Kakdoyiiee

Kebohongan yang di percaya.

Pintu rumah orang tua Acha terbuka lebar setelah gadis itu beberapa kali memencet bel yang berada di dinding dekat pintu utama. Acha masuk terlebih dahulu, diikuti Kayna dan juga Mahesa yang berjalan dibelakang Acha. Layaknya penjaga yang takut jika terjadi hal buruk kepada Acha.

“Ma, Pa.” Acha duduk disofa panjang yang bisa menempatkan 3 orang. Sementara kedua orang tua Acha duduk di sofa single yang berada diantara kanan dan kiri. Dan Mahesa serta Kayna duduk mengapit Acha yang berada di tengah.

Papa Acha menatap dingin putri tunggalnya. Merasa marah saat mendapatkan kabar dari Jordy jika Acha telah pergi dari rumah tanpa pamit selama sebulan lebih. Terlalu pintar bersembunyi sehingga butuh waktu lama Jordy menemukan Arasyia yang ternyata tinggal di apart dekat dengan rumah Mahesa.

fyi, rumah Mahesa dan rumah Jordy jauh ya.

“Jelaskan semuanya, Arasyia.” ujar Papa dengan sangat dingin

Acha menunduk. Gadis itu memasang wajah seakan takut dengan sang Papa. Namun jauh dilubuk hatinya, ada rasa tak sabar yang sangat membuncah.

“M-maaf, Pa. Tapi, Acha bawa kabar baik buat kalian.” ujar Acha membuat Mama dan juga Papa menatap bingung.

Acha mengambil sebuah testpack yang menunjukan garis dua. Tanda bahwa Acha telah hamil beberapa minggu kemarin. Ia menaruh testpack tersebut diatas meja dan langsung di ambil oleh Papa.

“Kamu hamil?”

“Iya. Acha Hamil, Ma, Pa.”

Mama dan juga Papa menatap tak percaya sekaligus haru. Namun Acha lebih memilih untuk menunduk, memasang wajah sedih yang membuat mereka semua bingung.

“Cha, kenapa?” tanya Kayna dengan cemas.

“Aku...aku bukan hamil anak Jordy. Tapi ini anak Mahesa.”

Deg!

Jantung Kayna seperti terhantam oleh sesuatu yang keras. Membuat jantung itu berhenti detak sesaat. Sedangkan Mahesa, ia langsung menatap Acha dengan tatapan tajam.

“Saya tidak pernah menyentuh kamu, Arasyia.” ujarnya dengan amarah.

Papa mengepalkan tangannya. Ingin sekali mengambil tindakan gegabah namun ia masih ada pikiran waras untuk tidak membuat keributan.

“Saya mau setelah anak saya lahir, kalian harus mencocokan DNA. Jika benar itu anak Mahesa, makan saya akan nikahkan kalian berdua.” ujarnya sebelum berlalu pergi diikuti sang Mama.

Kayna terdiam. Menatap Mahesa dan juga Acha secara bergantian. Hatinya mencolos saat mendengar bagaimana dengan lantangnya Acha berbicara bahwa anak yang ada dikandungannya adalah anak Mahesa.

“Kay, maafin gue.” suara Acha terdengar seperti gemetar.

“A-aku...aku pulang sekarang ya. Permisi.” Kayna langsung berdiri, gadis itu sedikit berlari untuk keluar dari rumah Acha.

Mahesa ingin mengejarnya, namun dengan cepat Acha menahan tangan lelaki itu.

“Sa, jangan kemana-mana. Aku takut.”

Mahesa menepis tangan Acha dengan kasar. Tak perduli dengan teriakan Acha yang terus memanggil namanya. Yang Mahesa utamakan sekarang adalah Kayna. Kayna datang berasamanya dan pulang harus dengannya.

“Kayna!” teriak Mahesa sambil melihat kanan kirinya.

Tak ada. Mahesa terlambat untuk mengejar. Kayna sudah tak lagi terlihat di perkarangan rumah Acha. Kayna pergi dengan cuaca mendung yang akan segera turun hujan. Tanpa pikir panjang, Mahesa langsung masuk ke mobilnya. Meninggalkan rumah Acha dengan ribuan kecemasan.

“Kay, kamu dimana? Itu bukan anak saya, Kayna.”

Kecemasan yang nyata.

Perempuan dengan dress berwarna biru muda itu terus menghela nafasnya setelah sampai pada perusahaan yang dipimpin oleh suaminya. Kayna terus memperhatikan kotak bekal yang ia bawa. Antara takut tidak Mahesa terima atau takut untuk menemui Mahesa.

Saat Kayna ingin masuk kedalam, Mahesa lebih dulu keluar karna ingin mengambil botol minum yang tertinggal di mobil. Wajah Kayna berubah panik, ia gelagapan saat ditatap dengan raut wajah bingung oleh Mahesa.

“Mana pesanan saya?” Tanya Mahesa.

Kayna meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia memberi kotak bekalnya kepada Mahesa.

“I-itu, mas.”

Mahesa mengangguk. Ia memperhatikan sekitar karna banyak lelaki yang memperhatikan Kayna. Lelaki itu langsung merangkul Kayna secara posesif hingga membuat gadis itu membulatkan matanya terkejut.

“Keruangan saya. Disini banyak mata buaya.” Bisik Mahesa.

Kayna mengangguk dengan canggung. Ia ingin masuk kedalam namun terhenti karna tiba-tiba saja sekitarnya berubah memudar. Kayna memegang kepalanya yang sakit, ia hampir saja limbung jika tidak Mahesa tahan dengan lengannya.

“Kay?” Mahesa menepuk pipi Kayna dengan pelan. Gadis itu hanya mampu meringis sambil memegang kepalanya.

“Kita kerumah sakit sekarang.”

Dengan cekatan Mahesa menggendong Kayna dan langsung membawa gadis itu ke mobil. Terlihat dengan jelas mata Mahesa yang memancarkan kekhawatiran yang sialnya Kayna tak bisa lihat.

Sudah tiga puluh menit Mahesa terus menemani Kayna yang masih berada dialam bawah sadarnya. Lelaki itu ingin sekali menggenggam tangan Kayna. Namun lagi-lagi bayangan Esa lah yang muncul dikepalanya.

Suara decitan pintu membuat Mahesa menoleh. Seorang perempuan dengan pakaian jas dokternya membuat Mahesa langsung berdiri dari duduknya. Ia menghampiri dokter tersebut.

“Kayna bagaimana? Apa dia sakit?” tanya Mahesa sepelan mungkin.

Franche —dokter yang memeriksa Kayna— tersenyum dengan lebar. Ia memberikan sebuah amplop yang berisikan hasil tes dari Kayna.

“Silahkan dibuka, pak.”

Mahesa menaikan sebelah alisnya. Ia menatap amplop itu terlebih dahulu, membaca beberapa tulisan yang berada diluar amplop tersebut. Lalu dengan pelan ia membuka ampolnya. Mengambil surat dan juga sebuah foto dari hasil tes Kayna.

Dengan perlahan Mahesa membaca surat tersebut. Mencari inti dari hasil tes pemeriksaan Kayna. Matanya terhenti di satu kalimat yang berhasil membuat Mahesa membeku. Ia mengulang kembali bacaannya, berharap apa yang ia baca sebelumnya itu salah. Namun sialnya, tak ada yang berubah.

Kayna telah diberikan sebuah “titipan” berupa janin dari Tuhan.

Perempuan dengan hati baiknya.

Pukul 05.00 pagi. Kayna sudah terbangun dan hanya mencuci muka saja. Niat gadis itimu hari ini adalah untuk memasak sarapan Mahesa. Walau lelaki itu melarang Kayna untuk masak, tetapi Kayna masih terus berusaha. Berusaha meluluhkan hati Mahesa yang telah terkunci rapat.

“Aku masak apa ya hari ini?” gumam Kayna saat ia sudah berada di dapur.

Gadis itu membuka kulkas, berniat mengambil susu namun sudah lebih dulu dengan seorang perempuan yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.

“Hai. Lo istrinya Mahesa ya?” tanya gadis itu.

Kayna terdiam. Perempuan yang ada dihadapannya ini adalah perempuan yang Mahesa bawa pulang semalam. Ada rasa tenang ketika Mahesa dan perempuan itu berpisah kamar.

“I-iya. Kamu siapa ya?”

“Gue Arasyia. Orang-orang manggil gue Acha jadi lo bisa manggil gue Acha.”

Acha tersenyum tipis. Lalu ia meminum susu putih itu setelah ia tuang ke gelas.

“Salam kenal Acha.” Kayna tersenyum, ia lanjut mengambil bahan-bahannya untuk memasak.

“Lo mau masak ya? Mau masak apa?” tanya Acha dengan antusias.

Kayna terdiam sejenak, ia melihat beberapa bahan yang sudah ia keluarkan.

“Mungkin aku cuman masak nasi goreng sosis sama telur dadar aja. Kamu mau sarapan disini? Aku buatin banyak.”

Acha memperhatikan Kayna dengan seksama. Cara bicara Kayna yang sangat lembut dan juga sopan membuat hati Acha terasa nyaman dan juga terenyuh. Seharusnya semalam Acha tidak berbicara kepada Mahesa perihal perasaannya. Harusnya ia sadar jika Mahesa bukan lagi miliknya.

Dan Kayna adalah gadis yang berhasil membuat Acha sadar akan semua hal itu.

“Iya, gue sarapan disini baru pergi cari apart. Gue gak enak kalau harus nginep dirumah kalian.”

“Eh? Gpp kok. Lagian ini rumah mas Mahesa, mas Mahesa pasti juga udah izinin kamu kok buat nginep disini. Kamu gak perlu gak enakan gitu, aku gak marah kok.”

Acha tersenyum, ia mengangguk dengan pelan. Tangannya terulur untuk membantu Kayna.

“Lo tau? Dulu gue sama Mahesa deket banget. Sekitar enam tahun yang lalu. Kita jalin hubungan, layaknya pasangan kayak umumnya. Mahesa baik, protective, care sama gue, manjain gue, selalu turutin apa yang gue mau.”

Acha menceritakannya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan. Sedangkan Kayna hanya diam dengan hati yang sakit bak di patahkan.

“Tapi semuanya berubah saar fitnah tentang gue bermunculan. Gue di fitnah selingkuh dan hamil, gue di kucilkan, di caci maki, dihina, dijauhi. Bahkan sama Mahesa juga di jauhi.”

“Sampai gue dipaksa buat nikah sama cowo itu, dan cowo itu paksa gue buat hamil supaya gak ada yang curiga kalau dia bohong kesemua orang. Tapi usahanya gagal. Gue...gue susah punya anak.”

Air mata Acha seketika jatuh. Terasa sangat perih saat Acha harus menjalankan hidupnya dengan penuh fitnahan. Sulit untuk Acha melupakan kejadian dimana semua keluarganya selalu memojokan dirinya.

Kayna mengusap bahu Acha. Memberi semangat pada gadis itu ketika ia bercerita tentang masalalunya.

“Acha, itu artinya Tuhan lagi kirim karma buat suami kamu. Tuhan lagi bantu kamu supaya semuanya baik-baik aja. Acha semangat ya? Aku yakin kamu pasti bisa!”

Acha semakin terisak. Ia baru pertama kali mendapatkan semangat setelah enam tahun ia berjalan sendirian. Berjalan dengan lurusnya hingga banyak luka yang Acha terima.

“Kayna! Kamu apakan Acha?! Kenapa kamu membuat dia menangis?!”

Sialnya, tangisan Acha membuat Mahesa terbangun. Menimbulkan kesalahan pahaman antara Kayna dan juga Mahesa.

Kewajiban yang dipaksa.

Dengan terpaksa Kayna membuka kunci pintu kamarnya, ia membuka pintu dengan perlahan. Seperti takut ketauan jika ia berhasil keluar. Langkah kakinya dengan takut menuntun dirinya kebawah, menuju pintu utama yang sejak tadi di gedor dengan kencang oleh Mahesa.

Tangannya memegang gagang pintu dengan perasaan takut. Kayna membuka pintunya dengan perlahan, belum sampai pintu itu terbuka setelah, Mahesa sudah lebih dulu jatuh dan menubruk tubuh Kayna.

“Esa.” gumam Mahesa sambil tertawa pelan.

Kayna berusaha mendorong tubuh Mahesa, membantu lelaki itu bangun dari jatuhnya. Menuntun Mahesa untuk ke kamar dan melepaskan jasnya yang sangat bau alkohol.

“Esa. Saya rindu kamu.”

Mahesa memegang tangan Kayna dengan kesadaran sehatnya sudah tidak ada. Kayna ingin melepaskan genggaman tersebut namun Mahesa dengan cepat menarik Kayna hingga Kayna jatuh diatas tubuh Mahesa.

Kayna menahan nafasnya, dapat ia lihat dengan jelas wajah dan juga mata sayu milik Mahesa. Karna jarak wajah mereka tidak sampai satu jengkal. Gadis itu ingin menjauh dari Mahesa, namun lagi-lagi ia kalah cepat dengan tangan kekar Mahesa yang sudah lebih dulu memeluk pinggangnya dengan erat.

“M-mas...” Kayna menatap takut kearah Mahesa.

Mahesa tersenyum, ia membalik tubuh Kayna yang sekarang berada dibawah kukungannya. Setelah itu mereka melakukan kewajiban suami istri dengan Kayna yang harus menahan sakit hati karna Mahesa terus menyebutkan nama Esa.

Sudah merelakan tetapi sulit melupakan.

Lelaki dengan pakaian formal kerjanya bersandar pada sandaran jok mobil. Ia menghembuskan nafas kasar, emosinya seketika meluap saat mengirimkan beberapa bubble chat kepada sang Papa.

Mahesa memejamkan matanya. Ingin mencari ketenangan namun lagi-lagi wajah Bulan Hireksa yang terus bermunculan. Lelaki itu memilih untuk mengambil ponselnya. Membuka galeri dan mencari fotonya dengan foto Esa.

“Esa...” ujar Mahesa dengan suara yang sangat pelan.

Ia memandangi fotonya sambil bersandar. Matanya berubah redup dikala ia kembali mengingat kenangannya bersama dengan Esa. Kenangan manis dan juga pahit yang mereka jalani dalam waktu yang tak lama. Namun anehnya, cinta Mahesa dapat bertahan dengan lama.

“Esa, apa kabar? Surga pasti indah ya? Kamu pasti disana udah bahagia kan karna gak ngerasain sakit apapun lagi?”

“Sekarang aku yang gantiin semua sakitnya. Sakit ditinggal kamu, sakit karna bisa bertahan hidup tanpa kamu, dan sakit karna harus menikah dengan seseorang yang mirip dengan kamu.”

Mahesa menarik nafasnya dengan panjang, ia menurunkan tangan yang memegang handphonenya, lalu menatap atap mobil dengan mata yang sudah basah.

“Esa, maafin aku ya? Maaf aku gagal untuk menjadi laki-laki. Maaf aku harus sakiti satu perempuan karna aku gak mau dia ngerasain sakit yang lebih. Maaf aku gak bisa lupain kamu sepenuhnya.”

“Esa, aku minta maaf.”

Mahesa memejamkan matanya, air mata yang sudah ia tahan akhirnya keluar dengan deras. Lelaki itu terisak, menangis karna rasa rindu yang hebat. Menangis karna sangat merindukan wanitanya.

“Esa, aku sangat mencintai kamu. Aku harap kamu bisa bahagia terus diatas sana.”

Mahesa menghapus air matanya. Ia kembali memilih mengalah dengan takdir. Masih berusaha untuk melupaka Mahesa dan terus mengontrol rasa rindunya.

Walau terkadang, semuanya terasa gagal. Mahesa gagal untuk melupakan sang penjaga hatinya.

Kenyataan

Gadis dengan pakaian santai itu memasuki Caffe kecil yang berada didekat komplek perumahannya. Matanya melirik kekanan dan kekiri, memcari seseorang yang katanya ingin bicara tentang kebenarannya selama ini. Padahal gadis itu sudah memberi file berisikan bukti-bukti yang sangat akurat.

“Alana.” panggil seseorang dengan cukup kencang membuat Alana menoleh. Gadis itu langsung menghampiri Arga yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.

Alana menarik kursi dihadapan Arga. Ia langsung duduk tanpa memesan apapun. Gadis itu ingin menyelesaikan semua urusannya dalam waktu yang tidak lama.

“Apa? Bukannya semua udah jelas ya? Bahkan bukti itu akurat, bukan bukti palsu.” ujar Alana dengan sangat ketus.

Arga menunduk, lelaki itu seperti menahan tangisnya dan sibuk memainkan jarinya sendiri. “Gue bukan mau bahas itu sebenernya.”

Alana menaikan sebelah alisnya. Merasa bingung dengan jawaban Arga. Lalu untuk apa Arga menemui Alana kembali?

“Apa lagi?”

“Al, gue minta maaf sama lo. Maaf selama ini gue selalu duain lo dan lebih milih nemenin anak pembunuh itu, yang sialnya dia adik gue sendiri. Gue bener-bener nyesel banget selama ini tutup mata atas Paula. Tapi soal gue yang selingkuh sama Paula, itu semua paksaan dari dia. Gue gak berharap lo percaya sama gue atau enggak, karna gue tau semuanya udah terlalu fatal buat lo bisa percaya sama gue lagi.”

“Dan bodohnya gue berharap gue bisa balik sama lo lagi dengan alasan gue gak tau apa-apa. Tapi gue gak mau, karna gue tau gue cuman bisa nyakitin perasaan lo selama ini.”

“Gue mau balik sama lo.”

Deg!

Arga terdiam, nafasnya bahkan berhenti sejenak. Ia menatap lekat-lekat mata Alana. Apa Arga bisa mendapatkan kesempatan lagi dari Alana?

“Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya pilihan gue salah. Udah cukup satu tahun gue selalu makan hati sama lo, udah cukup satu tahun gue selalu ngalah sama Paula, udah cukup satu tahun gue nahan amarah karna lo gak pernah anggap gue ada. Dan selama satu tahun itu, cuman ada Haidar yang selalu nolongin gue, ada disaat gue sedih, ada disaat gue mau marah sama lo.”

“Dan selama lo abaikan gue, disitu juga lo biarin gue jatuh hati sama Haidar.”

Arga menunduk, air matanya berhasil jatuh saat Alana mengungkapkan semuanya. Ia mengepalkan tangannya dibawah meja. Arga kecewa, Arga marah, Arga sangat benci dirinya sendiri. Ia akui ia bodoh, sangat bodoh sampai lupa bahwa ia juga mencintai Alana sangat dalam. Sampai Alana jatuh hati dengan orang yang bisa menggantikan dirinya.

“Ga, gue harap lo bisa jadiin ini semua pelajaran. Cinta seorang perempuan, itu bukan main-main. Bukan berarti lo bisa mainin seenaknya. Rasa cinta perempuan akan hilang ketika lo juga hilang terus-terus. Gue harap lo paham, Ga. Dan soal kasus nyokap lo, semoga cepet selesai.”

Alana berdiri, ia tersenyum tipis kepada Arga yang masih menunduk. Lalu ia memutuskan untuk pergi dengan hati yang sesak. Entahlah, Alana akan mengikhlaskan berpisah dengan Arga. Karna nyatanya ia sudah tak ada lagi rasa dengan lelaki itu. Rasa itu telah berhasil Haidar rebut.

Tapi ia tak tau, apakah Haidar memiliki rasa yang sama atau tidak. Karna selama ini, Haidar selalu menyebut mereka dengan sebutan teman.

Iringan hujan dalam tangisan.

Hujan lebat yang membasahi kota Jakarta membuat lelaki dengan hoodie tebal itu berlari dengan kencang menuju halte bus yang ada didepannya. Mata sipitnya dapat menangkap perempuan yang sejak tadi ia cari. Haidar buru-buru melepaskan hoodienya lalu menyampirkan hoodie itu ke bahu Alana yang sedang menunduk.

Alana mendongak, matanya terlihat sembab dan juga pipinya terlihat basah. Sudah bisa Haidar tebak pasti Arga berbuat ulah lagi kepada Alana.

“Al.” Haidar berjongkok dihadapan Alana, menggenggam tangan gadis itu karna takut Alana kedinginan.

“Dar, sesulit ini ya mempertahankan hubungan? Sesakit ini ya mencintai seseorang?” suara Alana terdengar gemetar. Antara karna Alana menangis terus atau kedinginan.

“Al, semuanya pasti butuh proses. Gak ada yang instan. Lika liku dalam hubungan itu hal yang wajar.”

“Dar, gue cape banget selalu ngalah. Gue cape banget ngeliat Arga selalu bela Paula. Kayak...gue kapan? Kapan Arga bisa utamain gue?”

Alana menunduk, gadis itu kembali terisak. Kalau difikir sudah setahun lebih Alana yang selalu mengalah. Mengalah dari Paula dan selalu menjadi nomor dua untuk Arga.

“Dar, gue mau udahan tapi gue gak bisa. Paula terlalu jahat buat Arga. Tapi gue juga cape, Haidar.” Alana semakin terisak.

Dengan cepat Haidar memeluk gadis itu. Mengusap punggung Alana supaya lebih tenang. Bahkan gadis itu membalas pelukan Haidar dengan sangat erat.

“Dar, gue cape.”

“Al, udah ya? Kalau cape berhenti. Pikirin perasaan lo juga, pikirin hati lo. Jangan karna rencana lo yang ungkap kejahatan keluarga Paula, perasaan lo yang jadi korban.”

Tangan kanan Haidar beralih mengusap rambut Alana. Sedangkan tangan kirinya terkepal dengan kuat. Ia tak terima jika Alana selalu menangis karna lelaki bajingan seperti Arga.

“Al, masih ada gue. Masih banyak cowok yang bisa mencintai lo dengan tulus. Udah ya?”

Haidar melepaskan pelukannya dengan perlahan. Menghapus air mata yang berada di pipi Alana.

“Haidar, makasih ya. Gue bakalan lepasin Arga kalau Arga gak berubah kedepannya.”

Alana tersenyum, hatinya berubah menghangat sekarang. Entahlah, ia merasa sangat nyaman jika berada di dekat Haidar dan didalam pelukan lelaki itu.

Pertama kali berkenalan.

Arga, lelaki itu sejak tadi terus saja menggenggam tangan Alana saat ia sampai di ruko kecil yang sering Arga sebut dengan tongkrongan. Suasana sederhana namun banyak tawa yang menggema. Alana sangat suka melihatnya.

“Weh! Wakil kita dateng nih! Sama siapa, kil?” sapa salah satu teman Arga bernama Adnan.

Adnan adalah laki-laki paling bersahabat disini. Apapun masalahnya Adnan dapat berhasil mencairkan suasana.

“Oh ini. Ini pacar gue, namanya Alana. Al, kenalin ini Adnan. Gak ganteng tapi banyak gaya.”

“Enak aja lo! Gue ganteng gini juga. Iya gak, Al?”

Alana terkekeh pelan saat melihat Adnan menatapnya sambil menaik turunkan alisnya. Apa lagi saat Arga menjambak rambut laki-laki itu dengan kesal. Dapat menghibur Alana dengan sifat random milik Adnan.

“Ayo aku kenalin ke yang lain.”

Arga mengeratkan genggamannya. Ia membawa Alana kesatu ruangan yang dipenuhi oleh perempuan yang sedang bernyanyi dan mengobrol. Layaknya teman satu sefrekuensi jika berkumpul beramai-ramai.

“Ca, sini!” Arga memanggil salah satu temannya yang bernama Rica. Rica langsung berdiri, menghampiri Alana.

“Kenapa, kil?”

“Ini, pacar gue. Namanya Alana.”

“Wih! Akhirnya lo bawa yang lebih kaleman dikit dari nenek lampir! Hai, Al! Kenalin, gue Rica.”

Rica menjulurkan tangannya yang dibalas dengan baik oleh Alana. Gadis itu tersenyum walau sedikit canggung.

“Kamu kenalan sama yang lain gih, aku mau ketemu Rendy dulu.”

Arga mengacar rambut Alana sembari tersenyu. Alana mengangguk, membalas senyuman Arga dengan sangat lebar.

“Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya. Aku ada ditempat Adnan tadi.”

Lagi-lagi Alana mengangguk patuh. Matanya terpejam secara tidak sengaja saat Arga mencium keningnya. Membuat jantungnya berdegup dengan kencang.

“Dahh.”

Alana menatap kepergian kekasihnya. Ia masih menetralisir rasa terkejutnya. Bahkan rasa dikeningnya masih sangat berbekas.

“Arga gila!”

Acak rambut.

Alana membuka pintu gerbang rumahnya dengan sangat lebar. Membuat matanya langsung bisa melihat kearah Rendy yang terlihat tampan dengan motor ninjanya dan juga dengan jaket kulit yang dikenakan. Bahkan Alana sangat kagum sekarang.

“Gila lo, kak. Kita mau cari sarapan apa jalan-jalan deh?”

“Coba baca ulang chat lo sama gue tadi.” jawab Rendy dengan datar.

Alana berdecak. Merasa kesal dengan sifat cuek milik Rendy. Entahlah. Menurut Alana sangat-sangat menjengkelkan.

“Gak usah misuh-misuh dalem hati. Cepetan naik.”

Rendy menaikan standar motornya. Menunggu Alana untuk menaiki motornya namun ia tahan lengan gadis itu saat mengingat sesuatu.

“Sebentar.”

Rendy mengambil helm yang berada didalam jok motornya. Memberi helm tersebut lalu mengacak rambut Alana yang membuat gadis itu langsung salah tingkah.

“Dipake helmnya. Gue gak mau ditilang. Ribet.”

“I-iya.”

Tanpa Alana sadari, tak jauh dari tempar Alana dan Rendy berdiri ada Arga yang terus memperhatikan dengan tatapan tak suka.

“Ren, lo gak akan bisa nikung gue.”

Pamit — Tulus

Alana dan juga Arga hanya terdiam di kursi yang berada diteras rumah Alana. Atmosfer keduanya sangat canggung sekarang. Alana yang lebih memilih diam dan Arga yang bingung harus membahas apa.

“Al.” panggil Arga.

Alana tak menggubris sama sekali. Gadis itu lebih memilih mengambil handphonenya dan menyetel lagu Tulus yang berjudulkan Pamit.

Arga memperhatikan gadisnya. Merasa bingung mengapa Alana menyalakan musik sekencang itu.

Tapi, saat mencapai bagian reff Alana ikut bernyanyi, membuat Arga terdiam seribu bahasa.

Izinkan aku pergi dulu Yang berubah hanya Tak lagi kumilikmu Kau masih bisa melihatku Kau harus percaya 'Ku tetap teman baikmu

Setelah lirik tersebut selesai, Alana mematikan musiknya. Menatap Arga dengan senyum tipis yang tak seperti biasa.

Arga sangat paham betul maksud dari lagu itu. Alana ingin mengakhiri hubungannya, tak ingin kembali mempertahankan dengan Paula sebagai alasan. Namun Arga tidak bisa menerimanya.

“Alana, maafin aku ya? Jangan begini.” ujar Arga sambil menggenggam tangan gadisnya.

Alana menghela nafas pelan, sejujurnya ia tak tahan namun ia terlalu sulit untuk melepaskan. Alana tak mau melepaskan Arga secara percuma-cuma.

“Arga, aku harap kamu paham caranya menghargai perempuan.”