Kakdoyiiee

Belum selesai

Gadis dengan pakaian tidur itu berlari dilorong rumah sakit yang sangat sepi. Langkahnya menggema dengan sangat kencang, beberapa kali menubruk perawat yang bertugas malam. Matanya memerah, hatinya bergemuruh takut dan cemas, fikirannya pun dipenuhi ketakutan.

Ayyara tak baik-baik saja semenjak mendapat kabar dari Sheiren. Gadis itu takut, gadis itu marah, gadis itu benci kepada Naura. Ia berjanji pada dirinya sendiri, Naura harus menderita secepatnya. Karna dirinya atau tanpa dirinya.

“Shei! Bintang gimana?” Ayyara memegang tangan gadis yang sedang menangis dikursi tunggu.

Dari tatapan Sheiren, Ayyara yakin bahwa Bintang tak baik-baik aja. Gadis itu langsung melihat Bintang lewat jendela kaca yang berada dipintu. Tangisan kecilnya langsung keluar seketika.

Bintang yang dikelilingi beberapa Dokter dan perawat. Terbaring lemah dengan banyak alat medis yang terpasang. Terpejam untuk memilih kehidupannya. Antara kematian atau kehidupan.

“Ay...Bintang harus secepatnya dapat pendonor. Ada yang racunin Bintang lewat obatnya, penyakitnya makin parah. Kita gak ada jalan lain. Atau...atau Bintang bakalan pergi selamanya.” Ujar Sheiren disela tangisannya.

Ayyara menoleh, perempuan itu langsung berjongkok dihadapan Sheiren.

“Iren tau siapa pelakunya?”

“Security lagi cek cctv. Belum ada kejelasan sampai sekarang. Ay, gue takut semuanya selesai. Kehidupan Bintang, Ay.”

Ayyara menggeleng tegas. Ia menatap mata Bintang dengan penuh ketegasan.

“Nggak. Bintang gak akan kehilangan kehidupannya.” Ayyara mengambil kartu kuning yang berada disakunya. Kartu yang hanya bisa dipegang oleh pendonor organ tubuh.

“Kita harus nunggu dua hari lagi. Kalau gak bisa, Ayya mau Bintang yang ungkapin kebusukan Naura.”

“Ay? Lo gila ya?! Kenapa lo gak nyuruh Naura aja yang jadi pendonor karna kesalahannya?!”

Ayyara melirik Sheiren, lalu gadis itu menggeleng pelan.

“Nggak. Karna gue mau Naura merasa menderita karna perbuatannya.”

Gadis dengan seribu pelindung

Lonceng caffe yang menggema membuat seluruh pengunjung tersebut menoleh, termasuk Naura. Banyak pelanggan yang mengeluarkan Handphonenya dan ingin berfoto serta meminta tanda tangan sang gadis murah dengan senyuman itu.

Siapa yang tidak mengenal Ayyara Kahusein? Gadis yang dirumorkan belum lulus SMA dan sudah memiliki kesuksesan dengan hasil karyanya yang luar biasa membuat banyak orang bangga terhadapnya. Terkecuali Naura Kahusein.

Iri, dengki, marah menjadi satu pada perasaan gadis itu. Ia tak terima jika Ayyara bahagia. Rasanya gadis itu ingin membunuh Ayyara sekarang juga.

Ayyara melirik Naura sekilas, gadis itu lebih memilih merespon orang yang tidak dikenal untuk berfoto atau mengobrol sejenak. Membuat Naura kesal karna harus menunggu lebih lama.

Setelah hampir tiga puluh menit, Ayyara baru menghampiri Naura. Menaruh tas mahalnya diatas meja lalu duduk dihadapan Kakak tirinya.

Ayyara yang ada dihadapan Naura bukanlah Ayyara yang lugu. Melainkan gadis angkuh yang berani mengangkat kepalanya setinggi mungkin. Memainkan kukunya yang dilukis oleh cat kuku yang cantik-cantik. Membuat Naura iri melihatnya.

“Kenapa?” Tanya Ayyara sambil menoleh dengan tatapan sinis.

Seperti gadis angkuh dan sombong. Namun Ayyara tak perduli. Hanya didepan Naura ia bersikap seperti itu. Ya, hanya didepan Naura dan Sabiru.

“Pulang. Bokap lo penyakitan, gue males rawat.” Ujar Naura dengan sinis.

Ayyara terkekeh dengan nada yang mengejek. Terdengar menyebalkan ditelinga Naura.

“Naura...Naura. Lo kan anak tunggal ya? Kok malah nyuruh gue yang rawat PAK BRYAN alias bokap lo itu? Gak malu emang? Lo anak tunggal tapi lo gak mau rawat. Gak usah sok-sok an mau usir gue dari keluarga Kahusein kalo lo sendiri gak mau repot.”

Ayyara tersenyum sinis saat berhasil memancing emosi Naura. Terlihat dengan jelas wajah gadis itu yang memerah dan juga tangannya yang terkepal.

“Lo-”

“Apa? Mau tampar gue? Jambak gue? Silahkan. Disini banyak orang yang bisa jadi saksi atas perilaku lo. Dan disana, ada bodyguard gue yang bisa nyeret lo dari muka bumi ini kapan aja.”

Naura terdiam. Gadis itu tak bisa berkutik sekarang. Ia baru ingat Ayyara adalah gadis yang di banggakan oleh siapa saja karna pernah memenangkan lomba melukis internasional. Dan sejak saat itu, Ayyara menjadi gadis yang sangat berpengaruh disekitarnya.

“Gak mau ngomong apa-apa lagi kan? Gue pulang. See you, sister.”

Ayyara tersenyum sinis, lalu mengambil tasnya. Berjalan dengan angkuh sehingga suara langkah kakinya menggema di caffe itu.

Meninggalkan Naura yang masih memiliki dendam dihatinya.

Sang pemilik hati yang kembali

Suara langkah kaki yang sangat Bintang hafal membuat lelaki itu menoleh. Dengan cepat pintu ruangannya terbuka, membuat senyuman dibibir pucat milik Bintang terukir dengan jelas.

Ayyara, gadis itu ikut tersenyum saat melihat Bintang kembali. Lelaki yang ia rindukan sejak beberapa bulan belakangan ini. Tak banyak yang berubah, hanya kepala yang di tutupi kupluk dan juga tubuh yang semakin mengurus.

“Bintang, Ayya kangen.” Gadis itu langsung memeluk sang kekasih dengan kerinduan yang memuncak.

Begitu pulang dengan Bintang. Lelaki itu lansung mengeratkan pelukannya untuk melepaskan semua rindu yang telah ia pendam sejak lama.

“Aku juga kangen, Ay. Gimana kabar kamu? Sakit gak disana?” Tanya Bintang sambil mengusap rambut Ayyara dengan lembut.

“Ayya gak sakit kok, Ayya baik-baik aja. Ayya khawatir sama Bintang. Bintang makin kurus.” Ujarnya dengan suara bergetar.

Bintang tersenyum tipis, membiarkan gadis itu mendekapnya lebib erat.

“Namanya juga sakit parah, Ay. Tapi kata dokter yang Ayah kirim gue bisa sembuh cuman dengan transplantasi hati. Dan Ayah lagi nyari semampu Ayah. Dan aku...aku bertahan semampu aku.”

Bintang memejamkan matanya. Ia akui jika semakin hari tubuhnya semakin terbatas untuk bergerak. Bahkan tadi Bintang berjalan dari ranjang ke sofa langsung merasa lelah seperti jalan jarak jauh.

“Bintang, bertahan ya? Ayya bakalan temenin Bintang sampai Bintang sembuh.” Ayyara mendongak. Perempuan itu mencium pipi Bintang lalu tersentak saat mendengar teriakan Sheiren.

“Si kampret! Kalo mau mesra-mesraan jangan di depan JOMBLO!”

Pelukan

Ayyara mendengus setelah membaca pesannya dengan Naura. Ia merasa sangat jengkel dengan gadis yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Kakak tiri yang sangat menyebalkan. Itulah panggilan Ayya untuk Naura.

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ruangan Bintang. Saat sudah hampir mendekati ruangan Bintang, Ayyara berjalan dengan perlahan. Ia tau, Bintang sangat hafal dengan cara berjalan Ayyara. Oleh sebab itu Ayyara semaksimal mungkin tidak mengeluarkan suara langkah kaki.

Tangannya meraih knop pintu, namun matanya melihat kearah kaca kacil yang berada dipintu ruangan Bintang. Membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

Hatinya seperti terhantam saat melihat wanita yang berbaring disamping Bintang. Wanita yang Ayyara tak tau sebelumnya. Wanita yang sangat asing untuk Ayyara.

Lalu wanita itu dengan senyuman berbaring disamping kekasihnya. Bahkan Bintang sama sekali tak menolak. Mereka berdua menonton melalui handphone dan tertawa bersama.

Ayyara menutup mulutnya saat isakan tangisnya hampir keluar. Gadis itu mundur beberapa langkah. Berjalan perlahan menjauh dari ruangan Bintang lalu ia berlari secepat mungkin. Meninggalkan pemandangan yang sangat menyakitkan untuknya.

Ayyara kembali bukan untuk menerima luka kembali. Ayyara kembali untuk menghampiri kebahagiaannya kembali. Namun dengan gampangnya Bintang merusak semuanya.

Bintang kembali membuat Ayyara terluka.

Berangkat

Ayyara terus memandangi tangan kirinya yang memegang tiket pesawat. Sedangkan tangan kanannya terus di genggam oleh Bintang.

Setelah seminggu lebih Ayyara bergulat dengan fikiran dan juga hatinya sendiri. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke Los Angelas. Meraih impiannya dan juga membalaskan perbuatan Naura.

“Ay, kenapa hm? Sayangnya Bintang kenapa diem aja?” Tanya Bintang dengan lembut.

Ayyara menoleh kearah kekasihnya. Ia memperhatikan wajah Bintang yang pucat serta pipi Bintang yang berubah tirus. Bahkan rambut tebal milik lelaki itu sekarang telah berubah menjadi tipis.

“Bintang, janji ya sama Ayya buat baik-baik aja. Tunggu Ayya pulang ya? Janji Bintang harus jemput Ayya kalau Ayya udah pulang.”

Ayyara menatap lekat mata Bintang yang berubah menyipit karna tersenyum. Tangan lelaki itu dengan lembut mengusap rambut Ayyara. Membuat gadis itu lebih tenang dari sebelumnya.

“Aku gak janji, Ay. Aku gak bisa ngeduluin takdir dari Tuhan. Kita berusaha aja ya?” Ujar Bintang dengan lembut.

Ayyara mengangguk pelan, gadis itu langsung memeluk Bintang dan menghirup aroma coffe kesukaan kekasihnya.

“Ayyara, ayo.” Suara berat milik Renan membuat Ayyara melepaskan pelukannya.

Ia menghapus air matanya dengan cepat. Dan dengan secepat kilat perempuan itu mencium pipi Bintang.

“Bintang, Ayya berangkat dulu ya.”

Ayyara tersenyum kepada Bintang untuk yang terakhir kalinya sebelum Ayyara masuk kedalam. Melambaikan tangan kepada Bintang, mengucap kalimat perpisahan yang cukup menyedihkan.

Ayyara takut untuk berangkat. Ayyara takut jika ia tak bisa melihat Bintang kembali. Ayyara takut jika Tuhan memberikan takdir jahat kepadanya.

Namun Ayyara juga ingin Papanya bebas dari lingkaran setan milik Naura. Ia ingin menjaga Papanya, ia ingin membawa Bryan jauh dari Naura.

Tetapi akhirnya Ayyara memilih untuk berangkat. Membuktikan bahwa Ayyara tak lemah seperti yang dilihat. Dan juga Ayyara ingin memberikan Bintang kehidupan yang lebih lama.

Pacaran?

Ayyara terus menghapus air matanya yang tak kunjung reda. Ia ingin menangis kencang, tetapi dirinya masih memiliki malu karna taman yang cukup ramai.

Sekali lagi ia membaca pesannya dengan sabiru. Ayyara akui bahwa ia sangat kasar kepada gadis yang lebih tua darinya. Tetapi Ayyara sudah tidak tahan lagi. Ia tak mau berdamai dengan seseorang yang merebut kebahagiaan Bundanya.

“Ayya.”

Suara berat seseorang yang sangat Ayyara kenali membuat dirinya langsung menoleh. Gadis itu langsung terisak kecil saat Bintang memeluk tubuhnya dengan erat. Menangis sejadi-jadinya, tidak perduli dengan orang sekitar karna sudah ada Bintang yang melindunginya sekarang.

“Bintang...” suara Ayya terdengar gemetar.

Bintang mengusap punggung Ayyara. Membiarkan gadis itu melampiaskan seluruh emosi kepada dirinya. Ia tak bisa membiarkan Ayyara memendam masalahnya sendirian.

“Bintang, jangan tinggalin Ayya sendirian.”

“Gue disini, Ay. Gue sama lo. Tatap gue.”

Bintang menangkup pipi Ayyara agar gadis itu menatapnya. Mata Ayyara terlihat sembab dan sedikit hitam, lalu dengan cepat Bintang mencium kedua mata Ayyara.

“Mata lo kayak panda. Sebentar lagi lo berubah jadi panda.” Bintang tersenyum saat melihat wajah kesal Ayyara.

Gadis itu langsung memukul lengan Bintang dengan kencang.

“Aw. Sakit, Ay. Kenapa dipukul? Mending cium aja sini.” Bintang menunjuk pipinya dengan telunjuk.

Ayyara memperhatikan gerak gerik Bintang. Entah mengapa jantung gadis itu berdegup dengan kencang dan juga pipi yang memerah. Bahkan ia menjadi salah tingkah saat melihat kelakuan Bintang.

“A-apaan sih?!” Ayyara menghapus air matanya. Mengalihkan pandangan supaya Bintang tak melihat wajah merahnya.

“Ay.”

“Apa?”

“Pacaran mau?”

Ayyara dengan reflek menoleh. Menatap mata Bintang yang terlihat sangat serius.

“Ay, gue gak tau perasaan lo gimana ke gue. Tapi perasaan gue ke lo itu lebih dari sekedar sahabat.”

Bintang terdiam sejenak. Menarik nafas perlahan sebelum melanjutkan ucapannya.

“Gue awalnya gak berani ungkapin rasa gue ke lo. Karna gue tau, hidup gue gak bisa menua karna penyakit ini. Tapi gue beraniin diri buat ungkap rasa gue ke lo. Karna gue percaya, Tuhan kasih gue hidup lebih lama supaya gue bisa jujur ke lo. Lo gak perlu balas perasaan gue. Gue gak masalah kalau lo nolak gue. Disini gue cuman ma—”

“Ayo.”

“Ha?”

“Ayo pacaran. Ayya udah besar, jadi boleh pacaran. Lagian Papa udah gak perduli sama Ayya. Jadi harusnya boleh kan Ayya pacaran sama Bintang?”

Bintang terdiam dengan wajah yang tidak dapat di kondisikan. Ia masih berusaha mencerna ucapan Ayyara. Apa gadis itu menerima tawarannya?

“Ay, lo mau jadi pacar gue?”

“Mau. Ayya terus deg deg an kalo deket Bintang. Pipi Ayya merah terus kalo diledekin Bintang. Ayya juga nyaman deket sama Bintang.”

Bintang tersenyum senang. Lelaki itu langsung memeluk Ayyara dengan erat.

“Makasih, Sayang.

Keadaan Bintang.

Ayyara mengeratkan pelukan pada Sabiru. Gadis itu sangat khawatir sebab belum ada dokter atau perawat yang keluar dari ruangan Bintang. Ayyara takut, sangat takut jika kondisi bintang semakin menurun minggu ini.

“Bunda, Ayya takut.” Suara Ayyara terdengar gemetar. Gadis itu membenamkan kepalanya pada leher Sabiru. Ia merasa nyaman dengan usapan hangat sang Bunda sambungnya.

“Tenang Ayya, Bunda yakin Bintang baik-baik aja. Do'a terus ya buat Bintang? Semoga Tuhan kasih kesembuhan buat Bintang ya?” Ujar Sabiru dengan selembut mungkin.

Memang Sabiru bisa dibilang wanita tidak baik, namun ia tak akan pernah mau menjahati Ayyara. Karna bagaimanapun Sabiru harus menjalankan amanah dari seorang perempuan yang bisa dibilang berharga untuknya.

Suara decitan pintu terdengar dengan sangat nyari. Membuat Ayyara dan juga Sabiru dengan reflek berdiri, menatap Tara yang matanya terlihat sembab dan juga keringat yang membasahi sekujur wajah hingga lehernya.

“Om? Bintang gak apa-apa kan?”

Ayyara menatap penuh harap kepada Tara. Lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan. Mengatur nafas seolah ia telah berlari jauh mengelilingi lapangan. Tetapi nyatanya Tara benar-benar berlari. Berlari dari kemungkinan buruk dan juga kehilangan. Tara tak mau semua itu terjadi.

“Bintang...” Tara menggantung ucapannya, ia menarik nafas membuat Ayyara menggigit bibir bawahnya khawatir.

“Bintang baik-baik aja kan, Om? Bintang gak apa-apa kan?”

Tara tersenyum tipis, ia mengusap pucuk kepala Ayyara dengan lembut dan juga pelan.

“Bintang gak apa-apa. Dia harus istirahat yang cukup dan gak boleh stress. Kamu tenang aja ya? Kemungkinan seminggu ini Bintang boleh pulang kalau dia penuhi syaratnya.”

“Alhamdulillah.” Ayyara memeluk Sabiru dengan perasaan senang.

Kekhawatiran gadis itu telah hilang setengahnya, tidak seluruhnya. Karna Ayyara tau, bahwa Kanker Hati tidak mudah untuk di sembuhkan.

“Ayah, untuk sekarang gak ada yang abadi.”

Tara memandangi anak semata wayangnya yang semakin hari semakin pucat. Tubuhnya bahkan sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Bahkan sekarang Bintang harus bergantung pada infus dan juga obat-obatan setiap harinya.

“Biasa aja kali ngeliatin Bintangnya.” ujar Bintang dengan nada sinisnya. Tidak, Bintang tidak kesal dengan sang Ayah. Namun memang seperti itu mereka. Layaknya seorang teman.

“Yeu, geer kamu. Siapa juga yang ngeliatin kamu.” Tara mendengus. Ia kembali memandangi langit gelap yang dipenuhi dengan bintang bintang kecil.

“Ayah, Mama lagi ngapain ya di surga?” tanya Bintang secara tiba-tiba membuat Tara terdiam.

“Yah, kira-kira Ayah duluan atau Bintang duluan yang bakalan nemenin Mama?”

Tara memandangi anaknya dengan tatapan yang sangat lembut dan juga sendu. Lelaki itu benar-benar menyangi Bintang. Bahkan ia rela memberi seluruh kehidupannya untuk anak itu.

“Gak ada yang akan nemenin Mama duluan. Kamu dan Ayah bakalan tetap disini, kita bakalan bareng-bareng terus sampai Ayah tua.”

“Ayah, untuk sekarang gak ada yang abadi. Mau Bintang atau Ayah, pasti ada yang pergi terlebih dahulu.”

Bintang memejamkan matanya sejenak. Ia tau satu fakta bahwa Tara adalah Ayah sambungnya, tetapi ia benar-benar menyayangi Tara seperti Ayah kandungnya.

Ingatan gelapnya kembali muncul saat Bintang mengingat Papa nya dulu. Ingatan yang membuat Bintang kembali merasa tak nyaman dan juga sesak. Kejadian saat itu membuat dirinya benar-benar hancur didalam hidupnya.

“Ayah, Papa bahagia gak ya sama selingkuhannya?” tanya Bintang dengan senyum getir. Bahkan Bintang sangat membenci lelaki itu. Tetapi ia tak dapat bohong jika ia sangat merindukan Papa nya.

Tara menggenggam tangan anaknya. Menyalurkan rasa hangat untuk Bintang yang mulai tak bisa mengontrol perasaan untuk menangis.

“Sesuatu yang dilakukan secara gak baik, pasti akan berujung gak baik, Bintang. Ayah yakin pasti Papa kamu gak bahagia sama keluarga barunya.”

Tara tersenyum tipis, diikuti Bintang yang juga tersenyum. Bintang menghapus air mata yang keluar. Harusnya ia tak boleh menangis untuk lelaki yang telah mematahkan hatinya untuk yang pertama kali.

“Udah ah. Bintang jadi cengeng gini.” Bintang terkekeh, berusaha mencairkan suasana yang sempat berubah menyedihkan.

“Kamu bertahan ya? Demi diri kamu, demi Ayya, dan demi Ayah. Ayah gak punya siapa-siapa selain kamu.”

“Iya, Ayah. Udah ah jangan nangis. Masa brother Bintang nangis?”

Bintang memeluk sang Ayah. Ia mengusap punggu Tara, berusaha menenangkan Ayahnya yang terlihat cemas.

Sesungguhnya Bintang sama cemasnya. Ia takut tak bisa bertahan lama, ia juga takut tak bisa berjuang untuk Ayyara dan juga Ayah nya.

Ia hanya pasrah. Mengikuti takdi tuhan, berdo'a dan juga berusaha.

tw // kekerasan

Taxi Oneline yang ditumpangi Ayyara berhenti didepan gerbang rumahnya. Ayyara berucap terima kasih sebelum turun dari Taxi Oneline. Lalu segera masuk kedalam.setelah gerbang rumahnya dibukakan oleh penjaga.

Ayyara tersenyum saat melihat Papa-nya berada didepan pintu sambil melihat kearah Ayyara. Ayyara yakin pesan Naura itu salah. Bryan tidak akan menampar dirinya.

Kakinya perlahan mendekat, ingin memeluk sang Papa, namun-

Plak-!

Satu tamparan melayang dengan keras di pipi kanan Ayyara.

Ayyara mematung, diam sejenak untuk mencerna situasi. Ia memegang pipi kanannya, terasa panas dan perih secara bersamaan. Lalu satu air mata itu jatuh begitu saja.

“Papa tidak pernah mengajari kamu untuk menjadi anak yang tidak baik, Ayyara!”

Bryan teriak marah didepan Ayyara. Tentu gadis itu tersentak dan menatap takut sang Papa.

Ayyara bingung sekarang. Memangnya apa yang ia lalukan hingga membuat Papa nya marah seperti ini? Bahkan Ayyara hanya berada dirumah sakit belakangan ini.

“Pa..sakit..” suara Ayyara bergetar. Tangan gadis itu masih memegangi pipinya yang terasa nyeri.

“Papa malu, Ayyara! Rasa sakit kamu gak sebanding dengan rasa malu Papa karna kamu berani berciuman!”

Bryan mengambil handphone nya dengan tergesa. Lelaki itu sudah berada di puncak amarahnya semenjak di kirimkan foto oleh anak tirinya.

“Lihat! Papa kecewa sama kamu, Ayyara!” Bryan menunjukan fotonya kepada Ayyara.

Ayyara terdiam, lalu ia terkekeh secara gamblang.

“Papa tau gak yang sebenarnya? Papa tau gak kalau Ayya cuman ngambil gelas yang ada di nakas? Nakasnya ada di sebrang Ayya, makannya Ayya kayak keliatan deket sama Bintang. Tapi nyatanya Ayya gak lakuin perlakuan murahan itu, Papa! Ayya gak semurah itu! Ayya punya harga diri yang harus Ayya jaga! Ayya punya kehormatan yang harus Ayya rawat! Dan Ayya punya hati yang sayangnya udah Papa hancurin sejak saat ini.”

Suara Ayyara terdengar lirih di kalimat terakhirnya. Gadis itu menatap kecewa pada Bryan. Menatap dengan mata merah yang bergelinang air mata.

Nyatanya Papa nya benar-benar berubah. Sang Papa sudah seperti monster untuk Ayyara. Bahkan Bryan tak lagi mau mendengar penjelasan Ayyara terlebih dahulu.

“Papa ingkar janji Papa beberapa jam yang lalu.”

Setelah berucap seperti itu Ayyara langsung masuk kedalam. Langsung mengunci dirinya dan bersandar pada balik pintu. Gadis itu terisak dengan keras. Melampiaskan semua kemarahannya.

“Ayya kecewa sama Papa.”

Lelaki yang menginginkan Ayyara.

Lelaki dengan wajah yang pucat itu terus memperhatikan foto gadis yang sudah dekat dengannya sejak dulu. Sayangnya kedekatan itu membuat tumbuh rasa yang tak dapat diartikan. Ia menginginkan hubungan lebih dengan gadis yang berada di fotonya. Ia ingin rasa itu terbalaskan dengan perasaan yang sama. Ia tak ingin jika hatinya hanya merasakan sepihak.

Namun, apa yang bisa diharapkan oleh lelaki yang di diagnosa Kanker Hati sejak sebulan yang lalu?

“Ay, apa Tuhan izinin gue bisa milikin lo walau cuman sebentar?” gumam lelaki dengan pemilik nama sang angkasa.

Bintang Alasaka.

“Gue pengen bisa milikin lo, Ay. Gue mau jadiin lo teman hidup gue. Gue mau lo izinin gue buat pegang hati lo.” Bintang menatap langit-langit kamar. Menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan berbicara.

“Tapi, apa Tuhan izinin gue untuk ada di sisi lo dengan waktu yang lama? Gue gak yakin bisa bertahan dalam satu tahun, Ay. Gue gak yakin bisa nemenin lo sampai kita tua nanti. Gue gak yakin bisa terus temenin lo disaat lo nangis. Gue gak yakin bisa usap rambut lo disaat lo sedih, bisa liat senyum lo disaat lo bahagia, dan bisa liat lukisan lo setelah lo selesai ngelukis, Ay.”

Mata lelaki itu terpejam. Nyeri pada perutnya terasa dengan perlahan. Serta mual yang membuat Bintang merasa tidak nyaman.

“Ayah...”