahan dengan Jevan bukanlah keinginannya.

Setelah mendapatkan pesan dari Carolline, dengan kecepatan tinggi Tama mengendarai mobilnya menyusul Kara yang sudah berada di Café Neo. Lelaki itu menatap waswas dan cemas, pikiran buruknya sudah mulai berkecamuk.

Tama memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Lelaki itu dapat melihat Kara yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya dimeja luar Café. Dengan segera Tama turun dari mobil, menghampiri Kara dan langsung memeluk gadis itu.

Kara terkejut. Matanya membulat saat dengan tiba-tiba Tama memeluknya. Gadis itu mematung di tempat.

“T-tam?”

“Aletta, saya cemas. Kata Carolline dia akan menyelakai kamu sekarang juga.” ujar Tama dengan suara pelan. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

Tanpa mereka sadar, dibelakang Kara sudah ada Jevan yang berdiri sambil memegang sebuket bunga mawar putih. Bunga kesukaan Kara sejak dulu.

Matanya menatap cemburu kearah Tama yang memeluk Kara. Hatinya berdesir tak terima sebab wanita yang dicintainya telah berada didekapan orang lain. Bahkan dapat dengan jelas Jevan melihat Kara dipeluk dengan sangat erat.

“Kara, ternyata ini ya jawaban kamu?” gumam Jevan tersenyum miris.

Lelaki itu membalikan badannya, ingin melangkah pergi namun niatnya harus ia urungkan saat tak sengaja melihat lelaki dengan jas hitam menodong sebuah pistol. Jevan mengikuti arah pistol itu, matanya membulat saat melihat pistol itu mengarah ke Kara.

Dengan cepat Jevan berlari, ia berdiri persis dibelakang punggung Kara. Menatap Tama dan juga Kara yang berpelukan tepat didepannya.

Dor-!

Sampai suara dentuman keras membuat Kara dan Tama tersentak. Kara menoleh kebelakang, mendapati Jevan yang berdiri sambil tersenyum. Membuat mata Jevan semakin terlihat sipit.

“Jevan?” Kara ingin mendekati Jevan, namun lelaki itu langsung tumbang dengan punggung yang mengeluarkan banyak darah.

“Jevan!”

Kara berteriak, ia langsung duduk dan mengangkat kepala Jevan. Tangannya tak sengaja menyentuh punggung Jevan membuat lelaki itu meringis sakit.

“J-jev.” suara Kara terdengar gemetar. Diikuti oleh tangan gadis itu yang nampak gemetar takut melihat darahnya.

Jevan tersenyum tipis, dengan susah tangan Jevan menggenggam tangan Kara. Walau tidak erat, namun rasa dingin dari tangan itu dapat Kara rasakan.

“K-kara... aku... ba-wa mawar p-putih.” ujar Jevan dengan terbata.

Kara melihat sekitarnya. Tangan kanannya dengan perlahan mengambil sebuket bunga mawar putih yang sudah berubah berwarna merah.

“M-maaf ya? Mawar... shhh... mawarnya jadi j-jelek.”

Kara menatap lelaki yang berada dipangkuannya. Gadis itu mulai terisak. Ia tak perduli akan bunga mawar yang sudah berubah warna. Yang Kara inginkan adalah Jevan bertahan untuk sekarang.

“Jevan, bertahan ya? Aku janji, kalau kamu sembuh, aku bakalan terima kamu lagi. Jevan, bertahan oke? Ayo kita buat kisah yang baru dan lebih baik. Jangan tinggalin aku, Jevan.”

Kara memeluk Jevan dengan erat. Gadis itu semakin terisak mendengar Jevan yang terus meringis dan juga darah yang terus keluar dari punggung Jevan.

“K-kara... bahagia ya c-cantik?”

Kara menggeleng dengan keras. Ia tak mau mendengar kalimat yang membuatnya takut kehilangan.

“Jevan, bahagia aku sama kamu. Jangan tinggalin aku. Aku mohon.”

“Kara... i love you.”

Selama empat tahun, Jevan memandangi langit yang dipenuhi bintang hanya sendirian. Namun sekarang, lelaki itu duduk didekat danau sambil memandangi bintang bersama seorang gadis yang sudah empat tahun Jevan cari.

“Bagus gak?” tanya Jevan sambil tersenyum.

Gadis itu tersenyum, matanya sedikit menyipit karna terdorong oleh pipinya.

“Bagus, aku suka. Bulannya juga terang banget.” ujar Kara dengan senang.

Tangan Jevan terulur untuk merangkul bahu gadis itu, namun ia urungkan saat tangannya merasakan rintikan kecil hujan.

“Ra, mau hujan. Ayo ke mobil.” ajak Jevan, lelaki itu menarik tangan Kara untuk membantu Kara berdiri.

Terlihat jelas wajah Kara yang berubah kecewa. Bintang dan juga bulan yang indah itu tertutup oleh awan mendung dengan cepat.

*“Padahal baru sebentar.” Gumam gadis itu dapat di dengan orang Jevan.

Jevan tersenyum tipis, ia membukakan pintu mobil untuk Kara. Setelah Kara masuk, dengan cepat Jevan menyusul Kara kedalam mobil.

“Maaf ya. Aku gak tau kalau hari ini bakalan hujan.” ujarnya dengan rasa tak enak.

“Bukan salah kamu. Kamu bukan Tuhan, wajar kalau kamu gak tau.”

Jevan tersenyum. Lelaki itu mengambil sesuatu yang berada ditasnya. Mengambil sebuah lampu bulat yang memiliki lubang kecil diatasnya.

“Kara, liat.”

Jevan menaruh lampu itu diantara Kara dan dirinya. Tangannya menekan tombol power hingga lampu itu menyala. Dan langit-langit mobil menangkap gambar Galaxy dari lampu tersebut.

Gadis itu tersenyum, matanya memperhatikan langit-langit mobil hingga kebelakang mobil. Kara menatap takjub cahaya lampu yang bisa membuat mobil Jevan penuh dengan gambaran Galaxy yang bergerak.

“Jev, ini bagus banget.” ujar Kara dengan senang.

“Kamu mau lampunya? Kalau mau aku kasih ini buat kamu.”

“Beneran?!”

Jevan mengangguk. Kara bertepuk tangan senang layaknya anak kecil yang diberi permen oleh ibunya. Lelaki itu terkekeh melihat tingkah laku sang mantan.

Matanya tak berhenti menatap Kara yang masih saja tersenyum sambil memperhatikan lampu yang baru saja ia berikan. Sampai Jevan mengingat satu lagu yang mungkin cocok untuk dirinya dan Kara.

“Kara, dengerin lagu ini.” Jevan mengambil ponselnya. Tangannya dengan cepat memasang sebuah potongan lagu untuk Kara.

Akhirnya kita bersama Setelah menanti lama Semoga selalu terjaga Waktu telah berbicara Menanti tak sia-sia Karena kau yang kini ada Sangatlah berharga

Kara tersenyum. Gadis itu merebut ponsel Jevan dari tangan Jevan, membuat lelaki itu menatap bingung.

“Dengerin.” Kara memegang ponsel Jevan, gadis itu ikut memasang potongan lagu untuk lelaki dihadapannya.

Jika nanti kau ingin aku lagi Kejarlah sekuat tenaga Jika kau ingin hati ini lagi Rayulah sekuat tenaga

Jevan terdiam. Ia sangat paham apa yang dimaksud dari potongan lagu ini. Apakah Kara meminta Jevan untuk berjuang kembali?

Langit yang dipenuhi bintang dan diterangi oleh bulan membuat Kara sangat betah melihat kearah langit melalui dinding kaca Café. Gadis itu meminum secangkir coffee hangat untuk menghangatkan malam yang terasa dingin.

Suara lonceng dari pintu Café entah mengapa bisa mengalihkan atensi Kara. Dipintu, Kara dapat melihat lelaki yang sejak lima menit yang lalu Kara tunggu. Lelaki yang berhasil membuat detak jantung Kara berdetak dengan hebat.

“Hai... Kara.” sapa Jevan dengan ragu. Lelaki itu menarik kursi yang ada dihadapan Kara, lalu duduk dengan rasa ragu yang ia rasakan.

“Kara, aku...aku minta maaf sama kamu.” ujar Jevan, lelaki itu menunduk dengan rasa bersalah.

“Selama empat tahun aku-”

“Aku tau. Aku udah baca 40 ribu pesan yang kamu kirim.”

Ucapan Kara tentu membuat Jevan terkejut. 40 ribu pesan itu tidak sedikit, tapi dengan waktu sebentar Kara dapat membacanya.

“Aku udah maafin kamu dari lama, aku sama sekali gak marah sama kamu, Jev. Cuman rasa takut aku yang buat aku kehilangan kebaikan aku ke kamu. Rasa takut aku yang buat aku pergi dari kehidupan kamu.”

“Jevan, sekali pun aku gak pernah benci sama kamu. Aku gak pernah berharap dan berdoa sesuatu yang buruk ke kamu. Aku cuman jalanin waktu untuk nyembuhin luka aku. Aku kira dengan aku ketemu sama kamu lagi rasa takut aku akan lebih besar. Ternyata aku salah. Aku mau selesaikan ini semua, Jev. Aku gak mau kita berakhir dengan kata dan perasaan benci.”

“Kara, maksud kamu...kamu mau berdamai sama aku?”

“Aku mau. Tapi kalau untuk kembali berhubungan, maaf. Aku masih takut buat jalanin itu.”

Jevan tersenyum, lelaki itu reflek berdiri dan langsung memeluk Kara hingga membuat gadis itu terkejut.

“Kara, terima kasih banyak. Terima kasih karna tetap menjadi malaikat walau bajingan ini nyakitin kamu.”

Kara tersenyum, gadis itu membalas pelukan Jevan secara perlahan.

“Sama-sama. Aku harap aku wanita terakhir yang kamu abaikan.”

Jevan melepaskan pelukannya, lelaki itu menatap lekat mata Kara.

“Kamu mau jalan sama aku? Sebagai tanda terima kasih aku. Aku bakalan turutin kamu malam ini. Gimana?”

Sejak tadi, fokus Kara sudah tidak bisa di kontrol. Gadis itu tidak bisa mengikuti perintah Geano. Dengan satu alasan, Jevan menjadi pendampingnya.

“Aletta! Ayo fokus!” teriak Geano dengan kesal.

Kara mengangguk, gadis itu membuang nafasnya berkali-kali. Berusaha menghilangkan rasa takut yang sudah menjalar.

“Sorry, sir.”

“Ayo dong. Peluk leher Pak Jevan, terus saling tatap. Saya gak mau hari ini berantakan.” ujar Geano yang sudah mulai kesal.

Kara membalikan badannya, matanya memilih untuk menunduk, sedangkan tangannya masih diam dalam keraguan.

“Aletta!” teriak Geano.

Kara tak menjawab apapun, tangannya dengan perlahan mengangkat untuk memeluk Jevan. Dengan cepat Jevan membantu tangan Kara untuk melingkar di lehernya.

“Ra, kamu bisa. Anggap aku orang asing buat kamu.” bisik lelaki itu sambil memperhatikan Kara yang masih menunduk.

“Kara...

Suara lembut Jevan berhasil membuat pandangan Kara terangkat perlahan. Gadis itu menatap mata sipit Jevan yang sedikit menghitam. Bisa Kara tebak, Jevan tidak banyak istirahat.

“J-jev...”

“I miss you.”

“I really miss you, Karana.”

Jevan tersenyum tipis, lelaki itu memeluk pinggang Kara dengan erat. Ingin sekali Kara membalas kalau ia juga merindukan Jevan, namun rasa takutnya sekarang lebih mendominasi.

“Kara, bisa kita bicara nanti?”

Ruangan yang dipenuhi dengan cahaya penerangan dan juga cahaya kamera serta orang yang berlalu lalang tidak dapat mengganggu konsentrasi dari gadis yang menjadi objek utama dalam pemotretan.

Kara, gadis itu terus merubah gaya sesuai yang diperintahkan. Matanya yang sudah kebal dengan cahaya yang banyak membuat gadis itu tidak merasa terganggu sama sekali.

“Good Job, Aletta!” puji salah satu lelaki yang dari tadi memperhatikan Kara dibelakang monitor.

Kara tersenyum, gadis itu mendekati lelaki yang terus memantaunya—Geano.

“Thank you, sir.” ujar Kara tersenyum tipis. Gadis itu berjalan kearah ruang ganti.

“Nanti bakalan ada pemotretan sama salah satu CEO perusahaan.” teriak Geano.

Kara tak menjawab, gadis itu sibuk mengganti pakaian dan penampilannya.

Kara berdecak. Sudah tiga puluh menit pemotretan ditunda karna model lainnya belum datang.

“Mana sih? Kok lama banget?” tanya gadis itu yang sudah mulai kehilangan moodnya.

“Eee...sebentar ya, cantik.” ujar Geano dengan khawatir. Karna jika Kara sudah kehilangan suasana hati baiknya, gadis itu akan enggan untuk mengikuti pemotretan.

Tak berselang lama, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Geano dan juga Kara. Lelaki berpakaian formal abu-abu membuat ia terkesan gagah dan tampan.

“Maaf, saya telat.” ujar lelaki itu.

Kara terdiam, tangannya berubah gemetar saat ia melihat siapa yang akan menjadi rekan modelnya.

“J-jevan?”

Suara dentuman musik yang cukup keras memenuhi kediaman keluarga Adityama. Jevan hanya memperhatikan dari lantai dua, merasa malas karna terlalu banyak nya tamu dan juga suara musik yang sangat tidak santai.

Sedangkan dibawah terdapat Almara yang baru memasuki kediaman keluarga Adityama. Gadis itu memakai dress putih yang terlihat sangat cantik dan elegan. Dan juga rambutnya yang hanya di kuncir setengah. Membuat gadis itu terlihat lebih segar dari biasanya.

Jevan lebih memilih untuk turun kebawah, menghampiri Almara yang nampak sendirian.

“Al, keluarga lo mana?” tanya Jevan setelah mendekati gadis itu.

Almara menoleh, lalu tangannya menunjuk Papanya yang sedang berbicara dengan Kakek dari Jevan.

“Disana. Gak tau sama siapa.” jawab Almara dengan entengnya.

Mata Almara melihat sekitar lagi. Masih merasa penasaran dengan isi dari rumah Jevan. Namun matanya malah menangkap seseorang yang pernah mengisi hatinya.

“Darma? Darma diundang?” tanya Almara sambil terus memperhatikan Darma yang meneguk minuman berwarna.

“Orang tua Darma kan rekan bisnis kakek gue juga. Kakek gue yang lagi ngobrol sama bokap lo.” Jevan mendengus, ia mengajak gadis itu untuk menghampiri Kakeknya.

Kakek Jevan menoleh saat menyadari ada yang datang. “Nak Almara sudah kenal dengan cucu saya?” tanya Kakek Jevan.

Jevan menatap bingung. Bagaimana Kakeknya bisa mengenali Almara.

“Kakek kenal Rara?” tanya Jevan.

Kakeknya tersenyum tipis, ia merangkul Jevan layaknya mereka berdua akrab.

“Almara ini adalah wanita yang ingin Kakek jodohkan ke kamu, Jevan.”

Ucapan Kakeknya jelas membuat Jevan dan Almara terkejut. Almara menggeleng, otaknya sedang mencari cara supaya tidak ada perjodohan antara dirinya dan Jevan.

Sampai mata Almara menangkap Darma yang berdiri tak jauh didirinya. Almara menghampiri Darma dan langsung menarik lelaki itu hingga membuat Darma terkejut.

“Maaf, tapi saya menolak perjodohan ini. Jevan mempunyai pacar, dan saya mempunyai calon tunangan.”

Ucap Almara tanpa berpikir dua kali, membuat Darma mematung dibelakang Almara.

Suara isakan Kara terdengar dengan sangat kecil dan sesak. Gadis itu menangis didalam kamarnya sambil memperhatikan twittan Jevan tentang Gracia. Kara tau itu menyakitkan, namun gadis itu tetap membacanya hingga bawah.

Ponselnya terus saja bergetar karna Jevan terus mengirim pesan dan menelponnya. Namun Kara tidak menjawab, rasanya hanya membaca nama Jevan saja sudah berhasil membuat hatinya tergores lebih banyak.

Secara tiba-tiba pintu kamar Kara dibuka oleh seseorang, membuat Kara langsung menghapus air matanya dan menoleh kearah pintu.

“Kenapa, teh?” tanya Kara berusaha menstabilkan suaranya.

“Ada pacar kamu diluar. Temuin gih. Kasian kedinginan kayaknya.” ujar teman Kara.

Kara terdiam. Hatinya tidak siap untuk melihat wajah sang pemberi luka. Namun mau tidak mau Kara harus menemui Jevan untuk membicarakan semuanya.

Sejak tadi Jevan menatap bersalah kearah Kara yang matanya terlihat sembab dan bengkak. Sangat terlihat jelas gadis itu sedang tidak baik-baik saja.

“Ra-”

“Kita udah gak ada apa-apa, Jev. Gue harap lo paham.” ucap Kara memutuskan omongan Jevan.

Jevan terdiam. Hatinya terasa sakit saat Kara berucap dengan serius tentang berakhirnya hubungan mereka. Jevan ingin mendekati Kara, namun gadis itu langsung mundur seolah Jevan adalah makhluk yang akan memakannya.

“Jev, cukup.” suara Kara terdengan gemetar, menahan takut karna adanya Jevan didekatnya.

“Kara, aku min-”

“Aku kira dua tahun itu waktu yang cukup buat kamu lupain Cia. Ternyata semua harapan aku terlalu tinggi, Jev.” Kara terisak kecil, gadis itu menunduk sambil memukul dadanya yang terasa sesak.

“Dua tahun, Jev. DUA TAHUN JEVAN! DUA TAHUN AKU BERHARAP BISA BAHAGIAIN KAMU! DUA TAHUN AKU BERHARAP HUBUNGAN INI BERTAHAN DENGAN LEBIH LAMA! DUA TAHUN AKU MAKAN HATI KARNA KAMU TERUS-TERUSAN PRIORITASIN CIA! DUA TAHUN RASA SAYANG AKU SEDALAM INI, JEV!”

Emosi Kara meluap dengan cepat. Nafas gadis itu semakin memburu, isakannya semakin keras. Bahkan pukulan di dadanya tetap ia lakukan.

“Jevan, menjauh. Aku capek. Aku capek selalu begini. Aku mohon, Jevan.”

“Jevan, aku selalu sakit hati. Aku selalu berharap ini itu. Jangan buat aku berharap lagi, aku mohon. Aku sakit Jevan. Perasaan aku sakit, hati aku sakit. Aku mohon sama kamu.”

Kara menunduk, gadis itu terisak dengan keras membuat hati Jevan terasa sakit. Jevan merasa bersalah, ia merasa sangat bodoh. Jevan merasa dirinya sangat tidak layak untuk di cintai siapapun.

Dengan perlahan, gadis itu mundur. Menjauhi Jevan layaknya monster yang akan menerkam. Lalu menutup pintu utama dengan sangat keras.

Kara membiarkan Jevan datang tanpa memberikan sebuah penjelasan. Kara membiarkan Jevan berdiri tanpa mengucapkan kata maaf.

Jevan sadar, lelaki itu telah memberikan luka yang mendalam untuk Kara. Jevan sadar bahwa ia tak pantas untuk mendapatkan cinta yang tulus.

Karna Jevan yakin, ia adalah manusia pemberi luka yang sesungguhnya.

Terik matahari pada hari minggu siang membuat Jevan enggan bangun dari tidurnya dipangkuan Kara. Lelaki itu sedari tadi sibuk mengotak atik handphone kekasihnya karna ponselnya sesang diisi daya.

Kara terus mengusap rambut Jevan. Ingin melihat apa yang Jevan lakukan namun sayangnya lelaki itu baring menghadap Kara sehingga ponsel Kara hanya terlihat bagian belakang saja.

“Kamu ngapain sih, Jev?” tanya Kara penasaran.

Jevan tidak menjawab, lelaki itu bangun dari posisi baringnya setelah mengirim beberapa twit lewat hp Kara. Lalu Jevan menaruh ponsel Kara samping gadis itu.

“Ada playlist, kamu buka ya. Tapi jangan buka twitter. Besok karna kita Anniv buat kedua tahun aku mau kita jalan-jalan ya? Sebentar, aku mau ambil cemilan sama liat batrai handphone aku dulu.” ujar Jevan turun dari ranjang lalu keluar dari kamar Kara.

Kara mengambil ponselnya. Membuka sebuah playlist yang Jevan katakan tadi. Bibirnya perlahan tertarik membentu sebuah senyuman.

Selama enam bulan, Jevan berhasil membuat Kara selalu berada diatas langit yang tinggi.

“Ra, kita ini dua manusia yang nggak seharusnya bersama dan nggak akan pernah bisa bersama.”