Kakdoyiiee

“Ra, kita ini dua manusia yang memang seharusnya dan nggak akan pernah bisa bersama.”

Sudah 30 menit berlalu, sedangkan posisi Jevan tidak berubah. Kepalanya ia tidurkan di paha Kara, sedangkan tangannya memeluk pinggang gadis itu.

Hatinya terasa berantakan saat ia mendapat pesan menyakitkan dari Gracia. Malamnya kembali hancur saat kembali mendengar Gracia akan pergi jauh dari dirinya. Jevan pergi ke Bandung untuk menemui Gracia dan kuliah. Tetapi Gracia kembali lagi pergi meninggalkan dirinya.

Kara tidak mengetahui apa yang membuat Jevan seperti sekarang. Tubuh yang lemas, kamarnya yang bau rokok, dan gitar yang tergeletak sembarang. Gadis itu cemas, takut jikat Jevan mengalami hal yang berat semalam. Ia merasa bersalah karna menolak ajakan Jevan untuk dinner bersama.

“Jev, makan ya?” bujuk Kara untuk ketiga kalinya.

Jevan menggeleng, ia mengeratkan pelukannya. Entah karna kehilangan atau sebagai tempat pelampiasan ketenangan.

Suara langkah kaki tak beraturan mendekati Darma yang duduk dengan wajah datar didepan ruang rawat. Wajah lelaki itu terlihat cemas karna kekasihnya mengalami kecelakaan hingga membuat mobilnya hancur.

“Dar, Kara gimana ke-”

Bugh-!

Belum sempat Jevan menyelesaikan ucapannya, Darma lebih dulu menonjoknya dengan kencang hingga membuat Jevan jatuh ke lantai.

“Lo beneran mau bunuh Kara? Iya?!” tanya Darma dengan geram.

Jevan bangun perlahan, ia menghapus sudut bibirnya yang berdarah.

“Demi Tuhan gue gak suruh petugas bengkel buat chat Kara dan minta dia buat ambil mobil gue.”

“Tapi petugasnya bilang kalo lo yang nyuruh sialan!”

“Kalo gue mau bunuh Kara udah gue bunuh dari dulu brengsek!”

Nafas Jevan dan juga Darma saling memburu. Mereka sama-sama memiliki emosi yang sudah berada diujung tanduk.

“Darma, Jevan, jangan ribut.” suara lemah seorang perempuan mengalihkan atensinya kepada Kara keluar ruangan dengan kursi roda.

Jevan langsung mendekati Kara, ia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Kara.

“Kara, kamu baik-baik aja kan? Lukanya ada yang serius? Kenapa keluar? Kamu harus dirawat dulu, sayang.” ucap Jevan dengan perasaa yang sungguh khawatir.

Kara tak langsung menjawab, gadis itu lebih memilih untuk menunduk. “Jev, maaf. Mobil kamu rusak karna aku.”*

“Bukan salah kamu, sayang. Nanti aku bilang ke petugas bengkel supaya cari tau siapa yang nyuruh kamu buat ambil mobilnya ya? Demi Tuhan bukan aku yang suruh kamu.”

Kara menatap Jevan dengan tatapan bersalah, gadis itu langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Mengabaikan rasa pusing dikepalanya.

“Kamu gak perlu dirawat kan? Kita pulang ya? Ayo.” Jevan melepaskan pelukannya dengan perlahan.

“Gue anter. Gue yakin lo gak bawa mobil.” ujar Darma lalu pergi ke parkiran terlebih dahulu.

“Cepet sembuh ya, sayang.”

Jevan mencium kening Kara dengan perlahan membuat gadis itu tersenyum. Dengan erat Kara menggenggam tangan Jevan walau lelaki itu mendorong kursi rodanya.

Hati Kara berubah menghangat saat diperlalukan lembut oleh Jevan. Namun, belum tentu Kara berhasil meluluhkan hati kekasihnya. Kara yakin masih ada nama Cia didalam hati itu.

Jevan membuka gerbang kosan Darma. Lelaki itu menyalakan senter dari ponselnya karna tidak ada penerangan sama sekali. Jevan menatap bingung kearah sekitar, sedikit merinding karna suasana yang sangat sepi.

Matanya melirik sekitar, semua pintu kamar tertutup rapat tetapi hanya ada satu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Kamar Darma.

Jevan melangkah perlahan, matanya melihat was was kekanan dan kekiri. Tangannya mendorong pintu kamar Darma dengan perlahan. Gelap. Satu kata yang reflek Jevan ucapkan.

“Dar? Kara mana?” tanya Jevan melihat sekitar kamar Darma.

Dengan tiba-tiba semua lampu menyala dan juga suara terompet membuat Jevan tersentak karna terkejut. Jevan menoleh kebelakang, mendapatin Darma, Kara dan Nathan yang menyanyikan sebuah lagu.

“Selamat hari jadi. Selamat hari jadi. Selamat hari jadi, Jevan. Selamat hari jadi.”

Jevan menatap bingung ketiganya. Setaunya bukan hari ini Jevan berulang tahun.

“Aku bukan ulang tahun hari ini, Ra.” ujar Jevan dengan santai.

Wajah Kara langsung berubah murung dengan cepat. Senyumnya berubah dengan senyum yang dipaksa.

“Kata kamu setiap enam bulan sekali kita rayain hari jadi kita, Jev?”

Ucapan Jevan membuat ia sadar bahwa sekarang adalah hari jadi mereka ke satu tahun enam bulan. Jevan meringis pelan, ia merasa bodoh karna lupa dengan ucapannya sendiri.

“Sayang, maaf ya? Kita tiup lilinnya bareng-bareng.” ujar Jevan dengan nada yang tak enak.

Kara mengangguk pelan, mereka langsung meniup lilin yang berada diatas kuenya hingga padam.

“Selamat atas kebodohan lo.” ucap Nathan tak bersuara dengan senyum sinisnya.

Jevan tidak menghiraukan Nathan sama sekali. Lelaki itu lebih memilih untuk memeluk Kara. Memeluk gadisnya dengan sangat erat dan membisikan sebuah kalimat selamat hari jadi untuk kekasihnya.

Kara tak menjawab. Wajahnya berubah murung dibalik pelukan yang Jevan berikan. Hatinya kembali nyeri saat mengetahui Jevan lupa dengan tanggal jadian mereka. Bahkan Jevan lupa dengan ucapannya sendiri. Bahwa lelaki itu ingin setiap enam bulan sekali mereka merayakan hari jadiannya.

Namun untuk yang ketiga kalinya. Lagi dan lagi Jevan lupa dengan hari jadi mereka.

Langkah kaki besar milik Jevan berjalan dengan cepat menyusul Kara yang sudah hampir memasuki gerbang. Lengan gadis itu langsung ditarik dengan cepat oleh Jevan, sedangkan tubuhnya langsung didekap dalam dekapan Jevan.

Kara yang sudah menahan tangisnya harus pecah dalam pelukan lelaki itu. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sakit yang ia tahan selama hampir setahun belakangan. Rasanya semua pertahanan milik Kara telah hancur saat ia melihat sebuah screen shot chat milik Jevan dan juga Cia.

“Ra, dengerin aku dulu.” ujar Jevan sambil mengeratkan pelukannya.

Kara hanya bisa menangis dan terisak. Lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Hatinya juga terlalu lelah untuk menerima Jevan untuk sekarang.

“Ra, aku lagi berusaha. Aku mau kasih seluruh hati aku buat kamu, sayang. Aku tau aku salah, dan bodohnya aku tetep deketin Cia dengan posisi aku itu pacar kamu. Tapi aku sadar Cia bukan buat aku, Ra. Tuhan dengan baiknya kirim kamu ke hidup aku, tapi aku dengan brengseknya nyakitin kamu.”

“Ra, percaya sama aku. Percaya kalau aku bisa sayang sama kamu. Setengah hati aku udah berhasil kamu ambil, Kara.”

“Jevan, aku capek banget.”

Jevan mengeratkan pelukannya saat gadis itu semakin terisak. Dada Jevan terasa sesak saat ia mendengar Kara menangis. Hatinya seperti ikut merasakan apa yang Kara rasakan sekarang.

“Ra, maafin aku. Kasih aku kesempatan kedua kalinya buat tunjukin semua tindakan aku sebagai bukti ke kamu.”

“Jev, aku capek. Tolong menjauh dari aku untuk beberapa hari. Tolong kasih aku ruang untuk memperbaiki semuanya. Sekarang terlalu berantakan untuk bahas ini semua, Jevan.”

Kara mengahapus air matanya. Dengan perlahan ia melepaskan pelukan lelaki itu.

“Jev, biarin aku menjauh dulu ya? Aku cuman butuh rasa tenang, bukan tekanan yang kamu paksain ke aku. Kasih aku ruang.” ujarnya dengan suara bergetar.

Jevan menatap mata Kara. Mata yang penuh dengan luka. Dan Jevan mengerti, betapa lelahnya Kara dengan hubungan yang mereka bangun.

“Aku tunggu kamu sampai tenang, Ra. Aku bakalan kasih ruang ke kamu. Kalau kamu udah siap buat ngomong lagi, bilang ya? Setelah itu terserah kamu mau lanjut atau terus.”

Dengan perlahan Jevan berjalan mundur. Bibirnya ia tarik sedikit hingga tercipta senyum tipis yang terkesan dipaksakan. Langkahnya membawa seluruh tubuhnya pergi dari kawasan tempat tinggal Kara.

Namun telinganya masih dapat mendengar suara tangisan Kara yang kembali pecah.

Suasana malam dengan sejuk yang menurut Kara tidak terlalu dingin membuat gadis itu berjalan dengan sangat santai tanpa beban. Tangan kirinya sedari tadi di genggam oleh Jevan, sedangkan tangan kanannya ia masukan saku jaket.

“Kamu udah makan malam?” tanya Jevan sambil mengusap rambut Kara.

Kara menoleh, gadis itu berpikir sejenak lalu menggeleng pelan sambil mengulum bibir bawahnya. Membuat Jevan terkekeh gemas melihat wajah Kara.

“Lucunya pacar aku.” puji Jevan sambil mencubit pipi Kara membuat gadis itu tersipu malu.

“Diem ih.” ujarnya dengan salah tingkah.

Jevan tertawa pelan. Matanya mengedar pinggir jalan yang ramai pedagang kaki lima. Lalu matanya menangkap tempat nasi goreng kesukaan dirinya. Lebih tepatnya kesukaan Gracia dan dirinya.

“Mau makan itu gak?” tanya Jevan sambil menunjuk pedagang nasi gorengnya.

Kara diam sejenak, lalu ia mengangguk antusias. “Ayo!”

Jevan tersenyum, ia mengenggam tangan Kara lalu berjalan mendekati penjual nasi gorengnya.

“Mang, dua ya. Nasi goreng spesial. Yang satu pedes yang satu setengah pedes aja.”

Kara tersenyum sambil melihat Jevan yang membawanya ketempat duduk yang kosong.

“Kamu udah pernah makan disini?”

“Udah.”

“Sendiri?”

Jevan terdiam, menimang apakah ia harus berucap jujur atau tidak.

“Iya, sendiri.” Jevan tersenyum tipis. Untuk kedepannya ia benar-benar tidak ingin menyakiti Kara.

Gadis itu mengangguk paham. Ia memainkan tempat tusuk gigi yang berada diatas meja, sesekali memperhatikan Jevan yang sibuk melihat ponselnya.

“Kamu ngapain?”

Jevan sedikit tersentak saat mendengar suara Kara. Lelaki itu menggeleng, ia kembali menaruh hpnya pada saku jaketnya. Membuat Kara menatap curiga.

Namun atensi Kara teralihkan oleh suara notif pesan yang masuk. Gadis itu mengambil ponselnya, melihat pesan yang diberikan oleh seseorang yang mampu dirinya diam dengan suasana hati yang berubah berantakan.

Darma berjalan dengan cepat mendekati Jevan yang bersandar pada dinding yang ada dibelakangnya. Lelaki itu ingin menghajar Jevan namun ia urungkan saat melihat dokter keluar. Darma jelas lebih memilih untuk mendekati dokternya dan bertanya tentang keadaan Kara.

“Dok, gimana keadaan sepupu saya?” tanya Darma dengan cemas.

“Syukurlah adik Kara berhasil mendapat penanganan tepat waktu. Jika tidak, mungkin nyawanya tidak akan tertolong karna alerginya terlalu parah. Untuk kedepannya dimohon untuk lebih memperhatikan komposisi didalam makanan ya.” ujar sang dokter sambil tersenyum tipis.

Darma tak menjawab apapun. Ia menoleh kearah Jevan yang hanya terdiam karna merasa bersalah. Darma mendekati Jevan perlahan, lelaki itu langsung menarik kerah Jevan dan...

Bugh!

Darma memukul rahang Jevan dengan kuat, hingga sudut bibirnya robek dan berdarah.

“Tonjokan pertama dari gue buat lo karna hampir buat sepupu gue mati.” ujar Darma dengan penuh emosi.

Darma langsung masuk kedalam ruangan Kara, meninggalkan Jevan yang hanya diam mematung karna rasa bersalahnya.

“Ra, maafin aku.”

Suhu yang dingin pada malam hari itu tak meluputkan rasa senang Jevan karna melihat Kara yang memakan martabak pembeliannya. Tanpa Jevan tau jika Kara alergi semua jenis coklat.

Jika kalian bertanya, mengapa Kara tidak memberitau soal alerginya jawabannya adalah Kara tidak mau Jevan kecewa karna Kara menolak pemberian dari lelaki itu, yang berhubungan dengan Gracia.

Rasanya mencintai orang lain yang seperti tidak mencintai dirinya adalah rasa paling sakit yang Kara pernah alami. Namun Kara tak mau melepaskan Jevan, menurutnya melepaskan tanpa alasan yang kuat adalah kebodohan paling besar. Ia ingin Jevan tak berkutik diakhir hubungannya nanti.

Kara terus mengunyah martabaknya dengan sangat terpaksa. Tenggorokan gadis itu sudah mulai sakit dan juga perut yang sudah terasa mual. Ingin sekali ia memuntahkan makanannya sekarang.

“Gimana, Ra? Enak kan?” tanya Jevan dengan sangat antusias.

Sedangkan Kara hanya diam. Ia berhenti mengunyah saat gadis itu merasakan nafasnya mulai sesak. Rasa yang paling Kara benci jika ia kambuh karna alerginya.

“Ra? Kamu kenapa?” tanya Jevan khawatir karna melihat wajah Kara yang memerah.

Kara menggeleng, ia menelan suapan terakhirnya dengan sangat terpaksa. Namun hal tersebut yang membuat nafas Kara semakin berat hingga terdengar oleh Jevan. Ia terus memukuli dadanya yang sesak.

“Ra, kamu kenapa? Kamu kenapa hey?” Jevan menatap cemas. Ia memegangi Kara yang wajahnya sudah mulai membiru.

Dengan cepat lelaki itu menggendong Kara, membawa ke mobilnya lalu melajukan mobilnya kerumah sakit terdekat.

Selama perlajanan tangannya terus menggenggam tangan Kara yang mencengkram. Entah apa yang membuat Kara seperti ini, jelas Jevan tidak tau.

Karna selama satu tahun pacaran, lelaki itu tak pernah mencari tau Kara lebih dalam.

Satya membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang karna kondisinya yang sudah membaik. Tetapi Satya harus melakukan check up rutin untuk mengetahui kondisi jantung barunya.

Kakinya masuk kedalam rumah yang sudah lama Satya tidak lihat. Rumah yang penuh dengan kenangan manis dan pahitnya. Ruang tamu adalah spot favoritnya. Karna itu tempat terakhir kalinya ia dan Jeffryan berbincang.

Satya telah mengetahui semuanya. Walau awalnya ia merasa tak terima dan terus menyalahkan dirinya atas kepergian Jeffryan, namun perlahan ia bisa menerimanya.

“Ma, Satya izin ke kamar Mama sama Papa ya?” Satya menoleh kearah Kiara, meminta izin yang disetujui oleh Kiara.

Lelaki itu tersenyum tipis, langkahnya langsung menuntun tubuhnya untuk memasuki kamar orang tuanya.

Harum parfume yang dipakai Kiara dan Jeffry tercampur didalam ruangan itu. Membuat Satya tersenyum mengingat wajah kedua orang tuanya. Matanya meneliti sekitar, banyak terdapat barang milik Jeffryan dan juga bingkai foto Jeffryan.

Matanya berhenti pada sebuah lemari besar. Entah mengapa Satya membuka lemari itu hinggal menampilkan banyaknya kemeja dan juga jas kerja milik sang Papa. Air matanya berhasil lolos saat ia menyentuh salah satu kemejanya. Kemeja yang digunakan oleh Jeffryan ketika mereka menonton film pada malam itu.

Matanya melirik keatas, Satya melihat adanya kotak kecil disana. Entah milik siapa namun Satya tetap mengambilnya. Membuka kotak kecil itu yang ternyata berisikan surat.

Satya membaca suratnya secara pelan-pelan dengan perasaan yang sangat campur aduk. Itu adalah surat yang ditulis oleh Jeffryan untuk dirinya.

Sebuah tulisan pendek yang memiliki seribu makna. Tulisan yang mampu menyayat hati Satya hingga lelaki itu kembali terisak dan memeluk suratnya.

“Satya juga sayang sama Papa.”

Suasana hening dan juga atmosfer yang menegangkan menyelimuti depan ruang oprasi. Marvel terus memeluk Kiara. Walau ia terpukul Marvel tau sang Mama lebih terpukul karna harus kehilangan cintanya. Dan itu adalah hal yang paling menyakitkan untuk Kiara.

Sedangkan Reno terus menggenggam tangan Senjani. Tampak dengan jelas wajah Senjani sangat khawatir dan cemas. Seperti takut untuk kehilangan kembali.

Sampai lampu yang menyala diatas pintu oprasi padam. Semuanya langsung berdiri karna menunggu dokter yang keluar. Berharap bahwa berita baik yang akan dibawa.

Hingga akhirnya pintu ruang oprasi terbuka lebar. Menampakan beberapa perawat yang membawa brankar keluar dari ruang oprasi dan dipindahkan ICU untuk dirawat lebih intensif.

Salah satu dokter mendekati Kiara, teman dari Jonny itu tersenyum tipis yang terlihat memiliki banyak makna. Membuat wanita itu sangat khawatir tentang berita yang dibawanya.

“Oprasinya berjalan dengan sangat lancar. Tapi anak ibu harus dirawat di ICU karna masih perlu perawatan yang sangat intensif.” ujar Dokter Yogi membuat mereka semua bernafas lega.

Kiara mengeratkan pelukannya kepada Marvel. Di sisi lain Kiara sangat bersyukur, namun di sisi yang lainnya Kiara harus merasakan kehilangan karna kepergian Jeffryan yang memberikan seluruh hidupnya untuk Satya.

Dan ternyata ucapan Jeffryan bukan hanya sebatas lewat mulut dan ketikan saja. Jeffryan benar-benar memberikan seluruh kebahagiaannya untuk sang anak bungsunya.