Belum selesai
—
Gadis dengan pakaian tidur itu berlari dilorong rumah sakit yang sangat sepi. Langkahnya menggema dengan sangat kencang, beberapa kali menubruk perawat yang bertugas malam. Matanya memerah, hatinya bergemuruh takut dan cemas, fikirannya pun dipenuhi ketakutan.
Ayyara tak baik-baik saja semenjak mendapat kabar dari Sheiren. Gadis itu takut, gadis itu marah, gadis itu benci kepada Naura. Ia berjanji pada dirinya sendiri, Naura harus menderita secepatnya. Karna dirinya atau tanpa dirinya.
“Shei! Bintang gimana?” Ayyara memegang tangan gadis yang sedang menangis dikursi tunggu.
Dari tatapan Sheiren, Ayyara yakin bahwa Bintang tak baik-baik aja. Gadis itu langsung melihat Bintang lewat jendela kaca yang berada dipintu. Tangisan kecilnya langsung keluar seketika.
Bintang yang dikelilingi beberapa Dokter dan perawat. Terbaring lemah dengan banyak alat medis yang terpasang. Terpejam untuk memilih kehidupannya. Antara kematian atau kehidupan.
“Ay...Bintang harus secepatnya dapat pendonor. Ada yang racunin Bintang lewat obatnya, penyakitnya makin parah. Kita gak ada jalan lain. Atau...atau Bintang bakalan pergi selamanya.” Ujar Sheiren disela tangisannya.
Ayyara menoleh, perempuan itu langsung berjongkok dihadapan Sheiren.
“Iren tau siapa pelakunya?”
“Security lagi cek cctv. Belum ada kejelasan sampai sekarang. Ay, gue takut semuanya selesai. Kehidupan Bintang, Ay.”
Ayyara menggeleng tegas. Ia menatap mata Bintang dengan penuh ketegasan.
“Nggak. Bintang gak akan kehilangan kehidupannya.” Ayyara mengambil kartu kuning yang berada disakunya. Kartu yang hanya bisa dipegang oleh pendonor organ tubuh.
“Kita harus nunggu dua hari lagi. Kalau gak bisa, Ayya mau Bintang yang ungkapin kebusukan Naura.”
“Ay? Lo gila ya?! Kenapa lo gak nyuruh Naura aja yang jadi pendonor karna kesalahannya?!”
Ayyara melirik Sheiren, lalu gadis itu menggeleng pelan.
“Nggak. Karna gue mau Naura merasa menderita karna perbuatannya.”