Kakdoyiiee

Dua insan berbeda rasa.

Suara langkah kaki yang terdengar sangat pelan namun pasti itu memasuki rumah yang cukup mewah tetapi terlihat sangat sederhana. Tembok kayu dan juga barang-barang antik membuat rumah itu terkesan sangat indah.

Nathan dan Darma sudah memiliki izin masuk oleh Gracia. Mereka sudah menghubungi gadis itu dan langsung dibolehkan untuk kehalaman belakang, tempat mereka bertemu.

“Gila. Ini rumah apa mansion anjir? Gede banget.” Ujar Darma kagum melihat rumah Gracia yang sangat luas.

Nathan mendengus, lelaki itu langsung menyeret Darma untuk kehalaman belakang sebelum Darma melakukan hal yang memalukan.

Mata sipit milik Nathan tersebut langsung menangkap sosok Gracia yang sedang membaca buku pelajaran. Nathan menaikan sebelah alisnya, mendekati Gracia perlahan dan menepuk bahu gadis itu hingga Gracia tersentak.

“Astaga!”

Gracia menoleh kebelakang. Menatap Darma dan Nathan secara bergantian. Lalu gadis itu menghela nafas pelan.

“Lo bikin kaget aja.”

Sorry sorry. Oh ya, lo lagi belajar? Emang gak pusing?”

Nathan duduk dikursi yang berhadapan dengan Gracia. Sedangkan Darma duduk pada kursi yang berada disamping Gracia.

Gracia menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Nathan. “Udah enggak. Tadi pagi gue demam tinggi, gak tau kenapa. Terus siangnya udah turun makannya gue keluar kamar buat belajar.” Ujarnya.

Nathan mengangguk. Ia memperhatikan Gracia yang sibuk dengan buku yang bertuliskan rangkuman. Lelaki itu merasa ada yang mengganjal dihatinya. Rasanya Nathan ingin memiliki gadis itu.

Tetapi Nathan bukanlah lelaki yang pandai merayu seperti lelaki pada umumnya. Nathan lelaki kaku dengan kegiatan organisasi serta buku sebagai pendampingnya. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak tertarik dengan dunia percintaan.

Tetapi setelah sahabatnya —Jevan— memperkenalkan Gracia kepada dirinya, lelaki itu langsung tertarik dengan gadis yang memiliki rasa kepada sahabatnya. Terlihat sangat jelas dimata Gracia.

Entahlah. Entah ini rasa sayang atau hanya sebatas rasa suka sejenak. Nathan tak dapat memahami kedua rasa itu.

Pelukan yang tak terbalas.

Jevan memasuki rumah Gracia tanpa permisi. Tak perlu takut jika dimarahi karna Gracia tinggal sendiri. Lebih tepatnya, orang tua Gracia yang sibuk pergi untuk memenuhi kebutuhan keluarga Gracia.

“Cia.” Jevan mendekati Gracia yang sibuk dengan laptop diruang keluarga.

Lelaki itu langsung memeluk Gracia tanpa izin dan tanpa membiarkan Gracia untuk berbicara.

“Jev-”

“Biarin gini, Ci. Gue hari ini cape banget.”

Jevan mengeratkan pelukannya. Membiarkan perempuan itu didekapnya tanpa ada balasan dari Gracia.

“Lo gak mau nanyain keadaan Rara?” Tanya Jevan.

Gracia terdiam sejenak. Melirik Jevan yang sibuk memainkan rambut Gracia seperti biasa. Hal yang membuat Gracia mudah tersipu sehingga menjatuhkan hatinya untuk Jevan.

Tetapi ia harus mundur dikala Jevan menceritakan seorang gadis yang berhasil mengambil hati lelaki itu dengan mudah. Almara Senjani atau yang disapa dengan Rara. Gadis imut dan manja yang berhasil membuat Gracia tersingkirkan dari prioritas Jevan.

“Ci?”

“Oh iya. Gimana keadaan Rara?” Tanya Gracia sedikit tidak rela.

Jevan tersenyum, semakin mengeratkan pelukannya.

“Dia kecapean. Terus dia manja banget sama gue. Gue seneng sama sifat dia.”

Lagi-lagi Gracia terdiam. Merasa tak suka dengan pembahasan Jevan. Tetapi gadis itu tak dapat mengungkapkan kekesalannya. Lagi pula Gracia siapanya Jevan?

Hanya sahabat yang jatuh secara sepihak.

Gadis yang lolos dalam hukuman

Gema berjalan mengendap-ngendap mendekati seseorang yang sedang berkutik dengan pisaunya. Memotong beberapa sayuran yang sepertinya akan dimasak.

Dalam pikiran Gema, apakah Raken sedang memakai wig untuk membohonginya? Tetapi tubuh Raken sangat berbeda jauh dengan tubuh orang yang ada di hadapannya.

Gema terdiam sejenak. Seperti mengenal modelan rambut pirang yg ada di depannya. Tetapi sialnya Gema tak mengingat siapa itu.

“Raken?”

Tepuk bahu orang itu hingga membuatnya terkejut. Perempuan itu membali badan, menunjuk Gema dengan ujung pisau membuat Gema reflek mundur beberapa langkah.

“Gue Gema anjir! Bukan maling!” teriak Gema kesal.

Keduanya terdiam sejenak, sama-sama menetralkan rasa terkejut hingga mereka sadar akan sesuatu.

“Lo?!” ucap keduanya secara bersamaan.

“Lo Athaya kan? Wah parah. Pantes lo dikasih duit sama si Raken. Ternyata lo simpenannya.” ujar Gema dengan ringannya.

“Jaga bicara lo! Mau ni pisau ngerobek mulut lo?! Hah?!”

Athaya mendekati Gema dengan perlahan, posisi pisaunya masih sama. Berada dihadapan Gema hingga lelaki itu mundur dan bergidik ngeri. Sialnya punggu Gema menabrak tembok dan hanya menyisakan sedikit jarak antara ujung pisau dan hidungnya.

“I-iya! Ampun! Gue bercanda!”

“Lo ngapain masuk tanpa ngetuk dulu hah?! Kalo gue lagi telanjang gimana?! Gak sopan banget!”

Athaya menurunkan tangannya, tetapi tak melepas pisau itu dan terus ia genggam.

“Gue mana tau. Ini kan apart Raken. Lagian lo ngapain disini? Raken mana?”

“Kak Raken dirumah gue. Ngurus sesuatu. Dia gak balik kesini sampe besok.”

Athaya kembali ke meja dapurnya. Melanjutkan memotong sayuran dan menyalakan kompor untuk menumis bumbu nasi goreng.

Gema memperhatikan gadis itu. Mungil, cantik dan juga manis. Tiga kata yang menggambarkan Athaya bagi Gema. Dan juga gadis berani yang melawan Gema untuk pertama kalinya.

“Gue penasaran sama lo.” gumam lelaki itu.

BONUS CHAPTER

Dua bingkai foto yang dipajang dikamarnya terus saja Bintang perhatikan. Dua foto Bintang bersama dengan orang tersayangnya. Tara dan juga Ayyara.

Lelaki ber jas hitam itu mengambil bingkai foto yang berisikan dirinya dan juga Tara. Potret itu diambil saat Bintang berumur 15 tahun. Sekitar 20 tahun yang lalu. Lelaki itu tersenyum saat mengingat kenangannya bersama Tara. Ada sedikit rasa sakit, namun perlahan Bintang bisa mengikhlaskan kepergian sang Ayah.

Lalu lekaki itu mengambil bingkai fotonya bersama Ayyara. Foto yang diambil saat hari pernikahan mereka berdua. Dimana hari yang paling Bintang nantikan dan Bintang harapkan. Senyuman bahagia Ayyara di foto itu membuat Bintang senang. Ayyara terlihat sangat tulus mencintai Bintang. Tak ada keraguan disana.

“Ayah!” Sapaan favorite Bintang saat pagi hari.

Ia menoleh kearah pintu. Mendapatkan anak laki-lakinya yang berdiri dengan Ayyara dibelakangnya.

“Jagoan Ayah udah siap berangkat sekolah ya?” Bintang menggendong Langit yang sudah rapih dengan pakaian Sekolah Dasar.

Langit mengangguk dengan semangat. Memeluk leher sang Ayah dan mencium pipi itu.

“Yaudah ayo berangkat. Pamit dulu sama Bunda.” Bintang mengulurkan tangan Langit untuk bersalim dengan Ayyara.

Gadis itu tersenyum. Menerima uluran tangan tersebut dan mencium kening Langit.

“Kalian hati-hati ya? Langit, nanti Bunda jemput oke? Langit tunggu Bunda di ruang guru? Arraseo?

Bintang terkekeh saat Ayyara mencampurkan bahasa dengan bahasa Korea. Istrinya memang jadi suka menonton drama korea semenjak mengandung Langit. Dan ya, bahkan wajah Langit pun bisa dibilang keturunan Korea.

“Kamu masih aja lucu, Ay.”

“Udah! Jangan gombal. Sana!” Ketus Ayyara kepada Bintang.

Bintang tersenyum, merasa gemas dengan istrinya. Bintang tak masalah jika Ayyara ketus seperti itu.

Karna Bintang tahu, Ayyara sedang mengandung anak kedua mereka.

Bintang yang kehilangan dunianya.

Lelaki dengan pakaian santai itu terus saja melihat jalanan dari dalam mobil. Tangan kanannya digenggam erat oleh sang kekasih.

Sejak sebulan lalu Bintang selalu saja menanyakan keberadaan Tara. Tetapi Ayyara dan yang lainnya bilang Tara ada didekatnya. Tara tak pergi kemanapun. Namuna kenapa Tara tak menemui dirinya?

Dan sekarang Dirga dan juga Ayyara menepati janji mereka. Mereka akan mengajak Bintang untuk bertemu dengan Tara setelah keadaan Bintang pulih kembali.

Namun lelaki itu mengernyitkan keningnya saat Dirga memarkirkan mobil diparkiran umum dekat dengan Tempat Pemakaman Umum. Bintang sangat penasaran mengapa Papanya membawa ia kesini.

“Sebentar, nak.” Dirga turun dari mobilnya. Membuka pintu mobil untuk Bintang dan membantu lelaki itu keluar dari mobil.

Bintang melihat sekitarnya. Tak ada bangunan apapun, hanya ada tempat pemakaman yang sangat bersih dan sepi.

Ayyara menggenggam erat tangan kekasihnya. Khawatir jika Bintang akan menangis histeris karna suatu kenyataan yang sangat menyakitkan.

“Ayo.” Dirga menuntunnya kedalam. Membeli air mawar dan juga bunga untuk ditabur.

Bintang hanya melihat, tak menanyakan apapun karna ia fikir Dirga akan ziarah kemakam kerabatnya.

“Papa mau nyekar siapa?” Tanya Bintang yang tidak direspon apapun oleh Dirga.

Papanya itu lanjut menuntunnya menuju salah satu makam yang terbilang masih baru. Bunga kering yang bertaburan dan juga beberapa ranting berada diatas makam itu.

Bintang menatap bingung karna ia tak membaca batu nisannya. Lebih tepatnya Bintang takut untuk membaca.

“Bintang, Papa sudah lunasi janji Papa ya?” Ujar Dirga.

Bintang menoleh, menatap bingung kepada sang Papa. Hatinya bergemuruh takut. Takut kenyataan sesuai dengan yang ada difikirannya.

“Pa, tapi Papa janji mau bawa Bintang ketemu sama Ayah.”

“Bintang, ini Ayah kamu.”

Ayyara menuntun Bintang untuk berjongkok dihadapan makam itu. Dengan mata memerah ia memberanikan diri untuk membaca nama yang berada di batu nisannyaa.

Kepalanya menggeleng dengan pelan. Merasa tak percaya bahwa itu adalah makan Tara, Ayah sambungnya.

Tangisnya langsung pecah seketika. Hatinya sakit saat ia sadar ini semua adalah kenyataan. Bukan mimpi buruk yang akan membuat Bintang bangun dan hidup bahagia bersama Tara. Ini semua skenario yang telah Tuhan rencanakan untuk Bintang.

“Ayah!!!” Bintang menjerit dengan kencang. Memeluk batu nisan itu dengan erat seolah memeluk sang Ayah.

Dunianya hancur. Ayahnya telah pergi ketempat yang tak bisa Bintang jangkau. Ketempat tinggi yang tidak ada jejaknya.

“Ayah, Ayah kenapa tinggalin Bintang? Ayah, Bintang gak suka Ayah pergi. Ayah janji mau rawat Bintang sampai Ayah tua. Ayah, ayo kembali. Ayah jangan tinggalin Bintang.”

Lelaki itu meracau dengan kalimat dan juga nada yang pilu. Membuat siapa saja yang mendengar akan menangis tersedu karna ikut merasakan kehilangan.

“Bintang, ikhlasin Om Tara ya? Om Tara udah tenang disana. Om Tara juga masa ada di diri Bintang. Hati Om Tara ada di tubuh Bintang.”

Ayyara menyentuh dada yang menunjukan ulu hati manusia. Bintang terdiam dengan nafas yang tercekat karna terlalu banyak menangis. Lalu lelaki itu langsung memeluk Ayyara dengan erat.

“Ay, kenapa harus Ayah? Kenapa harus Ayah yang berkorban? Kenapa harus orang yang gue sayang? Kenapa Tuhan korbanin Ayah gue buat kehidupan gue, Ay?”

“Bintang, takdir Tuhan itu gak ada yang buruk. Seburuknya takdir Tuhan pasti ada akhir yang bahagia. Bintang ikhlasin ya? Om Tara selalu ada disisi Bintang kok. Jangan nangis.”

Ayyara membalas pelukan lelaki itu. Menyalurkan rasa kuat untuk Bintang. Gadis itu merasa sakit jika melihat Bintang menangis.

“Ay, lo jangan pergi ya? Temenin gue. Hidup sama gue sampai kita tua. Jangan tinggalin gue sendirian.”

Dan pada akhirnya Bintang memohon kepada Tuhan untuk tidak mengambil kesayangannya kembali. Ia ingin hidup bersama Ayyara dengan damai. Tak mau membuat gadis itu menangis karna dirinya.

Bintang hanya mau, ia hidup berdua dengan Ayyara beserta anaknya kelak.

— END —

Kelopak mata yang terbuka

Sudah seminggu sejak operasi Bintang. Tetapi belum ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan siuman. Ayyara mengusap rambut Bintang dengan lembut. Sesekali mencium pipi lelaki itu. Rasanya hangan dan juga dingin secara bersamaan.

“Bintang, bangun. Ayya kangen sama Bintang.” Ayyara terus membisikan kalimat yang sama saat ia baru sampai diruangan Bintang.

Berharap lelaki itu akan bangun dan membalas ucapan Ayyara bahwa dirinya juga merindukan Ayyara.

Ayyara menghela nafas pelan, dirinya ingin pasrah kepada kekuasaan Tuhan tetapi ia tak boleh menyerah.

Gadis itu berdiri, mengambil lembara surat yang ada dilaci. Surat yang ternyata sudah disiapkan oleh Tara untuk anak tirinya.

“Ay...” Lirihan suara itu membuat Ayyara membeku.

Gadis itu menoleh secara perlahan kearah Bintang. Matanya menatap mata Bintang yang baru saja terbuka, bahkan lelaki itu masih berusaha untuk menyesuaikan cahaya. Ayyara langsung menyimpan kembali suratnya. Ia berlari keluar untuk memanggil dokter atau perawat yang berada disana.

Ia bersyukur. Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup lebih lama bersama Bintang. Ayyara sangat amat bersyukur pada keajaiban Tuhan.

Ayyara berfikir, ia tak dapat lagi melihat Bintang. Entah Bintang yang pergi atau Ayyara yang pergi. Namun Tuhan mempunyai rencana lain. Rencana yang lebih indah untuk mereka berdua.

Tara, teman terbaik untuk Bryan.

Bryan dengan pakaian santainya berlari dengan kencang dilorong rumah sakit yang ramai. Setelah mendapatkan pesan dari Ayyara, lelaki itu langsung menancapkan gas mobilnya kerumah sakit. Ingin melihat keadaan Tara yang ia harapkan tak sesuai dengan fikirannya.

Langkahnya terhenti saat melihat Dirga didepan ruangan Bintang. Temannya itu sedang berbincang dengan dokter yang baru saja memastikan kembali keadaan Bintang.

Dengan tak santai Bryan menarik bahu Dirga, menatap lekat lelaki itu dengan mata yang penuh ketakutan.

“Mana Tara?” Tanya nya dengan geram.

Dirga diam. Ia sedang memutar otak untuk memberitahu Bryan tetapi secara perlahan. Namun sialnya Bryan membentak Dirga hingga lelaki itu tersentak.

“DIMANA TARA?!”

“Ruang jenazah!”

Nafas Bryan memberu. Tubuhnya seketika lemas saat apa yang ada difikirannya benar-benar kenyataan. Tara, sahabat Bryan sejak lama. Teman yang selalu membantunya saat jatuh bangun. Bahkan teman yang rela mengorbankan pekerjaannya sebagai manager di perusahaan untuk Bryan.

Hatinya mencolos saat ia melihat Tara yang diselimuti kain putih. Tubuhnya yang kaku serta dingin. Tak ada tanda kehidupan sama sekali disana.

“Tar...”

Suara Bryan terdengar gemetar. Dan berakhir ruangan itu diisi isakan Bryan. Isakan yang menandakan bahwa ia kehilangan satu orang tersayangnya. Kehilangan manusia yang paling berarti untuknya.

Tara terlah pergi. Meninggalkan kenangan yang paling terbaik untuk mereka. Bahkan kebaikan Tara tak dapat dihapuskan begitu saja.

Tara berjasa untuk semuanya. Dan sekarang, giliran mereka membalas jasa Tara.

Ketua Osis baru

Lelaki dengan almamater khusus osis itu terus memandangi gadis yang telat 15 menit. Gadis yang rambutnya di cat pirang dan pakaian sekolah yang tidak lengkap.

Gema, lelaki itu memutari Athaya dan menarik rambut Athaya pelan. Membuat gadis itu meringis karna tarikan Gema.

“Biasa aja kali, Kak. Tau rambut gue bagus.” Sinis Athaya dengan berani.

Beberapa siswi yang dihukum seperti Athaya melirik Athaya dengan ngeri. Athaya tak tahu, seberapa galaknya Gemantara.

“Lo mau sekolah atau mau goda laki-laki? Baju ketat, rambut pirang, gak pake seragam lengkap. Ini sekolahan! Bukan ajang kecantikan!” Bentak Gema membuat Athaya melirik lelaki itu dengan malas.

“Gue tau ini sekolahan. Gak ada yang bilang ini tempat ajang kecantikan. Lo sendiri tuh yang bilang.” Balasnya dengan berani.

Gema geram. Baru pertama kali ada yang berani melawannya. Lelaki itu langsung mengambil gunting yang berada di sakunya dan menarik rambut Athaya.

“Lo mau ngapain bangsat?!” Protes gadis itu, berusaha menyelamatkan rambut panjangnya dari Gema.

“Diem!”

Gunting yang Gema pegang sudah berada di rambut Athaya. Saat lelaki itu ingin memotong rambut tersebut, suara notifikasi yang mengganggunya membuat lelaki itu berhenti dari tugasnya.

Rahasia

Ayyara berjalan dengan cepat menuju orang operasi. Ada yang janggal di pikirannya. Harusnya Ayyara yang terlebih dahulu dioperasi, bukan Bintang.

Mata bulatnya menangkap sosok Dirga yang sedang duduk sambil memainkan jari. Terlihat dengan jelas guratan cemas diwajah. Dengan cepat Ayyara menghampiri Dirga untuk meminta penjelasan.

“Om, jelasin.” Pinta Ayyara yang berdiri dihadapan Dirga.

Lelaki itu mendongak, menghela nafas pelan lalu berdiri dengan tegap.

“Ay, Bintang sudah di operasi sejak tadi. Om sengaja gak bilang supaya kamu bisa lancarin rencana kamu itu.”

“Tapi...tapi siapa yang donorin? Bahkan Ayya belum dihubungin pihak rumah sakit buat operasi.”

“Yang donorin adalah lelaki hebat dihidup Bintang. Lelaki yang rela berjuang untuk anak tirinya. Lelaki yang rela bekerja keras dari pagi hingga malam untuk menyembuhkan anaknya.”

Ayyara menatap wajah Dirga dengan mata yang berkaca-kaca. Perempuan itu tau siapa yang dimaksud oleh Dirga.

“Om, jangan bilang...”

“Iya, Tara yang menggantikan kamu secara rahasia. Dia pernah bilang kepada Bintang, dia akan lakukan apa saja untuk menyembuhkan anaknya.”

“Dan sekarang, ucapannya terbukti didalam ruang operasi.”

Kebaikan yang menyakitkan.

Ruangan yang dilapisi kedap suara itu hanya ditempati oleh dua orang yang berbeda jauh umurnya. Tara dan juga Ayyara.

Gadis dengan mata sembab itu terus melihat kearah kertas yang menjelaskan penurunan drastis dari kondisi Bintang. Ayyara semakin takut ia akan kehilangan kekasihnya. Namun jika Bintang sembuh sama saja Bintang kehilangan wanitanya kan?

“Ay, Om denger dari Sheiren katanya kamu-”

“Gak ada cara lain, Om.”

“Ada, Ay. Pasti ada.”

“Ada? Om nemu pendonor gak sampai sekarang? Enggak kan?”

Ayyara berucap sarkas tanpa sadar. Gadis itu sangat sensitif jika membahas Bintang. Ia tak terima jika orang-orang membiarkan Bintang bertahan dengan alat medis tetapi seperti tidak ada kehidupan.

“Ay-”

“Om! Tolong, biarin Bintang lanjutin kehidupannya. Bintang bisa nyari perempuan lain tapi Bintang gak bisa nyari umur panjangnya, Om.”

“Om percaya sama Ayya ya? Ayya udah mikirin ini sejak lama.”