Kakdoyiiee

Salah paham.

Sejak 15 menit yang lalu Alana dan juga Rendy berkeliling minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Sebenarnya yang ingin membeli hanya Alana, tetapi Rendy memaksa untuk menemani dengan alibi 'kalo lo kenapa-kenapa, gue juga yang repot.

“Al, abis ini temenin gue ke tongkrongan ya? Sebentar doang.” Ujar Rendy yang sibuk mengekori Alana.

Alana menoleh, memberikan keranjang yang berisikan cemilan kepada Rendy.

“Gak ah, jauh pasti.”

“Deket, Al. Gak jauh dari sini. Jalan kaki juga nyampe.”

“Yaudah.”

Lagi-lagi Rendy mengekori Alana untuk berkeliling mencari minuman. Sebenarnya Rendy sangat malas jika ikut berbelanja di minimarket atau supermarket. Tetapi Rendy tidak akan membiarkan Alana sendirian. Ya, kalian tau alasannya kan?

“Alana? Rendy?”

Suara berat yang mereka berdua kenali membuatnya reflek menoleh. Mereka melihat Arga dan juga Paula yang datang bersama ke minimarket yang sama dengan mereka.

Alana menahan nafasnya. Seperti akan tercekat karna rasa sakit yang tiba-tiba datang saat melihat Arga bersama dengan Paula. Begitu juga yang dirasakan Arga. Seperti ada yang ganja dihatinya. Antara tak terima dan juga cemburu yang melekat.

“Arga? Lo kesini juga sama cewe manja ini?” Tanya Rendy sambil melirik tak suka kepada Paula.

Arga tak menjawab, ia lebih memilih memperhatikan Alana yang membuang muka.

“Al, kamu kenapa bisa sama Rendy?”

Alana berdecak. Merasa tak suka dengan pertanyaan Arga. Apa perduli lelaki itu? Memangnya salah jika Alana pergi dengan lelaki lain?

“Aku mau belajar. Bukan selingkuh kayak kamu.”

“Al-”

“Yayaya, kalian temenan doang kan?”

Alana berdecih pelan. Moodnya langsung hilang seketika. Gadis itu lebih memilih menarik tangan Rendy dan menyuruh Rendy untuk membayar makanannya. Sedangkana Alana, memilih untuk menunggu di mobil milik Rendy.

Arga terdiam. Matanya terus memperhatikan Alana yang sudah berada didalam mobil. Ia dapat melihat gadis itu berkali-kali mengusap pipinya. Seakan-akan menghapus air mata yang keluar.

“Al, maafin aku.”

Pertemuan pertama.

Suara lonceng yang berada di pintu Cafe mengalihkan perhatian Jevan. Lelaki itu sangat gugup sejak tadi, dan semakin gugup saat matanya bertemu dengan mata indah milik sahabatnya dulu.

Jevan mengangkat tangannya dengan ragu. Memberi petinjuk ke Gracia bahwa lelaki itu berada di bangku paling belakang dengan posisi yang sangat dekat dengan jendela.

Gracia menghampiri Jevan dengan wajah yang ia buat tegar. Tak ingin pertahanannya runtuh didepan lelaki itu. Ia tak ingin terlihat lemah didepan Jevan.

“Mau ngomong apa?” Tanya Gracia setelah duduk dihadapan Jevan.

“Gak pesen minum dulu?”

“Gak usah. Gue gak haus.”

Jevan menelan salivanya dengan kasar. Gadis dihadapannya telah berubah menjadi gadis yang sangat ketus. Tentu Jevan sadar itu semua karna dirinya.

“Ci, sebelumnya gue minta maaf sama lo. Maaf dengan gak tau malunya gue minta ketemu sama lo lagi.” Jevan menarik nafasnya. Seolah ia ingin mengucapkan kalimat dalam satu tarikan nafas.

“Empat tahun gue jalanin dengan rasa penyesalan gue. Dengan pikiran gue yang selalu mengarah ke lo. Dengan harapan gue yang bisa balik lagi kayak dulu. Gue mati-matian belajar, cari uang, bagi waktu biar bisa ke Bandung. Biar gue bisa ketemu lo.”

“Tapi harapan gue bisa balik ke lo langsung hancur ketika gue tau lo udah punya pacar disini. Bahkan dia lebih baik dari gue. Udah gak ada kesempatan lagi ya, Ci? Gue udah gak bisa berharap lagi ya buat bisa sama lo? Gue bodoh ya karna gue telat sadar tentang perasaan gue ke lo?”

“Kalau gue bisa, gue bakal putar waktu ke empat tahun yang lalu. Dimana gue bakal jauhin Rara dan lebih milih sama lo. Gue bakalan lebih milih lo ketimbang cewe itu. Tapi kayaknya percuma ya? Karna gue gak bisa. Itu semua cuman angan yang gak bisa digapai sama sekali.”

“Jev-”

“Cia, gue berharap banget dengan usaha gue selama empat tahun bisa dibayar semuanya. Tapi kayaknya enggak. Gue terlalu banyak mau ya, Ci? Sampai Tuhan kirim seseorang dan berhasil rebut hati lo.”

“Jevan, gimana kabar lo?”

Jevan terdiam. Ia menatap mata Gracia dengan dalam. Mata yang masih sama seperti 4 tahun yang lalu.

“Jev, gue maafin lo. Tapi maaf, gue udah punya cowo yang harus gue jaga hatinya. Kita temenan aja ya?”

Gracia menatap Jevan dengan sendu. Ternyata selama 4 tahun Jevan tidak baik-baik saja. Dan Gracia menjalankan kehidupan dengan normal, bahkan ia bisa menyebut dirinya dengan sebutan egois.

“Ci, makasih lo udah maafin gue. Gpp kita cuman temenan. Yang penting sekarang lo gak tinggalin gue lagi kan?”

Jevan tersenyum. Lebih tepatnya memaksakan senyuman. Semuanya terasa sangat menyakitkan ketika Gracia hanya menginginkan hubungan sebatas teman.

Bisa saja Jevan menganggap ini semua karma. Karna dulu dengan bodohnya Jevan hanya menganggap Gracia sebatas sahabat.

Kali terakhir.

Sudah seminggu berlalu sejak Gracia menjauhkan Jevan. Sudah berbagai cara Jevan lakukan untuk mendapatkan maaf gadis itu. Salah satu caranya dengan mengantarkan makanan kepada Gracia dari pagi hingga malam. Walau akhirnya gadis itu akan membuang atau memberikan makanannya keorang lain.

Jevan sejak pukul 06.00 pagi berdiri di depan gerbang rumah Gracia. Sekarang ia akan mengganti usahanya. Ia akan memilih untuk mengantarkan langsung dan mengajak Gracia untuk berangkat bersama. Karna jika lewat chat saja pasti Gracia tidak membacanya. Tentu karna Gracia masih memblock Jevan.

Namun hingga pukul 07.15 Gracia belum keluar dari rumahnya. Jevan sangat yakin Gracia belum berangkat sekolah karna jendela kamar yang terbuka. Namun anehnya gadis itu belum berangkat sekolah hingga sudah lewat jam masuk.

Bibirnya tertarik untuk tersenyum ketika melihat Gracia keluar dari rumah. Namun keningnya langsung mengkerut saat melihat dua koper besar yg dibawa gadis itu.

“Cia mau kemana?” Gumam Jevan.

Gracia menoleh kearah gerbang. Wajahnya berubah terkejut saat melihat kehadiran Jevan didepan gerbang. Namun mata itu langsung berubah berkaca-kaca saat mengingat bagaimana rasa sakit yang Jevan berikan.

Dengan tergesa Jevan membuka pintu gerbang saat Gracia ingin kembali kedalam. Lelaki itu berlari, berhasil meraih lengan Gracia lalu menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Ci, maafin gue.” Ujar Jevan dengan suara pelan.

Gracia terdiam. Bingung, antara ingin membalas pelukan Jevan atau melepaskan pelukan lelaki itu. Namun dihatinya yang paling dalam, pelukan hangat milik Jevan lah yang sangat Gracia rindukan.

“Jev-”

“Cia, maafin gue. Gue bodoh dan gue akuin itu. Gue salah sama lo. Maaf, maaf gue sering nyakitin lo selama ini. Maaf karna gue lo harus murung seminggu ini. Gue harus gimana Ci biar lo maafin gue?”

Nafas Gracia tercekat, seperti menahan tangisnya didekapan Jevan. Gadis itu bingung. Bahkan ia tak tau Jevan harus berbuat apa supaya ia dapat memaafkan lelaki itu. Ia melepaskan pelukannya. Menatap mata Jevan dengan sangat lekat.

“Jev, gue harus pergi.”

“Lo...lo mau kemana?”

“Jevan, gue terima maaf lo. Gue harus pergi sekarang. Gue harus ke Bandung buat ikut Mama.” Suara Gracia terdengar gemetar saat melihat Jevan mengeluarkan air matanya. Gadis itu lebih memilih untuk menunduk sekarang.

“Ci, please jangan pergi. Gue gak apa-apa lo gak maafin tapi jangan pergi. Gue mohon.”

Jevan ingin kembali memeluk Gracia. Namun ditahan oleh gadis itu.

“Jevan, maaf. Gue gak bisa bertahan disini.” Ujarnya lalu mengambil kedua koper tersebut.

Jevan ingin menahannya, tetapi niatnya harus diurungkan saat melihat mobil hitam pekat yang masuk keperkarangan rumah Gracia.

“Yera, ayo.” Bang Je turun dari mobilnya. Membantu Gracia untuk mengangkat koper dan dimasukan kedalam bagasi mobil.

“Ci...”

Gracia tidak menoleh. Ia lebih memilih untuk masuk kedalam mobil Bang Je dan menangis didalam sana. Berkali-kali menarik nafasnya untuk melampiaskan semua emosinya. Gracia dinyatakan kalah sekarang. Kalah didalam persahabatan dan juga kalah didalam perasaan.

Semuanya telah menjadi abu semenjak Jevan menghancurkan. Rasanya sakit walau sudah memafkan. Tetapi Gracia yakin, perlahan gadis itu akan mengikhlaskan Jevan.

Dan juga mengikhlaskan perasaan yang tumbuh secara lancang.

Putus.

Jevan berjalan dengan cepat, menghampiri Rara yang sedang berjalan menuju gerbang. Tangannya langsung mencekal tangan Rara sebelum gadis itu berhasil keluar dari area sekolah. Menarik Rara dengan kasar, membawanya ke gedung IPA yang sangat terbilang sepi karna sudah pergi untuk pulang.

“Jev?! Apa-apaan sih?!” tanya Rara dengan kesal.

Jevan menghempaskan pergelangan tangan Rara dengan kasar. Mengambil ponsel gadis itu dari tangannya lalu membuka kuncinya yang kebetulan Jevan ketahui.

“Jevan! Hp aku!” Rara berusaha mencoba merebut kembali ponselnya. Namun kalah cepat dengan Jevan yang berhasil membuka aplikasi pesan milik Rara.

Bibirnya tersenyum sini. Terlihat dengan jelas roomchat Rara dengan Nathan. Bahkan gadis itu menamai Nathan dengan emot love di kontaknya.

“Begini lo dibelakang gue? Main sama sahabat gue sendiri? Iya?!” emosi Jevan memuncak.

Rara terkekeh sinis. Merasa tidak bersalah dan juga tidak takut.

“Kalau iya kenapa? Mau minta putus? Yaudah. Lagian gue udah berhasil pisahin lo sama Gracia. Setelah perlakuan lo kemarin ke Gracia, dia gak bakalan mau ketemu sama lo lagi, Jev. Makannya dia hari ini ngehindar dari lo.”

Rara mengambil ponselnya saat Jevan terdiam dengan nafas memburu. Gadis itu tersenyum sini, menepuk bahu Jevan seperti mengejek lalu pergi menuju keluar sekolah.

Jevan memukul tembok yang berada disampingnya. Merasa dibodohi dengan Rara selama ini. Padahal lelaki itu menyayangi Rara dengan sangat tulus.

“Ci, maafin gue.”

Giorgino Jendrana.

Lelaki dengan pakaian formal ala kantor itu langsung memasuki rumah Gracia tanpa meminta izin terlebih dahulu. Langkahnya langsung menginjak anak tangga menuju lantai dua. Kamar Gracia Aloyera.

“Aloyera!” teriak Jendra dengan intonasi yang sangat tinggi.

Gracia hanya diam dikamar sambil mengunci pintu. Hari ini ia sangat sial sekali. Ingin kabur namun berhasil ditahan oleh bodyguard yang dikirimkan oleh Jendra.

“Yera. Buka pintunya. Ini abang.” Jendra mengetuk pintu Gracia terus menerus.

Gracia hanya diam dikasurnya sembari meringkuk. Menangisi kenyataan yang sangat pahit dalam hidupnya. Bagaimana bisa Papanya sejahat itu oleh sang Mama? Bagaimana bisa lelaki yang selalu Gracia banggakan malah menyakiti hati keluarganya? Mengapa lelaki itu sangat jahat?

Pikiran pikiran tentang sang Papa dan juga Nathan langsung berkecamuk menjadi satu. Membuat Gracia semakin menangis dengan kencang hingga terdengar oleh Jendra.

Jendra berusaha menekan gagang pintunya namun terlalu keras hingga tangan lelaki itu memerah.

“Yera!” teriaknya sekali lagi.

Suara tangisan Gracia sudah tidak terdengar. Namun tergantikan dengan suara benda berjatuhan.

“Aloyera! Buka pintunya!”

Perlakuan diam-diam.

Jevan memasuki rumah milik Gracia bersama dengan Darma setelah mendapatkan izin masuk oleh dua penjaga di sisi pintu. Kedua langsung menghampiri Gracia yang berada di ruang tengah dan memberi permen kapas pesanan gadis itu. Gracia tersenyum saat melihat makanan kesukaannya. Ia langsung mengambil permen kapasnya dan membuka bungkusan itu.

“Makasih!” ujarnya sambil menatap Darma dan Jevan secara bergantian.

Jevan tersenyum. Ia langsung memeluk Gracia dari belakang. Menempatkan dagunya pada gadis itu dan memeluknya dengan erat. Seakan ia takut ia akan kehilangan wanita yang dapat membuatnya nyaman dengan berada di dekatnya.

“Ci, gue sakit hati. Tapi gue gak bisa nuduh Rara gitu aja. Siapa tau mereka temenan kan?” ucap Jevan memulai inti pembicaraan.

Gracia terdiam sebentar. Memikirkan rencananya yang berjalan mulai sekarang. Mungkin gadis itu tidak perlu memberi tau Jevan yang sebenarnya. Dan ia juga harus berhati-hati dengan Darma. Semuanya nampak mencurigakan dimata Gracia.

“Jangan terlalu dipikirin. Mending sekarang lo makan aja ya? Siapa tau bisa hilangin rasa kesel lo.”

“Gue gak mood makan.”

Jevan semakin mengeratkan pelukannya. Tetapi Gracia tetap diam dan sibuk memakan permen kapas yang berwarna merah muda itu.

Sedangkan Darma, lelaki itu sibuk mengambil foto Jevan dan Gracia secara diam-diam yang tentu Gracia sadari kelakuan Darma.

“Bagus, Dar. Biar Jevan lebih cepet lepas dari cewek uler itu.”

Perihal perasaan.

Jevan memandangi roomchat nya dengan Gracia. Pesan terakhir gadis itu membuat Jevan tak bisa lagi membalas. Hanya mampu membaca dengan hati yang berat. Pesan itu sudah dapat menggambarkan bagaimana sakitnya Gracia karna dirinya.

“Cia, maaf.” gumam Jevan. Ingin kembali mengirim pesan maaf namun suara imut milik seorang perempuan menghentikan niatnya.

Jevan langsung mematikan ponselnya. Tak ingin Rara datang lalu melihat isi pesannya dengan Gracia. Tak ingin sahabatnya kembali terkena masalah karna dirinya.

“Kenapa, Ra?” tanya Jevan menaikan sebelah alisnya. Memutar tubuh menghadap pada Rara.

“Kamu ngapain bolos? Nanti kalo ketauan guru gimana?” tanya Jevan kembali saat menyadari Rara bolos pada pelajaran terakhir.

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Rara langsung meraih lengan Jevan dan menggenggamnya dengan erat.

“Gurunya gak ada. Jadi aku bebas kemana aja. Lagian bosen diem dikelas doang, gak ada kamu.” ujar Rara dengan nada manjanya. Seperti biasa.

Namun entah mengapa kali ini Jevan merasa sangat tidak tertarik dengan Rara. Pikirannya kembali pada Gracia. Masih memikirkan betapa sakitnya gadis itu karna selalu Jevan tolak ajakannya.

“Jev? Kok diem aja sih?!” kesal Rara sambil menghentakan kakinya.

Jevan menatap dengan kesal namun langsung tertutupi oleh senyuman. Tangannya mengusap rambut gadis itu secara terpaksa.

“Jangan sering bolos. Balik ya ke kelas kamu?”

“Gak mau. Mau disini sama kamu.”

Jevan menghela nafas pelan. Lebih memilih untuk mengalah dibandingkan berdebat lebih panjang.

Walau Rara banyak didiamkan oleh Jevan, namun gadis itu tidak mau bangkit dari duduknya. Tetap menggenggam tangan Jevan dan banyak bercerita tentang kehidupan lalunya.

Perlindungan dari Nathan.

Suara gemuruh antara meja dan juga kursi yang di geser secara paksa membuat kelas Gracia terdengar sangat berisik. Banyak murid murid yang menatap Gracia dengan tatapan tak suka dan benci. Entah karna apa, yang jelas banyak yang kemakan oleh omongan Rara.

Gracia hanya diam di bangkunya, menatap takut serta sedang memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa kabur dan menyelesaikan semuanya.

“Heh! Lo Gracia kan?! Yang ngakunya sahabatnya Jevan tapi malah bikin hubungan Rara sama Jevan berantakan! Lo sahabat atau selingkuhannya?!” bentak salah satu anak perempuan dengan antek-anteknya di belakang.

Gracia terdiam. Ingin membalas namun lidahnya terasa sangat kelu untuk berbicara.

Jevan, lelaki itu berada diluar kelas Gracia setelah memastikan Rara tertidur pulas di UKS. Ia melihat dengan jelas bahwa ada satu lelaki yang membawa ember berisikan air kotor di tangannya.

Jevan ingin kedalam, mengambil ember itu untuk mencegah Gracia tersiram. Namun sialnya, sebelum Jevan berhasil masuk, ada Nathan yang menyelip kerumunan dan berdiri di depan Gracia hingga lelaki itu basah kuyup oleh air kotor.

Lagi-lagi Jevan terlambat untuk membantu Gracia. Lagi-lagi Gracia harus terkena masalah karna dirinya. Dan Lagi-lagi Gracia yang menerima sikap kasar Rara karna dirinya.

Ia mundur perlahan, menjauh dari kelas Gracia dan berbalik badan. Berlari secepat mungkin untuk kembali ke UKS.

Bahkan Jevan merasa tak pantas untuk disebut sahabat oleh Gracia.

Ada dikala membutuhkan.

Lelaki dengan putih polos itu masuk kedalam rumah Gracia dengan wajah murung. Matanya langsung menangkap Gracia yang duduk dikarpet dekat sofa dan sedang berkutik dengan tugasnya. Tanpa membiarkan Gracia menoleh, Jevan langsung memeluk Gracia hingga tangannya tak sengaja menciptakan garis di buku tugas milik Gracia.

“Jevan! Buku tugas gue kecoret sama lo!” teriak Gracia dengan kesal.

Jevan mengeratkan pelukannya. Membenamkan kepalanya pada ceruk leher Gracia dan mengusap rambut gadis itu.

“Maaf udah nuduh lo terus.” ujar Jevan dengan suara pelan.

Gracia terdiam. Hatinya terasa menghangat saat mendengar kata maaf dan juga suara lembut milik Jevan. Namun harus terasa seperti tercubit kembali saat mengingat mereka berpelukan dikala Jevan sudah memiliki kekasih.

Gadis itu melepaskan pelukannya kepada Jevan, membuat Jevan menatap bingung karna tak seperti biasanya Gracia melepaskan pelukannya sebelum Jevan.

“Kenapa, Ci?”

“Jev, gak seharusnya begini. Lo udah punya cewek.”

Jevan menatap bingung Gracia. Karna sejujurnya menurut Jevan tidak ada yang salah dengan perlakuannya. Berpelukan dengan sahabat sendiri adalah hal wajar kan?

“Rara tau kita sahabatan, Ci. Lo tenang aja. Jangan dilepas ya? Gue nyaman banget kalo lo peluk.”

Lagi-lagi Jevan menarik Gracia kedalam pelukannya. Perempuan itu tidak dapat menolak. Karna ini satu-satunya situasi Jevan dan Gracia dapat berdekatan.

Jam istirahat.

Lelaki dengan seragam rapih itu duduk dikursi yang berada didepan Gracia. Tangannya menaruh dua roti isi daging dan juga dua kotak susu kecil. Ia tersenyum lalu mengambil satu roti dan juga satu kotak susu.

“Satu satu. Makan, Ci, jangan gak makan. Nanti lo sakit lagi gimana?” tanya Nathan dengan senyumannya.

Gracia terdiam. Ia melirik roti isi dan juga susunya secara bergantian. Ingin menolak, namun harus bilang apa?

“Nath, gue gak laper.”

“Udah gue beliin. Jangan sampai mubazir, Cia. Sayang duitnya. Nyari duit gak gampang loh.”

Ujar Nathan membuat gadis itu merasa semakin tidak enak. Gracia dengan perlahan mengambil bungkusan rotinya. Lalu membuka bungkusan itu dan langsung memakan rotinya dengan lahap. Entah mengapa roti isi itu terasa sangat enak. Apa mungkin karna Gracia kelaparan?

Nathan tersenyum sambil menatap Gracia yang terlihat lahap makannya. Lelaki itu tau, Gracia tidak makan apapun sejak tadi. Karna Jevan bercerita bahwa gadis itu tidak ada yang mengantar dan naik kendaraan umum.

“Lo gak makan dikantin, Nath?”

“Nggak ah, males. Ada nenek lampir.”

“Nenek lampir?”

“Itu si Rara.”

uhuk!

Gracia tersedak karna reflek ingin tertawa. Nenek lampir? Sangat cocok panggilannya untuk Rara. Entahlah, Gracia merasa tidak suka dengan gadis itu.

“Nath, makasih ya.” ujar Gracia setelah menghabiskan susu rasa strawberry.

Nathan mengangguk. Mengambil bungkusan sampah milik Gracia lalu berdiri.

“Gue aja yang buang. Lo belajar yang fokus, jangan mikirin soal Jevan. Karna kalo hati terus yang dipikirin gak ada habisnya. Yang ada bikin lo murung terus.”

Nathan tersenyum, mengacak rambut gadis itu lalu keluar dengan diamnya Gracia. Apa maksudnya?